
Gina kemudian turun dari mobilnya. Dia berjalan dengan anggunnya menuju Aris dan Vina. Aris yang melihat Gina ada di tempat itu langsung terkejut. Mana Aris sedang memeluk pinggang Vina lagi. Aris yang kaget langsung melepaskan pegangan tangannya di pinggang Vina.
"Sayang, aku hampir jatuh gara gara kamu melepaskan tangan mu dari pinggang ku" kata Vina tanpa melihat Gina yang sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
Prok prok prok prok. Gina bertepuk tangan dengan sangat keras.
"Mantap. Ternyata kecurigaan ku selama ini benar. Kamu mendua." kata Gina dengan tenangnya.
"Selamat sayang. Lanjutkan. Anggap saja aku tidak mengetahui semua kejadian ini" kata Gina kepada Aris.
Gina kemudian maju dia menjambak dengan kasar rambut Vina yang sudah basah karena siraman dari para pengunjung kafe.
"Hay wanita jalang. Aku tau maksud kamu mendekati suami ku. Kamu berasal dari keluarga Handoko. Berniat untuk mengambil suami ku dari tanganku. Agar kamu dan keluarga mu bisa kembali kaya. Kamu sengaja menargetkan Aris, karena dia adalah anak tunggal keluarga Soepomo. Kalian beranggapan bahwasanya Aris adalah pewaris untuk kerajaan bisnis dua perusahaan besar" kata Gina dengan lantang. Gina masih menarik dengan kuat rambut Vina.
"Sayang itu tidak benar sayang. Dia memfitnah aku" kata Vina sambil berusaha menggapai tangan Aris.
"Fitnah? Hahahahahaha. Lebih baik aku.mencium pantat serigala dari pada buang tenaga memfitnah kamu. Kamu mau bukti oke." kata Gina.
Gina kemudian mengeluarkan ponselnya yang lain dia memperdengarkan percakapan antara Vina dengan tuan Handoko
"Sayang, apa kamu sudah berhasil mendapatkan hati Aris?" kata Papi Handoko
"Sudah papi. Papi tenang saja. Sebentar lagi kita akan menjadi kaya papi"
"Jadi Aris menganggap kamu benar benar mencintai dia?"
"Iya papi. Dasar bego. Mana mau aku sama pria sudah beristri. Aku cuma cinta hartanya papi. Nggak lebih dan nggak kurang" kata Vina selanjutnya.
"Hahahahaha. Kamu bener bener anak papi"
"Aku mana mau miskin lama lama papi. Aku oengen cepat kaya. Tau nggak Papi, Gina sekarang di rumah sakit. Aku doain semoga dia cepat mati. Jadi aku cepat jadi istri Aris. dan kita akan cepat menjadi kaya papi" kata Vina dengan berapi api.
"Kamu harus bermain cantik nak. Sepertinya kekejaman Aris di dunia bisnis tidak ada efeknya dengan kehidupan pribadinya"
"Bener papi. Aris itu pria bodoh yang dengan mudahnya kena tipu."
__ADS_1
Gina kemudian mematikan rekaman percakapan itu. Vina terlihat sangat panik.
"Sayang itu semua bohong sayang. Beneran sumpah. Aku nggak kenal siapa Handoko sayang" kata Vina mengelak.
"O. Kamu masih mengelak Vina. Oke aku ada foto keluarga mu" kata Gina.
Gina memperlihatkan foto keluarga Handoko kepada Aris. Aris semakin marah kepada Vina. Aris menyentakkan badan Vina ke lantai tempat parkir. Vina langsung tersungkur. Keningnya berdarah karena terbentur dengan lapangan parkir. Aris kemudian menjambak dan menyeret Vina. Dia mencekik Vina dan kembali melemparkannya ke lapangab parkir. Vina sudah tidak berday lagi. Badannya bener bener remuk. Vina hanya visa menyesali perbuatannya untuk saat ini.
"Aris cukup" teriak Gina.
Aris kemudian terdiam. Dia melihat Gina dengan tatapan penuh penyesalan. Gina berjongkok di depan Vina yang sudah babak belur oleh kekejaman Aris.
"Kamu pelakor nggak mutu. Aku Gina Putri Wijaya, tolong kamu pasang telinga kamu. Mulai detik ini. Kamu dan keluarga kamu harus pergi dari negara I. Kalian akan gue terbangkan ke daerah yang tidak pernah kalian duga. Ingat satu hal kamu dan keluarga kamu dalam pengawasan gue dan anak buah gue. Loe sudah salah cari lawan. Dengar" kata Gina. Giba kemudian menginjak jari jari tangan Vina dengan sangat keras.
"Ini tangan yang sudah berani memegang suami gue." kata Gina semakin kuat menginjak jari jari tanagn Viba.
"Ini kepala yang sudah berani bersandar di bahu suami gue" kata Gina sambil memukul berulang kali kepala Vina.
"Ini pipi yang sudah berani meminta ciuman ke suami gue" Gina menampar berulang kali pipi Vina. Vina semakin tidak berbentuk.
Sampai pada satu rumah yang terlihat sangat kecil dan tampak tidak di rawat mobil Van berhenti. Gina dan Aris juga berhenti. Empat pemuda berbadan besar tadi turun dengan membawa Vina. Mereka kemudian mengetuk pintu rumah. Dari dalam rumah keluar seorang pria yang dulunua cukup terkenal di dunja bisnis. Dia adalah tuan Handoko.
"Vina, kenapa kamu nak?" kata Tuan Handoko saat dia melihat Vina yang sudah babak belur.
Gina kemudian maju menemui tuan Handoko.
"Perkenalkan saya Gina Putri Wijaya. Anda pasti tau saya siapa. Dan saya juga tau anda siapa dan apa maksud anda selama ini" kata Gina dengan aura dinginnya. Siapapun yang berada di sana pasti merasakan aura dingin yang membunuh itu.
Mira dan Sari juga turun mendampingi Gina. Bram dan Bayu sama sekali tidak. Mereka tidak ingin Aris melihat mereka berada di sana.
"Maksud kamu?" kata Tuan Handoko gugup. Dia tidaj menyangka kalau Gina adalah seorang perempuan tangguh yang memiliki aura kematian.
"Hahahahahaha. Masih tanya maksud saya apa. Tuan Handoko, saya memberi kamu pilihan Kamu mau hiduo dengan damai di tempat yang saya sediakan. Atau kamu akan mati perlahan lahan kalua.masih tinggal di sini dan tetap memanfaatkan anak kamu untuk menggoda suami orang" kata Gina dengan tatapan tajamnya.
"Pi, kita pergi dari sini pi. Aku nggak sanggup kalau harus melawan dia pi" kata Vina sambil menunjuk Gina.
__ADS_1
Gina langsung memelintir telunjuk Vina yang menunjuk ke arahnya. " Hay manusia bego. Kemaren kemane aje lu. Sampai bilang gue begok. Yang begok siapa? Gue apa lue?" kata Gina sambil menghempaskan tubub Vina ke dinding.
"Boy, Jack. Keluarkan semua baju mereka. Saya akan telpon stepen untuk mebawa heli kemari. Saya sudah muak melihat muka mereka" kata Gina.
Gina mengeluarkan ponselnya.
"Stepen, siapkan boing. Kamu antar dua mkhluk nggak berguna ini ke tempat biasa kita menyekap tahanan nggak mutu. Paham stepen. Saya akan sampai satu jam lagi di markas" kata Giba dengan tajam.
Gina kemudian melangkah ke mobil Aris. Gina membawa salah satu pengawalnya.
"Loe turun. Kita belum selesai" kata Gina kepada Aris.
Aris turun dari mobilnya. Dia tidak menyangka kalau istrinya luar biasa kejam kalau sudah tersakiti. Gina memasangkan borgol ke tangan dan kaki Aris. Seorang pengawal meletakkan Aris di kursi belakang mobilnya.
"Antarkan dia ke rumah keluarga Soepomo" perintah Gina.
"Siap Nona"
Pengawal melajukan mobilnya menuju rumah utama Soepomo. Sedangkan Gina akan berangkat ke markas. Giba tidak mau Aris tau siapa dia. Cukup hanya Bram dan Bayu yang tau nantinya.
Tian Handoko dan Vina sudah dinaikkan ke atas Van. Begitu juga dengan istri handoko dan anaknya yang pertama. Mereka berempat akan diasingkan ke pukau yang jauh dari beradaban. Sinyak ponsel tidak ada di sana. Mereka bisa masuk, tapi tidak bisa keluar. Hanya Gina yang bisa membawa siapapun keluar dari daerah itu.
Gina melajukan mobilnya menuju markas. Bran dan Bayu pandang pandangan. Mereka tidak paham akan situasi ini.
"Kakak, mau tau kan siapa kami bertiga. Makanya kakak ikut ke tempat kami biasa mangkal. Nanti kakak akan tau sendiri kami siapa" kata Gina.
Mereka akhirnya sampai di markas. Gina dan semua kekuarga Handoko langsubg menuju hellipad.
"Stepen antarkan mereka dengan selamat ke sana." kata Gina.
"Siap nyonya. Biar mereka rasakan asiknya mengganggu kehidupan Busway" kata stepen.
"Hahahahahaha. Stepen kamu sudah membuka kedok saya" kata Gina.
Tuan Handoko langsung tertegun, dia sudah tau siapa busway. Tuan Handoko sangat tau betapa kejamnya busway, kalau sudah.menyangkut keluarganya. Apalagi sekarang Handoko sengaja mengaduh hidup Busway. Maka habislah dia.
__ADS_1
Dua helikopter terbang membelah angkasa. Gina, Mira dan Sari serta Bayu dan Bram langsung menuju markas. Hari ini Gina akan membuka siapa mereka sebenarnya ke Bram dan Bayu. Harusnya Aris berhak tau, tapi Gina memutuskan dia tidak perlu memberi tahu Aris, siapa dia sebenarnya.