
BONUS UP YA KAKAK. KARENA BANYAK YANG BACA DAN KOMEN.
Gina, Sari dan Mira berjalan dengan santai nya pada lorong lorong markas yang diterangi lampu remang. Lantai yang berwarna kelam dan dingin serta dinding gelap yang dingin menambah suasana mencekam di markas itu. Bram dan Bayu pandang pandangan mereka sama sekali tidak tau tempat apa itu. Aris memang punya grub mafia black jakc tetapi tidak sedahsyat ini markas mereka. Orang orangnya tidak seterlatih ini.
Gina membuka satu pintu ruangan dengan cincin yang dipakai di jari tengahnya. Pintu itu langsung terbuka, pintu baja yang tahan akan lontaran granat dan bom.. Mereka berlima langsung masuk ke dalam ruangan saat pintu terbuka dengan lebat.
Bram dan Bayu melihat lihat ke sekeliling ruangan itu. Di sana terpajang berbagai senjata tajam dari berbagai negara. Bram dan Bayu tidak menyangka ada rumah seperti ini di ibu kota. Black jack saja tidak seperti ini ruangannya. Mafia terkenal di negara ini.
Gina kemudian duduk di sofa, diikuti oleh Sari dan Mira. Begitu juga dengan Bram dan Bayu, mereka juga duduk di sofa di ruangan itu.
"Kakak berdua pasti herankan dengan tempat ini?" kata Gina.
"Tidak hanya heran Gin. Tapi juga kagum. Kami tidak mengira ada rumah seperti ini di ibu kota. Aku mengira black jack adalah kelompok mafia yang terhebat. Tetapi ada yang lebih gila dari itu" kata Bram mengeluarkan seluruh isi otaknya.
"Kak, kami bukan mafia, kami adalah sekelompok manusia yang memiliki tujuan menoling mereka yang kesusahan. Semua yang berada di sini adalah orang orabg yang kompeten di bidangnya. Contoh Sari, dia sangat pintar melobby target. Mira jangan ragukan siasat berperangnya. Kami di sini juga ada angkatab yang juga bergerak dengan kami. Seperti orang orang di mobil Van tadi. Mereka adalah tentara." kata Gina selanjutnya.
"Grub kami ada dokter, pilot, pengusaha, pengacara. Intinya grub ini adalah kumpulan semua profesi yang menginginkan adanya keadilan. Siapapun boleh meminta bantuan kami. Kami pastikan akan kami bantu. Berapa banyak perusahaan yang minta bantuan kami." kata Gina selanjutnya.
"Apakah di sini pakai di gajI?" lanjut Bayu yang penasaran.
"Oh tidak kak. Kami menerima bayaran sesuai dengan yang diberikan oleh orang yang meminta bantuan kami. Semua yang bekerja hari itu akan mendapatkan hak mereka. Mereka juga akan memberikan kepada anggota yang tidak ikut" lanjut Sari.
"Gin yang membuat gue penasaran kenapa mereka memanggil kamu Nona? Atau jangan jangan kamu?" kata Bram yang menggantung ucapannya.
"Hahahaha. Benar kak, aku adalah ketua dari perkumpulan ini. Karena akulah yang mengumpulkan mereka semua. Mereka mereka orang orang pilihan yang memiliki kemampuan tetapi karena tidak ada dekingan makanya mereka jadi terbuang. Aku memanfaatkan kesempatan itu kak" kata Gina memberikan alasan.
"Aris kalau tau ini dia akan minder dengan black jack nya itu. Ini jauh lebih keren dari pada black jack" kata Bayu.
"Kakak mau keliling keliling dulu atau gimana? Kalau mau keliling dulu boleh kak." kata Gina.
"Sayang, temani aku berkeliling markas mu yang keren ini" kaya Bram samnbil menggandeng tangan Sari.
"Kamu juga mau sayang?" tanya Mira kepada Bayu.
Mereka berempat kemudian berkeliling melihat lihat setiap sudut markas yang sangat besar itu.
"Sayang itu lapangan apa?" tanya Bram yang melihat lapangan sangat luas.
"Oh itu lapangan tembak. Mau coba?" tawar Sari.
"Boleh. Loe ikut Bay? Kita coba lapangan tembak itu" kata Bram menunjuk lapangan tembak yang dimaksudnya.
"Gimana kalau taruhan,, yang kalah dia harus traktir makan selama seminggu." kata Mira.
"Setuju" jawab Sari, Bram dan Bayu..
"Gue jadi wasit." kata Gina yang baru muncul dari ruangannya.
"Gue ada ide. Gin loe coba nembak duluan ya" kata Mira.
"Sip."
__ADS_1
Gina kemudian menuju sebuah ruangan kecil di dekat lapangan tembak. Dia mengeluarkan pistol favoritnya.
"Hay, lama tak jumpa sayang" kata Gina mencium pistolnya.
"Kamu yakin Gin?" tanya Bran yang terlihat ragu.
"Jangan remehkan Gina, kak" kata Mira menimpali.
Mira menekan tombol di atas sebuah papan kontrol. Keluarlah orang orangan yang berjalan dan meliuk liuk.
"Oke. Siap. Mulai" kata Sari memberikan aba aba.
Gina menembaki semua musuhnya dalam hitungan detik. Tanpa meleset dan membuang peluru tidak berguna. Semua orang orangan yang keluar dari persembunyiannya tergeletak tepat dibagian jantung mereka.
"Wow" kata Bram yang tidak percaya dengan yang dia lihat.
"Kenapa kak?" tanya Gina.
"Loe memang penuh dengan kejutan Gin. Gue nggak nyangka loe bisa menembak dalam hitungan detik." kata Bram.
"Berkat latihan kak" kata Gina yang meletakkan pistolnya kembali.
"Ayuk mulai pertandingannya. Peraturannya, siapa yang menembak cepat dan tepat mengenai jantung musuh maka dia yang menang." kata Gina.
"Wah mana bisa gitu Gin. Mana yang banyak mengenai musuh ajalah Gin"
"Kenapa takut?" tanya Bayu dengan percaya dirinya.
"Ya udah kita mulai aja. Nunggu apa lagi" jawan Bayu.
Mereka berempat mengambil pistol yang dirasa sesuai dengan mereka.
"Silahkan hompimpa siapa yang menang berarti dia duluan" kata Gina.
"Ayuk Mira, loe duluan." kata Gina sambil tersenyum.
"Ngapain loe senyam senyum?"
"Ya ginama nggak senyum Loe kan nggak bisa nembak. Peecaya diri banget loe tadi ngajak taruhan nembak" kata Gina sambil tertawa.
"Gue akan buktikan" kata Mira.
Mira mengambil pistol yang dia rasa sesuai tangannya.
"Mulai." kata Gina.
Mira menembak semua sasaran berjalan itu. Tapi sayangnya hanya tiga dari sepuluh yang berhasil ditembak dengan tepat sasaran.
"Berikutnya kak Bram"
Bram maju menuju tempat posisi dia akan menembak. Bram sudah yakin dengan kemampuan pistolnya.
__ADS_1
"Mulai" kata Gina.
Bram dengan membabi buta menembaki setiap orang orangan yang keluar. Gina yang melihat cara Bram.menembak hanya bisa menahan tawanya. Cara Bram menembak bisa di pakai di medan peperangan. Hasilnya Bram bisa menembak lima yang tepat sasaran dari sepuluh yang berhasil dia tembak.
"Lumayan kak, dibanding Mira." kata Gina memberikan semangat.
"Sari"
Sari kemudian maju, dia sudah memegang pistol yang biasa dia pakai dalam misi apapun. Sari adalah sniper grub Gina. Tapi Sari lemah dalam menembak jarak dekat.
"Mulai"
Sari sangat kelihatan tidak tau mau menembak yang mana. Akhirnya Sari memutuskan untuk memilih enam musuh saja. Jadi dia lebih unggul dari pada kekasihnya Bram.
"Wah loe curang Sar." kata Mira.
"Kenapa?"
"Loe milih enam dari sepuluh yang akan loe tembak" jawab Mira.
"Itu namanya strategi untuk meraih kemenangan" jawab Sari sambil tersenyum.
"Terakhir Kak Bayu"
Bayu maju ke depan, tipe gaya.menembak Bayu sama dengan Bram, yaitu tipe penembak dalam medan perabg. Asal kena aman. Akhirnya yangbtepat sasaran adalah empat orang orangan.
"Jadi pemenang lonba menembak kali ini adalah Sari, sang sniper grub kami" kata Gina.
Bram yang mendengar mendadak menjadi pucar.
"Kenapa kak Bram? Kok pucat?"
"Serius kamu sniper sayang?" kata Bram menatap Sari.
"Yup Sayang" kata Sari.
"Hahahahaha. Hati hati loe Bram. Selingkuh loe di tembak dari jarak jauj. Dor tepat di sini" kata Bayu menunjuk jantung Bram.
"Huf" kata Bram.
"Kak Bayu jangan senang dulu. Mira lebih sadis. Dia petarung jarak dekat. Jadi???? kebayangkan" kata Sari.
"Waduah"
"Hahahahahaahhaahahaa" Gina, Sari dan Mira tertawa melihat ekspresi Bram dan Bayu.
"Selagi nggak kayak Aris, amankan kok sayang" kata Sari.
Mira mengangguk dan mengiyakan apa yang dikatakan Sari.
"Ayuk pukang. Urusan dengan Aris belum kelar" kata Gina yang masih ada satu lagi urusan.
__ADS_1