Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Menjeput Stefen


__ADS_3

"Frenya, kamu dengan Argha berangkat ke markas ya hari ini. Bunda mau ke butik dulu ngambil baju untuk lamaran Papi Bram." ujar Ghina memberi perintah kepada Frenya dan Argha.


"Oke Bun." jawab Frenya dengan semangat.


"Tapi Nya sebelum ke markas kamu jemput pacar kamu dulukan ya? Atau kamu lupa hanya karena begitu senangnya di suruh ke markas?" ujar Ghina yang sangat yakin Frenya pasti lupa dengan jadwal kedatangan Stefen.


"Nggak lupa Bun. Ini mau jemput." ujar Frenya dengan wajah memerah karena ketahuan oleh Bundanya dia lupa jadwal kedatangan Stefen. Makhluk yang sudah ditunggunya beberapa hari ini.


"Yayayayaya yang nggak lupa tetapi sedikit perlu diingatkan." Ghina kembali meledek anak gadisnya itu.


Frenya yang nggak mau ledekan Bundanya semakin menjadi langsung saja menggandeng tangan Argha untuk pergi meninggalkan rumah utama. Frenya lebih memilih lama di bandara dari pada harus mendengarkan ledekan Bundanya yang nggak tau kapan selesainya.


"Nya kapan nikah?" ujar Argha yang berada di samping Frenya.


"Jangan ngomongin nikah Stefen masih ngumpulin duit." jaeab Frenya menatap sebal Argha.


Argha terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada Frenya.


"Kamu nggak lupa bawa fotonya kan Gha?" Frenya berusaha mengalihkan perhatian Argha dari pertanyaan seputar pernikahan.


Sejujurnya Frenya belum memikirkan hal itu. Dia sedang menikmati waktunya sebagai wanita karier dan sedang menikmati waktu dirinya dan Stefen. Frenya memiliki banyak agenda di otaknya untuk dilakukannya dengan Stefen.


"Bawalah Uni, kalau Argha tinggal ngapain juga kita ke markas nantinya. Jangan ngadi ngadi uni ku sayang, uni ku cantik, uni ku yang belum memikirkan kapan menikah." kata Argha yang paling sangat suka kalau melihat Frenya yang tidak mood dengan keadaan.


"Ye ye ye ye. Kamu suka kali gangguin Uni kamu yang cantik, pintar dan kaya ini." balas Frenya mengedepankan siapa dirinya.


"Mulai sombong." jawab Argha yang memang tidak suka apabila ada orang yang menyombongkan dirinya sendiri.


"Hahahahahaha. Jadi kesal sendiri dia." ujar Frenya yang berhasil membuat Argha menjadi kesal.


Karena keributan yang nggak berarti itu di sepanjang jalan. Tidak terasa mobil yang dikemudikan oleh Frenya sudah terlewat dari gerbang masuk bandara.


"Nya gerbangnya lewat." ujar Argha saat melihat gerbang masuk bandara yang sudah berada di belakang mereka.


"Hah!!!!!" Frenya melongo karena tidak fokus menyetir itu.


"Makanya fojus hokus pokus. Ini gerbang sebesar itu bisa nggak nampak. Gaswat." ujar Argha sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lah yang ngajak ribut kan kamu Gha. Malah uni yang disalahin." Frenya tidak terima dirinya disalahkan oleh Argha.


"Sama sama salah Uni sayangku. Sekarang putar balik dari pada makin jauh. Kasian Stefen yang udah nunggu dari tadi." ujar Argha mengingatkan Frenya dengan kekasih hatinya itu.


Frenya mengambil jalan sebelah. Dia terpaksa harus kembali berbelok akibat ulahnya sendiri. Frenya kemudian memarkir mobilnya di tempat parkir yang ada di bandara.


Dua anak keluarga Soepomo itu turun dari mobil mewah mereka. Argha dan Frenya langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Selain nama besar yang mereka sandang, wajah mereka juga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi semua orang yang ada di bandara.


Frenya dan Argha masuk ke dalam ruang khusus tamu memakai pesawat pribadi. Mereka melihat Stefen sudah asik bercerita dengan Jero sang pilot hari ini.


"Sayang" ujar Frenya memeluk pinggang Stefen.


"Sayang" balas Stefen.


Cup. Stefen mengecup puncak kepalanya Frenya. Frenya tersipu malu karena diperlakukan sebegitu romantisnya di depan semua pengunjung bandara. Pasangan itu langsung menjadi pusat perhatian.


Apalagi selama ini keluarga Soepomo tidak pernah mengekspos kehidupan pribadi mereka. Makanya banyak diantara para pengunjung mengabadikan momen langka tersebut. Para pengunjung bandara mengambil video dan melakukan siaran langsung. Apalagi yang dari tadi sudah melakukan siaran langsung pasti mendapatkan rekaman saat Stefen mencium puncak kepalanya Frenya.


"Hm sok romantis. Udah belum?" ujar Argha yang merasa gerah melihat tingkah uni dan calon uda iparnya itu.


"Is cemburu aja." jawab Frenya.


"Maksud kamu?" ujar Frenya gagal paham dengan omongan Argha tadi.


"Aduh uni aku sayang uni aku cantik tapi mendadak lemot gara gara kangen pacar. Uni nggak ingay ini dimana?" tanya Argha memandang ke sekelilingnya.


Frenya baru sadar dengan keadaan di sekitar mereka yang dipenuhi banyak orang.


"Waduh bakalan viral ini mah." ujar Frenya.


Wajah Frenya dalam seketika langsung berubah dingin. Dia tidak menyangka perbuatan romantis Stefen akan berakibat dirinya akan menjadi viral.


"Hahahahahaha. Baru sadar." jawab Argha


"Om Jero ayuk jalan nggak usah tungguin pasangan yang kasmaran itu. Bisa bisa Om Jero jadi manusia masak lama lama melihat mereka berdua." lanjut Argha yang langsung berjalan dan diikuti oleh Jero untuk meninggalkan sepasang kekasih itu.


"Udahlah sayang. Kamu dicium juga bukan dicium laki orang. Ngapain marah dan takut." ujar Stefen berusaha menenangkan Frenya.

__ADS_1


"Tapi sayang nanti bisa jadi viral. Kamu nggak ngebayangin gimana nantinya. Aduh sayang" lanjut Frenya yang mendadak moodnya rusak gara gara kejadian tadi.


"Jadi kamu nyesel dan malu kalau menjadi viral karena di cium Aku?" tanya Stefen pura pura sedih.


Stefen hanya mau Frenya tidak larut dalam kecemasannya.


"Bukan begitu sayangku. Aku seneng kamu perlakukan seperti itu. Aku takutnya kamu nanti jadi bulan bulanan orang di sosial media. Aku nggak mau itu sayang." ujar Frenya memeluk tangan Stefen.


"Kalau kamu mencemaskan itu, maka kecemasan kamu hanya sia sia saja. Aku nggak ambil pusing apa kata orang. Terserah mereka aja, yang tau diri kita masing masing ya hanya kita sayang. Jadi nggak usah kamu cemas oke." ujar Stefen lagi.


"Tapi sayang!" ujar Frenya yang masih belum tenang.


Cup. Stefen mengecup bibir Frenya.


"Biarkan." ujar Stefen dengan nada memerintah.


Frenya terlihat berpikir untuk sesaat. Dia menganalisa semua jawaban Stefen. Ternyata Stefen ada benarnya juga. Ngapain mikirin omongan orang.


"Baiklah Sayang. Lagian kita nggak minta ke mereka yansayangnya. Nyesel aku tadi mikir yang nggak nggak." Frenya setuju dengan Stefen.


"Makanya santai aja."


Mereka berdua menyusul Argha dan Jero yang sudah berdiri di depan mobil. Stefen langsung menekan remot mobil yang diberikan oleh Frenya.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil yang dikendarai Stefen. Mereka berempat akan langsung menuju markas. Alex, Juan dan Jero sudah menunggu di sana.


"Hahahaha. Om Jero akan bertemu Paman Jero." ujar Argha tertawa senang.


"Kembar di luar judulnya Gha." jawab Jero.


"Tapi sama sama keren." lanjut Jero dengan pedenya.


"Mulai" ujar Argha.


"Hahahahaha. Masih sama ternyata." ujar Jero yang sengaja memancing Argha.


"Ya masih samalah om. Masak beda." jawab Argha lagi.

__ADS_1


Mobil terus melaju menuju markas. Stefen membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Stefen tidak sabar lagi mendengar cerita Argha tentang istri pertama Tuan Soepomo yang sebentar lagi akan menjadi kakeknya itu


__ADS_2