
Argha yang membawa mobil dalam kecepatan tinggi saat masuk tol menuju bandara, berakhir dengan menghabiskan waktu hanya satu jam untuk sampai di bandara, padahal seharusnya menghabiskan waktu selama satu setengah jam baru sampai di bandara tersebut.
Dua mobil pengawal yang mengikuti Argha hanya bisa pasrah dan juga ikut menggeber laju mobilnya. Mereka tidak mungkin jauh berada di belakang mobil Tuan Muda yang mengemudikan mobilnya seperti orang sedang balapan.
"Itu Tuan Muda serius atau nggak bawa mobil?" ujar asisten Frenya bertanya kepada asisten Argha.
"Bos gue memang kayak gitu kalau sedang ingin cepat sampai tujuan. Gue udah biasa mengalami hal seperti itu" jawab asisten Argha yang bernama Hendri.
Argha kemudian memarkir mobil yang nanti akan dibawa oleh pengawal yang berada di mobil satu lagi. Mobil tidak mungkin di tinggalkan di bandara seperti biasanya karena Argha dan Bree belum tahu akan pulang kapan ke negara A.
"Kamu bener bener edan Argha. Masak bawa mobil sekencang itu" ujar Frenya protes dengan cara Argha membawa mobil dengan kecepatan maksimum sesuai dengan batas yang diperbolehkan saat melaju di jalan tol.
"Uni, Argha kan tidak melanggar aturan. Kecepatan Argha kan tidak melewati batas yang diperbolehkan. Jadi, sah sah aja kalau Argha ngebut kayak tadi" ujar Argha menjawab perkataan dari Uni nya yang hampir muntah karena mabuk dengan cara Argha membawa mobil.
"Serah kamu ajalah Gha. Uni pusing" ujar Frenya yang merasa kalau dunianya sedang jungkir balik.
"Lemah. Bree aja santai" uajr Argha sambil menunjuk ke arah Bree yang santai dengan cara Argha membawa mobil seperti tadi.
"Karena udah terbiasa" jawab Bree yang sudah tau kalau Argha pasti akan ngebut karena nggak mau pesawat mereka delay nanti.
"Tuan muda, pesawat siap berangkat" ujar Hendri kepada Argha.
"Oke sip. Bawa semua barang barang ke pesawat. Pengawal ini kunci mobil. Tolong jaga mansion dengan baik" ujar Argha dengan nada dingin kepada pengawal tersebut.
Argha saat berbicara degan pengawal asisten maupun maid akan terlihat sangat dingin. Hal itu berbeda dengan Argha yang berbicara dengan anggota keluarganya. Argha yang dingin berganti dengan Argha yang luar biasa hangatnya. Sifat hangat Argha turun dari Nana. Sedangkan sifat dinginnya dari siapa lagi kalau bukan dari Daddy mereka yang terkenal dingin ke semua orang.
"Baik Tuan Muda. Hati hati di jalan" ujar pengawal kepada Argha.
Argha mengangguk, mereka bertiga kemudian masuk ke terminal yang khusus untuk penumpang privat jet. Semua orang di sana menatap ke arah Argha, Frenya dan Bree. Mereka bertiga memiliki paras yang tampan dan cantik seperti artis. Mereka berjalan dengan cueknya, mereka sama sekali tidak perduli dengan pandangan dan tatapan orang orang itu. Argha, Frenya dan Bree sudah terbiasa menerima tatapan seperti itu dari kecil.
__ADS_1
"Kenapa mereka nggak bosan bosan menatap kita seperti itu ya Uni?" tanya Argha kepada Frenya saat mereka sudah duduk di ruang tunggu pemberangkatan penumpang privat jat.
"Mau gimana lagi Gha. Nikmati aja" ujar Frenya kepada Argha supaya Argha bisa lebih menikmati para orang orang yang memandang ke arah mereka.
"Ye lah. Terpaksa" jawab Argha dengan acuhnya duduk di ruang tunggu itu.
Tak berapa duduk sambil menunggu proses dan semua prosedur yang harus mereka lalui. Akhirnya salah seorang kru bandara datang menghampiri mereka untuk bersiap siap masuk ke dalam pesawat.
"Tuan Tuan dan Nona Nona, pesawat sudah siap. Mari ikuti saya untuk menuju pesawat" ujar kru bandara mempersilahkan Arga dan rombongan untuk mengikuti dia menuju pesawat yang sudah stanbay.
Argha dan rombongan kemudian berdiri dari posisi duduk mereka. Mereka kemudian berjalan mengikuti kru bandara menuju pesawat yang sudah siap untuk meninggalkan landasan pacu bandara menuju negara I.
Argha terlihat sibuk memainkan ponsel miliknya dari tadi. Dia tidak henti hentinya berkirim pesan chat dengan seseorang.
"Siapa Gha? Dari tadi sibuk aja" ujar Frenya akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Argha.
"Uni kepo, satu hal yang pasti bukan dengan perempuan" ujar Argha memberitahukan kepada Uni nya tetapi mata Argha menatap ke arah Bree.
Mereka sekarang sudah berada di dalam perut pesawat. Mereka sudah duduk di tempat duduk masing masing. Argha kemudian menonaktifkan ponsel miliknya. Dia sudah langsung memasang seatbelt dengan sangat rapi. Argha kemudian mengambil posisi tidur yang ternyaman. Dia tidak akan menikmati penerbangan seperti biasanya.
Sedangkan Bree dan Frenya mereka berdua sibuk mengobrol karena mengambil posisi duduk berdampingan. Ntah hal apa yang mereka obrolkan berdua, terlihat Bree dan Frenya sangat menikmati kedekatan mereka walaupun usia mereka berbeda jauh.
Hal berbeda dilakukan oleh tiga orang asisten pribadi masing masing. Mereka sibuk dengan perangkat elektronik milik mereka. Entah hal apa yang mereka lakukan tidak diketahui oleh siapapun.
"Tuan Tuan dan Nona Nona, di sini dengan saya Capten Vindra dan coba pilot Capten Hendrik akan mengantarkan Tuan Tuan dan Nona Nona menuju negara I. Penerbangan akan kita lakukan selama delapan jam ke depan dengan satu kali transit di negara J." ujar Capten menyapa seluruh penumpang pesawat.
"Cuaca selama penerbangan diperkirakan cerah dan akan ada sedikit turbelensi nanti saat pesawat sudah memasuki kawasan udara negara E. Tetapi masih aman untuk kita lalui dalam penerbangan kali ini. Sekian pengumuman dari kami, selamat menikmati penerbangan Anda" ujar kapten mengakhiri pengumuman seperti biasa yang dilakukan oleh seorang kapten sebelum mulai penerbangan.
Argha yang selesai mendengar apa yang dilaporkan oleh pilot kemudian mengambil posisi untuk tidur. Dia sudah sangat mengantuk karena semalam juga telat tidur akibat membuat semua tugas yang akan dikumpulkan dalam minggu depan.
__ADS_1
Bree sebenarnya juga sudah mengantuk, tetapi karena Frenya membawa dia mengobrol terus sehingga kantuk Bree menjadi hilang. Bree semalam juga begadang karena harus menyiapkan tugas selama satu minggu mereka tidak akan pergi ke kampus.
"Bree, kamu tau kalau Argha ada yang deketin dan namanya sama dengan nama Uni?" tanya Frenya kepada Bree yang tepat berada di sebelah Frenya.
"Tau Uni. Tapi ya gitu Argha nggak mau sama sekali. Jangankan untuk mendekati tu cewek, didekati aja Arga lari" ujar Bree menjawab pertanyaan dari Frenya.
"Kok bisa?" tanya Frenya penasaran mendengar jawaban dari Bree.
"Ya bisalah Uni. Argha kan memang nggak mau di deketin sama cewek yang agresif kayak Frenya itu" jawab Bree dengan polosnya.
"Tunggu dulu sebelum Uni masuk ke pertanyaan berikutnya. Uni tau cerita ini dari siapa? Argha yang cerita nggak mungkin" ujar Bree penasaran dari siapa Frenya tau tentang masalah seorang wanita yang suka sama Argha.
"Adalah yang ngasih tau. Makanya Uni tanyak sama kamu. Kalau tanya sama Argha, biro boro dijawab malahan nanti Argha ngomong Uni kepo" ujar Frenya yang sangat hafal dengan gaya adik bontot nya itu.
"Apa Uda Daniel dan Uni Rani juga tahu?" tanya Bree sambil menatap kearah Frenya.
Frenya mengangguk
"Nggak ada yang bisa disumpetin apa yang terjadi di luaran sana dengan keluarga Soepomo dan Wijaya, Bree" ujar Frenya sambil geleng geleng kepala.
"Iya Uni, aku ngerasain juga." ujar Bree yang kemana mana selalu dilihatin orang karena dia sangat dekat dengan Argha.
"padahal aku bukan keluarga inti Soepomo. Tapi ntah kenapa aku terus di tatap seperti itu" ujar Bree menumpahkan perasaannya kepada Frenya.
"Nikmati aja Bree" ujar Argha yang ternyata mendengar apa yang mereka berdua katakan tadi.
Frenya dan Bree berpandang pandangan, mereka berdua menjadi sangat takut kalau Argha mendengar apa yang mereka bicarakan berdua.
"Udah santai aja. Argha nggak marah kok Uni dan Bree ngomongin Argha tadi" ujar Argha sambil tersenyum ke arah Frenya dan Bree.
__ADS_1
"Selamet selamet" ujar Frenya dan Bree kompak sambil mengurut dada mereka.