
Aris sampai di rumah sakit, Aris langsung memarkir mobilnya di tempat parkir khusus untuk keluarga Soepomo. Setelah memarkir mobilnya Aris langsung masuk menuju ruangan rawat Gina. Sepanjang koridor Aris menjadi pusat perhatian para pengunjung. Aris yang risih karena menjadi pusat perhatian langsung menambah kecepatan langkah kakinya. Kalau Aris ada ilmu menghilang pasti sudah dia pakai. Nasib jadi orang ganteng.
Setelah berjalan selama tiga puluh menit Aris sampai juga di ruangan Gina. Aris langsung saja membuka pintu kamar Gina. Gina yang melihat siapa yang datang langsung tersenyum.
"Gimana keadaanmu?"
"Udah lumayan baikan kak. Tadi sempat merasa sakit saat biusnya ilang. Kemudian datang dokter untuk menyuntikkan obat penghilang rasa sakit."
"Dokternya kasar tidak?"
"Nggak kak. Dokternya ramah sekali."
"Syukurlah kalau begitu."
Aris kemudian menuju sofa diruangan itu. Aris duduk di dekat Ayah dan Afdhal.
"Gimana meeting tadi Ris. Kok cepat?" tanya Ayah.
"Bukan apa apa Tuan. Utusan yang datang hanya teman lama saja. Bram yang urus kelanjutannya."
Afdhal yang sedang memegang remot TV, tiba tiba membesarkan volume suara TV, saat mendengar salah satu perusahaan bangkrut dalam waktu hitungan jam. Aris yang mendengar berita di TV hanya tersenyum sinis saja.
"Wah, ngeri juga ternyata saingan perusahaan itu. Pasti perusahaan tersebut sudah menyinggung rekan bisnisnya. Makanya dalam kurun waktu satu jam langsung gulung tikar."
"Makanya Afdhal dalam berbisnis harus hati hati mencari partner kerja dan berhati hati dalam bersikap. Menurut Ayah, pasti petinggi perusahaan itu telah menyinggung seseorang yang lebih kuat dari perusahaannya."
"Tapi yah, bukannya perusahaan terkuat sekarang hanya perusahaan ayah dan Soepomo Grub?" Afdhal kemudian melihar ke arah Aris. Aris hanya tersenyum. Afdhal pun paham.
"Wah nggak kuat aku, kalau lawan dia."
"Hahahahahahahaha." Aris dan Ayah langsung tertawa.
Tiba tiba saja pintu ruang inao Gina terbuka, terlihat melangkah masuk seorang wanita yang seusia Gina yang memakai kemeja dan rok plisket. Wanita cantik nan muda siapalagi kalau bukan Sari. Sari melangkah masuk dan langsung duduk di tepi kasur Gina bersebrangan dengan Nana yang sedang tertidur karena kelelahan.
"Gimana keadaan loe Gin?"
"Udah baikan. InsyaAllag besok siang udah boleh pulang." Gina kemudian melihat ke arah pintu, Aris juga melakukan hal yang sama. Gina yang tidak mau Aris curiga langsung bertanya kepada Sari.
"Sendirian? Mana Mira?"
"Tu anak hari ini nggak masuk. Katanya ada perlu dengan temannya."
"Siapa?"
"Tau siapa."
Aris yang tau Mira kemana langsung mengeluarkan pobselnya dan menelpon nomor Bayu dengan panggilan videocall. Bayu yang tanpa curiga langsung mengangkat videocall dari Aris.
"Loe dimana Bay?"
"Ne sedang di warung bakso."
"Warung bakso mana? Coba arahin kamera loe ke arah depan. Gue juga laper mau kesana juga makan bakso."
Tanpa curiga Bayu memutar arah kameranya. Di layar ponsel Aris terpampang dengan jelas muka cantik Mira.
"Mira, loe nipu gue. Dasar sahabt tegaan loe" teriak Sari.
Bayu yang sadar dengan kecerobohannya hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf Mir."
"Nggak apa apa kak. Lagian nggak mungkin juga kita terus menghindar dari mereka." Mira memegang tangan Bayu.
__ADS_1
"Loe lagi di tempat Gina, Sar?"
"Yup."
"Woi Mira. Sini loe. Gue tunggu. Loe harus jelasin sekarang juga. Nggak mau tau."
"Oke Gin. Gue ke sana."
"Bayu. Loe bungkus bakso sebanyak tiga luluh bungkus dengan porsi spesial. Selama loe bungkus bakso, loe bisa makan tuh bakso loe di sana. Paham tiga puluh bungkus bakso beranak spesial."
"Dasar rampok."
Aris kemudian memutuskan panggilan video callnya. Nana yang mendengar ribut ribut langsung terbangun dari tidurnya.
"Ada apa Gin?" tanya Nana.
"Sari kena tipu Mira, Na."
"Kena tipu?" Nana mengernyitkan keningnya. Gina mengangguk.
"Jadi gini Na. Tadi siang sebelum ke kampus sekitar jam satuan lah. Aku ngajak Mira karena kelas kami bareng. Eee tu cewek ngomong, nggak kampus ada janjian dengan teman. Kiranya janjian dengan Bayu."
"Kamu cemburu Mir?" tanya Afdhal.
"Nggaklah uda. Tapi caranya nggak asik. Ngaku ajalahnpergi dengan siapa. Katanya sahabat tapi tetap boong."
"Kita tunggu aja Mira. Biar dia menjelaskan kenapa sia harua boong."
Tak berapa lama Bayu dan Mira sampai di parkiran. Mereka memarkir mobil di sebelah mobil Aris. Bram pun yang baru datang langsung turun. Brata terkejutnya Bram.melihat Bayu menggandeng tangan Mira.
"Woi Nyet, apa maksudnya ini?"
"Nanti aja penjelasannya di kamar Gina. Capek kalau harus dua kali menjelaskan."
"Nyet sama napa."
"Males. Males jadi obat nyamuk. Capek" teriak Bram.
Bram yang berjalan super cepat datang terlebih dahulu dan langsung membuka pintu kamar Gina.
"Loe di kejar anjing gila Bram?" tanya Aris.
"Bukan tapi siap nengok sepasang terdakwa yang kayaknya akan di sidang. Jadi dari pada gue telat makanya gue jalan seperti di kejar anjing gila."
"Oooo jadi loe bertemu dengan sepasang terdakwa di luar?" tanya Afdhal.
"Yup. Tapi mereka kayaknya santai aja. Kayak nggak ada masalah. Malahan yang gur lihat di sini yang ada masalah." kata Bram melirik Sari.
Sari yang dilirik Bram langsung mengubah raut wajahnya menjadi sedikit ceria. Tidak seperti tadi yang kayak orang terbeli baju robek.
tak lama kemudian pintu kamar Gina terbuka. Masuklah sepasang terdakwa yang sudah memasang wajah cemasnya.
"Alah, disini pura pura cemas. Tadi di bawah kalian bilang ke gue. Santai aja. Capek harus menjelaskan dua kali." kata Bram sambil menyindir Bayu dan Mira.
"Mir. Jelasin." kata Gina.
"Sar, gue minta maaf ya. Maaf banget karena udab nipu elo tadi siang." Mira memberikan tatapan memohon kepada Sari.
"Hm." jawab Sari masih kesal.
Mira yang tau tipe Sari langsung menatap Gina. Gina memberi kode untuk membiarkan Sari tenang terlebih dahulu.
"Gimana ceritanya Mir?"
__ADS_1
"Mulainya saat loe waktu itu main kucing kucingan dengan Aris. Bayu kemudian mendm intragram gue. Dia mencari infontentang loe dari gue. Tapi sumpah Gin. Gue nggak pernah ngasih info tentang loe ke Bayu. Loe boleh tanya Bayu."
Gina menatap Bayu. Bayu kemudian mengangguk menyetujui ucapan Mira.
"Terus kenapa loe bisa jadian dengan Bayu?" Sari sudah memaafkan Mira.
"Loe udah maafin gue?" Mira tercengang karena Sari cepat memaafkannya.
"Tergantung."
"Kami sebenarnya jadian udah dua bulan lebih. Kami tidak bisa mengatakan kepada kalian takutnya nanti kalian marah. Maafkan kami karena sudah tidak memberitahukan yang sebenarnya."
"Hahaha. Kamu lucu Mir. Kenapa kami harus marah. Toh Bayu bukan siapa siapa kami berdua kok." kata Gina.
"Loe marah nggak Ris?"
"Marahlah. Gue yang ngejar sampe ke padang, loe yang jadian"
"Hati hati Bay, kalau Aris marah. Bisa bisa perusahaan kamundalam satu jam gulung tikar. Hahahahaha." Afdhal mengatakan sesuatu yang membuat Gina terusik.
"Maksud uda?" Gina mulai curiga
"Nggak ada maksud apa apa. Biasa aja."
Gina menatap tajam Aris. Aris yang ditatap tajam Gina balik menatap Gina dengan aura dinginnya. Aura kamar yang tadinya ceria beubah menjadi sedingin kutub.
"Loe berdua mau bikin kami menggigil?" kata Bram.
"Gina hentikan tatapan seperti itu. Kamu perempuan." kata Nana.
"Alah, Nana aja lebih dari pada Gina menyeramkannya kalau marah." jawab Ayah.
"Sudah hentikan." kata Ayah.
Gina dan Aris melepaskan tatapan dingin mereka.
Mereka kemudian bercerita semua hal. Aris kemudian permisi pulang terlebih dahulu karena akan ada acara makan malam dengan kedua orang tuanya.
"Bram loe antar Sari ke kosannya. Setelah itu loe ke rumah utama."
"Oke Ris."
"Aris kemudian berjalan keluar dari ruang rawat Gina. Aris penasaran dengan apa yang akan diceritakan Papi sampai dia di rumah utama. Bram setelah Aris pamit juga langsung membawa Sari untuk pulang. Bayu dan Mira juga sama. Mereka pulang dengan beriringan ke kos Sari. Satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai.
"Yank. Kamu pinterkan bawa mobil?" tanya Bayu.
"Pinter, emang napa say?"
"Mobil aku tinggal aja sama yank. Aku pulang dengan Bram aja. Sepertinya ada masalah gawat yang akan dibicarakan oleh Papi kepada Aris dan Bram. Aku harus ikut."
"Baiklah. Besok akan aku kembalikan ke kantor."
"Pakai aja dulu. Aku butuh baru aku ambil lagi"
"Baiklah baiklah."
Sari kemudian turun dari mobil Bram. Sedangkan dari mobil Bayu, Bayu yang turun dan berpindah kenmobil Bram.
Wah gilak, jadian dua bulan aja dikasih mobil. Jadian enam bulan rumah dong."
"Serah loe. Gue males bawa mobil. Lagian tujuan kita berdua sama ngapain juga harus satu sorang mobilnya"
"Ye"
__ADS_1
Bram langsung melajukan mobilnya ke rumah utama. Sepertinya masalah yang akan dibicarakan oleh Papi cukup rumit. Sepanjang perjalanan Bram dan Bayu tidak ada komunikasi yang berarti. Mereka sibuk dengan praduga di dalam pikiran masing-masing. Bram melihat mobil Aris terparkir dengan asal asalan di halaman rumah. Pikiran Bram dan Bayu makin kalut. Apa yang menyebabkan Aris dan Papi menjadi seperti ini.