
"Hendri, kita ke toko bunga dulu" ujar Argha memberikan perintah kepada Hendri untuk menuju toko bunga milik keluarga besarnya itu.
"Siap Tuan Muda" ujar Hendri yang langsung mengarahkan mobilnya menuju toko bunga seperti permintaan Tuan Muda Argha.
Argha meraih ponselnya yang terletak di dasbord mobil. Argha terlihat mengetik sebuah pesan chat sambil tersenyum senyum sendirian.
"Tuan muda, gitu banget ya kalau kita punya kekasih. Sehingga bisa membuat kita senyum senyum sendiri saat mengetik pesan" ujar Hendri mengomentari bagaimana cara dan ekspresi Argha saat mengetil pesan yang akan dikirimkan kepada seseorang.
"Nah makanya pacaran. Ini nggak, kalau nggak ya mana tau gimana rasanya mengirim pesan kepada pacar" ujar Argha menjawab keluhan dan perkataan dari Hendri.
"Nggak lah Tuan Muda. Belum tentu juga ada yang mau sama saya yang seorang asisten ini" jawab Hendri sambil melihat sekilas ke arah Tuan mudanya.
Hendri tidak mau tiba tiba dihardik oleh Alex dari speakers mobil karena mengemudikan mobil tidak menatap lurus ke depan. Tetapi menyempatkan diri untuk melihat ke samping dan ke belakang yang tidak berfungsi untuk mengemudi atau melihat jalan.
"Sebentar lagi akan banyak yang mau Hendri. Saya yakinkan itu sama kamu" ujar Argha kepada Hendri.
"Maksudnya Tuan muda?" tanya Hendri yang tidak mengerti dengan maksud yang dikatakan oleh Argha sebentar ini.
"Ya, sebentar lagi para wanita akan berbondong bondong untuk menemui kamu, karena kamu sebentar lagi akan menjadi asisten CEO GA Grub" ujar Argha kepada Hendri dan menatap Hendri dengan tatapan meyakinkan.
"Maksud Tuan muda, kalau Tuan muda akan menjadi CEO GA Grub gitu?" ujar Hendri bertanya kepada Argha.
"Ya memang gitu." ujar Argha.
"Kok bisa? Terus Nyonya Frenya bagaimana?" tanya Hendri.
"Kamu semalam kemana?" tanya Argha yang heran dengan pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh Hendri.
"Di mansion Tuan muda. Saat saya sampai di depan mansion, semua mobil sudah jalan. Saya tidak bisa mengejar mobil lagi" ujar Hendri menjawab perkataan dari Argha.
Hendri semalam memang tidak pergi ke rumah sakit. Makanya dia sama sekali tidak tahu kalau ada sesuatu pembicaraan yang sangat penting terjadi di rumah sakit itu semalam.
"Pantesan kamu nggak tau apa apa ya. Kamu nggak pergi kemaren ke rumah sakit" ujar Argha sambil menatap ke arah Hendri.
Hendri mengangguk mengiyakan tanggapan yang diberikan oleh Argha kepada dirinya.
__ADS_1
"Jadi gini, aku taruhan dengan Uni. Aku katakan kalau uni memang hamil maka aku akan mengurus perusahaan. Tapi kalau uni nggak hamil maka uni tetap yang akan menjalankan perusahaan" ujar Argha menceritakan sepenggal cerita yang terjadi kemaren malam.
"Haha haha haha. Aku sudah tau endingnya, pasti Tuan Argha kalah kan ya. Terus akhirnya yang memimpin perusahaan adalah Tuan Argha. Selamat Tuan" ujar Hendri memberikan selamat kepada Argha.
"Kamu juga selamat Hendri. Selamat karena sebentar lagi kamu akan menjadi asisten CEO GA Grub yang akan sangat sangat sibuk ke depannya" ujar Argha dan menepuk pundak dari Hendri asistennya itu.
"Yah nggak asik Tuan Muda" ujar Hendri kceplosan ngomong.
"Jadi, kamu nggak mau jadi asisten aku lagi?" tanya Argha menatap ke arah Hendri.
"Maulah masak ndak Tuan muda. Bagi aku menjadi asisten Tuan Muda adalah sebuah kebanggaan yang nggak bisa dikatakan dengan kata kata Tuan Muda" ujar Hendri dan tersenyum melihat ke arah Tuan mudanya itu.
"Aku kira sudah tidak mau lagi" ujar Argha melirik ke arah Hendri.
Hendri membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran toko bunga milik Rani Soepomo.
"Kita sudah sampai Tuan muda" ujar Hendri sambil membukakan pintu untuk Argha turun.
"Selamat kamu ya" ujar Argha menggoda Hendri.
Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam toko bunga. Para pelayan dan pengunjung menatap kagum ke arah dua pria tampan itu.
"Yah tatapan itu lagi" ujar Hendri dengan nada pasrah nya yang hanya bisa di dengar oleh Argha saja.
"Biasakan Hendri mulai dari sekarang. Apalagi saat kamu jadi asisten CEO GA Grup hem akan makin mengerikan" ujar Argha memberikan gambaran bagaimana menjadi asisten Argha nantinya saat sudah memimpin GA Grub.
Argha berjalan menemui manager yang dipercaya oleh Rani untuk mengelola toko bunga miliknya.
"Saya mau anda buatkan buket bunga mawar pink sebanyak seribu lima ratus tangkai bunga dalam satu buket" ujar Argha memberitahukan keinginannya kepada manager toko bunga.
"Kamu antar ke sini" ujar Argha mengirimkan alamat tempat toko bunga harus mengirimkan bunga tersebut.
"Siap Tuan Muda" jawab Manager tanpa memberikan komentar apapun. Manager siap tidak siap harus menerima konsekuensi pembuatan buket bunga yang diminta oleh Argha tadi.
Hendri yang melihat transaksi antara Argha dan manager toko bunga telah selesai langsung menuju kasir. Hendri melakukan pembayaran bunga yang telah dibeli oleh Argha tadi.
__ADS_1
"Wah Tuan Muda, keren banget bunga pilihan dari Tuan Muda. Bener bener keren Tuan Muda" ujar Hendri kepada Argha yang sedang tersenyum senyum membayangkan bagaimana reaksi Bree saat menerima buket bunga yang sangat besar itu.
"Wah aku udah nggak sabar lagi ingin melihat bagaimana reaksi dari Bree saat menerima buket bunga itu Hendri" ujar Argha kepada asistennya yang sudah dianggap seperti sahabat oleh Argha.
"Menurut kamu apa reaksi yang akan diberikan oleh Bree kepada saya nanti ya?" ujar Argha bertanya kepada Hendri.
"Tuan muda jangan tanya sama saya. Saya belum pernah menjadi wanita yang mendapatkan kado atau buket bunga dari kekasihnya. Makanya saya menjadi tidak tahu bagaimana rasanya Tuan muda" ujar Hendri menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Argha kepada dirinya.
"Yah, kamu nggak asik Hendri. Padahal aku penasaran bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang diberikan kiriman buket bunga oleh kekasihnya" ujar Argha kepada Hendri.
Hendri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Hendri tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi Argha saat ini. Argha benar benar gila dengan statusnya sebagai seorang kekasih.
"Sabar Tuan Muda, kalau Nona Bree sudah menerima bunga dari Tuan Muda, nanti Nona Bree pasti akan mengirimkan pesan pesan kebahagiaan nya kepada Tuan Muda" ujar Hendri menjawab keraguan yang diberikan dan diucapkan oleh Argha kepada dirinya.
"Oh ya Tuan Muda, kita mau kemana ini?" tanya Hendri yang lupa menanyakan kepada Argha mereka mau kemana hari ini.
"Ya Tuhan Hendri, Hendri. Kamu punya pacar aja lagi gimana coba. Udah aku katakan dari tadi kalau kita harus ke Hotel tempat acara resepsi ulang tahun pernikahan Nana dan Daddy diadakan" ujar Argha setengah emosi berkata kepada Hendri.
"jangan marah marah Tuan Muda. Nanti cepat tua" ujar Hendri yang mulai menggoda Argha.
"Ya kamunya kebangetan nggak jelas" jawab Argha setengah menahan emosinya kepada Hendri.
"Haha haha haha" Hendri tertawa bahagia melihat Argha yang mulai emosi dengan dirinya
Hendri memang paling suka memancing kemarahan dari Argha. Apalagi kalau mereka sedang dalam perjalanan dan suasana hati Argha sedang dalam keadaan oke dan baik baik saja.
"Hotel GA Grub atau Hotel Soepomo Grub, Tuan Muda?" tanya Hendri yang tidak diberikan alamat jelas oleh Argha kepada dirinya.
"Lah lupa. Tanya Uni dulu ya" ujar Argha kepada Hendri.
Argha kemudian menghubungi Frenya. Dia sama sekali belum tahu dimana akan diadakan pesta ulang tahun pernikahan Daddy dan Nana.
"Oh baik Uni. Berarti di Hotel Soepomo Grub. Makasi Uni cantik sedunia" ujar Argha memuji kebaikan Uni nya itu.
Argha kemudian memutuskan sambungan telpon dengan Frenya. Hendri yang sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Argha, langsung mengarahkan mobilnya menuju Hotel Soepomo Grub tanpa diperintah oleh Argha lagi.
__ADS_1