
Keluarga Soepomo yang sudah berada di lobby rumah sakit menjadi pusat perhatian dokter, suster dan pengunjung rumah sakit. Mereka tidak menyangka kalau keluarga terpandang itu datang ke rumah sakit ini. Semua penduduk ibu kota tau kalau keluarga Soepomo juga memiliki rumah sakit besar di ibu kota. Keluarga terpandang itu berjalan dengan penuh wibawa masuk ke dalam rumah sakit Harapan Kita. Rumah sakit swasta yang juga sangat besar dan memiliki pelayanan prima. Segala jenis dokter spesialis juga ada di rumah sakit itu.
"Itu bukannya keluarga besar Soepomo?" kata salah seorang pengunjung rumah sakit.
"Benar itu mereka. Tapi kenapa mereka berada di rumah sakit ini?" kata pengunjung lainnya.
"Iya ya tumben mereka di rumah sakit lain. Bukannya mereka punya rumah sakit sendiri ya?" balas salah seorang pengunjung.
"Iya, sepertinya mereka sedang pergi membesuk salah seorang kolega bisnis. Kalau keluarga mereka tidak mungkin. Mereka punya rumah sakit sendiri. Walaupun pada kenyataannya pelayanan rumah sakit sini lebih bagus" kata seorang pengunjung rumah sakit.
" Benar rumah sakit mereka sekarang lebih memperdulikan mereka yang punya duit. Sedangkan kita kita yang tidak ini, tidak akan diberikan pelayanan. Sepertinya iklan mereka hanya iklan membohongi kita saja" kata pengunjung lainnya.
Bram yang mendengar apa yang dikatakan salah satu pengunjung langsung saja berjalan menuju orang yang berbicara tadi. Bram harus mengetahui kenapa orang orang bisa berkata seperti itu tentang rumah sakit milik Soepomo Grub. Dia mau mengorek informasi tentang kejadian apa yang menyebabkan pengunjung tersebut berpikiran seperti itu.
"Maaf Nyonya, tadi anda mengatakan kalau rumah sakit milik Soepomo Grub pelayanannya tidak sebagus rumah sakit ini. Maksud Nyonya mengatakan seperti itu kenapa?" tanya Bram dengan tatapan dingin.
"Memang kenyataannya Tuan. Rumah sakit Soepomo grub hanya membual saja di iklan, mengatakan kalau mereka ramah terhadap rakyat golongan menengah ke bawah. Tetapi ternyata semua hanya pencitraan saja. Rumah sakit itu sama dengan rumah sakit lainnya. Mereka tidak berbeda. Rumah sakit.itu akan melayani kalau kami membawa uang banyak. Kalau tidak maka jangan berpikir bisa mendapatkan pelayanan" kata Ibu ibu itu dengan menggebu gebu.
"Maksud ibu bagaimana? Tolong jelaskan kepada saya sejelas jelasnya ibu" kata Bram.
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf Tuan. Saya mengatakan hal itu bukan asal ngomong saja. Saya mengalami sendiri tuan pelayanan yang tidak maksimal. Saat saya tidak bawa uang banyak." kata Ibu ibu tersebut dengan nada biasa saja, tidak ada nada takut sedikitpun kepada Bram.
"Apa yang ibuk alami di rumah sakit kami?" tanya Bram yang memang sudah penasaran.
"Waktu itu keluarga saya sakit. Kami memang dari keluarga menengah ke bawah. Kami tau kalau rumah sakit itu rumah sakit mewah. Tetapi dulu pernah juga saya membawa keluarga saya yang sakit ke sana dan tidak dipungut biaya, karena kata managemen rumah sakit. Keluarga ibu nginap dan perawatan gratis yang bayar hanya obat yang tidak ada di opotek rumah sakit". kata ibu ibu itu.
"Jadi tiga hari yang lewat saya kembali membawa keluarga saya yang sakit ke rumah sakit itu lagi. Hal yang di luar dugaan kami dikatakan oleh orang rumah sakit." lanjut ibu ibu yang langsung di potong oleh Bram.
"Apa yang dikatakan mereka?" tanya Bram yang sudah tidak sabaran lagi.
"Mereka mengatakan kalau kami mau mendapatkan pelayanan gratis lagi. Padahal kami ke sana bukan mengharapkan gratisan. Kami betul betul mau membayar. Jadi karena seperti itu kami bawa anggota keluarga ke sini. Kamk takut kalau masih tetap di sana, mereka tidak akan melayani saudara kami dengan maksimal." Ibu ibu tersebut mengambil napas sejenak.
"Sampai di sini, kami sebenarnya juga takut diperlakukan sama. Tapi ternyata tidak, saat saudara yang sakit itu masuk melalui IGD, bagian managemen menanyakan kepada kami, apakah kami memiliki rekomendasi untuk keluarga tidak mampu. Kami saat itu memang tidak punya. Bagian managemen menerangkan biaya yang harus kami sediakan kalau rawat inap. Dengan jumlah yang besar, pihak rumah sakit memberikan kami waktu untuk mengurus semua surat yang dibutuhkan untuk mendapatkan perawatan secara gratis. Ini suratnya baru siap saya urus. Kami hanya perlu membayar biaya obat luar saja." lanjut ibu ibu itu sambil memperlihatkan amplop coklat yang sedari tadi di pegangnya.
Setelah puas mendengar semua cerita ibu ibu itu. Bram memperkenalkan dirinya kepada ibu ibu tersebut.
"Baiklah Ibu, saya adalah direktur rumah sakit itu, nama saya Bram Soepomo. Saya akan memperbaiki kinerja anak buah saya di rumah sakit. Terimakasih atas cerita ibu. Maafkan saya karena pelayanan kami mengecewakan para pasien. Sejujurnya motti kami di iklan itu adalah benar. Tetapi ada beberapa pihak sepertinya yang mengambil kesempatan itu untuk memperkaya diri mereka sendiri." kata Bram.
Bram kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar rawat inap Aris. Bram menyangka dia tidak di tunggu Papi, Mami dan Gina. Ternyata keluarganya menunggu dia di pintu masuk lift.
__ADS_1
"Bram, kamu kemana? Kenapa pergi nggak ngomong ngomong, main ilang aja." kata Mami yang kesal dengan kelakuan Bram yang seenaknya saja main kabur.
"Maaf Mi. Tadi Bram sempat mendengar kabar buruk tentang rumah sakit kita. Bram pergi memastikan cerita tersebut ke orang yang membicarakannya" jawab Bram membela dirinya, kenapa dia main kabur saja.
"Terus Bram" kata papi.
"Semua benar Pi. Ibu ibu itu salah satu korbannya" jawab Bram.
"Bram cerita yang jelas" kata Mami.
Bram kemudian menceritakan semua yang diceritakan oleh ibu ibu tadi kepada keluarganya. Mami dan Papi yang mendengar cerita itu, langsung kaget, mereka tidak menyangka kalau pelayanan rumah sakit mereka yang mottonya melayani dengan sepenuh hati sudah diubah oleh segelintir orang menjadi pelayanan dimulai dengan uang.
"Bram, papi minta kamu menindak dan selidiki. Papi tidak mau nama baik rumah sakit kita hancur di tangan orang orang yang tamak dengan uang. Papi mau mereka kamu hadapkan ke depan Papi." Papi terlihat sangat marah dengan kejadian itu.
Papi mendirikan rumah sakit itu murni untuk kemanusiaan. Ternyata di lapangan semua sudah berubah tanpa sepengetahuan keluarga Soepomo.
"Bram usut tuntas. Kalau ada dokter, suster ataupun managemen terlibat pecat mereka dan buat rekomendasi untuk tidak di terima di rumah sakit manapun. Semua orang tau kalau Soepomo memecat karyawan karena melakukan kesalahan fatal" kata Mami dengan muka yang merah menahan marah.
Saat mereka harus menerima kenyataan Aris jatuh ke dalam jurang dan belum sempat mereka melihat. Di tengah jalan mereka mendapati kenyataan yang lebih parah lagi. Nama baik rumah sakit mereka ternyata sangat buruk di tengah tengah masyarakat golongan menengah ke bawah. Padahal niat papi membangun rumah sakit itu untuk menolong mereka mereka yang ingin mendapatkan pelayanan terbaik dengan harga terjangkau bahkan gratis.
__ADS_1
Mereka kemudian memasuki lift untuk menuju kamar rawat inap Aris. Gina merasakan nyeri di hatinya. Dia menggenggam kedua tangannya. Bram melihat itu langsung memegang pundak Gina. Bram memberikan dukungan kepada Gina.
keluar dari lift mereka langsung menuju ke kamar rawat inap Aris. Setelah berjalan di koridor yang hanya terdapat tiga kamar saja. Keluarga Soepomo tiba di depan ruang rawat inap Aris. Papi membuka pintu ruang rawat. Gina yang berada di belakang mami, tidak berkeinginan untuk masuk. Gina memilih duduk di depan ruang rawat. Papi dan Mami yang paham membiarkan saja Gina yang memilih untuk duduk di sana. Mereka tidak mau memaksa Gina.