
Mami mengirimkan video rekaman tersebut ke ponsel Papi dan Aris. Video yang tanpa diedit sama sekali. Video yang menampilkan seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang selalu berada di hati Papi dan Aris. Posisi yang sampai sekarang sama sekali belum bisa digantikan oleh Mami.
Papi dan Aris yang sama sama sedang sibuk membaca dokumen dokumen perusahaan mereka masing masing. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari pesan video yang masuk ke ponsel Papi dan Aris.
"Kenapa mereka tidak ada yang berkomentar?" ujar Mami melihat ponsel yang tadi digunakannya untuk mengirim rekaman video tersebut.
"Sayang, kami berdua pulang duluan ya." ujar Gina sambil mendekat ke arah suaminya.
"Kok? Aku bentar lagi juga mau pulang sayang." ujar Aris sambil menggenggam tangan Gina.
"Daddy, Argha jangan larang kami berdua pulang. Argha tadi minta Bunda buat Ayam mentega. Jadi kami akan pulang sekarang." ujar Argha sambil menggeram ke Aris.
"Uwow anak bungsu Daddy udah pintar menggeram ke Daddynya." ujar Aris dengan nada pura pura takut.
"Bun, ayolah Bun, kita pulang. Daddy jangan didengerin Bun. Aktor drama korea itu." ujar Argha sambil merengek ke Bundanya.
"Bunda nggak boleh pulang" ujar Aris sambil memeluk Gina.
"Ais bentar lagi mau punya cucu tetap aja norak." ujar Argha sambil berdiri tegak pinggang dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Argha nggak percaya dengan musibah ini." ujar Argha.
"Bunda ikut pulang nggak?" ujar Argha sambil berjalan keluar ruangan Aris.
"Gha, kita buat perjanjian dulu." ujar Aris.
Argha menghentikan langkahnya. Dia ingin mendengar negosiasi dari Daddynya itu.
"Apa?" tanya Argha sambil duduk kembali di kursi di depan meja kerja Aris.
"Bunda boleh pulang dengan Argha tetapi ada syaratnya." ujar Aris.
"Apa Daddy cepetan aja negosiasinya. Pantesan aja ini perusahaan nggak maju maju, Daddy lemot." ucap Argha yang secara terang terangan mengatai Daddynya itu.
"Nanti malam Argha nggak boleh tidur dengan Bunda. Argha harus tidur di kamar Argha." ujar Aris yang semalam gagal menjalankan aksinya karena Argha yang menganggu saat dia setengah jalan memasukan sesuatu yang akan dimasukan.
"Oke oke. Argha akan tidur dengan Frenya. Jadi Daddy bisa main matikan lampu dengan Bunda." jawab Argha.
"Ayok Bun. Negosiasi udah selesai. Kita pulang." Argha menarik tangan Bundanya untuk pulang ke rumah utama.
"Salam sama Daddy dulu Gha. Main nyelonong aja." ujar Gina kepada Argha yang lupa salaman dengan Daddynya.
"Lupa Bun." jawab Argha dengan santainya.
__ADS_1
Dia kemudian berjalan menuju Aris. Argha mencium tangan Aris.
"Daddy paling keren sedunia, Argha pinjam Bunda dulu ya. Nanti malam baru Argha pulangkan ke Daddy Bundanya. Oke Daddy." Argha menyampaikan kata kata yang membuat Daddy dan Bundanya tidak bisa menahan tawa.
"Hahahahahahaha" Aris dan Gina tertawa terbahak bahak.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Argha. Sebuah ciuman dari Aris yang membuat Argha menjadi terdiam.
"Main cium aja. Emang Argha Bunda." ujar Argha.
Argha kemudian menarik tangan Bundanya. Kalau pertengkaran ini dilanjutkan maka alamat mereka berdua nggak jadi pulang. Maka masakan ayam mentega tidak akan jadi di dapatkan Argha saat makan malam nanti.
Gina dan Argha masuk ke dalam mobil. Pak Paijo selalu siap sedia untuk mengantarkan Nyonya dan Tuan muda keluarga Soepomo itu.
"Bun, menurut Bunda, kemana perginya nenek lampir itu ya Bun?" tanya Argha kepada Bundanya tentang keberadaan oma mami.
"Bunda juga nggak tau. Emang kenapa Gha?" tanya Gina.
"Enggak. Waktu terakhir ketemu, kan waktu Atuk tau tentang rekaman video pengusiran kita berdua Bun." ujar Argha.
"Terus?" tanya Gina yang penasaran.
Argha menceritakan semua kejadian yang terjadi di apartemen Mami kepada Gina.
"Layal itu Bun. Oma udah berbuat di luar batas. Masak mau bikin Soepomo dan Jaya bangkrut." ujar Argha yang setuju dengan tindakan Atuknya.
"Tapi Bun, ada yang aneh juga Bun." ujar Argha kemudian.
"Apa?" tanya Gina.
Argha kembali menceritakan keanehan yang bisa ditangkapnya dari perkataan yang dikeluarkan oleh Mami.
"Bener juga ya Gha. Sepertinya ada yang diaembunyikan oleh Oma Mami dari Atuk." ujar Gina yang setuju dengan pendapat anaknya itu
"Kita harus cari tau Bun, rahasia besar apa yang disembunyikan oleh nenek lampir itu dari keluarga kita." ujar Argha yang mendadak menjadi menggebu gebu untuk mengungkap rahasia itu.
"Apa perlu kita ke markas?" tanya Gina yang tertular penyakit semangat dari Argha.
"Besok Bun. Argha curiga dengan nenek lampir itu." ujar Argha.
"Oke kita akan eksekusi besok." jawab Gina sambil tersenyum devil.
"Wah parah kalau udah keluar senyum seperti itu." jawab Argha.
__ADS_1
Pak Paijo membelokan mobil ke dalam gerbang rumah utama. Setelah Pak Paijo memarkir mobil di tempat biasa, Argha dan Gina turun dari dalam mobil.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Argha masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Gina berbelok ke dapur. Dia akan menyiapkan bahan bahan untuk membuat ayam mentega dan juga sayur capcay pesanan suaminya.
Setelah menyiapkan semua bahan untuk masak. Gina menuju kamarnya untuk berganti pakaian dengan pakaian rumahan. Setelah berganti pakaian, Gina kembali ke dapur untuk memasak makanan.
Argha yang tidak bisa tidur siang, kembali duduk di atas ranjang. Dia melihat ke arah pintu keluar kamar.
"Sepertinya gangguin Bunda enak juga ini." ujar Argha.
Argha kemudian turun menuju dapur. Dia akan menemani Bundanya memasak menu makan malam.
Argha menarik kursi mini bar ke dekat Bunda.
"Bun, Argha duduk sini ya." ujar Argha.
"Udah duduk baru izin. Aneh kamu sayang" jawab Ghina sambil geleng geleng kepala kepada Argha.
Gina terus saja memasak. Argha mulai jenuh karena sama sekali tidak bisa ngobrol dengan Gina.
Argha turun dari kursinya. Dia berjalan ke taman belakang.
"Suster Rina!!!!!!!" teriak Argha saat melihat susternya sedang sibuk memakan buah mangga.
"Hay. Kapan pulang?" tanya suster Rina.
"Udah dari tadi." jawab Argha.
Argha kemudian duduk di sebelah susternya itu. Argha mencomot sepotong Mangga yang baru saja diiris oleh Rina.
"Besok Arga mau ke tempat paman Alex. Ada pesan?" tanya Argha kepada Rina.
"Nggak ada. Emang mau pesan apa?" tanya balik Rina.
"Pesan salam kek. Kok pesan apa kek." jawab Argha.
"Hahahahaha. Terserah Argha aja mau pesan apa." jawab Rina sambil tersenyum.
Mereka berdua melanjutkan obrolannya. Mereka asik bercerita berbagai hal. Rina sangat senang berbicara dengan Argha. Argha walaupun usianya masih relatif sangat muda tetapi dia berpikiran sangat dewasa.
Sesangkan di perusahaan Soepomo Grub. Aris yang sedang berjalan ke bawah dengan Bram membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.
Saat ada sebuah pesan video dari sebuah nomor yang sama sekali tidak diketahui oleh Aris itu nomor siapa.
__ADS_1