Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kebahagiaan Arga Kepanikan Aris


__ADS_3

"Aris sabar nak. Kita akan cari Gina dan Arga sampai ketemu. Kamu harus sabar Ris. Jangan seperti ini." ujar Papi berusaha menenangkan anak laki lakinya itu.


Aris terlihat sangat rapuh. Dia betul betul terguncang atas kepergian istri dan anaknya.


"Pi, aku nggak marah atau kecewa dengan Gina Pi. Kenapa Gina pergi Pi. Apa salahku kali ini Pi." ujar Aris sambil menarik narik rambutnya.


"Kamu tidak salah Ris. Tapi ada yang lain yang salah. Papi akan cari tau siapa orang yang telah berani mengusir menantu dan cucu kesayangan Papi."


"Kamu tau kan Ris. Papi kalau sudah marah seperti apa. Papi tidak akan memandang dia siapa. Papi janji sama kamu. Papi akan cari tau semua permasalahan ini." Papi memukul mukul pundak Aris.


"Sekarang fokus kamu adalah mencari dimana Gina dan Arga. Papi nggak mau melihat kamu seperti ini. Kembalikan fokus mu. Cari anak dan istri mu. Masalah yang lain serahkan ke Papi." lanjut Papi dengan nada yang sangat serius.


"Terimakasih Pi. Aku akan cari tau semua penyebab permasalahan ini. Aku tidak akan memaafkan orang yang menjadi penyebab kehancuran rumah tanggaku. Kalau penyebabnya aku dan Gina, kami akan menyelesaikannya Pi. Tapi ini aku benar benar pusing." ceracau Aris kepada Papi.


"Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu Ris. Kamu tenangkan dulu hati dan pikiran kamu." perintah Papi dengan nada yang tidak bisa di bantah.


"Pi tolong telpon Bram suruh pulang cepat Pi."


"Baiklah Papi akan meminta Bram untuk menyelesaikam permasalahan di sana dan kembali ke sini dengan cepat."


.


.


.


"Pi, kenapa Gina dan Arga bisa pergi ya Pi?" tanya Mami pura pura tidak tau.


"Ntahlah Mi. Suatu saat semuanya akan terbongkar." balas Papi sambil menatap tajam ke arah istrinya itu.


"Papi kenapa menatap Mami seperti itu. Mami jadi merinding Pi." ujar Mami yang ditatap tajam oleh Papi.


"Mami tau kan aku paling tidak suka di tusuk dari belakang. Maka siapa yang telah menusuk aku dari belakang karena perkara ini, maka mereka harus siap siap berakhir di jalanan." ujar Papi dengan nada dinginnya.


Papi naik ke atas ranjang, dia benar benar pusing dengan keadaan rumah. Sedangkan Mami berbaring telentang dengan mata yang tidak bisa terpejam. Dia takut Papi akan tau semua masalah yang terjadi karena ulah Mami. Mami sama sekali tidak bisa tidur. Dia bergolek ke kanan bergolek ke kiri. Benar benar tidak bisa memejamkan matanya. Semua itu diperhatikan oleh Papi.


"Awas kamu Mi. Sempat semua ini ulah kamu, kamu akan kembali ke jalanan. Sekalinya ****** tetap ****** ternyata." ujar Papi.


.


.


.


"Nona Bramantya keluar kamu dari kamar." teriak Ayah yang baru sampai di rumah utama.


Nana yang sudah tertidur langsung terjaga karena teriakan Ayah yang memenuhi kamar mereka.


"Apa apaan sih yah. Nggak bisa apa ngomong dengan baek baek. Kenapa harus teriak teriak kayak di hutan." ujar Nana yang tidak melihat ekspresi dari Ayah dan Afdhal.


Ayah menarek paksa Nana keluar dari kamar. Ayah menghempaskan Nana ke sofa yang ada di ruang keluarga. Nana terkejut dengan semua sikap Ayah kepadanya.


"Ayah ada apa?" tanya Nana yang memang tidak tau ada apanya.


"Ada apa kamu bilang? Kamu tau kan anak gadis kesayanganku pergi dari rumah Soepomo." ujar Ayah murka.


"Tau, tadikan Aris mencari Gina ke sini lewat telpon." ujar Nana dengan wajah biasa aja.


"Pasti kamu tau penyebab Gina pergi dari rumah Soepomo." ujar Ayah kembali.


"Tidak. Aku tidak tau. Palingan dia pergi karena Aris menolak menerima anak sialan itu." ujar Nana dengan wajah santainya.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Nana. Nana memegang pipinya. Dia menatap tajam ke arah Ayah. Anggel memeluk Afdhal, dia melihat Ayah yang begitu murka kepada Nana. Anggel melihat luka bathin seorang Ayah dan kekecewaan seorang suami terhadap tingkah dan kelakuan istrinya.


"Kamu menamparku gara gara anak dan cucu sialan itu? Kamu sadar siapa yang kamu tampar?"


"Aku Wijaya sadar siapa yang aku tampar. Aku menampar seorang ibu dan nenek yang dibutakan oleh ambisi." ujar Ayah menjawab pertanyaan Nana.


"Awas kamu, sempat aku tau semua ini adalah akibat campur tangan mu. Aku pastikan kamu akan keluar dari rumah ini." ujar Ayah mengancam Nana.


"Aku sama sekali tidak takut. Aku benar, aku malu punya cucu seperti dia." teriak Nana yang memang lebih berani dari pada Mami.

__ADS_1


Nana mengeluarkan semua ucapannya dengan luar biasa frontal. Nana sama sekali tidak menanggang perasaan siapapun.


"Kepalang tanggung" ujar Nana dalam hatinya.


"Kamu pegang ucapan Mu. Saat aku tau semua, kamu akan memetik buahnya." ucap Ayah


Papi kemudian masuk ke dalam kamar tamu. Dia sudah memutuskan semenjak malam ini dia akan tidur di kamar tamu saja. Dia tidak akan tidur di kamar Nana lagi.


.


.


.


Pagi harinya Aris sudah bangun, dia menatap lama kasur di sebelahnya. Dia berharap ada Gina di sana. Dia juga berharap kejadian kemaren hanyalah sebuah mimpi saja. Tetapi harapan hanya tinggal harapan. Semuanya memang nyata, Gina tidak ada lagi di sisinya. Gina dan Arga telah pergi.


Aris yang tidak mau tenggelam dalam kesedihannya, dia memilih untuk bekerja sambil mencari keberadaan istri dan anaknya.


Aris membersihkan badannya yang lengket akibat emosinya yang luar biasa semalam. Setelah membersihkan badan, Aris memilih sendiri pakaiannya, sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan oleh Aris. Aris memakai pakaiannya. Setelah dia merasa yakin dengan tampilannya. Aris berjalan menuju meja makan, dia akan sarapan dengan keluarganya.


Mami yang melihat Aris telah kembali normal merasa senang dan kembali tenang. Aris tidak seperti yang ditakutkan oleh dirinya. Mami mengira Aris tidak akan keluar kamar, ternyata Aris bersikap tidak terjadi apa apa kemaren.


"Ternyata keputusan ku untuk mengusir Gina dan Arga adalah keputusan tepat. Aris aja santai." monolog Mami di dalam hatinya.


"Aris, kamu?" tanya Papi yang heran dengan Aris.


"Aku harus kuat Pi." jawab Aris dengan singkat.


Papi mengangguk tanda paham dengan maksud dari Aris. Mereka kemudian sarapan, Aris makan dengan sangat pelan, Nasi yang diambilnya pun tidak banyak seperempat dari porsi biasanya.


"Ris tambah sarapannya ya Nak." ujar Mami.


"Cukup Mi. Aku udah kenyang." jawab Aris menolak untuk menambah sarapannya.


"Pi, Mi, Aku ke kantor dulu." ujar Aris sambil mencium tangan Papi dan Mami.


"Hati hati Nak," jawab Mami.


Aris kemudian melajukan mobilnya. Dia akan membrifing orang orangnya yang akan melakukan pencarian terhadap Gina dan Arga.


"Maaf saya terlambat."


Aris duduk di sofa yang berhadapan dengan para orang orang yang akan disuruhnya untuk melakukan pencarian terhadap Gina.


"Saya minta kalian melakukan pencarian terhadap istri dan anak saya. Saya mau kalian mencari sampai dapat." ujar Aris.


"Kalau perlu periksa sampai ke ujung dunia." lanjut Aris.


"Kalian periksa seluruh bandara, pelabuhan sampai ke terminal. Cari nama istri dan anak saya."


"Silahkan kerjakan." ujar Aris menutup meeting tersebut.


"Baik Tuan Muda" jawab pemimpin dari orang orang Aris yang akan mencari Gina dan Arga.


Aris kembali melanjutkan membaca beberapa laporan yang baru masuk. Biasanya selama ini yang melakukan tugas itu adalah Bram sebagai asisten Aris. Tetapi karena Bram ada pekerjaan lain makanya Aris yang melakukan.


Konsentrasi Aris sempat buyar saat panggilan telpon dari Papinya.


"Hallo Pi"


"Kamu ke kantor Papi sekarang" ujar Papi menyampaikan maksud dan tujuannya menghubungi Aris.


"Ada apa Pi?"


"Kesini aja Ris. Nanti akan Papi kasih tau."


"Baiklah Pi. Aku ke sana sekarang"


Aris merapikan semua barang barangnya. Dia sangat penasaran dengan perintah Papi yang mengharuskan dia datang cepat.


"Cancel semua jadwal saya hari ini. Saya harus ke Jaya Grub" ujar Aris kepada sekretarisnya.


"Baik Tuan Muda"

__ADS_1


"Semua laporan yang diatas meja saya, tolong kamu antarkan ke rumah. Saya akan memeriksanya nanti malam" perintah Aris selanjutnya.


Aris berjalan dengan langkah yang cepat, dia benar benar ingin cepat sampai di perusahaan Jaya Grub. Aris masuk kedalam mobilnya. Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Ada apa Papi memintaku untuk cepat ke kantornya?" ujar Aris bermonolog sambil menyetir mobil.


Sesampainya di kantor Papi. Aris langsung saja menaiki lift khusus presdir. Semua karyawan Jaya Grub menatap mantan bos mereka itu dengan tatapan kagum. Mereka mengingat ingat masa masa di bawah kepepimpinan Aris.


Ting. Bunyi pintu lift. Aris berjalan keluar dari lift. Dia melihat Paman Hendri yang baru keluar dari ruangan Papi.


"Papi ada di dalam Paman?"


"Ada Ris. Ayok masuk, kamu sudah di tunggu dari tadi." ujar Paman Hendri membawa Aris masuk ke dalam ruangan Papi.


Aris yang melihat Papinya sedang membaca beberapa laporan membiarkan saja terlebih dahulu. Aris tidak mau menganggu Papi.


"Kamu sudah datang Ris?" tanya Papi.


"Lima belas menit yang lalu Pi" jawab Aris sambil tersenyum.


"Oh maafkan Papi yang keasikan membaca laporan laporan ini." ujar Papi sambil berjalan menuju sofa di dekat Aris duduk.


"Ada apa Pi?" tanya Aris kepada Papi.


"Duduk dulu Ris. Kamu sangat tidak sabaran sekali. Papi akan menceritakan semuanya kepada Mu." ujar Papi sambil tersenyum melihat ketidak sabaran Aris.


.


.


.


Sedangkan di negara U, hari ini semua anggota keluarga sedang mengambil jatah liburnya sebelum memulai hari hari dengan bekerja. Mereka berencana akan piknik di danau buatan belakang mansion. Arga dari pagi sudah sibuk dan tidak sabaran untuk memulai piknik itu.


"Bunda, piknik" ujar Arga.


"Kita akan piknik di belakang mansion. Kita akan memancing di danau buatan itu" ujar Gina.


Semua peralatan untuk piknik sudah di persiapkan oleh Daniel. Mulai dari tenda, alat pancing sampai dengan alat untuk barbeque.


"Niel, ayok piknik" ujar Arga yang langsung berlari ke arah Daniel.


"Oke. Mari kita pergi." ujar Daniel.


"Gimana kalau kita pacu lari. Siapa yang sampai duluan di dekat danau maka dia menjadi juaranya" ujar Daniel mengajak Arga berpacu lari.


"Setuju. Yang kalah halus bakal ikan" ujar Arga yang yakin dia akan kalah, tetapi tidak mungkin dia akan membakar ikan.


"Oke setuju" jawab Daniel.


Mereka berdua kemudian tos. Gina dan Rani yang mendengar pembicaraan kakak beradi yang terpaut usia jauh itu hanya bisa senyum senyum saja. Kejadian langka dimana Daniel mau melakukan taruhan dengan seseorang. Hanya dengan Arga dan Frenya, Daniel bersedia melakukannya.


Arga berlari dengan sekuat tenaga, sedangkan Daniel berlari dengan santai. Daniel sangat tau Arga mengajukan taruhan seperti tadi pasti karena ingin dia kalah jadi Nana yang akan memasak.


Sedangkan Daniel memilih untuk berlari santai supaya Arga menang, jadinya yang masak adalah Daniel. Tujuan Daniel adalah untuk membuktikan kepada Rani kalau dia pintar memasak.


Akhirnya lomba itu di menangkan oleh Arga. Arga terlihat biasa saja, sama sekali dia tidak bersorak menyambut kemenangannya. Ekspresi Arga datar saja. Gina dan Rani serta Daniel hanya bisa geleng geleng kepala melihat Arga yang seperti itu.


Mereka akhirnya memancing. Arga diberi sebuah pancing oleh Daniel. Mereka berdua terlihat serius menunggu kailnya di sambar oleh ikan danau. Sedangkan Gina dan Rani mulai mengulek bahan bahan yang akan dijadikan saos untuk bakaran ikan.


"Niel, pancing Arga berat" ujar Arga dengan suara kerasnya.


Daniel berlari untuk menarik pancing Arga. Ternyata Arga berhasil memancing sebuah ikan yang cukup besar.


"Yey Alga menang, Niel kalah." sorak Arga dengan gembiranya.


Rani mendekati Arga. Dia mengambil ikan dari tangan Daniel untuk di bersihkan. Dua pria tampan itu kembali memancing. Pancingan kedua tetap Arga yang mendapatlan ikannya. Dirasa ikan sudah cukup Daniel dan Arga menggulung pancing mereka masing masing. Mereka duduk menunggu ikan bakar yang sedang di masak oleh Gina dan Rani.


"Sayang tadi kenapa waktu menang lomba lari kamu tidak bahagia?" tanya Gina kepada Arga.


"Kalena. Niel sengaja untuk kalah. Bial bisa memamelkan masakan di depan Lani." ujar Arga sambil menatap mengejek Daniel.


"Hahahaha. Ketahuan" ujar Gina.

__ADS_1


Daniel hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Rani menunduk malu karena ulah konyol Daniel yang terbaca oleh Arga.


Selesai makan mereka berempat bermain dengan begitu bahagianya. Gina sangat bersyukur bisa keluar dari rumah itu. Dia bisa melihat Arga tertawa dengan begitu lepasnya. Tanpa memikirkan hal apapun. Tanpa menerima hinaan dan cacian dari oma yang disayangnya.


__ADS_2