Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesalahan Bram


__ADS_3

Hari itu semua keluarga besar berada di ruangan Rani untuk melihat keadaan Baby. Mereka sangat penasaran dengan nama anak laki laki penerus keluarga Soepomo dan Wijaya yang baru lahir tersebut.


"Siapa namanya Ran?" tanya Mira sambil menggendong Baby yang dari tadi tidak pernah dilepaskan dari gendongan setiap orang yang ada di ruangan.


"Belum ada namanya Mami. Ntah siapa nanti diberi oleh Daniel." ujar Rani menjawab pertanyaan Mira.


"Niel, siapa namanya?" tanya Mira kepada Daniel.


"Baby G" Jawab Daniel sambil tersenyum sendiri memikirkan nama anak laki lakinya itu.


"Baby G?" tanya semua orang yang ada di ruangan dengan serempak.


Daniel mengangguk, dia sudah yakin dengan nama anaknya itu.


"Baby Gerrard Aries Wijaya Soepomo" ujar Daniel mengucapkan nama anaknya dengan lancar.


Dia menatap ke wajah istrinya. Rani mengangguk setuju dengan nama yang diucapkan oleh Daniel


"Arti namanya apa Niel?" tanya Ghina yang penasaran dengan pilihan nama untuk cucu pertananya itu.


"Nggak ada arti yang spesial Bun. Cuma Daniel dan Rani sebagai orang tua berharap anak laki laki kami ini akan berhasil seperti ketiga nama yang mengikuti nama Gerrard." jawab Daniel.


"Amiin." mereka semua mengaminkan keinginan dan doa yang diucapkan Daniel.


"Nah Afdhal Anggel kalian kapan ngeluarin calin cucu Ayah yang akan menemani hari tua ayah di rumah?" tanya Ayah Wijaya kepada anak dan menantunya itu.


"Tenang calon Atuk yang udah tidak sabaran. Menurut hitungan dokter Anya awal bulan besok." jawab Afdhal.


"Oke. Jadi, mulai bulan depan Ayah udah tidak tidur sendirian lagi." ujar Ayah dengan semangat.


"Maksudnya?" tanya Afdhal yang tidak mengerti.


"Ya itu. Besok kamu akan ngerti sendiri." ujar Ayah sambil tersenyum simpul.


Mereka kemudian duduk dan bercerita cerita ringan.


"Wijaya ikut dengan saya tidak?" tanya Papi yang tiba tiba ingat dengan Sari dan Bram.


"Kemana?" Ayah penasaran dan juga ingin ikut.


"Nengok Sari. Udah seminggu saya tidak ke sana."

__ADS_1


"Pi. Ghina ikut." ujar Ghina yang juga kangen dengan Sari.


"Kami juga ikut" ujar yang lain.


Mereka akhirnya pergi ke ruangan Sari. Anggota keluarga yang tersisa di ruangan Rani hanya Argha dan Bree. Sedangkan yang dewasa semuanya pergi menuju tempat Sari di rawat.


"Uni, kenapa adik kecil tidur terus?" tanya Bree dengan polosnya.


"Apa dia begadang semalam seperti Mami dan Papi yang bikin gaduh kamar." lanjut Bree dengan polos.


"Bikin gaduh gimana Bree?" tanya Daniel yang memiliki peluang untuk membully Bayu nanti.


"Iya Uda. Masak ranjang kamar bunyi bunyi. Bikin Bree susah tidur. Terus Papi dan Mami mana berantem dikasur kayak orang gulat di tv. Nggak pake baju lagi. Apa Mami dan Papi nggak takut masuk angin ya? Ac kan besar." ujar Bree dengan polosnya bercerita tentang apa yang dilihatnya semalam.


Rani memandang Daniel. Daniel tersenyum dan mengangkat bahunya.


"Bree, Bree mau ndak mendengar apa yang akan uni katakan?" tanya Rani.


Bree mengangguk, dia duduk di sebelah Rani.


"Mulai besok, Bree tidur di kamar Bree aja sama sus. Bree nggak boleh menemani Mami dan Papi tidur. Nanti Bree cepat dewasa kalau terus tidur di dekat Mami dan Papi." ujar Rani.


"Kenapa nggak boleh?" tanya Bree penasaran dengan ucapan Rani.


Bree terlihat berpikir. Dia akhirnya sudah memutuskan.


"Bree mau bobok sendiri. Nggak mau sama mami dan papi lagi. Mulai nanti malam Bree akan bobok sendiri atau ditemani sus." jawab Bree dengan yakin.


Rani mengacungkan kedua jempolnya kepada Bree.


"Beneran nggak takut Bree?" tanya Argha yang mulai usil.


"Nggaklah. Ngapain takut. Pengawal rame di rumah Bree." jawab Bree yang ingat pengawal Mami dan Papinya begitu memenuhi rumah.


"Bree hanya takut sama Tuhan." lanjut Bree.


Sedangkan di ruangan Sari. Bram terlihat sedang mengusap punggung tangan istrinya yang masih setia dengan tidur panjangnya. Hidup Sari masih ditopang oleh alat bantu pernapasan. Hari itu Bram sudah meminta kepada dokter untuk melepaskan alat bantu pernapasan istrinya, tetapi Ayah Hans tidak setuju. Malahan Ayah Hans menuduh Bram ingin membunuh anaknya. Sampai sekarang Ayah Hans dan Bram sama sekali tidak bertegur sapa.


Flashback.


"Ayah, Bram mau bicara sebentar. Apakah bisa?" ujar Bram dengan nada sedikit cemas dan takut mendengar reaksi ayah Hans nantinya setelah apa yang dikatakan oleh Bram.

__ADS_1


"Silahkan Bram. Bicara aja."


Bram terlihat kembali berfikir dengan apa yang akan dikatakannya kepada Ayah.


"Bram tapi mau ngomong? Ngomong aja, nggaj apa apa Bram." kata Ayah Hans.


"Ayah, sebelumnya Bram mohon maaf, Bram juga tidak ada maksud apa apa dengan apa yang akan Bram katakan nanti. Tapi ini semua hanyalah berdasarkan pemikiran Bram saja." kata Bram sebelum mengatakan apa yang dirasakannya.


"Oke Bram Ayah paham. Ngomong ajalah Bram."


Bram kembali menguatkan hati dan perasaannya untuk memulai apa yang akan dikatakannya nanti. Apa yang akan dikatakan oleh Bram memiliki dampak yang tidak bisa diprediksi.


"Jadi begini Ayah, Bram merasa sangat sangat sedih melihat kondisi Sari yang bergantung kepada alat bantu pernafasan untuk hidup. Jadi Bram memiliki pemikiran untuk" ujar Bram.


"Untuk mencabut semua alat pernafasan ini Bram? Itu maksud kamu Bram?" ujar Ayah Hans.


Bram melihat Ayah Hans tidak marah. Bram kemudian mengangguk. Ayah Hans menatap tidak percaya kepada Bram.


"Hebat kamu ya. Anda jangan pernah melakukan hal itu. Kalau Anda tidak mau membayar semua biaya pengobatan ini. Saya ayahnya masih bisa dan mampu untuk menanggung semua biaya pengobatan anak saya. Anda tidak perlu cemas." ujar Ayah Hans denhan nada tinggi.


"Ayah bukan begitu maksud Bram Ayah." ujar Bram yang menyesal telah mengatakan hal keji tersebut.


"Cukup. Keluar dari ruangan anak saya." teriak Ayah Hans semakin murka dengan Bram.


"Tapi Ayah." ujar Bram dengan wajah menyesal.


"Keluar. Saya rasa ucapan saya cukup jelas." ujar Ayah.


Bram dengan berat hati melangkahkan kakinya keluar ruangan rawat Sari. Idenya tadi ternyata membuat Ayah mertuanya murka. Bram kemudian duduk di sofa ruang tunggu. Dia benar benar menyesal dengan apa yang dikatakannya tadi.


"Kenapa Bram?" tanya Papi yang baru datang dari rumah utama.


"Nggak ada Pi." jawab Bram sambil termenung.


"Kamu tidak bisa boong dengan Papi Bram. ada apa?" tanya Papi yang menuntut penjelasan dari Bram.


Bram menceritakan semuanya kepada Papi. Papi menatap Bram dengan lama. Papi juga tidak menyangka Bram akan berpikiran seperti itu.


"Bram, Papi nggak marah sama kamu. Cuma Papi rada sedikit kecewa dengan apa yang kamu pikirkan Bram. Tapi Papi juga tidak menyalahkan kamu seratus persen."


"Iya Pi. Bram tau Bram salah." jawab Bram.

__ADS_1


Papi kemudian masuk ke dalam ruangan rawat Sari. Papi akan berusaha menjelaskan kepada Ayah Hans tentang apa yang dimaksud oleh Bram tadi. Papi mengatakan supaya tidak terjadi perselisihan antara Mertua dan Menantu.


__ADS_2