
Malam harinya sesuai dengan keinginan Aris, tidak ada satupun anggota keluarga yang menemani Aris untuk menunggui Gina di rumah sakit. Aris sangat tau kalau Gina sangat-sangat menahan rasa sakit kepalanya. Dia tidak ingin hal itu berpengaruh terhadap kondisi Gina.
" Sayang, bangun dulu, kamu belum makan malam sayang." kata Aris membangunkan Gina yang memang dari setelah maghrib tadi memilih untuk tidur.
Gina membuka kedua matanya, dia memandang setiap penjuru kamar, Gina tidak melihat siapapun berada di kamar rumah sakit. Aris paham dengan apa yang dicari oleh Gina.
" Mereka semua sudah pulang sayang, aku sangat paham dengan yang terjadi kepada dirimu sayang." kata Aris memberikan jawaban yang dicari oleh Gina dengan kedua matanya.
Gina tersenyum bahagia, akhirnya malam ini dia bisa terbebas dari rasa sakit kepala yang sudah ditanggungnya dari siang tadi.
" Aku mau melakukannya, tetapi kamu harus makan malam yang banyak, kalau nggak maka aku hanya mau menjadi bayi saja nanti, nggak mau untuk memantau blip di dalam sana." kata Aris sambil menggoda Gina.
" Baiklah aku akan makan banyak malam ini, tapi ada syaratnya." kata Gina juga ikut mengemukakan syarat kepada Aris.
" Apa syaratnya? Mau dua ronde? Satu aja belum tentu sukses sayang, malahan minta dua kamunya." lanjut Aris sambil menatap Gina dengan tatapan menggoda ala Aris.
" Denger dulu sayang." lanjut Gina dengan kesal sambil mencubit pinggang Aris.
" Apa?"
" Aku mau makan banyak, kalau kamu yang nyuapin aku." tutur Gina sambil mengatakan apa yang dimauinya.
" Kalau masalah menyuapi itu masalah gampang sayang, aku akan menyuapi istri tercintaku dengan makanan yang sangat enak ini, kamu tau ini masakan siapa?" tanya Aris kepada Gina yang terlihat sangat cantik karena sedang mupeng.
" Palingan masakan Mami kalau nggak Nana sayang, siapa lagi coba." jawab Gina dengan percaya dirinya.
" Mana ada sayang, Ini yang masak adalah suami kamu ini." lanjut Aris dengan bangganya.
" Sayang jangan bercanda, sejak kapan kamu pinter masak?" tanya Gina dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aris.
" Beneran sayang, kalau kamu tidak percaya coba telpon maid bagian dapur, pasti mereka akan ngomong kalau makanan ini beneran aku yang masak." jawab Aris sambil menatap Gina dengan tatapan serius.
Gina mencari cari kebohongan di balik mata indah dan tajam itu, tetapi Gina sama sekali tidak menemukan kebohongan di mata itu.
" Oke aku percaya, tapi kapan kamu masaknya sayang?" tanya Gina.
Gina tau Aris tidak akan mau meninggalkannya sendirian di kamar rumah sakit.
" Tadi siang sayang, saat kamu tidur karena sakit kepala. Kebetulan di sini ada Mami dan Nana. Aku pulang ke rumah untuk membersihkan badan dan bertukar baju. Nah saat mandi itulah aku kepikiran untuk memasakkan makanan kesukaan kamu." jawab Aris meyakinkan Gina.
__ADS_1
" Sayang, bawa sini makanannya, aku udah nggak sabar mau mencoba makanan itu." lanjut Gina.
Aris mengambilkan makan malam untuk Gina.
" Kamu mau sayur capcaynya banyak atau sedikit sayang?" tanya Aris
" Mau banyak. Sayang gini ajalah, bawa kesini semua makanannya, jadi kalau kurang, gampang nambahnya sayang." Gina memberikan solusi kepada Aris, agar Aris membawa makanannya ke atas kasur saja. Jadi saat Gina mau nambah makanannya Aris tidak susah pergi mengambil ke meja yang jauh itu.
Gina melihat semua makanan yang dimasak Aris adalah makanan kesukaan dirinya. Semua makanan yang dibuat Aris terlihat begitu menggoda iman Gina. Gina yakin kalau dia mencoba satu suapan saja pasti akan ketagihan.
" Kamu mau makan dengan sambal apa?" tanya Aris kepada Gina
Gina menatap semua sambal yang ada di depannya.
" Sayang aku mau makan ayam goreng itu sama capcay." jawab Gina.
Aris mengambilkan ayam goreng dan juga sayur capcay yang diminta oleh Gina. Aris menyuapi Gina dengan suapan penuh. Gina mengunyah makanan itu dengan perlahan. Gina meresapi setiap gigitan yang dilakukannya.
" Sayang ini enak sekali sayang. Ayamnya diapain ini?" tanya Gina sambil menatap kagum ke arah Aris.
" Ini namanya ayam sambal mentega sayangku. Emang enak?" tanya Aris.
" Enak sayang, coba aja kalau nggak percaya." kata Gina kepada Aris.
" Ternyata kemampuan itu belum hilang sayang." jawab Aris.
" Kamu mengejutkan aku dengan kemampuan kamu itu sayang." jawab Gina sambil memeluk Aris.
" Sayang makan dulu, baru aku kasih makan nafsu kamu itu sayang." kata Aris mengingatkan Gina yang sudah mulai mereseh reseh tidak jelas.
" Sayang bahasanya keren banget ya. Berarti hari ini aku makan untuk perut dan makan untuk si dedek." kata Gina sambil tersenyum malu-malu.
" Hahahaha. Sayang makan, kamu mau makin lama untuk memulai makan yang satu lagi?" tanya Aris kepada Gina.
" Nggak sayang, aku mau makan itu dengan sangat cepat." jawab Gina.
Gina kemudian makan dengan lahap, Aris sangat suka menyuapi Gina, karena Gina selalu minta nambah saat makan. Selesai memakan semua masakan yang ada, Gina meminum obatnya.
" Sayang aku luar biasa kenyang. Kita nonton yuk sayang, setelah perutku agak sedikit lapang, baru aku akan makan, makanan yang lain, untuk posisi yang lain." kata Gina sambil tersenyum.
__ADS_1
" Apaain sih bodoh." kata Aris kepada Gina
" Bodoh karena kepengen itu, nggak apa apa sayang." jawab Gina
Aris kemudian menghidupkan televisi yang ada di dalam kamar, mereka menonton film drama yang sedang naik daun. Tiba tiba saat mereka serius menonton, film tersebut memutar adegan yang lumayan membangkitkan kelaparan Gina dan Aris.
Aris kemudian membelai lengan Gina, Gina memandang Aris dengan tatapan sayunya. Aris mulai mengendus leher Gina dan memberikan kecupan di setiap posisi yang Aris ketahui adalah titik sensitif dari Gina.
Aris meninggalkan jejak jejak kepemilikannya di leher Gina. Gina dibuat begitu melayang oleh perlakuan Aris kepada tubuhnya. Aris mulai membuka kancing baju Gina. Aris meraih bulatan kenyal yang sangat disukainya itu. Aris membuka mulutnya dan melahap benda itu dengan sangat rakusnya, sedangkan untuk benda sebelahnya lagi, Aris memberikan remasan remasan imut yang membuat siapapun terbang melayang diperlakukan seperti itu oleh pria yang dicintai.
Aris menciumi setiap jengkal tubuh Gina. Aris begitu memuja Gina. Aris memeriksa kesiapan Gina di bawah sana. Ternyata Gina sudah begitu siap. Aris tersenyum bahagia setelah membuktikan kalau istrinya ini sudah siap untuk menerima dirinya di dalam sana.
" Sayang kamu sudah siap ternyata." kata Aris sambil membuka semua bajunya.
Aris memposisikan Gina senyaman mungkin, dia tidak ingin Gina merasakan sakit dibagian manapun saat mereka melakukan penyatuan yang sudah lama tidak mereka lakukan itu.
" Sayang aku akan melakukannya dengan pelan ya. Tidak seperti yang kita lakukan biasanya." kata Aris.
" Tapi kalau mau keluar harus dengan cepat dan kencang sayang, aku ingin merasakan dia penuh di dalam sana." jawab Gina
" Kamu memang terlalu terbuka sayang." kata Aris.
Aris kemudian memasukkan punyanya kedalam goa yang sudah sangat lama tidak dirasakan Aris.
"Ah" sebuah lenguhan keluar dari mulut Gina.
Aris mendengarnya semakin semangat untuk melakukan penyatuan itu.
" Sayang, terus sayang, tolong remas sayang, aku ingin di remas." kata Gina.
Aris kemudian meremas dua gundukan kenyal yang sangat menantang itu. Gina semakin menikmati permainan yang dilakukan Aris. Permainan yang dilakukan selama satu jam itu berakhir dengan kemenangan Aris dengan skor 3 vs 1. 3 untuk Gina, 1 untuk Aris.
" Makasi sayang, sangat enak." kata Aris sambil mengecup kening Gina.
" Sama sama sayang, ini juga sangat enak sayang. Di rumah besok lagi ya. Di sini aku terpaksa menahan suara ku." kata Gina sambil tersenyum bahagia.
" Gimana ilang sakit kepalanya?" tanya Aris.
" Hilang semuanya, yang ada hanya rasa bahagia dan begitu terpuaskan. Kamu memang selalu topcer sayang, nggak ada lawan. Hahahahaha." Gina tertawa bahagia dengan permainan mereka yang sudah tujuh bulan tidak mereka lakukan.
__ADS_1
" Sekarang kamu tidur sayang." perintah Aris.
Gina masuk kedalam pelukan Aris. Kebiasaan Gina apabila mereka selesai melakukan ritual itu, maka Gina akan selalu tidur dengan meletakan kepalanya di bawah ketiak Aris. Gina merasa nyaman dalam posisi tersebut. Aris dan Gina tertidur dalam damai. Mereka sudah kembali menjadi suami istri yang sebenarnya, setelah berbagai masalah yang dihadapi. Setiap masalah akan selesai dengan diselesaikan di atas ranjang.