Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Ulah Argha Lagi


__ADS_3

Nggak jahat gimana Hen. Jelas jelas mereka sudah mengirim video yang aneh seperti itu. Nggak jahat apalagi." jawab Papi.


Hendri hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Papi sudah memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Aris dan Bram serta Ghina dan Argha. Cukup sudah semua ini di tutupi Papi selama ini.


Mereka melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda gara gara rekaman video yang dikirimkan oleh seseorang kepada Papi.


Tak terasa jam pulang kantor datang juga. Papi dan Asisten Hendri memutuskan untuk pulang cepat. Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang sudah diletakan oleh porter di depan lobby perusahaan.


"Tuan Besar maaf kalau saya langcang bertanya kepada Tuan Besar. Apakah Tuan Besar sudah ingin membuka semuanya kepada Tuan Muda dan semua anggota keluarga?" tanya Asisten Hendri.


"Sudah Hen. Saya tidak mau ada yang ingin kembali merusak kehidupan keluarga saya. Saya akan meminta semua anggota black jack untuk mencari tau siapa yang sudah mengirimkan video itu dan apa tujuan sebenarnya." ujar Papi dengan tatapan mata membunuh.


Tatapan mata yang sudah sangat lama tidak dilihat oleh Asisten Hendri. Tatapan mata seorang Andra Soepomo saat masih berdarah muda. Tatapan Mata seperti itu hilang saat istrinya meregang nyawa karena permusuhan dua keluarga besar memperebutkan posisi nomor satu di negara I.


"Apakah menurut kamu, saya tidak perlu menceritakan ini kepada Aris, Hen?" tanya Papi kepada Hendri.


"Menurut saya Tuan. Ini menurut saya. Sebaiknya kita cari tau dulu apa motif orang tersebut. Saat kita sudah tau apa motifnya baru kita akan menceritakan semuanya kepada Tuan Muda Aris." ujar Hendri.


"Tapi Hen, apa menurut kamu Aris akan menerima semuanya?" tanya Papi yang mulai merasakan keraguan di dalam hatinya.


"Bagini Tuan Besar, kalau Tuan Besar berbicara kepada Tuan Muda Aris hanya berdua, saya yakin Tuan Aris akan marah. Tetapi kalau Tuan Besar bercerita kepada Tuan Muda Aris di dekat Nyona Muda dan Tuan Argha serta Tuan Bram, saya yakin Tuan Muda Aris akan bisa dikondisikan." ujar Asisten Hendri.


"Tuan Besar, permasalahan ini tidak bisa kita pandang dengan sebelah mata saja. Saya sangat yakin orang ini memiliki maksud yang kejam. Jadi, kita harus bisa mengendalikan dirinya." ujar Asisten Hendri.


Ghina dan Argha yang sudah mendapatkan semua informasi yang mereka inginkan memilih untuk pulang ke rumah utama. Mereka akan langsung bertanya kepada Papi. Mereka berdua sangat yakin kalau Aris tidak tau dengan semua cerita ini. Jadi Ghina dan Argha memutuskan untuk bertanya kepada Papi.


Ghina sampai rumah tepat pukul empat sore. Sampai di rumah, dia langsung menuju dapur. Sedangkan Argha memilih untuk mencari Rina susternya.


"Suster Rina!!!!!!!!!!!" teriak Argha dengan suaranya yang luar biasa nyaring.


"Suster Rina!!!!!" panggil Argha sekali lagi.


Ghina dan Suster Rina serta Bik Imah yang mendengar Argha teriak teriak memanggil suster Rina saling pandang pandangan bertiga.


"Apa tu anak nggak ngelihat Rina di sini tadi ya Nyonya." ujar Bik Imah mengeluarkan suara hatinya.


"Sepertinya memang nggak sama sekali Bik. Cuekin aja Rin." ujar Ghina kepada suster Rina.


Baru suster Rina mau kembali memotong sayuran, terdengar kembaki teriakan Argha yang kembali mencari suster Rina.


"Wah tu anak memang lah ya. Sana Rin temui dia. Kayaknya dia sedang kegigit lado kutu." ujar Ghina kepada suster Rina.

__ADS_1


"Nanggung Nyonya." jaeab suster Rina yang kembali akan mengiris sayuran.


Argha kembali masuk ke dalam rumah. Dia menuju dapur tempat Bunda dan Bik Imah berada. Rencananya Argha ke dapur mau bertanya kepada Bik Imah dimana keberadaan suster Rina. Tapi ternyata orang yang diteriakinya dari tadi ada di sana sedang sibuk mengiris sayuran.


"Yah dia di sini." ujar Argha saat melihat suster Rina di dapur.


"Suster Rina memang lah ya, Argha capek capek teriak teriak kiranya dia di sini. Suster Rina kira Argha nggak capek." ujar Argha sambil memonyongkan bibirnya dengan lucu.


Kelakuan Argha yang seperti itu membuat Ghina dan Bik Imah menahan senyum mereka. Mereka benar benar tidak menyangka Argha bisa berbuat seperti itu.


"Bunda sama Bik Imah jangan senyum senyum. Argha marah ini, Argha bener bener marah." ujar Argha sambil menatap tajam dua wanita yang dihormatinya yang berada di depannya itu.


"Iya iya Tuan Argha tersayang suster Rina sedang marah. Jadi karena dia sedang marah ini suster Rina kasih jus jeruk dingin untuk mendinginkan kepala Tuan Argha." ujar suster Rina sambil meletakan segelas jus jeruk di depan tuan Muda yang sedang marah itu.


"Jadi ada berita apa yang mau Tuan Muda katakan kepada suster Rina?" tanya Suster Rina sambil melakukan gaya yang sama dengan Argha.


Gina dan Bik Imah hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan Rina yang meniru gaya kesal Argha.


"Kalau nggak mikir Argha sayang sama suster Rina udah Argha pukul. Masak panggilan Argha nggak di dengar." ujar Argha pura pura merajuk.


"Hahahahaha. Argha, tipikal kamu nggak usah pake merajuk segala. Kami semua tau kamu siapa." ujar Ghina menatap Argha dengan tatapan mencemooh.


"Hahahahaha. Bunda nggak paten." jawab Argha.


Rina pindah duduk ke tempat Argha.


"Apa?" tanya Rina.


Ghina dan Bik Imah memasang telinga mereka lebar lebar. Mereka berusaha mendengar apa yang akan dikatakan oleh Argha ke Rina.


"Tadi, Argha ketemu dengan ehm Rina." ujar Argha.


Argha memerhatikan Bunda dan Bik Imah yang dari tadi berusaha mendengar cerita dirinya dan Rina.


"Terus apa dia ada bahas Rina, Tuan muda?" tanya Rina.


"Nah itu sayangnya. Dia nggak ada bahas kamu." ujar Argha sambil berusaha menahan senyumnya.


"Yah Tuan muda." ujar Rina dengan nada menyesal.


"Tenang besok ketemu lagi. Besok Argha bertemu lagi dengan dia. Besok Argha akan membahas Rina." jawab Argha.

__ADS_1


Setelah selesai masak, mereka semua pergi membersihkan dirinya. Seluruh penghuni rumah akan bersiap siap untuk melaksanakan sholat mahgrib berjamaah.


Aris yang baru saja pulang dari kantor, memeluk dari belakang istri yang sudah sangat dirinduinya itu.


"Hay ada apa ini sayang?" tanya Gina sambil membalas pelukan suaminya.


"Kangen aja sayang. Seharian nggak ketemu kamu." jawab Aris semakin erat memeluk istrinya.


"Sama. Aku juga kangen kamu. Lebih malahan." balas Ghina.


Saat mereka saling berpelukan, tiba tina ada teriakan melengking dari arah pintu kamar.


"Teletabis sholat." teriak Argha sambil berdiri tegak pinggang.


Aris dan Ghina memutar badannya mereka melihat ke arah teriakan melengking itu.


"Argha sini." panggil Aris.


"Nggak Daddy. Argha mau sholat. Argha nggak suka jadi teletubis. Daddy sama Bunda mau sholat atau mau jadi teletubis?" tanya Argha.


Aris kemudian melepas pelukannya. Dia mendapat skak mat dari anak nya itu. Setelah selesai mengambil wudhu. Mereka bertiga menuju mushala rumah utama. Semua penghuni rumah menjalankan sholat berjamaah.


Selesai sholat maghrib, mereka kemudian melanjutkan makan malam.


"Atuk" ujar Argha kepada Papi.


"Apa sayang?" tanya Papi.


"Argha nanti bobok sama Atuk ya." ujar Argha.


"Hah tumben?" tanya Aris menatap anaknya itu.


"Argha mau jadi teletabis sama Atuk." ujar Argha menjawab pertanyaan Aris.


"Hahahahaha. Jadi Argha tadi nampak orang jadi teletabis?" tanya Bram yang mulai usil.


Argha mengangguk. Dia sangat suka melihat Aris dan Ghina malu gara gara ulah mereka sendiri.


"Iya. Mereka jadi teletubis. Ndak malu" jawab Argha menatap ke kedua orang tuanya.


"Bram, Argha cukup. Makan." ujar Papi.

__ADS_1


Mereka kemudian makan dengan tenang kembali. Mereka tidak lagi mengeluarkan suara sama sekali.


__ADS_2