Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Galau Gina


__ADS_3

Gina menenggelamkan dirinya dan pikirannya pada pekerjaan hari itu Gina benar benar tidak tau harus berbuat apa kepada Aris. Sampai sekarang aja Aris bertahan untuk tidak menchat apalagi menelpon Gina. Gina menatap nanar kepada ponselnya.


Tiba waktu makan siang. Gina yang biasanya harus ke kantor Aris, hari ini Gina tidak mau melakukannya. Gina lebih memilih untuk beribadah dan mengerjakan pekerjaan kantor. Gina kemudian memesan makanan favoritnya dengan memakai jasa ojek online. Gina kemudian menyantap makanan yang dipesannya tadi.


Gina makan dengan nasi padang. Gina tidak keluar keluar dari ruangnnya. Gina tidak ingin saat saat seperti ini moodnya menjadi terganggu. Gina makan dengan linangan air mata. Biasanya setiap makan siang Aris sudah berisik menyuruh untuk ke kantornya. Sekarang jangankan menyuruh ke kantor, chat aja tidak ada sama sekali.


Gina yang selesai makan siang langsung saja menuju mushalla perusahaan untuk melakukan sholat zhuhur. Dia berharap setelah sholat perasaannya akan menjadi lebih tenang. Selesai sholat zhuhur, Gina menuju ruangan Sari sahabatnya. Dia ingin mengobrol dengan Sari. Sudah lama sekali Gina tidak ada berbicara dengan dua sahabatnya itu semenjak hari pernikahan Gina.


"Sar" panggil Gina kepada Sari yang sedang minum jus buah itu.


"Elo teriak teriak kayak orang utan aja. Hampir jus gue tumpah" kata Sari yang langsung memegang kuat jusnya saat jus tersebut hampir saja tumpah.


"Maag Sar." kata Gina yang langsung menyeret satu kursi untuk duduk tepat di sebelah Sari.


Sari memperhatikan Gina, dia tau Gina sedang ada masalah.


"Nggak usah curhat di sini ya. Kita chat Mira dulu, nanti kita curhat di apartemen gue aja. Kita suruh Mira kensana." kata Sari sambil meletakkan tangannya di atas pundak Gina.


"Makasi, loe berdua bener bener sohib gue. Gue belum cerita aja loe berdua udah tau kalau gue sedang susah" kata Gina sambil memaksakan senyumnya kepada Sari.


"Jadi loe ke sini hanya mau itu doang?"


"Nggak lah. Tapi sebelum ke mall lebih baik gue tentramin hati gue aja dulu." kata Gina.


"Sari, loe telpon Mira, kita keluar sekarang aja. Kita ke tempat biasa untuk pergi melepaskan sesak di hati gue. Urusan loe nanti jadi urusan gue. Loe telpon Mira aja." lanjut Gina yang langsung mengeluarkan ponselnya.


Gina kemudian menghubungi manager Sari.


"Hallo Tuan Andra. Saya Gina"


"Ya Nona muda, ada apa?" jawab Andra manager bagian.


"Saya mau membawa Sari pergi sekarang. Tapi tidak balik lagi. Apakah boleh?" Nada suara Gina mengisyaratkan keinginan yang tidak bisa di tolak oleh siapapun lagi.


"Boleh nona Gina. Tidak apa apa, lagian pekerjaan Sari tidak banyak lagi saya lihat. Jadi bisa dilanjutkan besok pagi" jawab manager.


"Terimakasih manager, saya berhutang kepada anda." kata Gina dengan nada terimakasihnya.


"Oh tidak masalah Nona muda" jawab manager.


Gina langsung saja mematikan ponselnya.


"Nggak presdir, dirut ee sekarang nona muda, sama aja memutuskan sambungan telpon tidak ngode ngode, min matikan aja" kata manager dengan kesal.


"Yuk Sar. Aman." kata Gina kepada Sari


Sari kemudian mengemasi semua perlengkapannya. Setelah itu Sari ikut Gina ke ruangan bagiannya. Gina juga membersihkan semua perlengkapannya dan mematikan komputer yang sedang ada desain sebuah kafe yang cantik. Mereka berdua lalu turun ke lantai bawah tempat mobil Gina di parkir.


"Loe udah telpon Mira?"


"UdaH. Dia nunggu di kantornya Bayu" jawab Sari sambil berjalan mengikuti Gina.


Mereka masuk kedalam mobil Gina. Gina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Gina menekan salah satu tombol di mobilnya yang dari tadi malam sengaja dimatikan.


"Apaan Gin?" kata Sari.


"GPS. Gue mau lihat reaksi tu makhkuk saat GPS memberi sinyal kalau gue keluar dari ibu kota"


"Setuju gue. Kita lihat apakah dia menghubungi elo atau hanya membiarkan elo kemana perginya."


Mereka berdua akhirnya sampai di depan perusahaan Bayu. Mira sudah menunggu di depan pintu kantor. Gina memberhentikan mobilnya tepat di depan Mira.


"Masuk Mir" kata Gina

__ADS_1


Mira kemudian masuk dan langsung duduk di kursi bagian belakang. Sedangkan Sari sudah duduk di depan.


"Mau kemana?" tanya Mira dari belakang.


"Mau ngelepasin setereh Nyonya Muda Soepomo"


"Emang loe kenapa Gin?" tanya Mira yang sufah tidak sabar.


"Nanyaknya nanti aja Mir. Loe mau mampus belum nikah?"


"Gue aja bawa mobil Gin." kata Mira langsung yang talut meninggal muda.


Gina memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia keluar dari pintu mobil. Mira langsung saja mengambil alih untuk mengemudikan mobil kembali.


"Rute kemana?" tanya Mira ke Gina.


"Puncak pas. Gue mau tereak kuat kuat"


"Tempat biasa aja ya, yang orangnya nggak rame aja" kata Mira menawarkan tempat kepada Gina.


Gina kemudian mengangguk tanda setuju. Sepanjang perjalanan mereka sibuk bercanda, mereka melepaskan semua rasa kangen dan rindu untuk berkumpul. Tak terasa mobil sudah meninggalkan area ibu kota. Mobil Gina mengarah ke daerah puncak pas. Gina merogoh ponsel yang terletak di dashbord mobil.


"No Gina" kata Sari sambil mengambil ponsel itu.


"Nanti aja saat sampai loe boleh tengok ponsel loe. Jadi kalau dia tidak mengabari maka loe lepaskan langsung semua beban loe" lanjut Sari kepada Gina.


Gina melihat ke arah Mira. Mira menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Sari. Gina kembali duduk di tempatnya dengan tenang.


Tidak berapa lama mereka sampai di tempat yang di tuju. Mereka kemudian turun dan berjalan agak ke dalam pepohonan. Mereka lebih memilih saung yang terletak di paling bawah. Sebelum sampai ke sana, Sari pergi memesan makanan untuk mereka.


Saat mereka sampai Sari memberikan ponsel Gina.


"Neh gue kasih sama loe. Tapi loe harus yakin kalau pulang dari sini semua masalah udah loe buang ke udara. Kami memang nggak tau masalahnya apa tapi yang paling penting loe tau kalau kami ada untuk loe." kata Sari


Gina kemudian menangis terisak isak. Sari dan Mira langsung memeluk Gina. Mereka tidak menyangka kalau Gina akan bernasip seperti ini.


"Gin, ada apa sebenarnya?" kata Sari.


Gina kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Sari dan Mira. Tidak satu pun ditutupi oleh Gina. Gina menceritakan mulai dari percakapan Gina dengan Mami dan Nana kemudian Aris yang pergi dari rumah sampai dengan Gina yang mencari Aris pada malam itu.


"Jadi sampai sekarang dia tidak ada menghubungi mu sama sekali?" kata Mira sambil menatap tajam mata Gina.


Gina menggeleng dengan sangat lemah. Mira melongontidak percaya dengan kejadian yang menimpa Gina. Dia tidak percaya dengan ini semua, Aris yang dulu begitu gigih mengejar ngejar Gina, tiba tiba bisa berubah dengan cepat.


"Gin, gue minta maaf sebelumnya sama loe. Apakah loe nggak ada merasakan ada sesuatu yang sedikit aneh dengan Aris belakangan ini?" tanya Mira.


"Maksud loe?"


"Ya gitu Gin. Aris kan berubah cukup mencolok. Maksud gue, apakah loe nggak ada merasakan sesuatu hal tentang apa yang terjadi terhadap Aris." kata Mira yang nggak mungkin langsung saja mengatakan apa yang dimaksudnya.


"Maksud loe, Aris akan selingkuh dari gue?" tanya Gina menatao Mira.


Mira kemudian mengangguk.


"Jangan sampai Mir. Gue kalau itu terjadi maka gue akan takut, gue takut kalau gue tidak bisa menerima dia lagi Mir. Gue sangat cinta dia Mir." kata Gina kembali terisak.


"Gin, gue kan cuma berandai andai. Kalau dilihat dari sifat Aris tidak akan mungkin Aris tega berbuat seperti itu sama kamu." kata Sari.


Pelayanan kemudian datang mengantarkan makanan yang di pesan oleh Sari. Ketiga sahabat itu langsung makan dengan lahap, kecuali Gina. Gina terlihat sangat malas untuk makan.


"Gin, jangan loe pikirin yang gue omongin tadi. Gue hanya berandai andai Gin" kata Mira dengan nada merasa bersalahnya.


"Gue nggak mikirin itu Mir, Sar. Tapi yang gue pikiran sekarang adalah kenapa dia berubah seperti ini. Gue merasa tidak kenal dengan dia lagi"

__ADS_1


"Gue takutnya nanti dia ninggalin gue. Gue nggak masalah nggak diajak bulan madu. Gue ikhlas tidak pergi. Tapi jangan cuek seperti ini ke gue." lanjut Gina.


Gina kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah lembah. Dia ingin melampiaskan semua beban dihatinya. Mira dan Sari mengikuti Gina dari belakang. Mereka sudah tau Gina akan melakukan apa.


"Aris gila loe. Loe boleh marah ke gue tapi jangan cuekin gue kayak gini."


"Loe kira cuma loe doang yang punya perasaan, gue juga punya"


"Loe kira loe doang yang manusia, gue juga"


"Loe kira loe aja yang butuh perhatian dan kasih sayang pasangan. Gue juga sangat butuh"


"Loe kira gue butuh pergi bulan madu itu, nggak gue nggak butuh. Gue cuma butuh elo cinta dan sayang serta setia sama gue."


"Gue nggak butuh uang loe. Gue nggak butuh tiket liburan, gue nggak butuh hadiah mahal."


"Gue cuma butuh loe selalu ada di sisi gue. Loe selalu bimbing gue."


"Ini yang gue terima. Loe pergi dari gue. Loe nggaknpernah mau ngerti perasaan gue."


"Gue tanya sama loe, apa salah gue ke elo." kata Gina.


Mira dan Sari merekam semua kejadian itu. Mira mengirim ke Bayu sedangkan Sari mengirim ke Bram.


Bayu yang kebetulan sedang bersama Bram langsung melihat ponselnya. Begitu juga dengan Bram yang juga melihat video yang dikirim Sari.


"Bram ada apa ini?" kata Bayu kepada Bram.


Bram kemudian menceritakan semua kejadian kepada Bayu. Semuanya tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.


"Kok bisa Aris kayak gitu ya?"


"Itulah yang gue herankan. Gue rada rada curiga dengan Aris sekarang Bay."


"Curiga maksud loe?"


"Ya. Aris sekarang asal pergi meeting keluar tidak pernah mengajak gue lagi. Dia selalu mengajak Vina sekretarisnya itu."


"Jdi loe curiga kalau Aris ada main dengan Vina?" kata Bayu menatap tajam Bram.


Bram mengangguk. "Gue sangtmat yakin kalau dia memang bermain berdua" kata Bram.


"Loe pantau aja terus. Kasian Gina kalau memang terjadi" kata Bayu.


"Kita jemput mereka aja yuk Bram. Gue cemas mereka pulang kesorean." kata Bayu.


Mereka kemudian pergi menyusul Gina dan kedua sahabatnya.


Gina yang melihat Bram dan Bayu yang mendadak sudah berada di dekat mereka langsung melihat ke arah Mira dan Sari. Mira dan Sari langsung mengangguk.


"Gin" kata Bram.


Gina langsung memeluk Bram. Gina menangis kembali di dalam pelukan Bram.


"Gin, udah. Kamu tenang saja ya. Aku dan mereka semua akan selalu berada di samping kamu. Jadi aku minta jangan bersedih lagi ya" kata Bram sambil menghapus air mata Gina.


"Pulang yuk, Kamu sudah lega kan?" kata Bram.


"Udah kak. Ayuk pulang" kata Gina.


Mereka kemudian menuju mobil untuk pulang ke rumah. Gina sudah nyaman dengan keadaan dirinya. Dia sudah bisa bisa berpikir dengan normal lagi. Gina sudah tidak setres lagi.


"

__ADS_1


__ADS_2