
"Main apa lagi Gha?" tanya Ghina kepada anak bungsunya yang sibuk berjalan mengelilingi tempat bermain itu.
"Emang sekarang baru jam berapa Bunda?" tanya balik Argha.
Ghina melihat jam mahal yang berada di pergelangan tangannya.
"Jam setengah enam sore." jawab Ghina.
"Pulang aja Bunda. Argha ada PR yang harus diselesaikan." jawab Argha yabg teringat dengan tugas yang tadi di berikan guru kepada siswanya.
"Oh tumben inget ngerjain PR cepet?" tanya Ghina dengan heran.
"Karena bikin mozaik Bunda. Argha mana bisa, jadi Argha mau minta bantuan Uni. Kalau minta tolongnya nggak dari sore, alamat uni ndak mau Bunda." kata Argha yang mengingat gimana marahnya Frenya saat Argha minta tolong membuat mozaik jam delapan malam.
"Gha, belikan Frenya tas aja satu. Pasti Frenya mau siap itu." kata Aris memberikan solusi mutakhir.
"Wah Daddy pinter. Oke oke. Argha akan kasih Frenya tas." kata Argha yang dengan semangat mengiyakan apa yang dikatakan oleh Daddynya.
"Om Ivan ikut sama Argha. Biar Om Jero sama Om Bimo aja yang nukarin karcis dan bawa snacknya." perintah Argha kepada Ivan asistennya.
"Mau kemana Gha?" tanya Ghina sambil menatap anaknya dan Ivan bergantian.
Ivan menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya menandakan dia tidak tau apa apa dengan rencana Argha barusan.
"Mau beli tas untuk Uni tercantik dan tersayang Argha." jawab Argha sambil menatap Bunda.
"Emang ada uang?" tanya Ghina kembali.
"Mana ada Bunda. Argha ini anak kecil nggak ada megang uang." jawab Argha dengan polosnya.
"Terus mau bayar pakai apa?" lanjut Ghina.
"Om Ivan bayar." jawab Argha dengan santai.
"Hah? Om Ivan bayar? Mana cukup uang Om Ivan Tuan Muda. Satu tahun gaji Om Ivan belum tentu dapat uangnya." jawab Ivan kaget dengan jawaban Argha.
Jero dan Bimo yang mendengar langsung tertawa ngakak mendengar jawaban Argha.
"Om Jero minta uang beli tas. Om Jero pasti banyak uang." kata Argha dengan polosnya.
"Sama dengan Om Ivan Tuan Muda." jawab Jero.
Aris dan Ghina saling menatap tidak percaya dengan ulang anak bungsu mereka ini. Dengan gampangnya Argha meminta uang beli tas untuk Frenya kepada Asisten mereka masing masing. Untuk tas harga puluhan juta bisalah mereka beli dengan gaji mereka satu bulan, tapi kalau untuk tas Frenya rasanya tidak mungkin.
"Argha, sini. Argha besok besok jangan pernah minta uang lagi dengan yang lain ya. Kalau Argha mau beli sesuatu minta sama Bunda atau Daddy. Argha paham?" kata Aris memberitahukan kepada Argha.
Argha mengangguk. "Paham Daddy. Sekarang mata atm hitam Daddy. Argha minta." ujar Argha dengan gampangnya meminta black card milik Aris.
"Hahahahahaha. Langsung gunakan kesempatannya Gha." sambar Ghina saat mendengar Argha meminta black card milik Aris.
"Ayolah Daddy jangan pelit pelit." ujar Argha saat melihat Aris masih belum mengeluarkan black card yang dimintanya.
Aris memberikan dompet miliknya kepada Argha.
"Pilih sendiri mana yang mau" ujar Aris sambil mengulurkan dompet miliknya.
Argha menatap deretan black card milik Daddynya dalam dompet itu. Dia terlihat bingung mau mengambil yang mana. Argha kemudian menatap Ghina.
__ADS_1
"Bunda yang mana?" tanya Argha kepada Ghina.
"Terserah Argha aja mau yang mana." jawab Ghina.
Akhirnya Argha memutuskan keinginannya.
"Om Ivan, pegang dompet Daddy ya. Kita akan pergi membeli tas. Bunda sama Daddy duluan aja ke mobil. Tunggu Argha di situ." ujar Argha kepada Daddy dan Bundanya.
Setelah mengatakan hal yang rasanya diperlukan, Argha langsung saja berjalan. Ivan hanya bisa bengong saja. Argha sama sekali tidak mengucapkan terimakasih kepada Daddy dan Bunda.
"Om Ivan." teriak Argha saat melihat Ivan sama sekali tidak berjalan mengikuti dirinya.
"Van sana ikuti Argha." ujar Ghina menyadarkan Ivan.
Ivan langsung berlari mengejar Argha. Mereka berdua menuju salah satu brand ternama yang menjual tas.
Argha dan Ivan masuk ke dalam toko tersebut. Mereka berdua langsung menuju ke tempat pelayan yang berada di balik sebuah meja.
"Kak, boleh lihat tas keluaran terbaru?" tanya Argha kepada pelayan tersebut.
Pelayan yang ditanya Argha sama sekali tidak melirik ke Argha. Dia sibuk dengan temannya bercerita.
"Hello mbak, bisa tunjukkan saya tas keluaran terbaru?" tanya Argha sekali lagi.
Dua pelayan tetap tidak menggubris pertanyaan Argha. Mereka tetap mengobrol. Mereka menganggap Argha sama sekali tidak ada.
Ivan geram melihat sikap kedua pelayan yang sama sekali tidak mengacuhkan kehadiran Argha dan dirinya. Ivan hendak menghardik kedua pelayan itu.
"Jangan Om." ujar Argha.
"Tapi..." ujar Ivan yang tidak setuju dengan larangan Argha.
Kedua pelayan masih tidak melayani perkataan Argha. Argha mulai naik darahnya.
Prang. Bunyi meja kaca yang dipukul kuat oleh Argha memakai dompet milik Aris. Semua pelayan dan pengunjung toko melihat kesumber suara.
Seorang manager datang menghampiri Argha.
"Hay anak kecil apa yang kamu lakukan?" ujar manager itu sambil mengangkat tangannya untuk menjewer telinga Argha.
Ivan yang melihat gerakan tangan manager menahan tangan manager tersebut.
"Jangan sekali sekali Anda melekatkan tangan Anda ke telinga Tuan Muda saya, kalau Anda tidak ingin menyesal." ujar Ivan kepada Manager.
"Siapa kalian berani beraninya mengancam saya." ujar Manager dengan kesal karena tangannya di tahan oleh Ivan sehingga dia tidak bisa menjewer telinga Argha.
"Anda mau tau siapa kami?" tanya Ivan.
"Om Ivan sudah." ujar Argha yang sudsh tidak tahan lagi melihat kepongahan Manager toko.
Argha mengambil ponsel miliknya. Dia menekan nomor Aris. Aris yang sedang berjalan menuju toko tempat Argha dan Ivan berada mengangkat panggilan telpon dari Argha.
"Hallo Argha?" ujar Aris menjawab telpon dari Argha.
"Daddy, bisa ke toko. Orang orang di sini tidak sopan. Mereka sama sekali tidak melayani kami. Dia kira kami ini orang yang nggak mampu membeli." ujar Argha menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada Daddy.
"Baik sayang. Tunggu Daddy dan Bunda di sana." jawab Aris.
__ADS_1
Argha menutup panggilan telponnya dengan Daddy.
"Kenapa sayang?" tanya Ghina kepada Aris.
"Kita ke toko tempat Argha berada sayang. Dia sepertinya mendapatkan pelayanan yang tidak sopan dari pelayan di sana." ujar Aris menceritakan apa yang dikatakan Argha tadi.
"Oh baiklah." jawab Ghina.
Sepasang suami istri dan dua pengawal mereka yang mendorong troli berisi snack dan hadiah permainan tadi pergi menuju toko tempat Argha berada. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi di sana.
Sepasang suami istri itu masuk ke dalam toko brand ternama. Seorang pelayan menyongsong Ghina dan Aris.
" Selamat datang Tuan dan Nyonya Muda Soepomo." ujar pelayan toko dengan ramah.
Aris dan Ghina mengangguk, mereka melihat Ivan yang terlihat bersitegang dengan Manager. Sedangkan Argha duduk di dekat Ivan.
Aris dan Ghina menuju Argha dan Ivan.
"Sayang, ada apa?" tanya Aris kepada Argha.
Manager yang mendengar Aris memanggil sayang kepada Argha langsung terdiam. Dia telah salah memilih lawan kali ini.
Argha kemudian menceritakan apa yang terjadi. Manager dan dua karyawan tadi yang telah memandang remeh kepada Argha menjadi terdiam.
"Panggil pimpinan toko ini sekarang juga. Saya tunggu dalam lima menit. Kalau tidak datang maka toko ini akan saya usir dari sini." ujar Aris.
Manager langsung menghubungi pimpinan toko. Dia takut akibat ulahnya toko akan kena getahnya. Pimpinan toko yang baru saja memarkir mobilnya langsung separo berlari menuju toko.
Setelah sampai di depan pintu masuk toko, pimpinan memperhatikan dan merapikan penampilannya sejenak. Dia tidak mau terlihat acak acakan di depan para pegawainya.
Setelah yakin dengan semua tampilannya, pimpinan berjalan dengan gagahnya menuju Manager yang tadi menelponnya. Betapa kagetnya pimpinan toko saat melihat manager berselisih dengan siapa sore ini.
"Maaf Tuan Besar, ada yang bisa saya bantu?" ujar pimpinan toko.
"Oh Anda sudah datang. Tolong katakan kepada semua pegawai Anda di sini untuk bisa menghargai konsumennya." ujar Aris mengeluarkan kata kata dengan suara dinginnya dan menatap tajam pimpinan toko
"Jangan mentang mentang kalian dari brand ternama terus melihat seseorang dari tampilannya." ujar Aris mulai emosi.
"Kalian tidak akan tau dsri penampilan berapa uang yang dibawanya. Atau seperti apa kartu yang dibawanya. Kalian benar benar membuat aku muak." kata Aris dengan marah.
Ghina memegang pundak suaminya. Tetapi Aris menjawab dengan menggeleng.
"Aku tidak akan diam sayang. Mereka sudah berani menghina penerus aku, menghina anak kesayangan aku. Mereka harus menerima akibatnya." ujar Aris dengan murka.
"Bimo" teriak Aris memanggil asistennya.
Bimo dan Jero mendekat ke arah Aris dan Ghina.
"Hubungi pimpinan mall ini, katakan kontrak merk H habis bulan ini. Kembalikan uang sewa mereka." ujar Aris memerintahkan sesuatu kepada Bimo.
"Tuan Aris, tolong jangan usir kami dari mall ini tuan. Penjualan terbaik kami dari mall ini Tuan. Kami akan pecat Manager dan karyawan yang tadi bersikap tidak sopan kepada Tuan dan keluarga." ujar pimpinan toko dengan mengiba.
"Maaf Tuan, Saya bukan malaikat. Saya paling tidak suka keluarga saya dibuat seperti sampah. Jadi terima saja buah dari perbuatan kalian." ujar Aris.
"Argha, kita cari tas di toko lain saja ya Nak." ujar Aris dengan nada yang berubah total saat berbicara dengan Argha.
"Oke Daddy. Argha nggak suka belanja di tempat orang sombong seperti mereka. Baru karyawan udah sombong, apalagi yang punya brand." kata Argha dengan kesal.
__ADS_1
Keluarga Soepomo meninggalkan toko tersebut. Mereka pergi dengan kepala tegak. Lain hal dengan pemimpin toko dan karyawan lainnya. Ntah apa yang harus mereka katakan kepada CEO mereka tentang pengusiran yang dilakukan oleh Tuan Aris. Mereka tidak mungkin pindah ke GA Mall karena milik Nyonya Ghina. Toko yang di sana juga belum tau nasibnya.
"Habis sudah kita. Makanya mandang orang jangan dari penampilan." ujar pimpinan toko dengan nada lemah.