Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
GINA dan ARGA PERGI


__ADS_3

Sayang, hubungi Sari, biar Sari mengatakan kepada Bram untuk tidak pergi ke tempat dia sekarang." ujar Anggel.


Satu satunya orang yang bisa melarang Bram untuk kesana adalah Sari sendiri. Afdhal meraih ponselnya, dia mencari nama Sari di kontak ponselnya.


Afdhal menunggu deringan panggilan yang diangkat oleh Sari.


"Hallo Tuan Afdhal." jawab Sari dari negaea nun jauh di seberang.


"Sari. Aku mau minta tolong sama kamu." ujar Afdhal langsung ke topik permasalahan.


"Ada apa Tuan?"


"Tolong hubungi Bram. Jangan perbolehkan dia ke tempat kamu sekarang. Bram sudah mengetahui semuanya. Bram tidak mau menolong menjelaskan kepada Aris." ujar Afdhal memaparkan semuanua kepada Sari.


"Tuan, sebenarnya Bram bukan tidak mau menolong, tapi ini semua adalah ranah pribadi Aris. Bram yakin Aris sudah tau dengan apa yang terjadi dengan Arga. Tetapi Aris bersikap seperti tidak tau hanya untuk menyenangkan hati Gina. Aris tidak mau Gina merasa bersalah kepada dirinya."


"Masalah Bram mau ke sini bukan karena kabur dari masalah itu. Tetapi Bram ada pekerjaan di sini. Sekalian memang Bram tidak ingin ikut campur."


"Kita sama tau kalau Bram hanyalah anak angkat keluarga Soepomo. Bram menjaga perasaan banyak orang. Kalau Bram berdiri di sisi Arga maka Mami akan terluka. Sedangkan kalau dia berada di posisi Mami maka Gina akan terluka begitu juga dengan Arga." Sari memaparkan kenapa Bram memilih untuk terbang ke negara J.


"Jadi, saya harap kita semua paham dengan kondisi yang dialami oleh Bram. Kondisi dimana Bram benar benar sudah kejepit. Jadi dia memilih untuk mengerjakan tugasnya sekarang. Maafkan Saya Tuan, sekali ini Saya tidak bisa membantu Tuan." ucap Sari.


Afdhal menatap Anggel. Anggel tersenyum.


"Baiklah Sari tidak masalah. Kami tidak menyalahkan dirimu." ujar Afdhal.


"Setelah mendengar cerita Sari tadi aku baru paham dengan sikap yang diambil oleh Bram. Memang akan susah berada di posisi Bram sekarang ini." ujar Anggel yang diangguki oleh Rani.


"Oh ya dokter Rani apakah masih menunggu Daniel?" ujar Anggel bertanya kepada Rani.


"Ah dokter Anggel menggosip. Mana ada saya menunggu dokter Daniel." jawab dokter Rani.


"Kalau begitu saya pamit dulu dokter, Tuan Afdhal." ujar dokter Rani pamit untuk pulang ke rumahnya.


.


.


.


Aris pagi hari ini terlihat sangat rapi dan tampah. Apalagi dengan memakai jas berwarna navy semakin membuat Aris terlihat sangat dan sangat tampan. Dia sudah bersiap akan berangkat menuju perusahaan untuk melakukan beberapa meeting yang ditundanya karena acara resepsi pernikahan Afdhal dan Anggel.


"Loh Bram mana Mi? Kenapa nggak ada di meja makan?" tanya Aris yang sama sekali tidak melihat keberadaan Bram di meja makan pagi ini.


"Papi dari semalam tidak melihat Bram. Mungkin dia tidur di apartemennya." ujar Papi yang memang tidak melihat Bram dari semenjak pergi kantor sampai sekarang.


Aris yang sangat kenal dengan Bram tidak yakin kalau Bram beristirahat di apartemennya. Suatu hal yang tidak akan mungkin terjadi. Bram bukan tipe pria yang akan memilih tidur di luar selagi keluarganya masih ada.


Selesai sarapan Gina dan Arga mengantarkan Aris menuju mobilnya. Mereka berdua melambaikan tangannya kepada Aris. Gina yang penasaran dengan keberadaan Bram dari semalam memilih untuk menghubungi Sari sahabatnya. Dia yakin kalau Bram berada di negara itu.


Sari yang sedang tertidur mendengar sayup sayup suara panggilan telponnya. Sari meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi di jam tidur seperti ini. Saat Sari melihat nomor yang memanggil adalah nomor Gina, Sari langsung duduk dan menghidupkan lampu serta menerima panggilan telpon dari Gina.


"Hallo Gin ada apa? Loe nggak tau di sini jam berapa?" ujar Sari dengan nada kesal.


"Apakah Bram di sana?" tanya Gina.


"Yup. Bram di sini baru sampai. Dia sudah mengetahui tentang Arga. Bram memilih pergi dari sana karena dia tidak tau harus berada di posisi siapa. Posisi Bram kemari salah. Jadi aku harap kamu mengerti dengan keputusan yang diambil oleh Bram." ujar Sari memberikan pengertian kepada Gina.


"Aku sangat mengerti dengan posisi Bram. Baiklah aku sudah tau dimana posisi Bram sekarang. Kamu bahagiakan adik ipar aku itu ya." ujar Gina sambil tersenyum simpul.


"Dasar. Sudah tutup telponnya gue mau tidur. Loe nggak kira kira nelpon jam berapa." ujar Sari dengan jengkel dan langsung mematikan panggilan telponnya.


"Sepertinya ada sesuatu yang gue nggak tau ini." ujar Gina pelan.


"Pa Ma?" ujar Arga yang mendengar Gina berbicara pelan.


"Tidak ada apa apa sayang. Ayo kita main." kata Gina mengajak Arga bermain.


Gina tidak ingin Arga kembali tertekan dengan hal lainnya. Cukup Arga tertekan karena sikap Mami dan Nana. Dua orang yang berusaha dihindari Gina supaya tidak bertemu dengan Arga.


Tetapi semakin Gina ingin menghindar sang Mami seperti ingin mendekat. Seperti kejadian hari ini.


Mami tiba tiba masuk ke dalam kamar Gina. Mami membuka semua almari milik Gina. Mami mengambil beberapa koper dan membuka koper koper tersebut. Setelah itu Mami memasukkan semua pakaian Gina kedalam beberapa koper besar yang sudah siap menampung semua barang barang milik Gina. Mami memasukkan semua barang Gina dengan perasaan emosi yang luar biasa.


Setelah memasukkan pakaian Gina ke dalam beberapa koper, Mami kemudian beralih ke kamar Arga. Mami memasukkan pakaian Arga dan mainan Arga ke dalam koper koper besar. Setelah memasukkan semua pakaian Gina dan Arga, Mami membawa semua koper itu ke luar kamar Gina dan Arga.


"Maid" teriak Mami dari lantai dua kamarnya.


Kepala pelayan yang mendengar Mami memanggil dirinya menuju lantai dua. Gina yang mendengar Mami berteriak membiarkan saja. Dia masih terus bermain dengan Arga, Gina sama sekali tidak memperdulikan teriakan Mami itu.


"Panggil beberapa pelayan. Buang semua koper ini keluar." ujar Mami kepada Kepala pelayan.


"Tapi Nyonya" ujar kepala Pelayanan.


"Kamu mau mebantah saya!" teriak Mami yang mulai emosi.


"Nggg ngak Nyonya. Saya akan panggil beberapa orang maid untuk membawa koper ke bawah." ujar Kepala Pelayan dengan perasaan takutnya.


"Aku kemari susah." ujar kepala pelayan sambil menghembuskan nafas beratnya.


Tiga orang maid naik ke lantai dua rumah utama. Mereka membawa beberapa koper itu menuju lantai satu rumah. Terdapat enam koper besar yang harus dibawa oleh Gina.


Gina yang sedang asik bermain saat melihat koper yang sudah berada di depan pintu langsung tersadar kalau itu adalah koper miliknya dan Arga.


Gina sudah tau itu perbuatan siapa. Dia tinggal menunggu di lantai bawah orang yang sudah berani membuang kopernya keluar dari rumah utama.


Tidak menunggu lama, Mami turun dari lantai dua rumahnya. Dia berjalan dengan angkuhnya menuju lantai satu. Gina sudah menggendong Arga, dia sudah memegang kunci mobil. Gina sudah memutuskan akan membawa Arga keluar negeri.


"Kau dan anak sialan itu silahkan meninggalkan rumah ini."


"Pergi" teriak Mami.


Mami menendang koper milik Arga. Untung saja semua isinya tidak keluar dari koper. Arga sudah ketakutan dalam pelukan Gina. Semua ini tidak terlepas dari penglihatan seorang kepala pelayan.


"Makasi Nyonya besar, Anda sudah membantu saya mengemasi barang barang saya. Sehingga saya tidak perlu repot repot mengemasi semua barang saya" ujar Gina.


"Dasar wanita sombong. Kemana kamu akan pergi, ke rumah Wijaya Grub? Kamu sudah tidak di terima ibu kandung kamu lagi." ujar Mami.

__ADS_1


"Atau, saya akan memberikan pilihan kepada kamu. Buang anak sialan itu jauh jauh, maka kamu akan tetap menjadi Nyonya Muda Soepomo." ujar Mami tanpa perasaan mengatakan Gina harus membuang Arga.


"Hahahaha. Maaf Nyonya besar Soepomo. Saya sama sekali tidak berminat untuk menjadi Nyonya Muda Soepomo lagi. Saya lebih memilih menjadi orang biasa saja, tetapi dekat dengan anak saya. Saya tidak butuh harta yang saya butuh hanya anak saya." ujar Gina menekankan kata katanya.


"Mari kita lihat apakah kamu bisa bertahan hidup diluaran sana dengan membawa anak tidak tau diuntung itu." ujar Mami sambil menunjuk kiri Arga.


Gina menurunkan tangan Mami.


"Aku pastikan kamu akan menyesal Nyonya Besar. Sudah menghina, mencaci maki putraku, cucu kandung dirimu." ujar Gina tak kalah sinisnya kepada Mami.


Gina yang sudah bosan melayani Maminya. Langsung saja berjalan keluar rumah. Lebih baik dia cepat pergi dari rumah ini. Lama lama di sini anaknya akan menjadi korban.


"Pak bisa tolong masukkan koper koper ini ke mobil saya?" tanya Gina kepada kepala pelayan.


"Baik Nyonya." ucap kepala pelayan.


"Hay dia bukan Nyonya kamu. Nyonya kamu saya. Dia hanya orang luar di rumah ini. Cepat kamu masukkan semua barang barang milik dia ke dalam mobil. Lebih cepat dia pergi malah lebih baik." ujar Mami kepada kepala pelayan.


Kepala pelayan di bantu beberapa pelayanan dengan berat hati memasukkan semua koper milik Gina dan Arga ke dalam mobil. Setelah semua koper masuk, Gina mendudukkan Arga di kursi sebelah sopir. Gina memastikan keamanan Arga terlebih dahulu. Barulah setelah itu Gina menutup pintu bagian Arga.


"Pak, kami pergi dulu. Jangan hubungi suami saya. Biarkan dia tau dengan sendirinya." ujar Gina kepada kepala pelayan.


"Tapi Nyonya" ujar kepala pelayan yang keberatan dengan instruksi Gina.


"Aku mohon Pak."


"Baiklah Nyonya. Tapi Anda dan Tuan Muda harus selalu sehat. Jaga diri Anda dan Tuan Muda Nyonya. Maaf kami semua tidak bisa membantu Nyonya." kata Kepala Pelayan yang merasa bersalah karena tidak bisa membantu Gina.


"Tidak apa apa Pak. Kami memang tidak berhak tinggal di rumah ini lagi."


"Makasi selama ini sudah baik dengan saya dan Arga." ujar Gina.


"Woy jangan lebay. Sana pergi. Kamu sengaja mengulur waktu agar saat kamu akan pergi anak kesayanganku pulang dan melarang kamu untuk pergi. Bawa dalam hayalan kamu saja." ujar Mami kepada Gina dengan sombongnya.


Gina masuk ke dalam mobil. Dia membuka sim kartunya dan membuang sim kartu itu di perkarangan rumah.


"Selamat tinggal suamiku. Sekarang bukan keinginan ku untuk pergi dari mu. Tetapi orang tua mu dan juga keadaan anak kita yang membuat aku harus pergi untuk ke dua kalinya." ujar Gina bermonolog sendiri.


"Siap sayang kita akan bertemu dengan Daniel" ujar Gina kepada Arga.


"Neil?"


"Yup Neil" jawab Gina.


"Mon Ma" balas Arga dengan bersemangat.


Gina mengambil ponselnya yang selama ini sudah tidak dia gunakan lagi. Kali ini dia butuh bantuan mereka. Gina menghubungi orang kepercayaannya yang sudah diangkatnya menjadi pimpinan kelompoknya dahulu.


"Hallo Nona. Sudah lama Anda tidak menghubungi kami. Ada yang bisa kami bantu Nona?" ujar Alex saat mengangkat panggilan dari Gina.


"Maafkan aku Alex karena sudah luar biasa lama tidak menghubungi kalian. Kamu tau sendiri bagaimana keadaan putra kesayanganku ini serta fitnah yang diterima oleh Daniel." ujar Gina kepada Alex orang kepercayaannnya.


"Alex sekarang aku butuh bantuanmu. Aku sedang berkendara kesana. Tolong katakan kepada Stepen untuk menyiapkan pesawat." lanjut Gina memberikan perintah kepada Alex.


"Pesawat? Nona mau pergi dengan Tuan Arg? Apakah sebegitu rumitnya permasalahan Nona?" ujar Alex yang sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri dari perkataan Gina yang meminta disiapkan pesawat.


Mobil mewah itu berbelok masuk kedalam pagar tinggi. Seorang pengawal membukuk kepada Gina. Gina membalas dengan membunyikan klakson mobilnya. Gina dan Arga kemudian turun dari mobil mereka.


Gina berjalan kedalam markas. Markas masih sama seperti tahun tahun yang lalu. Hanya ada penambahan bangunan serta pengecatan bangunan. Selebihnya masih sama seperti yang dulu.


"Nona Gina sudah ditunggu Tuan Alex diruangan meeting." ujar seorang pengawal.


Gina dan Arga berjalan menuju ruangan Meeting. Gina membuka pintu itu dengan menempelkan telapak tangannya. Pintu ganda itu terbuka lebar.


Betapa terkejutnya Gina saat melihat disitu sudah ada Alex, Jero, Juan dan Stepen. Orang orang yang diberikan kepercayaan oleh Gina untuk mengelola semua perusahaannya dan rumah sakit. Keempat pria tampan dan gagah itu menundukkan kepalanya kepada Gina. Gina membalas dengan menundukkan kepala juga. Hal yang sama juga dilakukan oleh Arga. Gina mendudukan Arga di sebuah kursi kosong tepat di sebelah Juan.


"Hay boy" sapa Juan.


"Om" jawab Arga dengan wajah datar dan dinginnya.


"Dak emak dan anak sama aja. Berwajah dingin sedingin kulkas." ujar Juan.


"Hahahahahaha." semua yang mendengar dumelan Juan tertawa termasuk juga dengan Arga.


"Jadi bagaimana dengan rencana Nona?" tanya Alex yang kembali membawa percakapan ke ranah yang serius.


"Aku akan membawa Arga kenegara U tempat dimana Daniel berada. Tetapi aku minta kalian menghapus jejak digital tentang aku dan Arga. Apa kamu bisa Juan?" tanya Gina kepada Juan.


"Gampang." jawab Juan.


"Nanti setelah Nona dan Tuan Muda lepas landas. Semua data base tentang penerbangan Nona akan saya hapus." jawab Juan.


"Alex aku ingin perusahaan Jaya Grub dan Bramantya Grub berada di jurang kehancuran." ucap Gina dengan dingin.


"Tapi Nona, kedua perusahaan itu bukannya milik Mami dan Nana?" ujar Alex.


"Benar. Aku hanya mau kalian membuat dua perusahaan itu rugi besar. Itu saja. Sedangkan untuk Soepomo mereka akan menerima akibatnya sendiri. Tapi jangan ganggu perusahaan Ayahku."


"Mereka berani mengganggu anak ku Alex. Siapa yang berani mengganggu anak ku, mereka akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dari pada yang mereka bayangkan. Walaupun dia orang tuaku sendiri." ujar Gina.


"Nona sependengaran saya, Anda dihapus dari ahli waris Bramantya Grub. Apakah benar?" tanya Jero yang biasanya diam tetapi sekarang mendadak kepo.


"Benar" jawab Gina.


"Aku tidak akan berlama lama di sini. Stepen bagaimana dengan pesawatnya?"


"Siap Nona. Saya akan mengantarkan Nona dan Tuan Muda ke tempat yang tidak akan bisa dijangkau oleh manusia manusia sombong itu." ujar Stepen yang memang sangat marah dengan orang yang membenci Arga.


"Kita berangkat" ujar Gina.


Semua barang barang milik Gina sudah berpindah ke mobil yang lain. Jero dan Alex akan mengantarkan mereka ke bandara. Sebelum ke bandara Gina menynggahi dokter Rani di rumahnya.


Sebelum ke markas Gina menyempatkan menghubungi dokter Rani menanyakan apakah dia bersedia ikut dengan Arga ke negara U. Ternyata diluar pemikiran Gina, dokter Rani langsung menyetujuinya.


"Kita ke alamat X dulu Jero. Kita jemput dokternya Arga dulu." ujar Gina memerintahlan Jero.


"Siapa Nona?" tanya Alex kembali.

__ADS_1


"Dia adalah dokter tumbuh kembang yang selama ini menterapi Arga. Dia bersedia ikut dengan kami. Sekalian dia mau melihat Daniel di sana." jawab Gina.


"Apakah dia yang selama ini diceritakan Daniel itu kepada kami?" tanya balik Alex.


"Yup bisa jadi." jawab Gina.


Mereka telah sampai di komplek perumahan dokter Rani. Ternyata dokter Rani sudah duduk di atas sebuah koper di depan rumahnya. Dia sudah menunggu kedatangan Gina. Gina kemudian turun dari atas mobil.


"Sudah lama nunggu Ran?"


"Nggak Nyonya." jawab dokter Rani.


"Ayuk berangkat. Koper kamu biar dia aja yang nyimpan." ujar Gina.


Gina dan dokter Rani naik ke mobil yang dikemudikan oleh Jero. Sedangkan koper Gina sudah dinaikan oleh seorang pengawal ke mobil yang dikemudikan Juan.


Dua mobil hitam dan mewah itu bergerak menuju bandara. Jet pribadi milik Gina sudah terparkir di sana. Siap mengantarkan Gina ke negara U. Semua persiapan penerbangan sudah selesai diurus oleh Juan. Juan sangat bisa diandalkan di bidang itu.


Kedua mobil itu sampai di landasan pacu. Mereka sudah parkir tepat di jenjang pesawat. Pramugara memindahkan koper koper ke atas pesawat. Sedangkan Stepen menerima laporan dari copilotnya kalau penerbangan sudah siap untuk dilaksanakan.


"Kalian berempat aku titip semuanya kepada kalian ya. Mulai sekarang tolong hentikan pengiriman uang. Aku tidak mau Aris melacak dengan menggunakan nomor rekening bank." ujar Gina.


"Kami akan mengirim ke Daniel Nona. Nona dan Tuan Muda jangan cemas di sana. Kami akan selalu membantu Nona dari sini. Kami yakinkan mereka semua akan bersujud di kaki Tuan Muda untuk meminta maaf karena selama ini telah menyiksa Tuan Muda kami dengan segala hinaan dan caci maki." Alex mengeluarkan kalimat terpanjang selama kariernya memimpin kelompok ini.


"Wow panjangnya." ujar Stepen.


Alex yang sadar menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dia baru tersadar kalau kata kata yang diucapkannya sangatlah panjang sekali.


"Kita berangkat Nona?" ujar Stepen.


"Oke Stepen." jawab Gina.


Mereka bertiga menaiki pesawat. Gina menatap lurus ke depan. Dia merasakan sakit didadanya untuk meninggalkan suaminya. Tetapi demi putra kesayangannya Gina harus rela melakukan semua itu.


Pesawat pribadi itu mulai bergerak meninggalkan landasan pacu.


"Bay Dad" ujar Arga.


Gina dan Rani yang mendengar Arga berbicara lurus memandang Arga dengan tatapan kagum dan tidak percayanya.


"Bunda" ujar Arga.


Gina melepaskan seltbeltnya dia tidak peduli dengan keselamatan dirinya. Dia memeluk Arga dengan sangat kuat. Pilihannya untuk meninggalkan rumah itu ternyata tepat. Anaknya bisa berbicara dengan jelas saat keluar dari rumah besar itu.


"Alga cayang Bunda." ujar Arga dengan gayanya.


"Bunda juga sayang Arga. Makanya Bunda ajak Arga pergi agar kita bisa bahagia di luar sana." ujar Gina.


Rani memeluk ibu dan anak yang sedang berbahagia itu. Rani sebenarnya tau Arga sudah bisa berbicara, tetapi dia sengaja merahasiakan dari Gina.


"Rani bisa jelaskan." ujar Gina.


"Maaf sebelumnya Nyonya. Arga sudah seminggu ini bisa berbicara dengan jelas. Tetapi Arga meminta untuk tidak memberi tahukan kepada Nyonya. Arga ingin keluar dari rumah itu. Salah satu pendorong aku tidak mengatakan juga itu Nyonya. Aku ingin Arga tidak terbebani oleh perkataan Nyonya besar lagi" ujar Rani.


Arga langsung mengajak Rani tos. Karena sandiwara mereka berhasil. Menurut Rani, Arga sudah kembali menjadi anak normal seusianya.


Gina luar biasa sangat berbahagia. Disatu sisi dia bersedih karena harus meninggalkan suaminya karena keegoisan mertuanya. Disatu sisi dia sangat bebahagia karena anaknya sudah sembuh..


"Beneran sembuh Ran?"


"Sebenarnya Arga masih perlu terapi. Tetapi tidak seperti dulu Nyonya. Aku akan terus menerapi Arga."


"Apakah di negara U, Arga bisa bersekolah?" tanya Gina kembali.


"Lebih baik kita memasukkan Tuan Arga ke metode home schooling saja sekarang. Setelah empati dan simpatinya ada maka baru kita masukkan ke sekolah umum." dokter Rani memaparkan apa yang terbaik untuk Arga.


"Aku ikut aja. Aku sangat bahagia sekarang." ujar Gina sambil terus memeluk putranya.


Penerbangan yang memerlukan eaktu lama itu dinikmati oleh Gina dengan perasaan bahagia. Begitu juga dengan Rani, dia sangat senang karena akhirnya bisa bertemu denhan Daniel kembali. Sedangkan Arga walaupun dia sudah bisa berbicara, Arga sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dia sibuk dengan tablet yang ada di tangannya. Arga sangat berkonsentrasi dengan tabletnya itu.


"Sepertinya aku bisa mengembangkan perusahaan yang disini untuk Arga. Aku akan minta Alex datang kesini." ujar Gina yang sudah menemukan pekerjaan yang akan dilakukannya.


Tadinya Gina menyangka dia akan menjaga Arga seharian tanoa sempat memikirkan atau mengembangkan perusahaannya yang di negara U. Ternyata dengan perkembangan Arga yang seperti ini, dia bisa kembali ke perusahaannya itu. Dia akan melakukannua dengan sungguh sungguh.


.


.


.


Akhirnya setelah menjalani penerbangan yang begitu lamanya. Pesawat yang ditumpangi Gina, Arga dan Rani mendarat sempurna di bandara negara U. Daniel sudah menunggu kedatangan mereka di tempat pesawat milik Gina akan parkir.


Arga yang melihat Daniel berdiri di sisi mobilnya sangat semangat melihat Uda tersayang yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya.


Pintu pesawat terbuka. Pramugara memindahkan koper koper kedalam salah satu mobil yang dibawa oleh pengawal. Arga langsung saja berlari turun. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Daniel.


"Daniel aku Alga." ucap Arga dengan sangat jelasnya.


"Kamu udah bisa ngomong boy?" ujar Daniel menatap heran ke Arga.


"Ya udah seminggu. Aku hanya tidak mau tinggal di lumah itu lagi. Ada nenek lampil." uajr Arga mengatakan Mami sebagai nenek lampir.


"Hahahahaha. Betul sayang dia adalah nenek lampir." ujar Daniel memberikan dukungannya kepada Arga.


Gina hanya bisa geleng geleng kepala mendengar apa yang diucapkan oleh Daniel dan Arga. Sedangkan Rani berdiri termenung.


"Niel itu" ujar Gina menunjuk Rani.


Daniel menurunkan Arga dari gendongannya. Dia langsung memeluk dokter Rani. Dia sangat luar biasa kangen dengan orang yang selalu memenuhi pikirannya itu. Orang yang selalu dikiriminya hadiah dsri negara U. Atau dari setiap negara yang dikunjungi oleh Daniel.


"Main peluk aja. Pastikan dulu posisinya." ujar Gina memukul kepala Daniel.


"Bun" ucap Daniel yang tidak terima kepalanya dipukul Gina.


"Hahahaha. Halalin" ucap Arga.


Gina tos dengan Arga setelah Arga mengatakan hal yang demikian tadi.

__ADS_1


Setelah semua barang masuk ke dalam mobil yang satunya lagi. Daniel, Arga, Gina dan Rani masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Daniel. Mereka akan menuju kediaman Daniel.


__ADS_2