
Ayah yang sudah mengingat sebuah kejadian di kota B langsung saja meubah wajahnya menjadi sedikit bahagia. Afdhal yang melihat langsung meangkat alisnya. Ayah yang melihat tanda tanya dari gerakan Afdhal langsung mengangguk. Nana yang melihat bahasa isyarat mulai dilakukan Ayah dan Afdhal langsung saja berujar.
"Hay, Gina juga anak Nana. Anda berdua jangan pake bahasa isyarat." Ketus Nana.
Ayah dan Afdhal yang paham kenapa Nana marah marah sepakat akan mengatakan apa penyebab Gina menjadi begini menurut fersi ayah.
"Gini Na, menurut Ayah penyebab Gina seperti ini adalah saat Ayah ke kota B dengan Gina. Gina bertemu dengan Aris. Aris hari itu sangat berpura pura tidak mengenal Gina. Aris tidak sedikitpun berbicara atau hanya sekedar menyapa Gina tidak dilakukan Aris. Gina saat itu Ayah lihat biasa saja, ternyata Gina menyimpannya rapat rapat di dalam hatinya. Ayah tidak tau kalau membawa Gina ke kota B akan membuat Gina menjadi seperti ini. Ayah sangat menyesal." kata Ayah sambil meremas rambutnya, Nana yang melihat Ayah frustasi langsung mendekat, Nana kemudian memeluk Ayah.
"Sayang semuanya udah suratasn Tuhan. Kita tidak tau kalau ke kota B, Gina akan seperti ini. Kalau kita tahu, jangankan untuk ke kota B. Kuliah sambil kos kemaren tidak akan kita ijinkan Gina untu melakukannya." kata Nana menguatkan Ayah. Setelah mendengar apa yang dikatakan Nana, Ayah terlihat agak mendingan dari yang tadi.
...----------------...
Sedangkan diperusahaan keluarga Soepomo, Aris terlihat semangat bekerja. Bram yang melihat terbawa senang, karena beberapa pekerjaan yang harusnya Bram mengerjakan sudah dikerjakan oleh Aris.
"Begini ternyata ya efek jatuh cinta." kata Bram.
"Mana ada. Gue lagi semangat aja untuk bekerja." jawab Aris.
"Yelah, pungkiri aja terus sampe kapanpun." jawab Bram.
Aris dan Bram kembali bekerja dengan semangat, sekali sekali mereka saling melemparkan ejekan. Mereka biasa melakukan itu kalau sedang berdua saja, tapi kalau ada orang lain yang bukan sahabat mereka, maka dua makhluk itu berubah menjadi manusia kutub yang susah untuk dicairkan. Tak terasa saking semangatnya bekerja hari sudah menunjukkan waktu untuk makan siang.
"Makan siant dimana Ris?"
"Di tempat warung waktu kita kuliah itu, yang di depab fakultas Teknik. Gue pengen makan semurnya." jawab Aris padahal Aris memiliki maksud lain. Aris sudah tau kalau Gina saat jam istirahat sering makan di warung tersebut.
"Ye bilang aja mau nengok Gina, sok kangen semur. Seumur umur lima tahun kita kuliah disono loe nggak pernah tuh makan dikantin situ. Gaya loe banyak banget." jawab Bram.
"Makanya gue bilang ke elo, akui ajalah kalau loe memang sedang bucin." Bram melanjutkan cemeehannya.
Aris tiba tiba menoyor kepala Bram. "Serah loe. Ayok berangkat, gue laper."
"Cih laper, bilang aja kangen. Yang laper mata loe bukan perut loe." Bram membalas Aris.
"Cerewet lagi, gue tinggal neh." ancam Aris.
"Mana bisa, kunci sama gue kok ya" Bram memamerkan kunci mobil Aris.
"Loe pemenangnya." ketus Aris.
"Hahahaaha. Yok jalan. Puas gue." jawab Bram sambil melangkah ke lift khusus mereka. Aris masih terpaku ditempatnya, dia tidak menyangka akan dikalahkan Bram.
"Loe mau semakin lapar tuh mata?" kata Bram.
Aris kemudian berjalan dengan menghentakkan kakinya karena kesal setengah mati kepada Bram. " Asisten nggak beradap loe. Loe harusnya ambil pelatihan asisten dulu, atau sekarang aja sebelum terlaly telat." kata Aris.
"Oke. Lie bayar ya" jawab gamoang Bram.
"Haduh. Udah Bram gue nyerah lawab loe hari ini" kata Aris menyelesaikan keributannya yang tak berarti dengan Bram.
"Setuju." jawab Bram sambil menepuk pundak Aris. Para karyawan yang mendengar keributan receh itu, hanya senyum saja sambil menganggukkan kepala mereka. Mereka akan melihat kejadian seperti itu kalau kedua makhluk itu sedang bahagia atau sedang tidak ada masalah pada perusahaan. Coba kalau sebaliknya maka kedua makhluk itu akan berubah menjadi dua pria es, lebih dingin dari kutub utara.
__ADS_1
Bram kemudian melajukan mobilnya menuju warung makan yang di depan universitas itu. Tiga puluh menit perjalanan mereka telah sampai di tempat tujuan. Bram dan Aris turun dan langsung duduk di salah satu meja yang kosong. Aris sangat berharap dia dapat bertemu dengan Gina. Aris dan Bram duduk di bangku belakang warung itu.
Saat menunggu pesanan mereja datang. Saat itu Mira dan Sari yang sedang duduk tepat disebelah Aris bercerita dengan temannya.
"Sar loe tau Gina kemana nggak? Tadi dia kan nggak masuk." tanya Anggel salah satu kawan satu kelas Gina.
"Nggak. Mir tau?" tanya Sari.
"Nggak juga. Gue coba telpon nomornya dulu ya. Mana tau tadi Gina ketiduran atau gimananya."
Aris dan Bram yang mendengar nama Gina disebut sebut langsung menajamkan kuping mereka. Mereka mau mendengar berita tentang Gina.
Mira kemudian menghubungi ponsel Gina, pada deringan kedua baru diangkat.
"Hallo, Assalamualaikum" kata Nana.
"Waalaikum salam. Maaf saya hendak menelpon Gina. Apkah Ginanya ada?" tanya Mira.
"Ini Nana Mira. Gina sedang sakit. Ini di rawat di rumah sakit Sentosa." jawab Nana.
"Apa Gina sakit? Sejak kapan Nana?" teriak Mira yang membuat semua orang yang mendengar melihat kearah Mira. Mira yang memang tipe acuh tidak menggubris pandangan orang kedirinya.
"Iya Mira. Gina sedang sakit. Ini sedang dirawat di rumah sakit Sentosa. Kalau ada perly dengan Gina ke sini aja."
"Oke Nana, nanti saya dengan Sari akan kerumah sakit sentosa." jawab Mira.
"Gimana Mir?" tanya Anggel.
"Gina sedang dirawat di rumah sakit Sentosa. Tapi gue nggak tau dia sakit apa. Nana ndak ngasih tau sakitnya apa" kata Mira.
MAnggel dan Mira menganggukan kepalanya, tanda setuju.
Aris dan Bram yang mendengar langsung melahap dengan cepat makanan yang sudah mereka pesan. Aris mau secepatnya pergi ke rumah sakit. Dia sangat ingin melihat keadaan Gina.
"Gimana Ris?"
"Kita pergi ke sana selepas makan ini."
Aris kemudian melanjutkan makan siangnya yang udah tidak berselera lagi.
Bram kemudian mengirim pesan kepada Bayu.
✉️ Bram
Kerumah sakit sentosa sekarang juga. Gina sakit. Aris mau kesana. Gue malez sendirian.
✉️ Bayu
Oke sip. Gue jalan sekarang.
Aris dan Bram kemudian meninggalkan warung dan pergi menuju rumah sakit Sentosa untuk melihat keadaan Gina. Bram melajukan mobil dengan santai, Bram sengaja membawa mobil dengan kecepatan pelan, Bram ingin melihat rwaksi Aris.
__ADS_1
"Bram, mobil yang loe vawa ini bukan mobil sejuta umat Bram. Mobil ini bisa menembus kecepatan 200km/jam. Ngapain loe jalan hanya 80km/jam." kata Aris dengan ketus.
Bram yang mendengar nada tidak bersahabat dari Aris langsung menggeber lari mobilnya. Dia pastikan Aris akan sampai dalam waktu lima belas menit saja. Aris yang tidak siap dengan penambahan kecepatan dari Bram langsung kaget dan terlpar ke jok belakang.
"Loe mau membunuh gue Bram?"
"Lah tadi pelan salah. Ngebut juga salah. Harus gimana aku oh sayang." kata Bram sambil menyanyikan kalimat yang diucapkannya.
"Serah loe. Dalam lima belas menit tidak sampai. Siap siap aja gaji loe bulan sekarang nggak gue bayar."
"Oke Bos. Pegangan. Saya pastikan Anda sampai lebih cepat dari waktu perkiraan Anda."
Bram kemudian menginjak pedal gasnya lebih dalam. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bram, mereka sampai disana kurang dari lima belas menit.
"Loe harus nambah bonus gue." kata Bram sambil keluar dari mobil..
"Perkara mudah." jawab Aris.
Bram kemudian berjalan ke arah resepsionis diikuti oleh Aris. Mereka berdua tak lupa memakai kacamata hitan
"Maaf suster. Saya mau bertanya nomor kamar Nona Gina Putri Wijaya." kata Bram.
Suster yang sedang duduk di meja resepsionis terpana melihat Bram. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bram.
"Hello. Anda denger atau budek atau tidak pernah melihat pria tampan seperti saya." tanya Bram dengan nada dingin.
Suster yang mendengar nada biacara Bram telah berubah langsung terdiam.
"Maaf Tuan. Kamar Nona Gina. Diruang VVIO nomor 2." jawab Suster.
" Pesan saya, kalau Anda mau lama kerja di sini tolong serius. Kalau tidak saya bisa dengan cepat mengusir Anda dari meja anda ini." Bram kemudian membuka kacamata yang dipakainya.
Suster yang melihat siapa yang sudah dicuekinnya tadi mendadak kaget. "Maafkan saya tuan. Saya janji tidak akan melongo lagi saat orang bertanya Tuan." kata suster dengan nada sangat takut.
"Baiklah sekali ini kamu saya maafkan. Lain kali saya yang akan meminta maaf kepada kamu." kata Gema.
Gema dan Aris kemudian berjalan menuju kamar yang dikatakan oleh suster tadi. Semua dokter dan suster yang melihat kedatangan mereka langsung heboh dan menundukkan kepala.
Direktur rumah sakit yang mendengar kedatangan Aris dan Bram langsung tergopoh gopoh menemui mereka berdua.
"Maaf Tuan tidak ada penyambutan. Tuan datang mendadak sekali. Ada apa Tuan?" kata direktur
"Saya hanya mau melihat teman yang sakit. Jadi lanjutkan saja pekerjaan Anda. Pastikan semua berjalan dengan baik." kata Aris.
Aris dan Bram melanjutkan perjalanannya. Saat sampai di pintu masuk ruangan VVIP Aris terlonjak melihat Bayu yang sudaj sampai terlebih dahulu.
"Ah kalian lama sekali. Gue capek nungguin dari tadi." kata Bayu.
"Sorry Bay, ada insiden sedikit di lobby. Maklum yang datang orang yang punya rumkit." jawab Bram.
"Yelah. Masuk sekarang atau bagaimana?"
__ADS_1
"Masuk sekarang."
Bram kemudian membuka pintu kamar ruang rawat inap Gina.