Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Perlahan Lahan Terbongkar


__ADS_3

Flash Back


Ayah yang gelisah dengan semua kelakuan Nana memiliki ide untuk bertemu dengan Papi. Mereka harus membahas masalah ini berdua dengan kepala dingin tanpa ada kompor atau campur tangan dari kedua Nyonya besar itu.


Ayah meraih ponselnya, dia berniat untuk menghubungi Papi.


Sedangkan di gedung Jaya Grub, Papi memiliki niat yang sama dengan Ayah. Mereka tidak mungkin akan membiarkan semua ini berjalan menjadi buruk.


Papi meraih ponselnya juga, kalau Ayah masih menimang nimang ponselnya untuk menghubungi Papi, hal ini tidak berlaku bagi Papi. Papi langsung saja memencet tombol dan menekan kontak panggil Ayah.


Ayah yang masih memegang ponselnya antara mau menghubungi Papi atau tidak langsung kaget saat ponselnya berbunyi dan langsung terpampang wajah Tuan Besar Soepomo di layar ponsel Ayah.


"Tuan Soepomo? Ada apa ini? Apa dia juga akan menyalahkan Gina atas apa yang terjadi?" ujar Ayah yang takut akan semua orang akan menyalahkan Gina.


Hal ini diperkuat dengan awal kehamilan Gina sempat melarikan diri dari Aris suaminya karena ketahuan selingkuh dengan sekretarisnya.


"Hallo Assalamailaikum Pi." ujar Ayah dengan menetralkan suaranya kembali.


"Waalikumsalam Yah. Apakah sekarang sibuk?"


"Tidak, ada apa? Kebetulan hari ini tidak ada meeting penting yang harus dihadiri." ucap Ayah yang yakin ada hal berat yang akan dibicarakan oleh Papi.


Ayah yang menunggu nunggu hal ini memilih untuk memyndurkan semua jadwalnya. Ayah harus mengetahui semuanya sekarang juga sebelum semua terlambat untuk diperbaiki.


"Apakah kita bisa makan siang di luar. Saya berniat untuk membicarakan sesuatu dengan Ayah." ujar Papi dengan penuh kehati hatian.


"Baiklah Pi. Kita bertemu di restoran GA saja." ujar Ayah menyebutkan restoran yang baru dibuka Ayah tanpa adanya peresmian besar besaran. Restoran yang diperuntukan oleh Ayah untuk Arga dan Gina.


"Baiklah jam 12 saya otw ke sana. Terimakasih atas waktunya Ayah." ujar Papi menutup pembicaraan dua Tuan Besar yang memiliki satu masalah yang sama.


"Sama sama Papi." jawab Ayah.


"Semoga ini adalah pembicaraan yang baik. Tidak pembicaraan menghakimi." ujar Ayah mengusap mukanya.


Ayah mengambil foto keluarga yang berada di atas mejanya. Ayah mengusap wajah Gina, putri kesayangannya yang selalu membuatnya bangga itu.


"Sayang, Ayah tidak akan membiarkan kamu sendirian berjuang. Walaupun Nana sudah tidak menganggap kamu ada, tapi kamu masih memiliki Ayah dan Uda sayang." ucap Ayah menatap nanar ke wajah Gina.


"Hay Boy. Kamu masih ada Atuk. Jangan pernah cemas. Kita akan berusaha bersama sama. Atuk yakin Bunda kamu adalah Bunda terbaik yang ada di dunia." ujar Ayah menatap foto Arga yang tersenyum di dalam gendongannya.


Ayah menelpon asistennya dan meminta sang asisten untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Danu, toling gantikan saya dalam semua kegiatan saya hari ini. Saya ada kegiatan yang tidak bisa di tunda." ujar Ayah memerintahkan Danu asistennya untuk menggantikan semua agenda kegiatannya.


"Baik Tuan." jawab Danu tanpa ada pertanyaan selanjutnya.


"Tolong katakan kepada sopir untuk menyiapkan mobil. Saya hanya akan pergi sendirian." perintah Ayah kepada Danu.


"Tapi Tuan?" ujar Danu yang cemas dengan keselamatan Ayah.


"Sertakan saja satu mobil untuk mengikuti saya." ucap Ayah yang tau Danu mencemaskan keselamatan Ayah.


"Terimakasih Tuan" ucap Danu yang kembali nyaman karena Tuannya mau membawa pengawal.


Ayah dan Papi kembali bekerja. Mereka berencana akan berangkat jam dua belas saja. Dua Tuan besar itu kembali serius dalam mengerjakan pekerjaannya.


Jam dua belas lewat Ayah membereskan semua barang barangnya. Dia mengambil ponselnya. Ayah berjalan menuju ruangan Danu. Dia akan mengambil kunci mobil yang tadi diserahkan sopir kepada Danu.


"Dan, pinjam saya kunci mobilnya." ujar Ayah.


Danu memberikan kunci mobil. Setelah itu dia kembali bekerja. Dia harus membaca semua laporan yang ditinggalkan oleh bosnya itu. Laporan laporan yang begitu banyak. Tetapi karena Danu mencintai pekerjaannya makanya dia tidak ambil pusing dengan semua itu.


Seorang pria yang berumur itu masih terlihat gagah dalam stelan kerjanya. Dia berjalan sendirian menuju parkiran mobil.


"Tumben Tuan Besar berjalan sendirian tanpa Asisten Danu?" bisik salah seorang karyawan.


"Sepertinya Tuan Besar ada kegiatan dengan Nyonya Besar. Makanya dia sendirian berjalan." ujar karyawan yang lain.


Ayah tidak memikirkan apa yang diucapkan oleh para karyawannya itu. Ayah sudah terbiasa dengan kebiasaan kepo karyawan.


Ayah melajukan mobilnya menuju GA Restoran. Dia tidak ingin Papi menunggu, biarlah dia yang menunggu kedatangan Papi. Ayah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Darah mudanya kembali terlihat.


"Waduah Tuan Besar ngebut." ucap pengawal yang mengiringi mobil Ayah.


"Gas aja" jawab temannya.


Pengawal menambah kecepatan mobil. Mereka tidak mau ketinggalan oleh mobil yang dikemudikan Ayah.


"Wah bener bener lah tu Tuan Besar." ucap pengawal yang duduk di belakang.


"Gimana Tuan Muda tidak hobby ngebut. Dia aja ngebut. Tua tua keladi ternyata." lanjut pengawal yang lainnya.


"Jangan menggosip. Kalian mau saya pecat." ujar Danu dari speaker.


"Maaf Tuan" ucap keempat pengawal serentak.


Mereka tidak menyangka kalau percakapan mereka akan didengar oleh Asisten Danu yang terkenal dingin dan kejam dalam mengambil keputusan.


Ayah telah sampai di restoran GA. Ayah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pemilik restoran. Ayah berjalan masuk ke dalam restoran. Sedangkan para pengawal mengikuti Ayah dan duduk di luar ruangan VIP.

__ADS_1


"Kalian pesan saja makanan yang kalian mau." ucap Ayah kepada keempat pengawalnya.


Ayah masuk kedalam ruangan VIP.


"Danu Danu, mendingan tadi saya bawa kamu, dari pada empat pria berotot itu." ujar Ayah geleng geleng kepala atas kelakuan Asisten yang juga teman dari Bram.


"Danu Bram sama saja."


Ayah memainkan ponselnya. Dia menatap fhoto Arga saat bermain di rumah. Galeri ponsel Ayah didominasi oleh fhoto Arga, mulai dari bayi sampai sekarang. Ayah benar benar sayang dengan cucunya itu.


Tidak lama menunggu pintu ruangan VIP terbuka. Terlihat Asisten Hendri membuka pintu ruangan untuk Papi. Asisten Hendri yang melihat di dalam ruangan hanya ada Ayah saja memilih untuk menunggu di luar ruangan. Papi mengangguk tanda sangat setuju.


Dua Tuan besar itu bersalaman, mereka memang besanan tetapi beberapa lama ini mereka jarang bertemu karena kerjaan yang sangat banyak di perusahaan yang mereka kendalikan. Tetapi kalau keluarga membutuhkan campur tangan mereka, meeting penting yang berlaba ratusan juga akan mereka tinggalkan demi keutuhan keluarga besar mereka.


"Mau pesan apa Pi?"


"Terserah saja. Pokoknya menu makanan yang spesial aja." ucap Papi kemudian.


Ayah menghubungi manager restoran. Ayah meminta dimasakkan semua menu spesial di GA Restoran. Papi merasa heran kenapa Ayah bisa menghubungi manager restoran ini.


"Kenal dengan managernya?" akhirnya Papi mengutarakan keheranannya.


"Ini adalah restoran untuk Arga. Sengaja tidak diadakan peresmian. Taulah kenapanya." ujar Ayah menatap Papi.


"Oh ya ada Pi sampai harus mengajak untuk makan siang keluar. Tidak seperti biasa"


"Apakah Ayah merasakan ada sesuatu yang aneh antara Arga dengan kedua istri kita?" tanya Papi kepada Ayah.


Ayah mengangguk.


"Saya sangat penasaran dengan semua itu. Apa yang menyebabkan mereka seperti itu." ujar Papi.


"Saya sudah mencari tau tetapi sampai sekarang benar benar buntu. Sekali ini saya yang merasa frustasi. Ntah apa yang dilakukan oleh Arga sampai kedua istri kita menjadi marah dan membenci Arga." ujar Papi mencurahkan semua isi hatinya.


"Apapun dan bagaimanapun keadaan Arga aku akan menerimanya. Semua penyakit atau apapun itu pasti ada jalan keluarnya. Kenapa kedua orang itu mengambil kesimpulan sendirian." ujar Papi dengan paniknya.


Seorang manager dan pelayan masuk ke dalam ruangan tempat Ayah dan Papi berada. Mereka menghidangkan makanan yang di pesan oleh Ayah tadi.


"Silahkan dinikmati Tuan" ujar Manager.


"Tinggalkan saja, biar kami yang mengambil sendiri." ujar Ayah kepada Manager.


"Papi, kita makan dulu saja. Nanti kita lanjutkan. Sepertinya ini akan perlu waktu lama untuk membahasnya." ujar Ayah yang sudah merasakan kelaparan di perutnya.


Kedua Tuan besar itu makan siang bersama. Setelah ini baru mereka akan melanjutkan pembicaraan selanjutnya. Mereka makan dengan cepat, mereka sama sekali tidak menikmati makan siang itu. Papi menyelesaikan makan siangnya. Ayah yang melihat Papi sudah selesai akhirnya ikut menyelesaikan makan siangnya juga.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Papi kepada Ayah.


"Aku sudah meminta orang orang mengikuti Gina. Tetapi hasilnya sama saja. Nol. Gina seperti tau kalau dia diikuti" ujar Papi yang sudah menjankan apa yang diusulkan oleh Ayah.


"Jadi harus bagaimana? Sepertinya ini lebih susah dari pada memenangkan lobi tender." ujar Papi yang memang sudah merasakan kepasrahan.


Ayah berpikir keras. Papi juga sama. Papi mengingat satu nama yang dia rasa tau tentang keadaan Arga.


"Afdhal." ujar Papi menatap Ayah.


"Ah ya Afdhal. Sekarang kita keperusahaanya. Aku yakin dia tau. Kenapa tidak kepikiran ke anak itu ya." ujar Ayah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kedua Tuan besar itu keluar dari luar ruangan VIP. Pengawal dan Paman Hendri berdiri dari duduknya.


"Kita ke perusahaan Bramantya Grub." ujar Papi kepada hendri.


"Papi sama saya saja." ucap Ayah kepada Papi.


"Sip."


Ketiga mobil mewah itu bergerak meninggalkan restoran. Mereka mulai menuju perusahaan Bramantya Grub. Salah satu orang yang bisa menjawab semua kemungkinan yang ada.


Mobil yang dikendarai oleh Ayah berbelok masuk ke dalam perusahaan Bramantya. Ayah memarkir mobilnya tepat di depan pintu kantor perusahaan. Seorang satpam yang sedang berjaga berlari menuju mobil yang salah parkir itu. Saat satpam melihat siapa yang turun, dia kembali ke posnya.


Ayah dan Papi berjalan masuk ke dalam perusahaan. Mereka berjalan dengan aura yang sungguh membuat siapapun yang melihat menjadi bergetar. Semua karyawan Bramantya memilih untuk menghindar agar tidak berselisih jalan dengan dua Tuan besar itu. Ayah dan Papi hanya acuh saja dengan sikap yang ditunjukkan oleh karyawan Afdhal.


Ting, bunyi lift yang sampai di lantai yang dituju. Budi yang baru saja keluar dari ruangan Afdhal menunggu siapa yang keluar dari kotak besi itu. Ternyata yang keluar adalah dua orang penguasa bisnis negara I.


"Ada Afdhal dalam Budi?" tanya Ayah kepada asisten Afdhal itu.


"Ada Tuan Besar. Silahkan masuk." ujar Budi sambil membukakan pintu untuk Ayah dan Papi.


Afdhal yang melihat siapa yang datang langsung melongo tidak jelas. Dia sama sekali tidak dikabari oleh siapapun kalau Ayah dan Papi mau datang ke perusahaannya hari ini.


"Tutup mulut kamu. Nanti masuk binatang." ujar Ayah yang langsung duduk di sofa ruangan Afdhal. Papi juga melakukan hal yang sama dengan Ayah.


Afdhal duduk sofa yang lainnya. Sedangkan Budi mengambilkan air minum untuk ketiga bos yang sedang duduk itu. Dua orang dengan wajah tegas dan sedikit panik. Sedangkan yang satu lagi tidak tau harus mengatakan apa karena terkejut atas kedatangan dua tuan besar itu tanpa pemberitahuan.


"Ada apa Yah? Ke sini sampai tidak ada memberikan kabar." ujar Afdhal yang mengutarakan keheranannya atas kelakuan Ayah dan Papi.


"Afdhal, Ayah mau kamu menjawab semuanya dengan jujur." ucap Ayah sambil menatap tajam ke mata Afdhal.


Afdhal paham dengan arti tatapan Ayah. Ayah tidak mau dibohongi atau dipertelekan atas apa yang akan ditanyakannya sekarang.

__ADS_1


"Baik Ayah. Afdhal akan jawab dengan kejujuran." ucap Afdhal.


"Afdhal, Ayah tau kamu tau dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Arga. Ayah dan Papi berharap kamu mengatakan dan menceritakannya sekarang ke kami berdua." ujar Ayah dengan nada yang tidak bisa dibantah lagi.


Afdhal terdiam mendengar pertanyaan Ayah. Dia sangat takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Arga saat Ayah dan Papi tau Arga kenapa kenapanya.


Papi menatap Afdhal. Papi menangkap sebuah keraguan dari mata Afdhal.


"Afdhal, kami berdua tidak akan berbuat hal yang mengecewakan kamu ataupun Gina. Malahan kami berdua akan membantu Gina untuk menyembuhkan Arga." ujar Papi meyakinkan Afdhal.


'Gin maafkan Uda.' ucap Afdhal di dalam hatinya.


"Baiklah Yah, Pi. Afdhal akan menceritakan semuanya." ujar Afdhal yang setuju akan menceritakan semuanya kepada Ayah dan Papi.


"Afdhal hanya tau kalau Arga merupakan anak autis. Arga sekarang sedang terapi dengan dokter Rani dan Anggel. Afdhal hanya tau itu Ayah." jawab Afdhal yang langsung menceritakan pokok permasalahannya.


"Apa tidak ada yang lain Dhal?" tanya balik Papi.


"Untuk lebih rinci. Gimana kalau kita tau dari Anggel aja Pi. Afdhal akan menggubungi Anggel supaya dia datang ke sini sekarang." ujar Afdhal yang mengusulkan agar ke dua atuk yang sedang mengkhawatirkan cucu ini mendapat pencerahan dari ahlinya langsung.


"Hubungi Anggel. Biar dia yang memberitahukan kepada kami perihal Arga." perintah Ayah kepada Afdhal.


Afdhal kemudian menghubungi Anggel. Arga tidak ingin membuat dua Tuan besar ini mengamuk kepada dirinya.


Setelah mendapat persetujuan dari Anggel. Barulah Afdhal mengatakan kepada Ayah dan Papi, Anggel akan datang sesaat lagi.


Mereka bertiga menunggu Anggel sambil menenangkan perasaan dan pikiran sendiri sendiri. Mereka sama sekali tidak ingin membahas tentang bisnis atau apapun yang berkaitan dengan pekerjaan. Fokus mereka sekarang adalah Arga.


.


.


.


Anggek tiba satu jam kemudian. Dia langsung masuk ke dalam ruangan calon suaminya itu. Yang mana dua minggu lagi akan sah menjadi suaminya. Anggel menyalami Ayah dan Papi tidak untuk Afdhal. Afdhal hanya bisa tersenyum saja.


"Silahkan duduk nak. Maaf kalau Ayah dan Papi mengganggu waktu Anggel." ujar Ayah membuka percakapan dengan calon menantunya itu.


"Tidak apa apa Ayah. Nggak perlu meminta maaf, selagi Anggel bisa bantu maka akan Anggel bantu Ayah." ujar Anggel sambil tersenyum ramah kepada Ayah.


"Begini Anggel. Sebelumnya sekali lagi Ayah meminta maaf sama kamu. Ayah dan Papi mau bertanya tentang Arga cucu kami. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Arga?" tanya Ayah kepada Anggel.


"Nak Anggel. Nak Anggel tidak perlu cemas, kami berdua akan menerima keadaan Arga apapun yang terjadi kepada dirinya. Kami juga akan mencaritan pertolongan terbaik untuk cucu kami itu. Jadi aku memohon kepada nak Anggel untuk menceritakan semuanya." ujar Papi dengan tatapan memohon kepada Anggel.


Semua orang yang berada di dalam ruangan ini tidak pernah sekalipun melihat seorang Tuan Besar Soepomo memohon kepada orang lain. Inilah baru kejadiannya. Tuan Besar Soepomo memohon kepada Anggel.


"Papi tidak perlu memohon kepada Anggel. Anggel akan memberitahukan semuanya. Sebelumnya Anggel yang harus meminta maaf, karena menyimpan semua ini dalam waktu yang lama. Anggel hanya bisa menunggu Aris bertanya. Tetapi ternyata tidak Aris sama sekali tidak curiga dengan anaknya. Malahan yang curiga Ayah dan Papi." ucap Anggel. Anggel tidak mau mengungkit tentang Mami dan Nana. Anggel tau itu bukan ranahnya.


Anggel mulai menceritakan semuanya kepada Ayah dan Papi. Menceritakan bagaimana Arga mulai dari pertama sampai sekarang. Anggel sama sekali tidak menutupi perkembangan Arga dan bagaimana Gina berjuang untuk Arga sendirian.


"Anggel apakah ada kemungkinan Arga memiliki kemampuan di bawah rata rata?" tanya Papi dengan nada cemas.


Tatapan Anggel berubah kepada Papi. Papi langsung tau apa maksud dari tatapan Anggel.


"Kamu tenang saja, Papi tidak bermaksud buruk. Papi hanya ingin tau saja." ujar Papi kemudian.


"Ayah dan Papi harusnya bangga punya cucu seperti Arga. Memang benar kata orang orang, punya anak autis hanya ada dua kemungkinan kalau tidak bodoh benar maka akan pintar benar." ucap Anggel menatap Ayah dan Papi bergantian. Anggel mencari pancaran atau gerak tubuh kebencian dari kedua Tuan besar itu. Tetapi Anggel tidak mendapatkan apapun. Anggel hanya mendapatkan keingintahuan seorang atuk terhadap cucunya.


"Arga termasuk golongan kedua Ayah Papi. Anggel sudah berkali kali melakukan tes, hasilnya selalu sama. Arga anak yang jenius."


"Tapi sayangnya Arga tidak memiliki rasa empati dan simpati. Makanya sekarang itu yang sedang kami terapi." papar Anggel dengan bangganya.


"Jadi kalau ada yang mengatakan Arga adalah anak yang akan memalukan keluarganya saat besar, maka jawabannya adalah salah. Argalah yang akan membawa kebahagiaan dalam keluarga. Argalah yang bisa memajukan semua bisnid yang ada sekarang."


"Tapi sayangnya kemarahan Arga selalu saja dipupuk oleh keluarganya sendiri. Sehingga mengakibatkan Arga menjadi benci dan marah kepada orang orang itu. Usaha kami dalam mengendalikan Arga menjadi bertambah susah. Seharusnya kita yang normal ini berusaha sebijak mungkin, berusaha membantu Arga. Bukan malah makin menekan Arga dengan kata kata kasar." ujar Anggel yang tiba tiba saja menjadi marah.


"Maksud nak Anggel?" ujar Papi yang sama sekali tidak tau kelakuan Mami yang sebenarnya. Papi memang tau Mami ada masalah dengan Arga, tetapi Papi tidak tau apa apa saja yang dilakukan Mami kepada Arga.


"Papi cari tau sendiri saja ya. Anggel tidak berhak sampai ke arah sana. Sebagai dokter psikolog Arga, Anggel sudah menceritakan semuanya. Sekarang apakah Arga bisa memiliki rasa empati dan simpati kepada orang lain, semua itu dipengaruhi oleh seberapa kuat anggota keluarga menolong Arga." ujar Anggel sambil mengatupkan kedua tangannya. Dia benar benar meminta maaf akan hal yang satu itu.


"Baiklah Anggel terimakasih banyak. Kami sangat senang mendengar kemajuan Arga. Kami semua benar benar mengucapkan terimakasih untuk Anggel dan Rani. Tanpa kalian berdua ntah apa yang akan terjadi dengan Arga." ucap Papi.


"Untuk kenyamanan Arga di rumah. Serahkan kepada Papi. Papi akan mencari tau ada apa sebenarnya." ucap Papi kemudian.


"Sayang, Ayah mengucapkan ribuan terimakasih kepadamu karena sudah membantu cucu Ayah." ucap Ayah yang matanya sudah berlinang mendengar perihal cucunya.


"Baiklah Afdhal, tujuan kami sudsh terpenuhi. Kami permisi pulang terlebih dahulu. Maaf sudah mengganggu kegiatan kamu hari ini." ujar Papi yang pamit mau kembali ke kantornya sendiri.


"Tidak masalah Pi. Apapun untuk Arga akan aku lakukan Pi." ujar Afdhal dengan sangat yakin.


"Ayah juga pamit Dhal." ujar Ayah kemudian.


Papi dan Ayah pergi meninggalkan ruangan Afdhal. Mereka akan kembali ke kantor masing masing dan akan membuat rencana masing masing.


"Sayang apakah aku salah sudah mrnceritakan semuanya kepada Ayah dan Papi?" tanya Anggel sambil menunduk.


"Tidak sayang. Kamu udah benar melakukannya. Tidak masalah, mereka berdua berhak tau dan aku percaya dengan Ayah dan Papi. Mereka selalu mengambil sikap memakai otak. Bukan seperti......." Afdhal terdiam.


"Ya sudahlah ya." ujar Afdhal malas menyebutkannya.

__ADS_1


"Sayang makan ke luar yuk. Selagi kita bisa bertemu. Jarang jarang kita bisa bertemu seperti ini." ujar Anggel kepada Afdhal.


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan kantor Afdhal. Sebelumnya Afdhal sudah meminta Budi untuk mengantarkan mobil Anggel ke rumahnya nanti saat dia pulang kantor.


__ADS_2