Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
KEPANIKAN KELUARGA


__ADS_3

PERUSAHAAN SOEPOMO


Aris yang baru sampai di kantor langsung menuju lantai atas. Dia sangat tidak sabar ingin melihat Bram. Tidak biasanya Bram menghilang tanoa memberikan kabar kepada dirinya. Ini adalah kejadian pertama selama mereka bersama.


Ting. Pintu lift terbuka. Aris langsung menuju ruangan Bram. Dia membuka pintu ruangan dengan keras, ternyata sosok yang diharapkan oleh Aris berada di dalam ruanhan sama sekali tidak ada. Aris kembali menutup pintu ruangan Bram.


"Apa Tuan Bram keluar lagi?" tanya Aris kepada sekretarisnya.


Aris sangat yakin Bram sudah berangkat ke kantor. Karena sebelum ke kantor, Aris menyempatkan diri untuk ke apartemen Bram memastikan apakah Bram ada di sana atau tidak. Ternyata Bram tidak ada di apartemen. Makanya Aris yakin Bram berada di kantor.


"Tuan Bram belum datang dari pagi Tuan. Saya dari tadi duduk di sini menunggu Tuan Bram untuk memberikan agenda Tuan dan Tuan Bram hari ini." ujar Sekretaris.


Aris mengambil agenda pertemuannya. Agenda yang luar biasa sangat padat. Aris masuk ke dalam ruangannya. Dia sudah tidak tau lagi mau mencari Bram kemana.


Aris memikirkan semua ucapan dan tingkahnya kepada Bram. Aris sama sekali tidak menemukan ada sesuatu hal yang akan membuat Bram menjadi sebegitu marahnya dan pergi tanpa mengatakan satu katapun kepada Aris.


Aris merogoh ponselnya. Dia kembali menghubungi Bram. Aris berharap telponnya kali ini masuk. Dan harapan Aris terkabul juga.


Bram yang sedang menikmati kopinya melihat siapa yang menghubungi langsung mengangkat telpon itu.


"Bram loe dimana" teriak Aris dengan kencangnya. Sari yang berada di sebelah Bram langsung terkaget mendengar teriakan Aris. Sedangkan menjauhkan letak ponsel dari telinganya.


"Suek ni anak. Dikira telinga gue telinga gajah. Sampai sampai dia berteriak dengan keras di telinga gue." ujar Bram.


"Bram loe jawab pertanyaan gue. Loe dimana?"


"Gue di negara J Ris. Gue memutuskan untuk sekarang saja menyelesaikan masalah di negara J." jawab Bram dengan gampangnya.


"Kenapa loe nggak ngomong Bram. Loe masih punya mulutkan? Loe nggak tau betapa paniknya gue saat tidak melihat loe di rumah saat sarapan. Gue lihat ke apartemen kosong. Gue lihat di perusahaan juga kosong." ujar Aris membabi buta memarahi Bram.


"Gue sebenarnya mau menghubungu loe. Tetapi batrai ponsel gue mendadak habis. Ini baru gue hidupin dan langsung masuk chat loe dan Papi." ujar Bram yang memang sengaja baru mengaktifkan ponselnya.


"Pasti loe sengajakan Bram mematikan ponsel loe." ujar Aris.


"Nana ada asal nuduh bae." ucap Bram kemudian.


"Ya udah silahkan loe bersenang senang dengan Sari. Jangan lama lama dalam tiga hari loe nggak pulang. Gue akan jemput loe ke sana. Dan narik loe untuk pulang." ancam Aris kepada Bram.


"Tidak tiga hari. Aku ambil cuti sepuluh hari. Tuh sudah ada surat di atas meja loe. Udah dulu ya bos, gue mau rehat bentar. Silahkan meeting bos. Hahahahah" ujar Bram yang pura pura tertawa.


"Sialan loe" ucap Aris.


Aris memutuskan sambungan telponnya dengan Bram. Dia bisa membayangkan betapa bahagianya Bram disana sekarang.


Padahal yang sebaliknya. Bram sangat menderita meninggalkan Aris dengan semua permasalahannya. Permasalahan yang lebih berat dari pada dahulu waktu Aris ketahuan berselingkuh.


Aris kemudian mulai melakukan semua pekerjaannya. Dia alan melalui hari hari yang berat tanpa asisten andalannya itu. Sekarang Aris hanya bisa mengandalkan sekretarisnya saja. Itupun hanya untuk menemaninya meeting, bukan untuk menganalisa laporan yang masuk. Atau memeriksa draf kerja sama.


"Semoga Bram cepag menuntaskan masalah perusahaan di sana. Aku tidak akan sanggup untuk bekerja sendirian." ucap Aris.


Aris mulai memeriksa beberapa laporan sebelum meetinf dengan perusahaan Bramantya. Dua perusahaan besar itu akan melakukan kerjasama dalam pembangunan sebuah resort mewah di pulau B. Rencana Aris dan Afdhal resort itu akan diberikan kepada Arga saat Arga sudah besar nanti.


Selesai melakukan semua pemeriksaan laporan. Aris bersiap siap akan melakukan meeting dengan Afdhal di GA Restoran. Aris melajukan mobilnya sendirian.


Tidak berapa lama mobil Aris berbelok masuk ke dalam parkiran GA Restoran. Terlihat mobil Afdhal sudah terparkir di sana. Aris mengirimkan sebuah chat kepada Afdhal untuk menanyakan nomor ruangan. Tidak berapa lama Afdhal membalas pesan Aris. Aris langsung melangkahkan kakinya ke ruangan yang disebutkan Afdhal.


"Tumben loe sendirian?" tanya Afdhal kepada Aris yang tidak melihat Bram bersamanya. Afdhal hanya pura pura tidak tau saja. Dia tidak mau Aris curiga karena tidak menanyakan keberadaan Bram.


"Bram sedang ke negara J mengurus perusahaan di sana." jawab Aris sambil menarik sebuah kursi untuk duduk.


Tanla sengaja Aris menyenggil sebuah gelas yang cukup jauh sebenarnya dari jangkauannya. Mendadak perasaan Aris menjadi tidak enak. Dia merasakan dorongan untuk cepat pulang muncul dalam dirinya. Aris terdiam cukup lama. Afdhal memerhatikan semua itu denhan cermat.


"Ada apa Ris?"


"Tiba tiba perasaan gue tidak nyaman. Ada sebuah dorongan yang menyuruh gue untuk cepat pulang." ujar Aris kepada Afdhal.


"Hanya perasaan kamu saja itu Ris. Udah lupakan saja. Tarik napas dalam daam terus lepaskan. Semua akan kembali seperti semula" ujar Afdhal.


"Nah loe mentang mentang istri loe psikolog loe udah mau jadi psikolog aja Dhal." ujar Aris kepada Afdhal.


"Dapat ilnu dikit dikit. Saat melihat Anggel menenangkan dirinya."


Mereka mulai membicarakan tentang kerjasama yang akan mereka lakukan. Afdhal membuka laptopnya. Dia memperlihatkan desain sebuah resort yanh dibikin oleh Gina sebelum memutuskan resign dari kantor. Aris memperhatikan desaign itu. Dia seperti melihat seseorang sedang mengerjakan desaign itu.


"Gue ambil ini"


"Gue tau kenapa" ucap Afdhal.


"Karena yang desain wanita yang teramat aku cintai." ucap Aris.

__ADS_1


Mereka kemudian makan siang bersama. Aris sepertinya malas untuk kembali ke perusahaan. Begitu juga dengan Afdhal jadi mereka memilih untuk melanjutkan membahas tentang proyek itu setelah makan siang.


.


.


.


RUMAH UTAMA SOEPOMO


Mami yang pertamanya sangat bahagia setelah bisa mengusir Gina dan Arga dari rumah mendadak menjadi cemas luar biasa. Mami takut menghadapi Papi dan Aris saat mereka berdua tau kalau Gina dan Arga tidak di rumah lagi.


"Ah ngapain aku harus cemas. Mereka berdua kan tidak tau kalau aku yang mengusir dua orang itu. Lagian aku di depan mereka masih berakting baik kepada Gina dan Arga." ujar Mami berusaha menentramkan dirinya kembali.


Semua kelakuan Mami dilihat oleh para Maid kesayangan Gina. Ingin rasanya mereka mengadukan semua perbuatan Mami kepada Tuan Besar dan Tuan Muda. Tapi apalah daya mereka. Mereka hanya seorang Maid.


Mami kembali duduk di ruang tamu. Dia menunggu Papi pulang. Mami berharap Papi yang terlebih dahulu pulang baru Aris. Jadi saat Aris tau Gina dan Arga tidak di rumah. Mami leluasa mengompori Aris, karena ada Papi yang akan membelanya. Itu menurut Mami.


Semua harapan Mami terkabul. Mobil Papi yang terlebih dahulu masuk ke dalam parkiran rumah. Bukan mobil Aris.


Mami langsung berdiri di depan pintu untuk menyambut suami tercintanya itu. Mami mengambil jas papi yang sudah dilepaskan Papi semenjak di atas mobil. Ntah kenapa Papi begitu lelah hari ini.


Belum sampai Papi dan Mami masuk ke dalam rumah. Mobil Aris juga sudah sampai dan diparkir sembarangan oleh Aris. Papi menunggu putranya itu turun. Papi hanya melihat Aris turun tidak didampingi oleh Bram.


"Loh Bram mana Ris?" tanya Papi.


"Bram dari kemaren ternyata ke negara J Pi. Dia menyelesaikan urusan perusahaan yang di sana."


"Loh mana Gina? Nggak biasanya dia tidak menunggu aku pulang." ujar Aris mengeluarkan keheranannya.


"Keluar kali Ris. Papi tadi juga tidak melihat mobil Gina di garase." ujar Papi.


"Oh bisa jadi Pi." ujar Aris dengan rasa tidak percaya.


Gina akan selalu mengabarinya kalau dia akan keluar rumah. Sedangkan hari ini tidak. Gina sama sekali tidak menghubunginya.


Aris melangkahkan kaki menuju kamarnya. Dia akan membersihkan badannya yang lengket akibat lelah bekerja seharian. Aris menanggalkan pakaian kantor dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Aris memilih untuk berendam terlebih dahulu. Karena asik berendam Aris tidak sadar kalau dia berendam cukup lama. Aris tersadar saat mendengar suara maid yang memanggil dirinya melalui intercom kamar.


Aris melihat jam dinding yang ada di kamar mandi. Ternyata jam menunjukkan pukul tujuh malam. Saatnya makan malam bagi anggota keluarga Soepomo. Aris keluar dari kamar mandi. Dia masih belum melihat Gina di kamarnya.


"Sayang kamu main kemana sampai jam segini belum pulang. Aku cemas sayang." ujar Aris.


"Gina belum pulang Ris?" tanya Papi yang tidak melihat Aris turun dengan Gina.


"Belum Pi."


"Coba hubungi Ris."


Aris baru teringat dia bisa menghubungi ponsel Gina.


"Kenapa aku bisa lupa ya." ujar Aris sambil meraih ponselnya.


Aris menekan nomor istrinya itu. Tapi yang menyambutnya adalah suara seorang perempuan yang mengatakan kalau nomor Gina sedang tidak aktif. Aris mencoba kembali tetapi tetap sama saja. Aris mulai cemas dengan semua ini.


"Hubungi Afdhal mana tau Gina di rumah orang tuanya." ujar Papi.


"Palingan dia main Ris. Ngajak Arga jalan jalan." jawab Mami yang tidak mau Aris menghubungi rumah Wijaya.


"Mana ada main sampai jam segini Mi." ujar Aris dengan nada sedikit tinggi.


Aris kembali menekan nomor di ponselnya. Ponsel Aris langsung terhubung dengan telepon rumah utama Wijaya.


"Hallo dengan rumah utama Tuan Wijaya. Ada yang bisa saya bantu?" ujar salah seorang Maid yang mengangkat telpon rumah.


"Saya ingin berbicara dengan Tuan Afdhal. Tolong katakan dari Tuan Aris." ujar Aris.


Pelayan menemui Afdhal yang sedang makan malam.


"Permisi Tuan. Tuan Aris mau berbicara dengan Tuan Afdhal" ujar Maid.


Afdhal berjalan menuju telpon rumah.


"Tumben ke telpon rumah. Kenapa nggak ke ponsel aja?" tanya Afdhal kepada Aris.


"Gina dan Arga ada di situ?" tanya Aris yang tidak menghiraukan pernyataan Afdhal tadi.


"Nggak ada. Emang ada apa?" tanya Afdhal.


"Oh nggak. Nggak ada apa apa." ujar Aris langsung memutuskan panggilan.

__ADS_1


Afdhal yang heran meletakan kembali telpon ke tempatnya. Dia kembali ke ruang makan.


"Ada apa Dhal?" tanya Ayah.


"Aris menanyakan Gina dan Arga ada di sini atau tidak. Saat aku jawab tidak. Aris mematikan sambungan telpon." ujar Afdhal.


"Pasti itu anak dan putra pembawa sialnya udah di usir dari rumah utama oleh Mami. Jadi gelandangan lah dia sekarang. Mampus." ujar Nana dengan mengeraskan volume suaranya.


"Maksud kamu apa?" tanya Ayah kepada Nana.


"Apalagi, hanya kalian berdua yang masih menerima cucu tak berguna itu. Sedangkan keluarga Soepomo sudah membuangnya. Kalian berdua bodoh." ucap Nana sambil membanting sendonya ke atas piring.


Nana pergi meninggalkan ruang makan.


"Kita ke rumah Soepomo sekarang. Anggel kamu ikut dengan kami. Kamu jangan tinggal dengan Nona sombong itu" ujar Papi membawa Anggel bersama mereka.


Afdhal melajukan mobilnya dengan kencang. Dia ingin cepat sampai ke rumah utama Soepomo. Mobil yang dikemudikan oleh Afdhal berbelok masuk ke dalam rumah utama.


"Aris" teriak Ayah dari luar.


Aris, Papi dan Mami keluar dari dalam rumah. Mereka melihat Tuan Wijaya dan Afdhal yang sudah menahan emosinya.


"Ayah silahkan duduk dulu. Kita harus berbicara dengan kepala dingin tidak emosi seperti ini." ujar Papi berusaha mengendalikan kemarahan Ayah.


"Ayah" ujar Anggel.


Ayah kemudian berusaha meredakan kemarahannya.


"Apa yang terjadi Ris?" ujar Afdhal.


"Gue nggak tau Dhal. Tiba tiba aja saat gue pulang Gina dan Arga sudah tidak berada di rumah." ucap Aris.


"Apa kamu sedang bermasalah dengan Gina?" tanya Ayah.


"Tidak. Aris tidak ada masalah dengan Gina Ayah." ujar Aris.


Semua orang terdiam. Mereka sama sekali tidak ada gambaran Gina pergi kemana membawa Arga.


"Aris apakah aku bisa bertanya sesuatu kepada kamu?" ujar Anggel.


Aris mengangguk.


"Sebelumnya aku minta maaf. Apakah kamu tau kalai Arga memiliki kekurangan?" tanya Anggel dengan sangat hati hati.


"Aku tau Anggel. Aku tau Arga setiap hari terapi dengan dokter Rani dan Kamu sebagai psikolognya. Aku tau Arga merupakan anak autis. Aku tidak malu akan semua itu Anggel." papar Aris yang membuat semua orang terkejut mendengar pengakuan Aris.


"Aku adalah Ayahnya. Nggak mungkin aku tidak tau. Memang aku tidak pernah bertanya kepada Gina atau kepada siapapun. Karena aku percaya Gina akan bisa mengobati Arga. Makanya selama ini aku diam"


"Diam aku bukan karena ketidaktahuan aku. Tetali diam aku karena percaya dengan istri aku. Aku tau Gina tidak mau menceritakan karena Gina takut aku akan murka. Tidak aku tidak akan murka. Bagaimanapun dan berbentuk apapun, Arga tetaplah darah dagingku tetaplah putraku. Tetap menjadi Arga Aris Wijaya Soepomo." ujar Aris.


Mami yang mendengar apa yang dikatakan oleh Aris diam saja. Mami sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apapun.


"Apakah kamu juga tau kalau Arga adalah anak yang jenius?" tanya Anggel.


Saat Mami mendengar Arga merupakan anak yang jenius, raut wajah Mami langsung berubah. Dia selama ini menyangka Arga adalah anak bodoh yang hanya bisa membuat malu saja.


"Sudah aku katakan Nggel. Aku tau semuanya. Makanya aku heran, siapa yang sudah membuat istri dan putraku keluar dari rumah." ujar Aris.


"Sayang, palingan juga Gina main. Bentar lagi juga pulang." ucap Mami pura pura menenangkan Aris.


Aris berlari menuju kamarnya. Dia akan melijat pakaian dan koper milik Gina. Betapa terkejutnya Aris saat mendapati satu lemari Gina kosong dan tiga koper milik Gina hilang. Aris masuk ke dalam kamar Arga, Aris membuka lemari pakaian Arga dia juga tidak menemukan pakaian Arga di sana beserta dengan koper anaknya.


"Tidak" teriak Aris dengan kuat.


Aris melempar semua yang bisa dia raih. Dia sangat terpukul istri dan anaknya tidak berada di rumah. Aris tidak tau mereka pergi kemana.


Semua orang yang mendengar teriakan Aris dan bunyi barang barang yang dilempar berlari menuju kamar Aris. Mereka melihat kamar yang berantakan. Barang barang yang pecah. Lebih mirisnya lagi Aris berjongkong di sudut kamar sambil menarik narik rambutnya. Dia menangis sesegukan. Dalam tangisnya Aris berkata.


"Sayang kenapa tidak bawa Daddy"


"Sayang jangan tinggalin Daddy"


Hanya dua kalimat itu yang diucapkan oleh Aris. Semua orang yang berdiri di depan pintu termasuk kepala pelayan meneteskan air matanya. Tetapi tidak dengan Mami, Mami malahan tersenyum. Mami menganggap Aris kecewa dengan perbuatan Gina.


"Sebentar lagi kamu akan melupakan wanita itu Aris." ujar Mami dengan perlahan, tetapi terdengar oleh Papi.


"Kenapa Mami berbicara seperti itu?" tanya Papi sambil bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Aku harus mencari tau." ujar Papi.

__ADS_1


Keluarga Wijaya memilih untuk pulang ke rumah mereka. Ayah akan menyebar anggotanya untuk mencari Gina ke setiap pelosok ibu kota. Ntah kenapa Ayah yakin Gina masih berada di ibu kota.


__ADS_2