Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Argha Time


__ADS_3

Mobil Bram memasuki gerbang utama rumah keluarga Wijaya. Ghina melihat mobil suaminya telah parkir di sebelah mobil milik dia. Terlihat mobil Ayah juga sudah berada di parkiran.


"Sepertinya semua orang sudah pulang." ujar Bram yang melihat parkiran sudah penuh oleh mobil.


"Sepertinya Kak." jawab Ghina.


Mereka bertiga kemudian turun dari dalam mobil. Mereka berjalan menuju rumah utama.


"Bik Ina dimana suamiku Bik?" tanya Ghina yang tidak melihat keberadaan Aris di dalam rumah.


"Tuan Muda dan Tuan besar sedang berada di taman belakang Nona." jawab Bik Ina memberitahukan keberadaan Aris.


Ghina berjalan menuju taman belakang rumah. Dia sudah sangat rindu dengan anaknya yang sangat usil. Ghina melihat Ayah dan suaminya sedang duduk mengobrol di bangku depan kolam renang.


"Ayah," ujar Ghina menyapa dan bersalaman dengan Ayah kemudian baru Aris.


"Mana Argha sayang?" tanya Ghina yang sama sekali tidak melihat keberadaan Argha diantara Ayah dan Aris.


"Tu. Sedang asik di sana." sambil menunjuk batang mangga yang berbuah lebat.


"Hah?? Serius kamu sayang?" tanya Ghina yang tidak percaya kalau anaknya manjat batang mangga.


"Serius. Tengok aja sendiri." jawab Aris.


Argha yang melihat Bundanya sedang duduk di dekat Ayahnya langsung berteriak keras.


"Bunda, Argha di batang mangga."


"Nah benerkan." kata Aris kepada Ghina.


"Yup. Ternyata tu anak udah jadi separo ******. Ngapain juga pake manjat tangga kan ada." ujar Ghina lagi.


"Kamu kan dulu ngidam mangga itu. Kamu suruh aku yang manjat Ghin." ujar Bram yang baru datang dari dalam rumah bersama Ayah Sari.


"Hahahahaha. Masih ingat kak adegan jatuh dari pohon Mangga. Ghina kira udah lupa?" kata Ghina sambil menahan senyumnya.


"Semoga aja besok pas Sari hamil ngidam yang aneh aneh nggak aku yang di suruh." ujar Aris.


"Mana ada ngidam bisa dicegah dan dibuat buat sayang. Kamu aneh." jawab Ghina.


Mereka berlima mengobrol ringan. Sedangkan Sari membantu Bik Ina untuk menghidangkan makan malam.


"Argha turun udah mau maghrib." ujar Ghina setengah berteriak.


"Oke Bun. Lagian kantongnya juga udah penuh." jawab Argha.


Argha kemudian turun dari atas batang mangga. Dia berjalan ke arah keluarganya yang sedang duduk di tepi kolam renang.


"Loh mana mangganya?" tanya Ghina saat melihat Argha turun tangan kosong saja.


"Mana bisa Argha bawa turun Bunda. Berat. Papi Bram ambilin mangga Argha ya." ujar Argha membujuk Bram.


Bram meletakan jarinya di pipi. Argha paham dengan perintah Bram.


Cup. Sebuah kecupan mendarat tepat di pipi yang ditunjuk Bram. Setelah mendapatkan upahnya Bram pergi memanjat pohon mangga tadi untuk mengambil kantong asoy milik Argha.


"Ini Gha." Bram memberikan kantong asoy itu.


Ghina melihat mangga yang diambil oleh Argha ada yang masak dan ada yang mengkal serta yang masih mentah. Argha mengambil dengan lengkap semua kriteria masak buah mangga itu.


"Gha, kok ada yang mentah sama yang masak?" tanya Ghina saat melihat Mangga yang diambil Argha.


"Itu pesan Uni Rani. Dia mau mangga dari yang masak sampe yang mentah. Makanya Argha ambil semua aja." jawab Argha sambil tersenyum senang.


"Hahahahahaha. Jadi itu alasannya kamu minta ke rumah Atuk?" tanya Aris kepada anak bontotnya.


"Iyup Daddy. Kasian uni Rani dari maren minta mangga, tapi ndak dapat dapat. Mana lagi hamil lagi. Mau Daddy punya cucu ileran?? Argha karena nggak mau punya keponakan ileran makanya Argha mati matian manjat." jawab Argha sambil bergidik ngeri.


"Hahahahaha. Kamu oom paling top." ujar Bram sambil memukul pundak Argha.


"Tidak oom. Uncle ini mah. Kerenan dikit napa. Tampang keren gini panggil Oom. Malang banget dah tu." ujar Argha dengan nada tidak terima dipanggil Oom.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah saat mendengar suara azand yang berkumandang. Ghina, Aris dan Argha masuk ke dalam kamar milik Ghina. Ternyata Aris telah membawa pakaian ganti untuk mereka bertiga. Mereka secara bergantian memakai kamar mandi.


"Yuk turun." ajak Ghina kepada kedua pria tampan miliknya itu.


Mereka bertiga kemudian menuju ruang makan. Semua orang sudah berada di sana. Termasuk Ibu Sari.


Ghina menyalami Ibu. "Gimana keadaan Ibu? Maaf Ghina nggak bisa jemput tadi. Ghina ada kerja tadi Ibu." kata Ghina sambil memijit pundak Ibu.


"Nggak apa apa Nak. Sana duduk kasian suami kamu duduk sendirian." ujar Ibu sambil tersenyum bahagia. Keluarganya sudah kembali lengkap.


Ghina menuju Aris. Dia mengambilkan menu makan malam untuk Aris. Saat Ghina melihat semua makanan yang terhidang dia tersenyum bahagia. Semua menu adalah makanan kesukaannya.


"Ini benar benar wow. Bik Ina sama yang lain makasi ya udah bikinin kesukaan aku." ujar Ghina kepada semua maid yang berdiri di belakang mereka.


"Sama sama Nona." jawab Bik Ina.


Setelah mengambilkan makan malam untuk Aris, Ghina juga mengambil makanan untuk Ayah dan juga Argha. Setelah itu barulah dia mengambil untuk dirinya sendiri.


Anggota keluarga makan dengan tenang mereka tidak mengobrol sambil makan. Ghina melihat sebuah kursi yang sekarang ditempat oleh Afdhal. Ghina teringat sosok wanita yang begitu dicintainya. Tetapi karena hanya gara gara takut malu, wanita itu bertindak kejam kepada Ghina dan Argha.

__ADS_1


Mereka akhirnya selesai makan malam. Ayah mengajak semua orang untuk duduk di ruang keluarga. Ada beberapa hal yang akan disampaikan oleh Ayah.


"Ghina gimana dengan persiapan pernikahan?" tanya Ayah.


"Aman Ayah. Aku dan Frenya akan menyiapkan dan memastikan semua berjalan sempurna. Untuk pakaian semua sudah siap, hanya tinggal tunggu waktu untuk mengambilnya lagi." kata Ghina.


"Ghina, boleh bibi meminta sesuatu?" tanya Bibi Sari dengan nada sedikit takut.


"Bisa Bi. Ada apa?" tanya Ghina yang juga penasaran dengan keinginan Bibi.


"Bibi mau minta tolong kamu untuk menjemput Paman ke kampung. Kalau kamu udah bisa toling kasih tau Bibi." ujar Bibi yang ternyata hanya memunta itu.


"Oke Bi. Bibi suruh aja paman siap siap. Dan ke Padang. Pesawat akan terbang besok untuk menjemput paman." ujar Ghina yang langsung mengokekan permintaan Bibi.


"Makasi Ghin. Lusa aja Ghin. Kita tentu perlu mengumpulkan mamak mamak Ghina dulu. Mengatakan kalau mereka akan dijemput sehari menjelang acara." ujar Bibi.


"Bi, gimana kalau Paman dijemput bersamaan dengan mamak mamak yang lain. Sari takut mamak mamak itu tidak tau jalan ke bandara." ujar Sari yang teringat bagaimana mamak mamak dirinya itu.


"Iyo diak, akak labiah suko samo nan dikatoan Sari. Ancak bia inyo pai jo mamak mamak ka siko. Takuiknyo beko mamak mamak tu sasek pulo di bandara. Salah naik kapa tabang pulo nyo beko. (Setuju dek, kakak lebih suka dengan oendapat Sari. Lebih baik dia pergi dengan mamak mamak ke sini. Takutnya nanti mamak mamak itu nyasar di bandara dan salah naik pesawat)" ujar Ibu yang setuju dengan pendapat Sari.


"Iyo juo dak kak. Beko ilang lo urang gaek tu. Awak juo nan ka susah. Jadilah kok bitu. (Iya juga Kak. Nanti hilang pula mereka. Kita juga yang akan susah.)" Bibi akhirnya setuju dengan pendapat Sari.


Ghina menatap Aris. Aris menatap Ghina.


"Ayah, kami pulang dulu ya. Udah malam. Lagian Rina tadi ngirim chat kalau dia pengen makan mangga muda." kata Ghina mencoba mencari alasan untuk pulang.


"Aku juga pulang ya sayang. Sekalian nebeng sama Aris." ujar Bram yang memang tidak membawa mobilnya.


Sari mengangguk menyetujui permintaan Bram..


"Oke. Tapi kalian bertiga harus janji sering sering ke sini." ujar Ayah.


"Oke" jawab Ghina.


Mereka berempat berpamitan untuk kembali ke rumah utama Soepomo. Ghina tidak lupa membawa serantang makanan yang dibuat oleh Bik Ina tadi untuk kembali dimakannya nanti sampai di rumah utama.


"Kamu bawa mobil Bram." ujar Aris melempar kunci kepada Bram.


"Op tidak bisa sayang. Mulai hari ini kak Bram tidak boleh melakukan apa apa. Dia akan berdiam diri di rumah saja. Serta yang bawa mobil harus kamu. Kak Bram akan duduk di belakang dengan Argha." ujar Ghina yang menolak keinginan Aris supaya Bram yang membawa mobil.


Aris kemudian mengambil kunci mobilnya kembali. Dia duduk di kursi pengemudi, sedangkan Ghina duduk di sebelahnya. Pada kursi penumpang duduk Bram dan Arga. Aris melajukan mobil mereka menuju rumah utama yang hanya berjarak dua gank saja dari rumah utama Wijaya.


Mobil hitam milik Aris terlihat memasuki pintu gerbang utama. Rani dan Daniel serta Frenya sudah menunggu di depan pintu rumah utama. Malahan di atas meja sudah ada kuah rujak serta buah buahan pendukung lainnya.


"Daddy bisa cepat nggak. Itu Uni udah nunggu Argha." ujar Argha sambil memeluk buah mangganya.


"Sabar Gha." ujar Ghina.


"Banyak kali Gha?" tanya Daniel saat melihat buah mangga yang banyak itu.


"Masih banyak yang tinggal. Itu baru sedikit. Tiga hari lagi Argha ke sana lagi untuk panen." ujar Argha dengan bangga.


Argha berlari ke arah Rani. Dia memegang perut Rani yang terlihat sudah menonjol itu.


"Hay dedek bayi. Mangga itu yang manjat uncle keren nan tampan ini. Jadi habiskan ya. Uncle udah capek ngambilnya." ujar Argha berbicara di depan perut Rani.


"Oooo. Jadi uncle keren yang manjat?" tanya Frenya dengan suara bayi.


"Iya dong. Aku yang manjat." kata Argha dengan bangga.


"Bener Bun?" tanya Frenya mulai menggoda Argha.


"Uni jangan ragukan uncle keren nan tampan ini." ujar Argha dengan sombongnya.


"Udah udah ributnya pending dulu. Sekarang lebih baik kita makan rujak aja." ujar Ghina menengahi pertengkaran Frenya dan Argha.


Mereka semua termasuk Papi makan rujak buah itu. Argha terus membanggakan hasil memanjatnya di rumah Ayah.


"Gimana dengan dia Bram?" tanya Aris kepada Bram.


"Ooo. Masih sehat Ris. Loe nggak pengen ketemu dia?" tanya Bram.


"Pengen. Tapi gue takut khilaf Bram." ujar Aris.


"Loe bawa Argha aja. Gue yakin Argha juga pengen bertanya kepada dia." kata Bram sambil melihat ke Argha.


"Oke lah. Besok gue akan kesana dengan Argha." jawab Aris.


Mereka semua setelah menghabiskan setengah dari mangga yang dibawa oleh Argha memilih untuk beristirahat. Esok adalah hari hari yang masih harus mereka lalui.


..................................................................................


"Gha, kita nanti pulang sekolah ke markas ya. Apa Argha mau nemani Papi ke sana?" tanya Aris kepada anaknya itu.


"Mau Pi. Nanti Papi jemput Argha. Langsung kita ke sana. Tapi Argha pulang sekolah jam satu Pi. Hari ini belajar nggak ngumpulin tugas aja." jawab Argha yang setuju untuk pergi ke markas dengan Papinya.


"Oke. Papi akan jemput jam dua belas. Kita makan dulu baru ke markas." kata Aris.


Aris kemudian menggandeng tangan anaknya. Dia mengantarkan Argha sampai ke depan ruangan kelas. Argha sebenarnya protes akan hal itu. Tetapi Aris tidak mau menerima protes Argha. Jadinya Argha menerima saja kelakuan Papinya yang main antar sampai depan pintu kelas.


Setelah mengantarkan Argha ke depan pintu kelasnya. Aris mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Dia ada meeting sebentar dengan perusahaan yang melakukan kerjasama dengan Soepomo grub.

__ADS_1


Tepat pukul dua belas siang. Aris akhirnya selesai juga melakukan meeting yang lumayan lama. Aris kembali menuju ruangannya untuk mengambil kunci mobil. Dia akan menjemput Argha terlebih dahulu baru pergi ke markas.


"Kalau ada yang mencari saya tolong katakan saya sudah pulang." ujar Aris kepada sekretarisnya.


"Baik Tuan." jawab sekretaris yang merupakan Jero yang merupakan anggota Ghiba yang diminta khusus oleh Ghina untuk menjadi sekretaris Aris.


Aris melajukan mobilnya menuju sekolahan Argha. Sesampainya di sana Aris belum melihat siswa yang keluar dari dalam sekolah. Aris kemudian memarkir mobilnya tepat di depan sekolah Argha. Aris berjalan masuk ke dalam area sekolah. Dia berniat menunggu Argha di depan pintu kelas seperti saat dia mengantar Argha tadi pagi.


Tidak beberapa lama menunggu Argha akhirnya keluar dari dalam kelasnya. Dia tersenyum melihat Aris yang sudah menunggu di depan ruang kelas.


"Wow Daddy tepat waktu sekali." ujar Argha sambil menatap Daddynya itu


"Dari pada ada yang ngambek Gha. Lagian Daddy juga harus memberikan kamu contoh dalam disiplin waktu." jawab Aris dengan diplomatisnya.


"Hahahaha. Ayuk Dad jalan. Aku udah laper. Kita makan di kafe Papi Bayu ya Dad. Aku kangen Bree." ujar Argha yang selalu sangat senang berada di dekat Bree.


"Hem jangan bilang kamu naksir Bree." ujar Aris menggoda Argha.


"Tengok udah agak besaran Dad. Itu masih balita nggak mungkin juga kali Dad. Besarnya juga belum tau kayak apa." ujar Argha melirik Daddynya.


"Hahahahahaha. Oke oke. Mari kita makan. Belum saatnya membicarakan wanita." ujar Aris sambil menggandeng tangan Argha untuk menuju mobil.


Daddy dan Anak itu langsung menuju kafe Bayu. Aris juga udah janjian dengan Bayu di kafenya untuk membicarakan acara pesta pernikahan Bram.


Mereka berdua bernyanyi sepanjang jalan. Sesuatu yang tidak diketahui oleh Ghina selama ini dan hanya menjadi rahasia mereka berdua saja.


"Daddy, nanti di markas apa yang akan Daddy lakukan?" tanya Argha yang penasaran.


"Daddy hanya mau nanyak kenapa dia sampai tega ngebunuh Mami kandung Daddy. Itu aja." jawab Aris yang niatnya memang hanya bertanya hal itu saja.


"Kalau kamu nanti saat ketemu dia mau ngapain?" Aris balik menanyakan hal yang sama ke anaknya.


"Belum tau. Tengok responnya aja nanti. Saat aku tanya baik baik kalau dia jawab baik baik maka aku akan terima. Tapi kalau dia jawabnya ngegas ya maaf aja lah dulu." kata Argha dengan tersenyum.


Tak terasa mobil Aris telah masuk ke dalam parkiran kafe milik Bayu yang luar biasa kerennya itu. Aris melihat Bayu telah menunggu dirinya dengan menggandeng Bree anak satu satunya mereka.


"Gur kira masih lama datangnya." ujar Bayu kepada Aris.


"Nggaklah Bay. Siap dari jemput Argha, kami langsung ke sini."


"Yuk. Kita makan di dekat sungai kecil aja. Lebih nikmat." kata Bayu mengajak Aris dan Argha menuju sungai kecil buatan di kafe milik Bayu.


Bayu sudah menghidangkan semua makanan terbaik yang ada di kafenya. Mereka berempat menikmati makan siang di tepi sungai.


"Jadi, kamu sama Argha mau ke markas?" tanya Bayu menatap Aris dan Argha.


"Yup. Ikut loe?" tanya Aris yang sebenarnya juga berharap Bayu mau ikut.


"Okelah. Lagian gue juga nggak ada meeting di kantor." ujar Bayu mengingat schedulnya.


"Mira mana Bay?" Aris dari tadi tidak melihat Mira di sana.


"Sibuk dengan Ghina tapi. Mereka tadi katanya janjian untuk menyiapkan pesta. Sepertinya pesta nggak diadakan di hotel." ujar Bayu mengingat ingat apa yang dikatakan oleh Mira tadi.


"Jadi pestanya mau dimana? Ghina belum ada bahas hal itu ke gue." ujar Aris.


"Kata Mira mau diadakan di rumah utama Soepomo." ujar Bayu memberitahukan percakapannya dengan Mira tadi pagi.


"Bagus juga itu Bay. Tapi gue lebih suka diadain di lapangan dekat rumah Bram." Kata Aris yang mengingat rumah utama tidak boleh dimasukin orang lain.


"Gue harus bicara dengan Ghina masalah ini."


Aris mengambil ponsel miliknya. Dia langsung menghubungi istrinya itu.


"Hallo sayang, ada apa?" tanya Ghina dari seberang telpon.


"Sayang, apa benar acara pernikahan Bran dan Sari akan diadakan di rumah utama??? Tadi Bayu cerita ke aku." ujar Aris dengan tenang.


"Bukan di rumah utama sayang. Tapi di komplek perumahan Soepomo. Rencananya di tanah yang belum di bangun itu. Samping rumah kak Bram." ujar Ghina menjelaskan lebih tepatnya dimana mereka akan mengadakan acara pesta pernikahan Bram dan Sari.


"Oooo. Aku kira di perkarangan rumah utama sayang. Aku sempat kaget tadi." ujar Aris.


"Nggak mungkin lah sayang. Rumah utama harus selalu steril dari kedatangan orang luar." kata Ghina yang paham dengan apa yang ditanyakan oleh Aris.


"Sip. Lakukan yang terbaik ya sayang. Nanti makanan kita drop aja dari kafe milik Bayu." ujar Aris lagi.


"Rencananya juga gitu sayang. Apa kamu masih lama di kafe?"


"Emang kenapa? Kamu mau ke sini?" tanya Aris yang berharap istrinya memang mau ke kafe Bayu.


"Rencana. Tunggu aku di situ ya sayang." ujar Ghina.


"Hati hati ya. Aku tunggu di sini." kata Aris.


Aris kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Ghina.


"Kita tunggu Bunda di sini dulu ya Gha." Aris memberitahukan kepada Argha kalau Bundanya akan datang.


"Oke Daddy. Berarti Bunda juga akan ikut ke markas kayaknya nanti." kata Argha dengan semangat.


Mereka menunggu Ghina di kafe Bayu. Mereka akan membahas tentang pesta pernikahan Bram dan Sari yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Pesta pernikahan yang akan dibuat semeriah dan semegah mungkin oleh keluarga Soepomo.

__ADS_1


__ADS_2