
"Arga?" ujar Aris yang berjalan menuju seorang anak laki laki yang diharapkannya itu Arga.
Arga yang mendengar Daddy memanggil namanya berhenti dan berdiri di tempatnya tadi tanpa melakukan pergerakan sedikitpun.
Aris berjalan menuju seorang anak kecil seusia Arga. Aris memeluk anak tersebut dengan erat.
"Arga sayang, ini Daddy nak. Daddy kangen Arga. Kita pulang yuk nak." ujar Aris sambil memeluk anak laki laki tersebut.
Arga yang melihat Aris tidak mengenali dirinya, malahan menyangka anak lain adalah Arga, berlari menuju tpat Frenya dan Stepen sedang duduk. Arga duduk di kursi sebelah Frenya dengan raut wajah yang marah dan kesal.
Sedangkan Aris yang salah mengenali orang mendapat tatapan tajam dari orang tua anak itu. Aris langsung meminta maaf kepada orang tua dari anak yang salah dikenalinya. Aris menceritakan kisahnya kepada kedua orang tua itu. Mereka berdua paham dengan bagaimana rindu dan tersiksanya Aris.
Aris kemudian kembali ke dekat Bram. Bram hanya bisa menepuk bahu Aris memberikan kekuatan kepada kakak nya itu. Mereka berdua pergi meninggalkan taman bermain. Mereka berencana akan melanjutkan pencarian ke mall pusat kota.
Sedangkan Arga yang terlihat kesal, menjadi pusat perhatian Frenya dan juga Stepen. Mereka bertanya tanya ada apa gerangan yang terjadi dengan Arga.
"Hay ada apa? Kan udah ketemu dengan Daddy. Kenapa masih sewot tak bertuan gini?" ujar Frenya yang tidak paham kenapa Arga mendadak menjadi sangat kesal.
"Daddy nggak mengenali Arga." jawab Arga dengan memonyongkan bibirnya.
"Maksud Arga?" tanya Frenya penasaran.
Arga menceritakan semua kronologi kejadian tadi kepada Frenya dan Stepen. Mereka berdua mengangguk angguk paham dengan kondisi dan perasaan Arga.
"Mungkin karena waktu Arga pergi Arga masih kecil, makanya Daddy nggak kenal." ujar Frenya berusaha membuat Arga kembali tenang.
"Mana ada kecil. Masih sebesar ini juga nyah. Daddy aja nggak peka." ujar Arga masih dengan kesal.
"Jadi gimana? Kita pulang ke negara U aja gitu?" tanya Stepen.
"Nggak. Arga harus bertemu Daddy di sini. Arga mau menceritakan semua kelakuan nenek lampir itu ke Daddy. Arga juga akan bernegosiasi dengan Daddy." ujar Arga dengan penuh keyakinan.
"Eh bentar, tapi maren udah janji nggak akan bertemu muka dengan Daddy. Sekarang kok malah pengen negosiasi dengan Daddy?" ujar Frenya yang kaget dengan kalimat yang dikeluarkan oleh Arga saat Arga sedang kesal.
"Kemaren iya, sekarang beda. Arga akan buat perhitungan. Arga kesal lama lama di luar negeri. Arga mau pulang ke negara I." ujar Arga yang sudah tidak bisa di tawar lagi. Kerasnya Arga sangat luar biasa, karena perpaduan antara kerasnya Aris dan Gina.
"Oke. Kita akan bertemu dengan Daddy." ujar Frenya yang akhirnya terpaksa harus setuju dengan berat hati.
"Nya, kita ketemu tapi nggak di sengaja. Arga akan terus membayangi Daddy." ujar Arga.
"Nya akan bayangi Papi dan sekali sekali Daddy. Gimana? Setuju?"
__ADS_1
"Setuju. Kita kerjai mereka berdua. Hahahahahahahaha. Arga di lawan. Presiden direktur CEO GA Grub." ujar Arga dengan pongah dan poak serta belagunya
Stepen dan Frenya hanya bisa geleng geleng kepala. Adik bungsu Frenya ini memang tipe berbeda dari Frenya dan Daniel.
"Sekarang kita pulang" ujar Arga.
"Eh tapi lihat Daddy dan Papi masuk mobil. Kita ikuti aja gimana?" ujar Frenya kepada Arga.
"Setuju" jawab Arga.
Mereka bertiga berlari masuk ke dalam mobil. Stepen melajukan mobil dengan kecepatan sedang agar tidak kehilangan jejak dari Aris dan Bram.
"Kalian berdua serius mau sekilas sekilas memperlihatkam muka kepada Tuan Aris dan Tuan Bram?" tanya Stepen.
"Seriuslah." jawab Arga.
"Jangan coba larang. Nanti Arga nggak setuju kamu dengan Frenya." lanjut Arga sambil mengancam Stepen.
Stepen hanya bisa terdiam. "Emak sama anak sama aja. Nggak ada akhlak dan bisanya ngancem terus." ujar Stepen dengan pelan.
"Stepen, Arga dengar." ujar Arga.
Stepen terus mengikuti mobil yang dikendarai Bram.
"Wow Daddy masuk mall, makin keren ini mah." ujar Arga.
Frenya mengangguk menyetujui pendapat Arga. Frenya sudah bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran Arga.
Mereka bertiga turun setelah Aris dan Bram masuk ke dalam mall. Mereka mengikuti kemana Aris dan Bram pergi.
Sekali sekali Arga mendahului Aris dan berjalan di depan Aris dan Bram. Begitu juga dengan Frenya. Kadang kadang Frenya berjalan di depan mereka berdua.
Arga dan Frenya sengaja melakukan itu. Mereka ingin tau apakah Aris dan Bram mengenali mereka berdua atau tidak sama sekali.
Setelah sering melakukan hal itu, Aris dan Bram sama sekali tidak merasa terusik dengan tingkah Frenya dan Arga.
"Nya, sama sekali nggak ada tanggapan Nya. Gimana ni?" tanya Arga.
"Kita pakai cara lama Ga. Kita kirim chat ke Daddy mengatakan kalau kita berada di negara ini. Jadi nanti kan Daddy sama Papi jadi peka itu dengan keberadaan kita berdua. Gimana?" Frenya memberikan usul kepada Arga.
"Kita coba Nya." ujar Arga.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam restoran. Arga memesan makanan kesukaannya, begitu juga dengan Frenya dan Stepen. Mereka makan siang dengan sangat lahap.
Saat mereka sedang serius menyantap makan siangnya. Aris dan Bram serta tiga orang anak buah mereka masuk ke dalam restoran yang sama dengan tempat mereka makan siang. Arga mendapatkan sebuah ide briliant.
Dia menceritakan idenya kepada Frenya dan Stepen. Mereka berdua menyimak dengan penuh perhatian.
Stefen tertawa, kalau tidak takut malu maka Stefen pasti sudah tertawa dengan ngakak mendengar ide dari Arga.
"Bener bener ne bocah, ada ada aja ide gilanya." ujar Stepen sambil geleng geleng kepala.
"Gimana Nya?" ujar Arga menanyakan persetujuan Frenya dan Stefen.
Mereka berdua mengangguk tanda setuju dengan keinginan Arga. Mereka berdua kembali makan dengan lahap. Selesai makan Frenya memanggil pelayan.
"Tolong sekalian hitung dengan makanan orang berlima di meja itu." ujar Frenya kepada pelayan.
Pelayan menatap dengan tatapan tajam. Frenya paham dengan arti tatapan dari pelayan.
"Mereka adalah saudara kami. Sepertinya mereka sedang membahas bisnis, makanya kami tidak gabung di sana. Apa ada masalah dengan hal ini?" tanya Frenya dengan kembali memberikan tatapan dinginnya.
Pelayan menggeleng. Dia kemudian memberikan bon kepada Frenya.
"Nya yang tadi ya." ujar Arga.
"Oke" jawab Frenya.
Frenya memberikan black card kepada pelayan. Pelayan berjalan menuju kasir dan menggesek kartu tersebut. Arga tersenyum dengan tingkah yang dilakukan oleh dirinya. Mereka bertiga keluar dari restoran menuju mobil. Mereka akan kembali ke hotel dan bersiap siap untuk pulang ke negara U.
"Beres Nya. Mari kita pulang ke negara U." ujar Arga.
"Arga, pesawat belum disiapkan. Mau kamu menunggu di ruang tunggu selama dua jam?" tanya Stefen yang tau Arga paling tidak suka menunggu lama.
"Maulah, kan gara gara ide aku. Lagian Daddy saat tau itu apa akan langsung pergi juga." jawab Arga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apakah yang dilakukan oleh Arga.
Nantikan kelanjutannya ya Kakak sayang.
Terimakasih masih setia dengan novel ku yang terlalu panjang ini.
__ADS_1