
Mobil yang dikemudikan oleh Jero meluncur menuju rumah utama. Perjalanan pulang memakan waktu agak lama karena bertepatan dengan semua orang pulang dari kantor mereka.
"Jero, kamu langsung aja ke markas ya." kata Ghina saat turun dari mobil.
"Siap Nyonya" jawab Jero sambil menutup pintu mobil.
"Sayang dari mana?" tanya Aris yang sengaja menunggu Ghina do teras rumah mereka.
"Dari rumah sakit sayang, tadi janjian denhan Mira melihat keadaan Sari." jawab Ghina sambil duduk di kursi sebelah Aris.
"Terus gimana keadaan Sari sayang?" tanya Aris.
"Masih sama, padahal waktu kita ke sana dulu, dia udah mulai menggerakkan jari jarinya. Sedangkan sekarang kembali ke nol lagi. Dia tidak merespon." ujar Ghina menceritakan keadaan Sari kepada Aris.
"Sayang menurut kamu, apa masih ada harapan untuk Sari hidup?" tanya Ghina dengan nada pelan.
"Kok ngomong kayak gitu sayang?" tanya Aris sambil menatap Ghina dengan tatapan penuh tanya.
"Iya sayang, kita sama sama tau udah dua bulan lebih Sari dalam keadaan seperti ini. Aku takut kalau dia hidup hanya karena alat alat medis saja lagi." jawab Ghina sambil menatap jauh ke depan.
"Sayang, pikiran kamu jangan kejauhan gitu. Kita harus terus berusaha dan terus berdoa untuk kesehatan Sari. Kita nggak boleh nyerah gitu sayang." kata Aris sambil menatap Ghina.
"Aku bener bener udah patah semangat sayang. Semua alat terbaru, semua dokter hebat sudah kita datangkan, tetapi Sari masih dalam keadaan seperti itu juga." lanjut Ghina.
"Aku takut kehilangan Sari sayang." ujar Ghina menyuarakan ketakutannya kepada suaminya itu
"Sayang, kamu yakin dengan Tuhankan?" tanya Aris kepada Ghina.
Ghina mengangguk dengan yakin.
"Nah kalau kamu yakin dengan Tuhan, jangan berpikiran jelek seperti ini sayang. Ini semua adalah kehendak Tuhan bukan kehendak kita. Kita hanya bisa berusaha dan menjalani. Semua yang menentukan diakhir adalah pemilik kehidupan. Kita tidak bisa mengubahnya." ujar Aris memberikan nasehat kepada Ghina.
"Kamu jangan berpikiran jelek lagi ya. Terpenting sekarang, kita harus tetap menjaga semangat kita demi kesembuhan Sari. Kamu pahamkan sayang?" kata Aris sambil menatap Ghina.
Ghina mengangguk, dia bersyukur memiliki suami seperti Aris.
"Boleh minta peluk?" tanya Ghina kepada Aris.
"Kalau jawabnya nggak?" tanya Aris.
"Nggak apa apa juga. Tapi kalau besok sayang minta peluk, maka jawabannya sama. Nggak." kata Ghina sambil berdiri dari duduknya.
Aris yang melihat istrinya berdiri juga ikut berdiri dari duduknya. Dia menyambar pinggang istrinya itu dan memeluknya dengan pelukan memberikan kenyamanan dan perlindungan.
"Mana mungkin aku menolak keinginan kamu sayang. Kamu segalanya bagiku." ujar Aris sambil memeluk Ghina.
"Kamu juga segalanya bagiku." jawab Ghina.
__ADS_1
"Yuk masuk. Bersih bersih terus makan malam." ujar Aris sambil membawakan tas kerja milik Ghina.
"Sayang, apa menurut kamu orang tua dari Steven akan datang?" tanya Ghina yang teringat akan pesan Aris tadi saat mereka berkumpul bersama.
"Datang sayang, kamu tau kan ya betapa cintanya Steven kepada Frenya? Jadi aku yakin orang tuanya akan datang." jawab Aris.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar. Ghina menghidupkan air mengisi bathup. Setelah selesai Ghina menuangkan sabun aroma terapi kedalam bathup. Setelah itu dia ke kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Aris setelah mandi.
"Sayang airnya udah siap. Kamu mandi sana, setelah itu tolong lihat Argha apa dia udah selesai mandi atau belum, aku mau nengok makan malam dulu ke bawah." ujar Ghina sambil meninggalkan kamar mereka berdua.
Aris langsung masuk ke dalam kamar mandi sepeninggal Ghina ke dapur. Dia harus cepat mandi karena akan melihat anak bungsu mereka di kamar sebelah.
Setelah selesai mandi, Aris membuka pintu kamar Argha. Dia melihat anak bungsunya masih terlelap tidur di ranjang. Aris berjalan menuju ranjang Argha.
"Gha, Argha." panggil Aris sambil menggoyang goyangkan badan Argha.
Argha masih saja diam, tidak terlihat bergerak sama sekali.
"Argha." ujar Aris.
Tapi masih belum ada respon sama sekali.
Aris mulai memiliki rasa tidak enak hati, pikiran jeleknya mulai muncul kepermukaan. Aris menempelkan tangannya ke kening Argha. Dia merasakan suhu badan Argha yang sangat tinggi.
"Kamu sakit Nak?" ujar Aris.
"Hallo Dad? Ada apa nelpon?" tanya Rani sambil menatap ke arah Daniel.
"Cepat ke kamar Argha. Argha demam tinggi." ujar Aris setengah berteriak.
Frenya yang baru pulang dari kantor mendengar Argha sakit langsung masuk ke dalam kamar Argha.
"Daddy siapa yang sakit?" tanya Frenya.
"Argha." jawab Aris.
Daniel dan Rani langsung masuk ke dalam kamar Argha. Rani memakai tetoskop miliknya. Dia memeriksa keadaan Argha.
"Gimana Ran?" tanya Aris.
Ghina yang melihat Aris tidak ada di kamar langsung menuju kamar Argha.
"Ada apa?" tanya Ghina dengan nada panik saat melihat semua orang mengerubuti ranjang Argha.
Frenya menggenggam tangan Ghina.
"Ada apa?" tanya Ghina kepada Aris.
__ADS_1
"Sayang jawab aku, ada apa?" Ghina kembali bertanya.
"Daddy, Bunda, Argha memang demam, tapi jangan terlalu khawatir. Dia hanya demam biasa. Setelah minum obat dan dikompres Argha akan kembali sehat." ujar Rani setelah memastikan kesehatan Argha.
"Bukannya dia tadi pagi sehat aja Nya?" tanya Ghina yang memang pagi tadi yang mengantar Argha ke sekolah adalah Frenya.
"Tadi pagi saat Frenya antar Argha memang sudah tidak semangat Bun." ucap Frenya.
Ghina mengeluarkan ponsel miliknya. Dia langsung memencet satu nomor.
"Ivan, ke kamar Argha." ujar Frenya dengan nada tinggi.
Ivan yang berada di lantai bawah langsung berlari ke atas menuju kamar Argha seperti perintah yang diberikan oleh Ghina barusan.
"Saya Nyonya." ujar Ivan saat baru sampai di kamar Argha.
"Ivan, tadi di sekolah apa Argha baik baik saja?" tanya Ghina.
"Baik baik saja Nyonya. Tapi Tuan muda memang terlihat kurang semangat dari biasanya, bekal makan siang yang dibungkus Rina juga tidak dimakan Tuan muda di sekolah, melainkan di rumah itu pun tidak habis." kata Ivan menjelaskan keadaan Argha tadi siang di sekolah.
"Kenapa nggak ngomong Ivan." ujar Ghina dengan suara tingginya.
"Maafkan Saya Nyonya." jawab Ivan dengan menundukkan kepalanya.
"Bunda" terdengar panggilan lirih dari Argha.
"Bunda jangan marahin om Ivan. Argha memang udah datang waktunya demam. Om Ivan nggak akan bisa ngelarang demam yang akan datang. Bunda jangan marah marah." kata Argha sambil menatap wajah Bundanya.
Ghina berlalu dari hadapan Ivan, dia langsung menuju Argha.
"Kamu nggak apa apa kan sayang? Apa yang sakit?" tanya Ghina dengan nada sangat luar biasa cemas.
"Bunda, Argha cuma demam biasa, jadi jangan lebay, kayak Argha seperti Mami Sari aja." ujar Argha saat melihat kepanikan Ghina.
"Ini juga kenapa panik semua. Argha demam biasa." ujar Argha sambil melihat anggota keluarganya berkumpul lengkap.
"Siapa yang nggak panik, dipanggil panggil diam aja, nggak ada tanggapan." ujar Aris.
"Sekarang apa yang kamu rasakan sayang?" tanya Ghina.
"Lapar." jawab Argha dengan santai.
"Argha mau makan apa?" tanya Ghina lagi.
"Mau makan sup ayam buatan Frenya." ujar Argha sambil menatap Frenya
"Siap komandan chef Frenya akan masak buat komandan." kata Frenya.
__ADS_1
Frenya kemudian keluar dari kamar Argha. Dia akan memasak menu makanan yang dipesan oleh Argha.