Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Rencana Mami


__ADS_3

"Dasar wanita tidak tau diri. Berani beraninya dia ngamcem gue. Dia belun tau siaoa gue sebenarnya." teriak Mami di rumah putih itu.


Seorang wanita yang diduga sebagai istri pertama Tuan Soepomo hanya melihat saja. Dia sudah sering melihat sahabat yang katanya menolong dirinya itu teriak teriak dan memaki maki dengan kata kata kasar.


"Gue akan buat perhitungan dengan loe. Lihat saja. Loe akan terima akibatnya. Gue nggak bisa loe ancam ancam anak ingusan. Anak kemaren sore." teriak Mami lagi.


"Gue lebih dahulu terjun kelembah hitam dari pada elo. Gue luar biasa memiliki sejuta ide jahat dalam benak gue. Semua yang terjadi ini adalah hasil skenario gue. Sekarang loe barani beraninya ngancem gue. Hahahahahaha. Mimpi loe kejauhan" Mami kembali memaki maki Ghina.


Wanita yang satu lagi hanya diam saja. Dia tidak berani mendekati Mami saat Mami sedang emosi seperti itu. Dia hanya membiarkan saja.


"Hay kamu, kamu kapan kerjaan kamu akan kamu lakukan. Seharusnya sekarang kamu sudah pergi ke perusahaan Jaya. Perlihatkan wajah kamu ke suami kamu itu. Ini ndak kamu masih duduk duduk di sini dengan tenang." Mami meluapkan kekesalannya kepada wanita yang satu lagi.


"Kenapa kamu diam saja. Kamu jawab pertanyaan gue. Kamu ada mulutkan?" tanya Mami dengan emosi.


Wanita itu mengangguk, dia sangat takut kali ini dengan emosi Mami yang meluap luap.


"Kalau punya gunakan. Jawab pertanyaan saya. Jangan diam saja seperti ini. Kamu tau kan gunanya mulut untuk apa?" ujar Mami sambil menunjuk mulut wanita itu.


"Tau untuk berbicara." jawab wanita itu sambil mengelak dari Mami.


"Nah itu tau. Jadi apa jawabannya. Kapan kamu akan ke perusahaan Jaya Grub?" ujar Mami lagi


"Besok saya akan kesana." jawab wanita itu.


"Oke. Kamu akan kesana besok. Saya akan membelikan pakaian yang sesuai dengan selera kamu dahulu. Kamu tidak mungkin ke sana dengan pakaian seperti ini." kata Mami lagi.


Mami memakai kacamata dan topinya kembali.


"Saya akan keluar membeli pakaian untuk kamu pakai besok. Kamu tunggu di sini dan jangan coba coba untuk keluar rumah." kata Mami mengancam wanita yang dikatakan Mami sebagai istri pertama Papi.


Juan dan Jero yang melihat Mami pergi dari rumah putih membagi tugas mereka. Jero akan mengikuti Mami pergi sedangkan Juan akan bertamu ke rumah putih. Juan dengan wanita yang satu itu sudah saling kenal.


Jero melajukan mobilnya mengikuti taksi online yang ditumpangi Mami. Sedangkan Juan menuju rumah kontrakannya. Dia akan pura pura keluar dari rumah kontrakan.


Tok tok tok. Juan mengetuk pintu rumah putih itu. Wanita yang berada di dalam yang dikenal Juan bernama Erlin terlihat membukakan pintu rumah.


"Eh Juan ada apa?" tanya Erlin yang kaget melihat Juan berdiri di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


Mata Erlin menyapu setiap sudut jalanan.


"Kamu mencari wanita yang tadi naik taksi online itu? Dia sudah pergi dari tadi." kata Juan pura pura menebak siapa yang dicari cari oleh Erlin.


"Oh makasi atas infonya Juan. Oh ya ada apa kemari? Saya sudah lama tidak melihat kamu disekitar sini." kata Erlin yang memang sudah lama tidak melihat keberadaan Juan di daerah itu.


"Jadi kamu mencari cari saya selama ini?" Juan mulai menggoda Erlin.


"Maaf Juan jangan salah sangka. Saya wanita yang sudah punya suami. Jadi tidak pantas saya mencari cari keberadaan pria lain." ujar Erlin dengan sopan.


'Betapa malangnya wanita ini yang dicuci otaknya oleh Nenek lampir gila itu.' ujar Juan dalam hatinya.


"Oh ya Juan ada keperluan apa kamu datang ke rumah saya?" tanya Erlin KW itu.


"Oh hampir saja lupa. Saya tadi mendengar wanita yang berteriak teriak dan mengeluarkan kata kata kasar dari rumah ini. Setau saya kamu tidak pernah berkata kasar. Apakah wanita yang naik taksi online tadi?" Juan menebak kejadian yang terjadi sebentar ini di rumah putih itu


"Maaf Juan itu bukan urusan kamu. Kalau kamu memang tidak ada perlu apa apa silahkan pergi dari rumah saya. Saya ada kerjaan lain." kata Erlin mengusir Juan.


"Oh baiklah maaf telah mengganggu Anda nyonya Erlin. Saya permisi pulang." kata Juan.


Juan pura pura pergi dari rumah Erlin. Saat Erlin sudah masuk ke dalam rumahnya. Juan meletakan kamera kecil di sendal dan sepatu yang biasa dipakai oleh Erlin kemanapun dia pergi. Juan juga meletakan alat penyadap di atas kaca jendela rumah putih itu.


"Kemana tu anak ya lama kali. Apa dia ketahuan???? Tapi nggak mungkin juga Jero ahlinya dalam menyamar." kata Juan bermonolog sendirian.


Saat Juan sedang sibuk dengan pikirannya, ponselnya tiba tiba berbunyi nyaring. Terlihat nama Alex tertulis di layar telponnya.


" Hallo Lex ada apa?" tanya Juan.


"Loe dimana?"


"Di kontrakan depan rumah putih."


"Jadi tadi kenapa Nyonya Ghina marah marah di depan kafe samping toko bunga?" kata Alex yang mendapat video kiriman dari pengawal yang mengikuti Ghina.


Juan kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi termasuk perintah yang harus segera diselesaikan, mengingat acara pernikahan Tuan Bram tinggal menghitung hari lagi.


"Oh baiklah semoga kalian berdua berhasil. Kalau perlu bantuan hubungi gue" kata Alex.

__ADS_1


"Oke Lex. Gue rasa kami berdua masih mampu. Saat tidak kami akan minta bantuan loe. Loe urus aja dulu perusahaan." jawab Juan lagi.a


"Oke semoga sukses" kata Alex menutup panggilan.


Tidak beberapa lama dari panggilan Alex selesai, Jero datang.


"Lama kali Jer." kata Juan.


"Ternyata tu Nenek lampir pergi membeli pakaian ke butik. Ntah mau kemana mereka gue juga nggak tau." kata Jero memberitahukan Mami tadi kemana.


"Oh. Nanti juga kita akan tau." kata Juan.


Saat mereka sedang fokus bermain game di ponsel. Laptop Juan yang disambungkan dengan kamera yang dipasangnya mulai menampilkan gambar gambar dan suara suara.


"Ini baju yang akan kamu pakai untuk pergi ke perusahaan Jaya Grub besok pagi. Jangan sampai gagal. Kalau gagal kamu akan berhadapan dengan saya." kata Nenek lampir ke Nyonya Erlin.


"Baik, saya besok akan pergi ke perusahaan Jaya Grub." kata Erlin.


Juan dan Jero mendengar semua percakapan dua wanita itu dengan bersih. Ternyata kamera dan alat penyadap yang diletakan Juan di rumah itu sudah berfungsi dengan baik.


"Mereka besok pagi akan ke Jaya Grub. Kita harus memberitahukan Nyonya Ghina agar Tuan Soepomo menyiapkan semua bukti." kata Juan kepada Jero.


Jero meraih ponsel miliknya. Dia kemudian menghubungi Ghina. Ghina yang sedang berkendara menuju perusahaan Soepomo heran melihat Jero menghubunginya.


"Ya Jero ada apa?" tanya Ghina.


Argha yang sebelumnya sibuk bermain game memfokuskan pendengarannya. Dia ingin mendengar setiap informasi yang diberikan Jero. Sebelumnya Ghina sudah menceritakan semua kejadian kepada Argha.


"Nyonya, Nyonya sekarang mau ke Soepomo atau ke Jaya?" tanya Juan.


"Rencana mau ke Soepomo. Ada apa Jero?" tanya Ghina yang memiliki firasat ada sesuatu yang diketahui oleh Jero.


"Sebaiknya Nyonya ke Jaya saja Nyonya. Juan tadi berhasil memasang alat penyadap di rumah putih. Menurut hasil sadapan kami dan kami mendengar langsung percakapan itu, Nyonya Erlin Kw ini berencana mau ke perusahaan Jaya besok pagi Nyonya." kata Jero memberikan informasi penting itu kepada Ghina.


"Oh baiklah saya akan ke Jaya saja. Tidak jadi ke Soepomo Grub." kata Ghina yang memutuskan untuk ke Jaya saja.


"Gha kita ke Jaya oke." kata Ghina kepada anaknya. Dia memutuskan untuk memberitahukan kepada Papi akan kedatangan Erlin Kw itu besok pagi.

__ADS_1


"Sip Bun." jawab Argha yang memang lebih memilih ke Jaya dari pada Soepomo.


Ghina memutar kembali arah mobilnya. Mereka akan ke Jaya grub.


__ADS_2