Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Aku masih sanggup merindu #3


__ADS_3

Aris dan Bram menemui semua orang yang dikatakan Dion. Mereka mereka yang selalu menjaga kesetiaan kepada perusahaan. Aeis dan Bram serta karyawan yang setia itu dengan serius berbincang membahas tentang langkah yang harus mereka lakukan demi perusahaan tempat mereka mencari nafkah. Diskusi itu berjalan sangat alot menghabiskan tiga kali azand kalau di negara I.


Meeting itu selesai tepat pukul sembilan malam. Aris dan Bram langsung pulang. Mereka harus memecat semua karyawan yang berkhianat dan tidak memiliki dedikasi tinggi untuk perusahaan. Besok mereka akan datang pagi dan mengumpulkan semua karyawan. Baik yang bekerja di kantor maupun yang bekerja di pabrik.


Aris sudah tidak sabar menunggu pagi datang. Dia ingin melihat ekspresi dari mereka yang telah berani mengkhianati kepercayaannya selama ini. karena masalah kantor ini membuat Aris seharian tidak menghubungi Gina sedikitpun. Aris berencana setelah kelar urusan pemecatan Aris akan menghubungi Gina.


...****************...


Pagi hari pun datang, Aris dan Bram sudah berada di dalam mobil menuju kantornya. Bram sudah membuat nama-nama yang masih akan tetap dipercaya untuk bekerja di perusahaan, untuk yang dipecat Aris tidak mengeluarkan surat rekomendasi. Aris malahan telah menghubungi semua kolega bisnis mereka untuk tidak menerima setiap karyawan yang dipecat oleh Aris. Aris tidak memikirkan nasib keluarga karyawannya itu Aris akan mati rasa dengan setiap orang yang telah berani mengkhianati perusahaannya.


Aris dan Bram sampai di kantor, mereka langsung masuk keruangan Aris. Rapat akbar itu akan dimulai pukul sembilan pagi. Masih ada sekitar dua jam lagi. Aris yang baru masuk kedalam ruangan kantornya heran melihat karyawan yang datang hanya segelintir. Bram yang menyusul pun heran dengan keadaan.


"Bram menurut loe, mereka ini tidak takut apa gue berhentiin?"


"Gue juga heran Ris. Apa mereka menyangka rapat akbar tidak ada pemecatan seperti rapat dengan devisi HRD?" kata Bram dengan menatap nanar kepada yang hadir.


"Bisa jadi. Tapi lebih bagus begini Bram. Kita bisa memberi mereka kejutan."


Aris dan Bram masuk kedalam ruangannya. Mereka masih bisa berdiskusi kembali untuk bagian penerimaan karyawan. Tak terasa hari sudah pukul sembilan pagi.


"Bram loe yang mimpin rapat. Gue males dengan mereka. Sekalian loe umumin juga kalau loe juga pemegang saham yang sama besar dengan gue. Gue bosan disanjung sendirian, sedangkan loe tenang tenang saja. Mulai saat ini mereka juga harus tau kalau loe juga memiliki hak yang sama dengan gue."


"Oke sip. Loe bossnya."


Aris dan Bram menuju aula kantor. Sesampainya di aula betapa terkejutnya Aris, Aula sudah penuh, dewan direksi sudah duduk rapi dikursi depan. Aris kemudian menuju ke kursi mereka untuk duduk. Sedangkan Bram langsung saja menuju bagian mimbar yang disediakan. Bram dan Aris tidak memerlukan protokol sebuah rapat. Apalagi rapat ini sebuah rapat yang isinya pemecatan karyawan. Jadi Aris dan Bram akan membjat rapat sesingkat mungkin tanpa adanya mc yang meminta Aris atau Bram memberikan kata sambutan yang nggak penting itu.


"Selamat pagi, semoga anda semua, baik karyawan kantor maupun pabrik dalam kondisi sehat walafiat selalu. Baiklah hari ini saya yang mewakili Aris akan memberikan sebuah informasi yang sangat bagus untuk kalian semua. Sebelumnya kalian pasti bertanya kenapa saya bisa berdiri disini? Jawabannya adalah saya pemegang jumlah saham yang sama dengan Aris yaitu 50% saham."


"Baiklah saya tidak akan memperpanjang cerita. Sekarang akan langsung saya umumkan, siapa siapa saja yang akan selamat dan tetap bekerja diperusahaan ini." Bram diam, dia menatap lekat satu satu mata yang ada diruangan itu. Mata mata yang terlihat mulai panik. Mata mata yang terlihat sudah takut karena kesalahan mereka sudah diketahui, mata mata penyesalan yang tidak ada gunanya. Bram dan Aris tersenyum devil melihat ketakutan karyawan yang tidak bisa menutupi lagi kesalahan yang telah mereka buat.


Mereka hanya bisa meratapi kesalahan yang sydah mereka lakukan, tanpa bisa mereka perbaiki lagi. Mereka akan menerima apapun keputusan dari pemilik perusahaan.


"Khusus untuk karyawan pabrik, anda semua selamat dari pemecatan, kecuali satu orang yang memang harus Aris dan saya pecat, yaitu kepala pabrik. Anda sudah luar biasa menusuk kami dari belakang, Anda dengan berani menjual produk perusahaan, dan mengambil hasil penjualan untuk diri anda sendiri. Sekarang juga saya katakan kepada Anda, bahwasanya anda kami pecat. Untuk penggantinya kami langsung mengangkat Danu sebagai kepala pabrik." kata Bram.


Tepuk tangan riuh datang dari semua karyawan Pabrik. Mereka mengangkat Danu tinggi tinggi. Aris dan Bram yang melihat yakin bahwa pilihan mereka tepat.


"Danu, silahkan naik ke panggung."


"Selanjutnya untuk devisi HRD yang masih kami pertahankan adalah Dion, Sari dan Angga. Sedangkan yang lain maaf kami berhentikan dengan tidak hormat dan tanpa pesangon. Untuk gantinya kami mengangkat Angga sebagai manager baru. Angga silahkan naik kepanggung. Sedangkan untuk bagian HRD yang kami pecat silahkan keluar. Anda tau dimana pintu keluarnya." kata Bram dengan dingin. Semua staff HRD yang tinggal empat orang termasuk mantan manager berjalan tertunduk keluar.


"Untuk devisi keungan, yang masih bertahan hanya dua orang yaitu Meta dan Ranti."


Dion langsung menatap Ranti yang bahagia masih dipertahankan. Walaupun dia yakin kalau semua orang sudah tau ulahnya. Ranti yakin kalau salah satu antara Aris dan Bram menyukainya. Makanya dia masih dipertahankan. Bram dan Aris yang tau arti tatapan Ranti, langsung memberinya tatapan mengejek.


"Terimakasih Pak Aris dan Pak Bram karena sudah mempertahankan saya dan saya akan bertanggung jawab sebagai manager keuangan yang baru." dengan pedenya dan tanpa dosa Ranti berbicara.


"Oh maaf Nyonya Ranti, saya belum sampai. Manager adalah Meta, bukan anda. Meta silahkan maju." kata Bram.


"Oh tak apa tuan Bram. Anda dan Tuan Aris pasti menunjuk saya untuk menjadi salah satu dewan direksi, karena saya tau anda berdua tertarik dengan wajah cantik saya" kata Ranti dengan tak tau malunya. Arispun merasa muak.

__ADS_1


"Selanjutnya untuk bagian pengadaan dan pemasaran saya hanya akan menyelamatkan Dani dan Andi. Mereka berdua langsung menjadi manager. Dani di devisi pengadaan, sedangkan Andi di defisi pemasaran. Untuk yang lain yang tidak saya sebutkan namanya silahkan keluar dari ruangan. Termasuk dewan direksi. Anda semua saya pecat." kata Bram dengan suara dinginnya.


"Apa? Kami tidak terima dipecat. Kami tidak melakukan kecurangan." kata salah seorang dewan direksi.


"Apa tidak curang" kata Aris dari tempat duduknya dengan wajah dinginnya.


"Bram tunjukkan mereka yang tidak curang itu"


"Sip"


Bram kemudian mengeluarkan semua bukti kecurangan mereka. Dewan direksi langsung terdiam dengan semua bukti yang terpampang nyata di depan mereka. Mereka tidak bisa menolak lagi. Mereka juga sama dengan karyawan tadi, hanya mampu menyesal.


Mereka yang diusur tadi sudah bisa memastikan diri mereka tidak akan diterima diperusahaan manapun. Mereka tau bagaimana Aris dan Bram bekerja. Mereka tidak akan membiarkan siapapun yang telah mengkhianati perusahaan akan dapat bekerja di perusahaan lain. Masih untung Aris dan Bram tidak membuat mereka menjadi gelandangan. Hanga membuat mereka kehilangan pekerjaan. Mereka yang masih punya tabungan akan membuka usaha kecil kecilan.


"Keluar dari perusahaan saya. Dasar manusia tua tidak ada akhlak. Sudah enak duduk makan gaji besar masih juga serakah." kata Bram dengan nada tajam dan dinginnya.


Semua dewan direksi tertunduk. Mereka tidak menyangka hari ini akan tiba dengan cepat. Andai waktu bisa diulang maka mereka tidak akan mengikuti perkataan direktur tersebut.


"Untuk karyawan pabrik, silahkan kembali bekerja. Sedangkan untuk yang namanya saya sebut tadi silahkan masuk ke ruangan meeting. Kita akan membahas beberapa hal yang harus kita lakukan dengan gerak cepat. Terimakasih atas waktunya. Silahkan ke ruangan meeting." Bram mengakhiri rapat terbesar dan pemecatan terbesar di negara F.


Aris dan Bram kemudian berjalan dan masuk kedalam ruangan meeting. Mereka berdua telah ditunggu oleh wajah wajah yang memang memiliki dedikasi tinggi untuk perusahaan. Di sana mereka akan memberikan kejutan untuk sibiang masalah diperusahaannya.


"Selamat pagi. Meeting singkat kali ini yang akan memimpin saya sendiri" kata Aris.


"Meeting kali ini kita akan membahas langsung tentang bagaimana cara kita dalam perekrutan karyawan baru, yang waktu terlamanya adalah seminggu. Manager HRD ide anda bagaimana?"


"Selamat siang, kalau menurut saya, kita akan melakukan penerimaan calon karyawan tidak usah besar besaran pak. Seperti devisi saya. Saya hanya butuh tiga orang karyawan. Jadi sebaiknya kita bertanya saja kepada setiap bmdevisi berapa yang mereka butuhkan. Setelah itu barulah kita buka lowongan pekerjaan. Dengan melihat kemampuan mereka. Bukan melihat siapa mereka." kata Angga.


"Saya setuju pak. Kami dari bagian keuangan butuh tambahan karyawan sebanyak empat orang lagi. Kami tidak butuh banyak kalau hanya untuk duduk duduk saja." kata Meta sambil menatap dingin kearah Ranti. Ramti yang ditatap acuh saja. Ranti masih yakin dia akan menempati posisi enak diperusahaan. Dengan modal wajah yang diabggapnya cantik, Ranti selalu percaya diri.


"Kami dari bagian pengadaan memang saya berharap agak banyak yaitu sebanyak enam karyawan." kata Dani


"Bagian pemasaran, saya meminta untuk karyawan kantor adalah sebanyak lima orang, serta menukar seluruh model. Model yang ada saya rasa tidak sesuai dengan image barang kita." kata Andi yang memang selalu ditentang oleh manager lama saat meminta penggantian model. Ternyata manager lama selalu memanfaatkan tubuh model untuk melepaskan hasratnya.


"Berarti kita butuh lebih kurang dua puluh karyawan. Lumayan banyak juga itu. Dari sekarang saja kita buka pengumumannya dengan menempel dikaca kantor. Tapi sebelum semua karyawan baru itu terpilih, apakah anda semua mau memperbaiki sistem di perusahaan terlebih dahulu?" Aris menatap mata mereka yang setia dengan perusahaan.


"Mau pak. Kami akan berjuang berasama sama untuk membangun kembali tempat kami mencari nafkah untuk keluarga kami Pak." kata salah seorang manager yang terpilih.


"Sari, karena kamu belum ada tempat. Kamu saya angkat menjadi sekretaris direktur yang baru." kata Aris.


"Jadi siapa direktur baru kami pak? Apakah bapak atau pak Bram?" tanya Andi


Aris terdiam sesaat, dia dan Bram sudah mantap dan sudah memutuskan siapa yang pantas menjadi direktur di perusahaan.


"Saya dan Bram sudah berembuk semalam. Dan kami berdua sepakat untuk bukan kami yang memimpin perusahaan. Tapi Dion yang akan memimpin perusahaan ini kedepannya. Selamat Dion, mulai hari ini kursi direktur yang panas ini menjadi milik kamu." kata Aris sambil menatap Dion dengan tatapan penuh keyakinan. Dion pun mengangguk menerima keputusan Aris dan Bram.


Semua karyawan tau siapa Dion. Bagaimana cara dan sikap Dion dalam bekerja. Mereka mengangguk setuju dengan terpilihnya Dion sebagai direktur yang baru.


"Ada satu pengumuman lagi, Ranti manusia sipembuat masalah sebenarnya. Khusus untuk Anda memang tidak saya yang akan membuat keputusan, tapi keputusan untuk Anda ditentukan oleh direktur yang baru. Dion bagaimana dengan nasib mantan kamu yang matre ini?"

__ADS_1


"Kalau ke saya kamu bertanya, saya pasti akan memecat dia. Tapi kalau kamu masih mau dengan wanita cantik murahan yang menghalalkan segala cara silahkan kamu menerima dia kembali bekerja di perusahaan. Semua keputusan di tangan kamu."


Dion kemudian berpikir, dia menatap mata karyawan yang tau semua cerita di perusahaan. Mereka menganggukkan kepala memberikan dukungan kepada Dion.


"Bagaimana direktur?" tanya Aris.


Dion berdiri "Saudara Ranti, semua kejadian di perusahaan bersumber dari kemurahan Anda sebagai wanita, jadi saya tidak mau kejadian yang sama kembali terulang ditempat kami mencari nafkah. Untuk itu, Anda mulai detik ini saya pecat dengan tidak hormat. Silahkan keluar." Nada bicara Dion sangat dingin dan tajam.


Aris dan Bram pandang pandangan, mereka tidak salah memilih direktur. Dion sangat berkualitas.


Rapat siang itu berjalan dengan sempurna. Semua keputusan sudah diambil tinggal eksekusi saja. Semua manager akan melakukan seleksi karyawan dalam dua minggu berikutnya. Sedangkan minggu ini mereka akan bekerja lembur untuk memperbaiki semua adminitrasi dan proposal yang ngawur.


Aris dan Bram menunjukkan ruangan direktur kepada Dion. Ruangan yang akan ditempati Dion. Dion terpana melihat ruangan itu.


"Kamu boleh menukar semua furniturnya. Saya paham kamu tidak mau mengingat penghianatan pacar kamu." kata Bram.


Dion pun mengangguk. Dia memang berniat menukar beberapa furnitur yang dirasa telah digunakan Ranti dengan direktur yang lama.


Aris melangkah keruangannya. Dia teringat dengan Gina. Dilihatnya jam mahal keluaran terbaru dari merk ternama yang terletak dipergelangan tangannya.


"Berarti disitu sudah menginjak siang hari." Aris mengeluarkan ponselnya.


✉️ Aris


hay.


✉️ Gina


Hay. tumben nyapa. Maren mana aja? Tidur?


✉️ Aris


Yup. Mana ada. Cari nafkah untuk calon kekasih.


✉️ Gina


Oh ya lah. Aku sibuk mau pergi kuliah.


✉️ Aris


Cemburu?


Tapi tidak ada balasan dari Gina. Aris tau Gina marah dengan ucapannya. Aris semakin yakin kalau Gina sudah sangat mencintainya. Aris membiarkan Gina marah dalam pemikirannya sendiri. Aris tidak mau memaksakan peruntungannya dengan terus mengirim pesan kepada Gina.


Hari sudah mau maghrib. Semua karyawan sudah pulang begitu juga dengan Dion. Hari ini Aris memutuskan untuk tidak ada lembur. Aris dan Bram menuju rumah utama. Sebelum sampai rumah mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu disalah satu restoran mewah. Mereka makan dengan lahap diselingi dengan candaan receh ala mereka berdua.


Setelah makan malam selama satu setengah jam. Mereka langsung pulang. Hari ini mereka akan istirahat penuh tanpa memikirkan urusan perusahaan. Mulai besok jangankan untuk tidur, untuk makan saja mereka harus bergantian.


Aris dan Bram sampai di rumah. Mereka masuk kedalam kamar masing-masing. Aris merebahkan dirinya di atas sofa, dia mengelurkan ponselnya berharap ada notif pesan dari Gina. Ternyata sama sekali tidak ada. Arispun tersenyum, "Ternyata kamu keras kepala juga Gina". Aris meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas samping tempat tidur dan mencharge batrai ponselnya.

__ADS_1


Aris kemudian masuk kedalam kamar mandi. Dia sudah meminta bibik untuk menyiapkan bathup saat diperjalanan menuju rumah. Aris akan berendam, merilekskan badannya yang lelah. Aris menuangkan aroma terapi kedalam air mandinya. Aris kemudian masuk dan berendam selama dua jam. Aris merasakan badannya sudah kembali rileks, dia pun keluar dan menukar bajunya. Aris mengambil vitamin dari laci meja dan meminumnya, setelah itu dia menuju alam mimpi. Aris berdoa di dalam hatinya semoga memimpikan Gina. Aris luar biasa rindu kepada Gina.


__ADS_2