Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Obrolan Receh


__ADS_3

Sayang udah malam ayuk tidur." kata Aris kepada Gina yang masih aja menonton televisi di ruang keluarga.


"Ayuk." jawab Gina sambil meminta tolong diberdirikan oleh Aris.


"Sayang aku berat ya?"


"Nggak, siapa bilang kamu berat. Ringan kok sayang." jawab Aris sambil memegang tangan Gina.


Mereka masuk ke dalam kamar. Gina membersihkan mukanya dan menggosok gigi terlebih dahulu. Selesai Gina membersihkan mukanya barulah Aris membersihkan badannya. Aris terbiasa mandi sebelum tidur.


"Sini peluk." kata Aris kepada Gina yang baru naik ke atas kasur setelah menyisir rambutnya.


Gina menggeser badannya mendekati Aris. Dia memilih untuk meletakan kepalanya ke tempat favorit yaitu di bawah ketiak Aris.


"Sayang kenapa bulunya halus halus sekali sayang." ujar Gina kepada Aris.


"Hahahaha. Mana aku tau sayang. Dia tumbuh sendiri." jawab Aris yang heran dengan pertanyaan Gina.


Gina terus saja memegang bulu bulu yang tumbuh di ketiak Aris. Hal itu sebenarnya membuat Aris menjadi geli, tapi Aris tidak mau melarang Gina. Akhirnya dia menahan sendiri rasa geli yang melanda dirinya.


Setelah memainkan bulu ketiak Aris, Gina akhirnya tertidur sendiri. Aris yang tidak lagi merasakan geli di ketiaknya juga memejamkan matanya. Dia sebenarnya juga lelah, karena seharian ini Gina meminta ditemani untuk pergi berjalan jalan di sekitaran danau di belakang rumah utama.


Tengah malam, Gina merasakan sakit di perutnya. Sakit yang kadang benar benar membuat dia harus menahan supaya tidak menjerit karena takut mengganggu tidur Aris. Sampai sakit yang kadang kadang tidak terasa. Sakit yang kadang muncul kadang hilang itu terjadi secara kontinui. Hal ini membuat Gina tidak tau apakah harus membangunkan Aris atau tidak.


Setelah rasa sakit itu hilang, Gina kembali memejamkan matanya. Dia masih merasakan kantuk yang luar biasa.


"Mungkin ini yang dinamakan kontraksi palsu." ujar Gina sebelum memejamkan kembali matanya.


Gina kembali tertidur dengan nyenyak. Tak terasa matahari sudah muncul kembali menyinari bumi pertiwi. Gina merasakan silau di kedua matanya akibat terpaan sinar matahari yang masuk melewati jendela kamar mereka.


Gina meraba kasur disebelahnya, tetapi dia tidak merasakan ada Aris di sebelahnya. Gina melihat dan ternyata memang benar kasur di sebelahnya terlihat kosong tanpa ada Aris yang kemaren sudah tidur.


"Sayang." kata Gina memanggil Aris.


"Kamar mandi sayang." jawab Aris yang tau kalau Gina pasti kehilangan dirinya.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Aris kembali ke kamar.


"Sayang mandi sana. Setelah itu kita sarapan. Tapi kamu mau ke mall." kata Aris kepada Gina.


"Mandikan sayang." jawab Gina sambil memberikan senyuman manisnya kepada Aris.


"Mulai manja. Ya udah ayuk aku mandikan." kata Aris sambil menolong mendirikan Gina dari atas kasur.


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Aris memandikan Gina seperti memandikan anak bayi saja. Aris membersihkan semua bagian tubuh Gina. Tak ada satu senti pun yang terlewatkan oleh Aris. Aris begitu telaten dengan Gina.


Setelah memandikan Gina, Aris mengeringkan badan Gina dengan handuk, dia juga membantu Gina memakai pakaiannya. Aris bener bener menjadi suami idaman semua wanita saat wanitanya hamil.

__ADS_1


"Selesai. Berhubung aku nggak bisa makeup, jadi kamu makeup sendiri ya. Tapi tetap natural." kata Aris kepada Gina.


"Makasih baby." jawab Gina sambil memberikan kecupan singkat di bibir Aris.


Gina kemudian merias dirinya di depan cermin. Mereka akan ke mall sebentar. Gina sedang menginginkan makan pisang coklat keju yang dibuat di kafe Bayu. Sebenarnya Gina bisa meminta kepada Bayu untuk dibawakan makanan itu ke rumah. Tapi Gina saat ini ingin menikmati langsung makan makanan tersebut di kafe Bayu. Maka jadilah dia harus membujuk Aris agar mau mengabulkan keinginannya. Dengan rayuan mautnya dan kalimat andalannya yaitu mau anaknya ileran, akhirnya Aris mau mengabulkan keinginan Gina.


"Sayang ayuk berangkat." ajak Gina.


"Sayang ini baru jam sepuluh. Kamu mau bersih bersih kafe Bayu?" kata Aris sambil menggoda Gina.


Aris sudah tau selain mau menikmati makanan di kafe Bayu, Gina juga ingin belanja. Beberapa hari yang lewat Aris sempat melihat Gina yang sibuk melihat perhiasan dari salah satu toko berlian ternama di mall yang akan mereka kunjungi.


Gina yang mendengar jawaban dari Aris langsung saja manyun. Dia meletakan tas tangannya dengan kasar dan keras.


"Jangan ngambek. Mau anaknya nanti suka ngambek?" kata Aris sambil tersenyum ke arah Gina.


"Jawaban kamu ngeselin sih. Masak di bilang aku mau jadi tukang sapu kafe Bayu. Kebangetan banget kamunya." ujar Gina sambil tetap manyun.


"Mari berangkat istri cantik hamilku, yang udah deket mau lahiran tetap mau jalan keluar." kata Aris sambil menggandeng tangan Gina.


"Sayang besok empat puluh hari loh aku nggak keluar rumah. Makanya aku puas puasin sekarang dulu." balas Gina sambil bergelayut manja di tangan Aris.


"Sayang aku berat nggak?" tanya Gina.


"Sayang ini udah yang kesekian kali salam tiga setengah tahun ini kamu nanyak aku berat ya sayang." kata Aris sambil menjawil hidung Gina.


"Kiranya lahirnya ganda sayang." kata Aris sambil menggandeng Gina menuju mobil yang sudah parkir di teras rumah.


"Mana ada. Jangan ngadi ngadi lah sayang." jawab Gina sambil mencubit mesra Aris.


"Eh mana tau. Kuasa Tuhan loh sayang." ujar Aris.


"Kalau Tuhan mengkehendaki ya siapa yang bisa larang sayang. Aku malahan sangat bersyukur kalau lahirnya kembar." lanjut Gina.


Aris dan Gina naik ke kursi penumpang. Sekarang mereka kemana mana tidak hanya berdua lagi. Waktu melahirkan Gina yang semakin dekat, membuat mereka pergi di dampingi seorang suster dan sopir yaitu Pak Paijo.


"Kita kemana Tuan Muda?" tanya Pak Paijo yang sudah stanbay di dalam mobil.


"Ke mall besar tengah kota Pak." jawab Aris.


Pak Paijo mengemudikan mobilnya menuju mall pusat kota yang dikatakan oleh Aris. Pak Paijo menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Dia tidak mau Tuan Muda marah karena melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Pak Paijo berbelok ke dalam area mall. Pak Paijo memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil keluarga Soepomo.


Aris, Gina, Suster dan Pak Paijo turun dan masuk ke dalam mall. Mereka mengikuti kedua tuan dan nyonya muda dari belakang. Pak Paijo yang keren sangat pas bersanding dengan suster yang cantik.


Gina masuk ke dalam toko perhiasan ternama. Dia sebenarnya niatnya memang ke sana. Tapi muter muter dulu mengkambing hitamkan pengen makan di kafe Bayu.

__ADS_1


Gina mengeluarkan ponselnya. Dia langsung menunjuk perhiasan berlian yang dia mau. Seorang pelayan toko yang sudah tau kalau Gina adalah pelanggan VVIP di tokonya langsung mengeluarkan perhiasan yang Gina inginkan.


Tanpa memikirkan berapa belinya, Gina langsung setuju membeli sebuah kalung dan cincin yang bertahtalan berlian mewah.


"Berapa?" tanya Aris kepada kasir toko.


"Tiga setengah Milyar Tuan Muda." jawab kasir.


Aris mengeluarkan black cardnya. Tapi ditahan oleh Gina


"Sayang sekali ini biarkan aku yang membelinya." kata Gina.


"Oh yang ini kamu bayar. Tapi aku juga mau membelikan satu set untuk kamu. Anggap itu hadiah melahirkan dari aku. Gimana? Sepakat?" tanya Aris kepada Gina.


Gina mengangguk tanda setuju. Aris langsung memilihkan satu set perhiasan lagi untuk Gina. Jadilah Gina hari ini membawa pulang dua set perhiasan.


Selesai berbelanja perhiasan. Gina mengajak Aris menuju kafe milik Bayu. Dia sudah lapar karena tadi sarapan hanya makan roti bakar dan segelas susu saja.


Pak Paijo dan suster yang bernama Rani memilih duduk terpisah dengan bos mereka.


"Duduk di sini aja. Jangan jauh jauh." kata Gina kepada Paijo dan Rani.


Kedua bawahan itu melihat ke arah Aris. Aris mengangguk tanda setuju mereka berdua duduk bersama mereka dalam satu meja. Paijo dan Rani, langsung pindah duduk ke meja Aris dan Gina.


Gina memesan semua makanan ternama di kafe itu. Paijo dan Rani yang melihat begitu banyaknya pesanan Nyonya Muda langsung geleng geleng tak percaya.


"Tenang aja, ini semua nggak akan bersisa oleh Nyonya kalian. Jadi kalian tambah pesanan sana." kata Aris kepada kedua bawahannya.


Paijo dan Rani memesan makanan yang akan mereka makan. Setelah semua pesanan datang, mereka mulai menyantap makan siang itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh Aris memang benar adanya. Semua makanan yang di pesan oleh Nyonya Muda mereka memang habis di lahap oleh Gina.


"Hahaha. Wajah kalian biasa aja. Memang inilah adanya Nyonya Muda." kata Aris sambil tersenyum


"Tenang aja Pak. Setelah melahirkan aku nggak akan rakus lagi." jawab Gina sambil tersenyum malu. Dia lupa kalau ada dua bawahan yang mengikuti dia hari ini.


Selesai makan siang. Aris mengajak Gina untuk pulang. Dia tidak mau Gina menjadi lelah kembali. Tetapi sebelum pulang Aris singgah keperusahaan terlebih dahulu. Tadi Bram menelpon meminta Aris untuk datang.


" Pak Paijo kita ke Jaya Grub dulu. Tadi Bram menghubungi saya. Nggak apa apakan sayang kalau kita ke sana dulu?" tanya Aris.


" Nggak apa apa sayang. Aku setuju. Lagian cepat kali pulang. Aku maunya sampe rumah langsung tidur." ujar Gina menjawab pertanyaan suaminya.


"Sayang kita beli makan siang untuk kak Bram dulu. Kasian mana tau dia belum makan." ujar Gina yang tiba tiba keingat Bram udah makan siang atau belum.


"Sip. Nanti kita belikan nasi padang di jalan aja. Dia kalau sibuk makannya suka nasi padang sayang." jawab Aris yang tau kebiasaan Bram kalau sedang banyak kerjaan seperti sekarang.


"Kita mampir di rumah makan Padang yang biasa saya dan Bram makan siang Pak. Setelah itu baru ke perusahaan." perintah Bram kepada Paijo.


"Baik Tuan Muda." jawab Paijo

__ADS_1


Paijo mengarahkan mobil menuju perusahaan Jaya Grub. Ntah apa yang terjadi si perusahaan sampai sampai Bram meminta Aris untuk datang.


__ADS_2