Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
F. BACK ARGA BREE


__ADS_3

Gina yang selesai dibersihkan oleh perawat di bawa masuk ke dalam kamar rawatnya. Seluruh keluarga besar sudah menunggu Gina di dalam ruangan. Mereka menunggu dengan gelisah. Mereka sudah sangat ingin melihat wajah cucu pertama dari dua keluarga besar itu. Seorang penerus dari Soepomo dan Jaya Grub serta Wijaya dan Bramantya Grup.


"Mam, tu kenapa?" tanya Gina menunjuk ke arah Aris yang tertidur di kasur sebelah ranjang Gina.


"Biasa mabok darah." jawab Mami.


Gina kemudian dipindahkan ke kasurnya. Dokter memeriksa infus dan semuanya.


"Nyonya nanti sebentar lagi babynya akan diantar ke dalam." kata dokter Ranti kepada Mami dan Nana.


"Terimakasih dokter karena sudah memberikan yang terbaik untuk cucu dan menantu saya." kata Papi.


"Bram" panggil Papi kepada Bram untuk memberikan sesuatu kepada dokter.


Bram kemudian maju dan menemui dokter yang tercenang kepada Papi memanggil Bram.


"Dokter ini ada sedikit hadiah dari keluarga Soepomo dan keluarga Wijaya. Mohon dokter terima." kata Bram yang mewakili memberikan hadiah kepada dokter dari kedua Tuan besar itu.


"Tapi Tuan, ini adalah tanggung jawab saya sebagai seorang dokter." jawab dokter Ranti yang menolak menerima hadiah.


"Dokter kami akan merasa terhina kalau dokter tidak mau menerima." ujar Ayah yang dari tadi hanya diam saja.


"Maaf tuan bukan maksud saya seperti itu. Baiklah saya terima. Terimakasih sebelumnya Tuan." ujar dokter Ranti.


"Tunggu sebentar dokter. Benda di amplop itu adalah untuk dokter. Sedangkan yang ini dari saya dan Nana untuk para suster yang di dalam tadi." ujar Mami sambil memberikan sebuah amplop yang cukup tebal.


"Ini sudah berlebihan Nyonya. Ini saja yang saya bagi untuk rekan rekan saya." jawab dokter Ranti yang kembali menolak.


"Kami tidak menerima penolakan dokter." jawab Mami sambil menatap tajam dokter Ranti.


Dokter Ranti hanya pasrah menerima semua pemberian dua keluarga terpandang itu. Dokter Ranti merasa terintimidasi berlama lama di ruangan itu.


"Sungguh bener kata orang orang luar, ternyata keluarga ini memang bener bener bisa membuat orang mati berdiri saat melihat tatapan mata mereka." kata dokter Ranti sambil berjalan menuju ruangan bayi.


Dokter Ranti dan beberapa suster yang membantu persalinan pergi mengantarkan calon pewaris dari keluarga Soepomo dan Wijaya Grub.


"Tuan dan Nyonya, ini cucu anda." kata dokter Ranti sembari menyerahkan kepada Mami.


"Wow gantengnya cucuku mirip Aris banget. Berarti dia laki laki kan ya?" tanya Mami kepada dokter Ranti.


"Bener Mi. Cucu Mami dan Nana adalah laki laki. Tapi belum diazani Daddynya, noh Daddynya pingsan." kata Gina sambil melihat ke arah Aris.


Seorang suster membantu Aris untuk sadar dari pingsannya. Dia mengusapkan kembali minyak angin ke hidung Aris. Seketeka Aris terbatuk dan langsung duduk.


"Akhirnya yang katanya ketua mafia, akhirnya pingsan saat melihat darah istri sendiri." ujar Papi mengejek Aris.


Aris menatap Papi dengan tajam. Aris tidak rela diejek oleh Papi.


"Alah kita sama Pi. Jangan banyak gaya." kata Aris kepada Papi.


"Sayang, kamu belum ngazani anak kita sayang." kata Gina mengingatkan Aris.


Mami kemudian meletakan Blip kedalam gendongan Aris. Aris kemudian mengazankan anaknya itu. Suara Aris terdengar bergetar karena kebahagiaannya. Setelah mengazankan Blip, Aris mencium pipi bayi tampan itu.


Nana mengambil Blip dari dalam gendongan Aris. Nana memperlihatkan Blip kepada semua keluarga yang hadir.


"Bun, dia tampan kali. Aku takut kalah tampan kalau sudah besar bun." ujar Daniel.


"Kalau dia besar, kamu udah jadi bapak orang Niel ingat umur, jangan kira jarak loe dengan Blip cuma lima tahun. Kali empat iya." ujar Bram mulai mengejek Daniel.


"Eh Papi kalau nggak cepat cepat nikah, nanti pas anaknya lahir dia langsung manggil kakek ke Papi. Makanya cepat halalin. Jangan buat dosa terus." ujar Daniel memukul balik Bram.


"Mana ada buat dosa. Sok tau anak kecil."


"Ya taulah. Papi sama Cami kan sering pura pura pegang tangan nggak sengaja. Dosa juga Pi, walau itungannya nggak dorprice." jawab Daniel.


Mereka kemudian asik mengobrol. Blip bener bener anak yang baik, dia tidak merasa terganggu dengan obrolan para orang tua diruangan itu. Bayi mungil itu tetap tertidur digendongan atuknya.


"Oek oek oek." Blip terdengar menangis dengan kencang.


"Wow tu bayi, sekali nangis langsung ngegas. Bener bener tu anak keturunan murni Aris. Jangan kopi perai Daddy kamu nak." ujar Bram yang sangat tau bagaimana sifat Aris saat dia merasa di konfrontasi.


"Sayang sepertinya dia haus. Kamu susuin gih biar dia kenyang." kata Nana sambil memberikan Blip kepada Gina.

__ADS_1


Gina terlihat akan membuka bajunya.


"Sayang tunggu." ujar Aris.


"Kenaoa sayang, Blip udah haus ini."


"Bentar. Aku nggak mau memberikan pemandangan gratis kepada Bram yang belum merasakan itu." ujar Aris sambil menatap Bram dengan tatapan mengejek.


"Sial." kata Bram.


Aris membuka tempat pakaian milik Blip. Dia mengambil suatu benda seperti topi. Tetapi benda itu sebenarnya adalah untuk menutupi payudara seorang ibu saat menyusui anaknya.


"Bener bener posesif." ujar Mami.


"Ris, seminggu lagi kita langsung aqiqah dan pengumuman nama anak kamu sekalian acara turun mandi ya." ujar Ayah kepada Aris.


"Oke Ayah. Acaranya dimana?" tanya Aris balik.


"Dirumah utama saja." ujar Mami.


"Gimana Ayah, Nana apakah setuju kita mengadakan acara tersebut di rumah utama Soepomo?" tanya Aris yang segan dengan mertuanya itu.


"Tidak apa apa Ris. Lagian Blip juga tinggal di sana." jawab Ayah yang tau rasa segan dari menantunya itu.


Berhubung hari sudah mulai malam, semua keluarga kecuali Daniel pamit untuk pulang ke rumah. Mereka akan kembali lagi besok pagi. Apalagi Mami dan Nana, pastinya setelah sarapan mereka akan langsung ke rumah sakit menemui cucu pertama.


"Niel, kamu sudah makan?" tanya Aris kepada anak tertuanya yang sedang sibuk menonton acara lawak di televisi.


"Belum Dad. Kenapa? Daddy lapar?" tanya Daniel sambil menatap ke arah Daddynya.


"Iya lapar. Kamu beli nasi padang sana." perintah Aris.


"Niel, Bunda juga mau. Tapi untuk Bunda banyakin sayurnya ya." ujar Gina.


"Bun, bukannya nggak mau belikan untuk Bunda. Cuma masakan padang itu pake penyedap Bun, jadi lebih baik Bunda makan nasi dari rumah sakit aja, lebih sehat untuk Blip." ujar Daniel mengingatkan Bundanya.


"Terserah apa kamu mau belikan aja Niel. Sepertinya adik kamu sangat kuat minum asinya." ujar Gina.


Daniel kemudian keluar dan pergi membeli semua makanan yang di pesan Daddy dan Bunda serta membeli makan malam untuk dirinya sendiri.


"Sayang, jadi siapa nama Blip?" tanya Gina kepada Aris.


"Gimana kalau Arga Wijaya Soepomo"


"Nggak ada pake nama kamu sayang?" tanya Gina yang tidak ada mendengar nama Aris di tengah tengah nama anaknya.


"Nggak usah sayang. Cukup nama Ayah dan Papi saja." jawab Aris.


"Sayang lebih baik ada nama kamu. Masalahnya pada nama Daniel ada nama kamu sayang." ujar Gina yang mengingat dalam nama Daniel ada nama Aris.


"Tapi apa sama kamu tidak masalah dengan tidak adanya nama kamu di dalam nama anak kita?" tanya balik Aris sambil menatap wajah Gina.


"Hahahaha. Sayang sayang, jadi kamu mikir itu dari tadi??? Nggak masalah sayang. Santai aja. Jadi nama Blip adalah Arga Aris Wijaya Soepomo." ujar Gina.


"Anggap aja Ar dari kata Aris. Ga dari kata Gina. Maka disingkat jadi Arga. Maksa dikit nggak masalah." ujar Gina sambil tersenyum.


"Kamu ada ada aja sayang. Kamu jaga Blip apa perlu pake suster atau nggak?"


"Nggak. Aku pengen urus sendiri. Jadi aku tau sepenuhnya perkembangan Blip. Jadi aku bisa cerita ke kamu tentang perubahan Blip yang terjadi."


"Nanti di kasi ke suster, eeeee saat susternya pergi dia nangis. Saat kita yang pergi dia acuh aja. Aku nggak mau kayak gitu." lanjut Gina menjelaskan apa rencananya berikutnya.


"Dia gini sayang, aku pengen pergi nganterin kamu makan siang, nanti aku bawa Blip. Nah kami pake ruangan istirahat untuk nunggu kamu pulang." ujar Gina sambil membayangkan apa yang akan dilakukannya dengan Blip.


Saat mereka berdua berbincang bincang, Daniel masuk dengan membawa semua pesanan.


"Lama Niel?" tanya Aris, yang keheranan tumben tumbennya Daniel pergi dalam waktu yang lama.


"Tadi pergi mesanin pesanan untuk Bunda Dad. Biar Bunda bisa makan enak tapi nggak ngaruhin ke Blip." ujar Daniel.


Daniel tadi pergi ke rumah salah satu sahabatnya seorang dokter Gizi. Dia meminta dokter cantik tersebut memasakan sesuatu yang bisa nembuat asi Gina banyak dan mengandung Gizi yang bagus. Dokter itu tidak bekerja di rumah sakit Harapan Kita melainkan bekerjandi rumah sakit Soepomo Grub.


"Kamu nggak lagi nutupin sesuatu kan Niel?" tanya Gina menatap tajam ke arah Daniel.

__ADS_1


"Nggak lah Ibun, mana ada. Aku jujur nggak ada nutupin apapun." jawab Daniel yang sedikit takut menatap mata Gina.


"Semoga setelah oke kamu harus ngaku dengan Bunda dan Daddy." lanjut Gina.


Daniel yang mendengar langsung syok. Sepertinya dia memang tidak bisa berbohong kepada Bundanya ini.


"Maaf Bun, Daniel janji besok kalau udah jelas akan Daniel ceritakan." ujar Daniel.


Aris menatap Gina meminta penjelasan.


"Anak kita udah besar Dad, jadi dia sedang naksir seseorang tapi masih dalam tahap survey." ujar Gina sambil melirik Daniel.


"Mana ada tahap survey, main langsung tembak aja Niel." ujar Aris.


"Alah Daddy aja survey Ibun lama waktu kuliah. Mana ada langsung main tembak. Sampe ngejer ngejer Bunda ke Padang sana." ujar Daniel yang langsung membalik bulyyan Daddy nya.


"Udah udah, kita makan. Siap itu langsung tidur. Tengok tu Blip dari tadi nggak ada bangun." ujar Gina yang melihat Blip di dalam boks bayi tenang tenang saja.


"Ibuk kita belum ada fhoto. Nanti kita fhoto bersama terus kirim ke Frenya biar dia pulang." ujar Daniel.


"Oke." jawab Aris.


Mereka berempat kemudian berfhoto. Gina menggendong Blip sedangkan Aris berada di sisi sebelah kanan dan Daniel berada di posisi sebelah kiri. Mereka berempat benar benar keluarga bahagia. Daniel walaupun hanya anak angkat, tapi perlakuan Aris dan Gina tidak ubahnya dengan anak kandung.


Seorang suster yang diminta tolong Daniel untuk mengambil gambar hanya bisa tersenyum bahagia melihat salah satu keluarga terpandang di negara ini bisa di fhotonya lengkap dengan anak mereka yang baru lahir.


"Kirim ke Frenya, Niel." perintah Gina.


Daniel langsung mengirim ke Frenya. Dia tidak menunggu waktu lama.


Tidak berapa lama, ponsel Bram langsung berdering. Terlihat Frenya melakukan video call dengan Daniel.


[[Mana Bunda dan Daddy serta adik, uda?]] kata Frenya dari seberang telpon.


Daniel meperlihatkan mereka berempat.


[[ Hay Frenya, kamu nggak pengen balik? Atau udah lupa sama Bunda?]] ujar Gina kepada anak gadisnya itu.


[[Nggak lah Bun. Aku pastikan aku akan pulang. Boleh minta Stepen jemput Bun?]] tanya Frenya.


[[Boleh. Frenya ini Daddy.]] kata Gina sambil memperkenalkan Aris


[[Malam Dad. Maaf belum pulang. Tapi aku pastiin akan cepat pulang.]] ujar Frenya.


[[Hati hati saja di sana. Kuliah bagaimana?]] tanya Aris kepada Frenya.


[[Sampai lupa. Bun minggu depan aku wisuda. Tapi virtual. Nah pas kalau gitu. Ibun sama Daddy plus Uda pasti bangga.]] jawab Frenya.


[[Banggalah lulusan S3 kok ya. Masak kami nggak bangga. S3 termuda lagi.]] jawab Gina


[[Bunda sama Blip istirahat lagi. Aku ada kerjaan dikit lagi. Sampai jumpa di negara I.]] ujar Frenya.


Daniel kemudian memutus panggilan.


"Niel, Frenya kuliah di bidang apa?" tanya Aris saat mereka menikmati makan malam yang sudah terlalu malam.


"Bisnis Dad. Dia selesai S3. Tu anak kerjaannya kuliah dan belajar mulu. Nggak ada sesi bermainnya. Makanya nggak suai umur." kata Daniel sambil tersenyum bangga memikirkan adik angkatnya itu.


"Bayangkan aja saking sibuk di kampusnya dia, aku yang saty apartemen aja sangat jarang berjumpa sama Frenya. Ntah kapan ke kampus ntah kapan pulang." lanjut Daniel.


Aris dan Gina hanya bisa mendengar saja. Gina juga jarang dihubungi oleh Frenya.


"Mahasiswa yang seusia dia saat liburan kuliah pasti pergi kemana mana kan ya. Frenya nggak kenal itu, Frenya pasti udah ngambil ujian. Intinya Frenya ingin cepat selesai dan langsung pulang ke sini." papar Daniel.


"Daddy pasti nggak nyangka. Franya saat S1 ngambil dua jurusan itu. Tapi ya yabg bikin salut sama Frenya, bagaimanapun sibuknya dia kuliah. Nyuci pakaian, masak dan makan dia tepat waktu. Malahan aku nggak pernah nyuci sama masak selama kuliah. Dia semua yang ngerjain."


"Ibun tau nggak. Saking banyaknya yang naksir. Tu anak sampe ke kampus pake baju serba besar, rambut di kucir kuda, pake kaca mata besar malahan dia kan penjijik itu ya, rela dia make behel. Asal jangan ada pria yang gangguin dia." lanjut Daniel.


"Sebegitunya.?" tanya Aris dengan nada tidak percaya.


"Beneran." ujar Daniel.


Akhirnya mereka selesai makan. Mereka melanjutkan istirahat malam. Daniel tidur di sofa sedangkan Aris tidur di bad tambahan yang sempat di tidurinya tadi.

__ADS_1


__ADS_2