
Malam harinya Gina dan Aris sudah tertidur dengan damai, mereka berdua masuk ke dalam mimpi mimpi pengantar tidur.
"Jangan........, tidak........, jangan....... Jangan ambil anak aku. Aku bersedia memberikan apapun, tapi jangan ambil anak aku." teriak Gina dengan kuat.
Gina tidur dengan gelisah. Keringat sudah mengalir dari dalam tubuhnya. Badannya bergetar menahan emosi.
Aris terbangun gara gara mendengar teriakan Gina. Aris menepuk pipi Gina berusaha membangunkannya dari tidur. Dia juga mengelap keringat yang membasahi badan Gina.
"Sayang bangun sayang. Kamu mimpi buruk sayang." kata Aris berusaha membangunkan Gina.
Gina yang merasa ditepuk pipinya oleh seseorang membuka matanya dan langsung memeluk Aris dengan kuat.
"Sayang, dia mau mengambil anak kita sayang. Wanita berbaju hitam itu ingin mengambil anakku sayang." kata Gina sambil menangis di dalam pelukan Aris.
"Sayang tenang sayang. Nggak akan ada yang akan mengambil anak kita. Kamu hanya bermimpi." Aris berusaha meyakinkan Gina tentanh mimpi yang baru saja menghantuinya.
"Kamu harus tenang. Jangan sampai karena kamu tidak bisa mengendalikan diri kamu, Blip nanti juga tegang di dalam sana sayang. Apa kamu mau Blip juga merasakan ketegangan yang sama?" tanya Aris yang harus memasukan Blip kedalan cara menenangkan Gina.
Aris tau Gina akan kooperatif apabila menyangkut kesehatan dan kenyamanan Blip.
Gina berusaha menstabilkan detak jantungnya kembali. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungannya.
Setelah dirasa Gina sudah bisa mengendalikan emosinya. Aris meletakan kepala Gina di pahanya. Aris menyandarkan badannya ke sandaran ranjang. Dia akan mengusap kepala Gina sampai Gina tertidur dengan nyaman kembali.
Pagi harinya Gina bangun dari tidurnya. Dia melihat Aris yang tidur duduk itu. Dia langsung memberikan kecupan selamat pagi.
"Sayang kita sarapan yuk. Aku lapar. Sepertinya Blip juga lapar." ujar Gina kepada Aris.
"Aku cuci muka dulu ya, kamu udah cuci muka?" tanya Aris yang melihat muka Gina masih muka bantal.
"Belum. Masih muka bantal juga." jawab Gina sambil tersenyum.
Mereka kemudian membersihkan muka dan menukar pakaian tidur dengan pakaian rumahan.
"Tumben ikut sarapan?" tanya Mira kepada Gina.
"Laper guenya." jawab Gina.
Aris dan Gina sudah tiga hari melewatkan waktu sarapan bersama. Mereka selalu sarapan setelah yang lain berangkat ke kantor.
"Mau makan apa sayang?" tanya Gina kepada Aris.
"Aku aja yang ambil kamu duduk aja yang tenang di situ." jawab Aris kepada Gina.
Gina kembali duduk ke kursinya. Dia menunggu Aris mengambilkan sarapan.
"Sayang aku kenapa ngompol ya. Padahal aku udah siap buang air kecil tadi." kata Gina saat merasakan ada rembesan air di selangkangannya.
"Mami, Gina ngompol Mi." ujar Aris kepada Mami.
Suster yang mendengar langsung berlari ke arah meja makan.
"Maaf Nyonya, saya pastikan dulu itu buang air kecil atau air ketuban yang merembes." kata Suster.
Suster membaui cairan yang sudah turun ke lantai rumah.
"Tuan kita harus segera bawa Nyonya Muda ke rumah sakit. Ini bukan buang air kecil, tetapi air ketuban Nyonya Muda yang sudah merembes." ujar suster.
Bram dan Bayu berlari menuju tempat meletakan kunci mobil. Aris dibantu Daniel menopang Gina. Sedangkan Mira mengambil tas tangan milik Gina di kamar. Mami dan Papi sudah berlari masuk ke dalam mobil dengan suster.
Mira langsung menghubungi rumah sakit Harapan Kita agar bersiap siap menyambut kedatangan Gina. Mereka tidak boleh sedikitpun melakukan kesalahan.
"Sayang sakit." kata Gina yang mulai merasakan sakit di perutnya.
"Remas tangan aku aja sayang. Biar sakitnya berkurang." ujar Aris kepada Gina.
"Papi, cepat ngebut Pi. Kayaknya Bunda mau melahirkan." Kata Daniel kepada Bram yang membawa mobil.
"Au..... Sayang....... Sakit....." teriak Gina kembali saat kontraksi itu datang. Gina meremas kuat tangan Aris Aris juga ikut merintih karena merasakan kuku kuku Gina menggores tangannha.
"Untunh saja, kamu udah potong kuku sayang. Kalau nggak. hm" ujar Aris pelan.
"Bram loe bisa bawa mobil ngebut nggak." teriak Aris yang panik juga melihat Gina seperti itu.
"Daddy ajak Mami untuk melakukan apa yang diajarkan waktu kelas kehamilan." kata Daniel mengingatkan Aris tentang pembelajaran di kelas kehamilan yang diikuti Aris dan Gina selama ini.
Aris berusaha mengingat apa yang harus dilakukan saat kontraksi datang.
__ADS_1
"Sayang tarik napas buang. Ikuti aku sayang." kata Aris kepada Gina.
Gina mengikuti semua yang dikatakan dan diperintahkan oleh Aris.
"Sial." teriak Bram sambil memukul kemudinya.
"Ada apa Bram. Sepertinya ada kecelakaan di depan Ris." ujar Bram.
"Kenapa mereka tabrakan nggak nengok nengok waktu coba." ujar Aris yang terlalu kesal sehingga tidak memikirkan apa yang akan diucapkannya.
"Daniel" kata Gina sambi menatap Daniel.
Daniel langsung mengeluarkan ponselnya.
[[Stepen terbangkan heli sekarang juga. Lacak saja GPS saya. Nona Gina butuh bantuan.]] kata Daniel memberikan perintah kepada Stepen.
[[Siap tuan.]] jawab Stepen.
Stepen langsung menerbangkan helicopter untuk menjemput Gina.
[[Tuan Daniel. Arahkan ke taman luas. Saya akan tunggu di sana.]] ujar Stepen.
"Papi, arahkan mobil ke taman. Stepen menunggu di sana." Daniel memberikan perintah kepada Bram untuk memutar arah menuju taman kota.
Bram memacu mobilnya dengan cepat. Dia harus cepat sampai ke taman kota. Terlihat Heli sudah mendarat di sana. Satu orang suster sudah berdiri di pintu heli.
Bram memberhentikan mobilnya tepat di jenjang helicopter. Aris membantu Gina untuk naik ke dalam helicopter. Setelah Gina dan Aris naik, Bram melajukan mobilnya kembali menuju rumah sakit. Sedangkan Stepen langsung menerbangkan kembali helicopter menuju rumah sakit Harapan Kita.
Gina terus saja merintih menahan sakit. Tidak memerlukan waktu lama. Helicopter mendarat di halipad di atas gedung rumah sakit Harapan Kita.
Semua dokter dan suster telah menunggu helicopter itu mendarat. Mereka langsung memindahlan Gina ke brangkar rumah sakit.
Mereka mendorong Gina menuju ruangan bersalin. Dalam ruangan telah menunggu dokter Ranti dengan para asistennya. Gina di baringkan di ranjang pasien.
"Maaf Nyonya saya akan memeriksa anda terlebih dahulu." kata dokter Ranti.
Dokter Ranti memeriksa kesiapan Gina untuk melahirkan. Tensi dan tekanan darah Gina masih normal. Setelah itu dokter Ranti memeriksa bukaan jalan lahir Gina.
"Maaf Tuan, Nyonya bukaannya baru bukaan empat. Jadi alangkah lebih baiknya Nyonya dan Tuan berjalan jalan di ruangan ini biar bukaannya makin banyak." ujar dokter Ranti.
"Bukaan maksud dokter?" kata Aris yang tidak paham dengan maksud perkataan Gina.
"Gimana mau di ajak jalan dokter. Gina selalu merasakan sakit." kata Aris.
"Memang seperti itu Tuan. Sangat bagus Nyonya merasakan sakit, jadi bukaan jalan lahirnya ada. Kalau Nyonya tidak bisa menahan rasa sakit, Nyonya kami sarankan untuk operasi sesar saja." terang dokter Ranti.
"Saya mau normal dokter. Saya akan menahan setiap rasa sakitnya." ujar Gina yang ingin merasakan bagaimana rasa sakit melahirkan itu.
"Baiklah Nyonya. Saya dan asisten saya akan selalu berada di sini. Seandainya Nyonya merasakan sakit yang luar biasa, kami akan langsung menolong Nyonya." ujar dokter Ranti.
Semua keluarga Soepomo dan Wijaya sudah berada di depan ruangan bersalin. Mereka menunggu dengan tegang bagaimana keadaan Gina di dalam.
"Dokter bolehkah saya untuk berjalan jalan di taman dokter?" tanya Gina kepada dokter Ranti.
"Bisa Nyonya. Saya akan mengikuti Nyonya dari belakang." jawab dokter Ranti.
Gina diiringi dokter keluar dari ruang bersalin. Semua keluarga menatap penuh harap. Termyata yang keluar adalah Gina dengan Aris beserta dokter.
"Nyonya Gina baru pembukaan enam Nyonya. Jadi Nyonya Gina memilih untuk berjalan jalan di luar. Semoga saja sebentar lagi sudah bukaan sepuluh." kata dokter Ranti menjelaskan.
"Sayang jalan jalannya di koridor sini aja jangan ke taman." kata Nana dengan nada tegasnya.
Gina menyetujui permintaan Nana. Dia berjalan hanya di sepanjang koridor saja. Baru berjalan selama lima belas menit. Gina merasakan sakit yang teramat sangat.
"Sayang sakit" teriak Gina dengan kencangnya.
"Tuan bawa Nyonya ke dalam. Sepertinya sekarang saatnya." perintah dokter Ranti sambil berteriak.
Aris dibantu Daniel menggendong Gina untuk masuk ke dalam ruangan persalinan.
"Sayang, kamu di sini aja. Temani aku ya?" pinta Gina kepada Aris.
"Iya sayang aku nggak kemana mana" jawab Aris yang terus mengusap rambut Gina.
Aris juga melap keringat Gina yang sudah mulai bercucuran. Sebenarnya Aris tidak tega melihat kondisi Gina seperti ini. Ingin rasanya Aris meminta dokter untuk melakukan sesar saja. Tetapi Gina pasti akan menolak. Aris tidak mau akibat usulnya, Gina menjadi tidak mood.
"Nyonya ikuti perintah saya. Jalan lahirnya sudah terbuka semua." kata dokter Ranti.
__ADS_1
"Baik dok" jawab Gina.
"Sekarang dorong Nyonya." perintah dokter Ranti.
Gina mendorong dengan kuat supaya Blip keluar. Semakin kuat Gina berteriak, maka semakin kuat jambakan rambut yang diterima Aris. Aris juga ikut berteriak, bukan karena solider dengan Gina, melainkan karena Aris merasakan sakit juga di kepalanya karena tarikan Gina di rambut Aris. Suster yang berada di ruangan itu pengen ketawa tapi tidak bisa.
"Tahan Nyonya. Sekarang ambil napas. Sedikit lagi Nyonya. Kepala Blip sudah kelihatan." ujar dokter.
Gina mengikuti saran dokter untuk mengambil napas dan mengumpulkan kembali tenaganya.
"Sayang kamu pasti bisa. Semangat sayang." ujar Aris memberikan semangat kepada Gina. Aris mengecup mesra kening Gina Gina memberikan senyum tercantiknya kepada Aris.
"Siap Nyonya. Sekarang dorong." kata dokter Ranti.
Gina berteriak dengan kuat. Dia mendorong blip keluar. Teriakan Gina sama kerasnya dengan teriakan Aris yang sudah tidak sanggup lagi di jambak rambutnya. Tapi Blip masih belum mau keluar dari rahim Gina.
"Nyonya jangan berteriak keras. Itu akan membuat tenaga Nyonya semakin cepat habis. Lebih baik Nyonya meremas sesuatu." kata dokter Ranti memberikan nasehat kepada Gina.
Gina kembali mempersiapkan dirinya. Kali ini dia tidak akan berteriak. Tetapi akan semakin kencang menarik rambut Aris.
"Sayang, kak Bram boleh masuk ya. Aku takut nanti akan berteriak karena menahan sakit." ujar Gina menatap Aris dengan penuh harap.
"Suster suruh Bram masuk." jawab Aris.
Aris sebenarnya tidak rela Bram menyaksikan proses melahirkan Gina. Tapi dari pada dia sendiri yang merasakan sakit, maka Aris setuju untuk membawa Bram ke dalam ruangan. Agar sama sama merasakan sakit.
Bram kemudian masuk ke dalam ruangan bersalin. Dia berdiri di sisi sebelah kiri Gina sesuai dengan tunjuk Aris. Perasaan Bram mulai tidak enak. Tetapi untuk kabur sudah tidak mungkin. Semua anggota keluarga berada di luar.
"Kita mulai lagi Nyonya?"
"Iya dok." jawab Gina.
"Kak Bram nunduk" ujar Gina kepada Bram.
Bram mengikuti instruksi Gina. Dia menundukan kepalanya. Dia melihat Aris juga sama.
"Sekarang, dorong." kata dokter Ranti.
Gina mulai mendorong bayinya untuk keluar. Kedua tangan Gina langsung menarik kuat rambut kedua pria tampan yang ditakuti di dunia bisnis itu. Aris dan Bram langsung berteriak kuat, karena Gina begitu kuat menarik rambut mereka berdua.
Oek oek oek. Terdengar suara bayi yang menangis kencang karena protes diganggu dan dikeluarkan dari dalam tempat ternyamannya. Gina, tersenyum bahagia karena anaknya telah lahir. Begitu juga Aris tersenyum karena anaknya lahir dan juga terbebas dari jambakan Gina. Sedangkan Bram meringis karena begitu kuat jambakan Gina.
"Selamat Tuan, Nyonya anak anda laki laki." ujar dokter kepada Gina dan Aris.
Dokter memperlihatkan wajah tampan anaknya kepada Gina dan Aris serta Bram sang Papi baru. Mereka bertiga meneteskan air mata melihat seorang bayi laki laki tampan yang seratus persen mirip dengan Aris.
"Alhamdulillah dok. Terimakasih atas bantuannya." ujar Aris sambil berjalan ke arah tempat Gina melahirkan.
"Kak Bram maaf ya, jambakan aku pasti kuat" kata Gina.
"Tidak masalah, demi dedek bayi, aku rela dijambak. Aku keluar dulu ya Gin." kata Bram sambil melangkah keluar. Dia ingin meminta Sari mengelus kepalanya yang sakit bekas dijambak.
Aris yang memang tidak kuat melihat darah segar, langsung pingsan saat itu juga. Ntah kenapa Aris harus berjalan ke sisi sebelah kiri Gina, yang mengakibatkan dia harus melihat darah habis melahirkan Gina.
Buk bunyi suara badan Aris yang menyentuh lantai. Para suster yang berada di ruangan sedang membersihkan Gina terkejut saat melihat Aris sudah tergeletak di lantai.
"Suami saya takut darah dok. Makanya pingsan" jawab Gina kepada dokter Ranti.
"Bawa keruangan tempat Nyonya Gina di rawat. Tambahkan satu bad di sana." perintag dokter Ranti.
Para suster kemudian membawa Aris keluar ruangan. Mereka akan meletakan Aris di kamar VIP. Keluarga yang melihat langsung heran, kenapa Aris yang keluar dengan didorong brangkar. Seharusnyakan Gina yang keluar sehabis melahirkan.
Bram yang melihat Aris pingsan, langsung teringat dengan darah habis melahirkan Gina tadi.
"Mam, Aris takut darah. Pasti dia melihat darah segar Gina makanya pingsan." kata Bram mengingatkan Mami dan Papi tentang phobia Aris.
"Hahahahaha. Tu anak memang nggak berubah. Sama kayak Papinya, lihat darah aja pingsan. Tapi waktu mukulin orang nggak ada pake pingsan" jawab Mami.
"Op kenapa Papi di bawa bawa" ujar Papi yang nggak mau phobianya disangkut pautkan dengan Aris.
"Bram ngomong ngomong anaknya berjenis kelamin apa?" tanya Nana yang mengalihkan pembicaraan.
"Nana, bukan aku nggak mau jawab. Biar Gina dan Aris saja yang menyampaikan. Mereka yang berhak." kata Bram dengan wajah sendu.
Mami dan Nana yang melihat wajah Bram sendu, sudah memastikan apa jenis kelamin cucu pertama mereka. Bram melihat Nana dan Mami juga berwajah sendu. Hanya bisa tersenyum.
"Hahahaha. Rasain Mami dan Nana dikibusi. Maafkan Balam ya Allah karena mengerjai Mami dan Nana." kata Bram yang terdengar oleh Daniel.
__ADS_1
"Dasar" kata Daniel.