Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Ketahuan


__ADS_3

Gina terlihat sangat cantik turun dari kamarnya menuju meja sarapan. Hari ini Gina memakai dress sepanjang lutut berwarna crem serta alas kaki berupa sneakers keluaran terbaru sebuah brand ternama dunia, untuk riasan Gina selalu tampil natural hanya bermodal bedak dan lipteen. Penampilannya dilengkapi dengan menyandang sebuah tas ransel keluaran brand ternama. Gina semenjak sudah menceritakan siapa dia sebenarnya kepada sahabat-sahabatnya sudah memakai semua barang branded kembali. Dia sudah memakai semua koleksi tas, baju dan sepatu dari brand-brand ternama dunia.


"Pagi Nana." Sapa Gina.


"Pagi sayang. Kamu cantik banget hari ini. Mau kemana sayang?"


"Kuliah dong Nana. Mau kemana lagi, aku kan udah mulai kuliah dari hari senen. Nana lupa?"


"Maaf sayang, Nana lupa. Maklum faktor U"


Gina tersenyum mendengar ucapan Nana. Gina heran kenapa sudah mau jam tujuh Ayah dan Uda Afdhal tidak turun juga dari kamar mereka. Nana yang paham dengan keanehan itu langsung menjawab pertanyaan yang tidak terucapkan oleh Gina.


"Ayah dan Uda sudah berangkat subuh tadi Gin."


"Kantor Na? Tumben pagi banget" kata Gina heran, biasanya Ayah dan Afdhal akan berangkat kekantor jam delapan.


" Nggak sayang. Ayah dapat telpon dari Paman Hendri bahwasanya perusahaan kita yang di USA sedang ada masalah. Makanya ayah dan Afdhal terbang subuh tadi." kata Nana.


"Terus Nana ke perusahaan dengan siapa?" sebelum Nana menjawab tante Meri sudah masuk dengan stelan kantor formalnya.


"Tuh udah datang." kata Nana sambil melihat tante meri.


"Ooo. Yuk tante sarapan." ajak Gina.


"Saya sudah sarapan Nona muda." jawab tante Meri dalam mode asisten Nana.


"Gina. Nana kayaknya akan keluar kota selama tiga hari. Kamu hati hati di rumah ya sayang. Kamu bawa aja Sari dan Mira." kata Nana.


"Baiklah Nana. Nana dan tante Meri hati hati dijalannya." kata Gina sambil memeluk Nana. Mulai malam ini dia akan tinggal sendiri di rumah besar itu.


Nana dan tante Meri kemudian berangkat ke kantor. Sedangkan Gina hari ini memakai mobilnya dan berangkat menuju kampus. Kuliah Gina hari ini sangat padat. Gina sampai di kampus tepat sepuluh menit sebelum perkuliahan dimulai. Gina berjalan dengan cepat, dia menjadi tatapan semua teman kampusnya. Mereka menyangka Gina adalah anak baru. Gina sampai di kelasnya.


"Wow Gin. Loe keren banget." kata Sari menatap takjum ke arah Gina.


"Biasa aje. Jangan lebay." jawab Gina dengan cueknya, Gina kemudian duduk dikursi biasanya.


Seorang dosen wanita masuk. Dia membawa bergulung-gulung kertas gambar. Dosen itu meminta mahasiswanya untuk mendesain sebuah kafe berlantai lima dengan tema diserahkan ke mahasiswa. Gina dan semua teman sekelasnya sibuk menyelesaikan desain yang diminta dosennya. Tak terasa jam perkuliahan mereka telah selesai. Gina mengajak kedua sahabatnya untuk pergi makan ke sebuah restoran keluarganya. Rencana Gina selesai makan dia akan mengajak kedua sahabatnya untuk menginap di rumahnya, Nana hari ini sampai tiga hari kedepan akan berada diluar kota mengurus anak cabang perusaan Brawijaya.


Gina melajukan mobil kesayangannya menuju restoran keluarganya. Gina berjalan sambil bercanda dengan kedua sahabatnya. Gina tidak menyadari kalau disana ada Aris dan Bram. Mereka sedang makan siang juga.

__ADS_1


Aris kemudian memerhatikan Gina.


"Selamat siang Nona Muda." sapa manager restoran tersebut.


"Selamat siang paman. Apakah pengunjung rame hari ini?"


"Alhamdulillah rame Nona Muda."


"Baiklah saya mau makan dengan kedua sahabat saya. Tolong hidangkan ya." kata Gina.


"Silahkan ke ruangan VIP Nona." manager mengarahkan Gina ke arah ruangan VIP.


"Tidak perlu. Saya akan makan dipojokan itu saja. Saya ingin melihat apa yang kurang dari restoran ini. Kalau saya di VIP, maka semua kekurangan itu tidak akan terlihat." jawab Gina.


Gina dan kedua sahabatnya menuju meja yang berada di tengah belakang. Gina akan memerhatikan tiap sudut restorannya.


Aris yang mendengar manager memanggil Nona Muda kepada Gina langsung berdiri dan menemui manager yang sedang menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan siang Nona muda mereka.


"Permisi." kata Aris.


"Oh maaf Tuan Aris, ada yang bisa saya bantu. Kebetulan saya manager di restoran ini."


"Begini manager saya mau bertanya sedikit saja. Tadi anda memanggil Nona yang duduk dengan dua temannya itu dengan panggilan Nona Muda. Apakah maksud Anda dia anak perempuan tuan Wijaya?" tanya Aris dengan penasaran.


"Terimakasih infonya manager. Saya permisi dulu." tanpa mendengar jawaban manager, Aris langsung berjalan menuju Bram.


Aris langsung tersenyum senang saat duduk di depan Bram. Bram yang melihat langsung curiga.


"Loe kenapa Ris, datang-datang langsung senyum Loe kesambet?" Bram menatap curiga kearah Aris.


"Yuk balek. Gue sedang dalam mood yang baik. Kerjaan kita sedang banyak." Aris kemudian meninggalkan beberapa uang seratus lembaran.


Bram kemudian masih dengan rasa oenasarannya tetap melajukan mobil menuju kantor. Sampai di kantor Aris turun dengan senyum yang masih melekat diwajah tampannya. Beberapa karyawan yang melihat menjadi heran mereka bertanya tanya ada apa dengan bos mereka siang ini.


Bayu yang baru sampai dari Padang yang sedang duduk di kursi lobby kantor juga heran melihat Aris yang tersenyum masuk kedalam kantornya.


"Bro tu makhluk kesambet setan?" tanya Bayu kepada Bram.


"Gue juga nggak tau bro. Loe kapan datang?"

__ADS_1


"Barusan sampe."


"Yok masuk. Kita tanya aja tu makhluk ajaib kenapa bisa senyum-senyum nggak jelas gitu."


Bram dan Bayu mengikuti Aris yang sudah lebih dulu masuk kedalam lift. Di dalam lift Aris masih terus tersenyum. Bram dan Bayu menjadi serba salah. Mereka bertiga masuk kedalam ruangan Aris. Aris duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Bram dan Bayu duduk disofa


"Loe kenapa Ris dari tadi senyam senyum kayak orang kesambet setan." tanya Bayu yang sudah tidak tahan dengan ekspresi bahagia Aris yang berkelebihan itu.


Aris kemudian pindah duduk kedekat dua sahabatnya itu.


"Jadi gini. Tadi saat makan siang di restoran dengan Bram. Aku menemukan titik terang yang selama ini aku cari-cari. Bahkan sampai rela terbang ke Padang hanya untuk mencari sebuah kepastian."


"Jadi maksud loe tadi saat makan siang ketemu Gina gitu? Kok gue nggak tau ya?" Bram menatap Aris tajam.


"Gimana mau tau. Loe dari tadi sibuk dengan makanan saja tentu lah iya." jawab Aris asal.


"Terus yang bikin loe bahagia gini apa? Jangan bilang loe udah katakan cinya." tanya Bayu.


"Nggak lah Bay. Seuatu yang bikin gue jadi senyum begini tu. Gue sudah tau siapa Gina sebenarnya." jawab Aris dengan bangga.


"Jadi loe sudah tau dia berasal dari keluarga mana." Bram menekankan kembaki pernyataan Aris.


"Yup."


"Jadi?" tanya Bayu


"Jadi, Gina itu nama panjangnya Gina Putri Wijaya." jawab Aris dengan lantang.


"Jadi Gina anak Tuan Wijaya? Pengusaha hebat itu?" Bayu menatap Aris dengan tatapan perly diyakinkan.


"Yup. Dia adalah anak perempuan satu satunya keluarga Wijaya." jawab Aris.


"Terus. Kenapa tadi loe nggak samperin dia aja. Kenapa kita langsung ke kantor." Bram oenasaran. Bram yakin Aris pasti punya rencana untuk Gina.


"Loe tau jawabannya Bram." jawab Aris tersenyum misterius.


"Semoga kali ini bener ya Ris. Jangan ngasal lagi" tekan Bayu kepad Aris. Aris kemudian tersenyum dan mengangguk kepada Bayu dan Bram.


...----------------...

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan Aris supaya Gina mengemukakan siapa dia sebenarnya???


nantikan up terbarunya ya kak


__ADS_2