
Aris dan Ghina berkendara pulang menuju rumah utama. Mereka berdua membatalkan rencana untuk pergi ke markas. Aris sedang tidak berselera untuk melihat wajah orang tua yang telah menipu dirinya, Papi dan sekaligus menjadi penyebab kematian ibu kandung Aris.
Ghina sampai di rumah langsung menuju dapur untuk memasak makan malam mereka. Sedangkan Aris memilih untuk beristirahat di kamar, dia benar benar lelah sehari ini, begitu banyak kejutan kejutan yang datang menghampiri Aris. Aris terlelap akibat lelah. Dia benar benar capek, baik pikiran maupun perasaannya.
Ghina selesai memasak tepat pukul lima sore. Argha dan Frenya masih belum kembali dari markas. Ghina yang merasa sudah gerang pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Saat dia masuk ke dalam kamar dilihatnya suaminya masih tidur nyenyak.
"Ya Tuhan masih tidur juga dia baru." ujar Ghina melihat suaminya yang masih setia memeluk guling.
Ghina masuk ke dalam kamar mandi. Dia mulai membersihkan badannya. Ghina menggosok seluruh tubuhnya sampai bersih. Ghina menikmati ritual mandinya.
"Sayang bangun, kamu nggak mandi?" Ghina membangunkan Aris dari tidur sorenya.
Aris menggeliatkan badannya yang terasa lebih enakan itu. Dia melihat Ghina yang sudah rapi.
"Sayang, kamu mandi duluan? Tegaya ninggalin aku sendirian." ujar Aris sambil pura pura cemberut.
"Ye udah dibilangin juga. Nggak mampan sayangku cintaku adegan mangambok dirimu itu. Udah biasa ajalah." ujar Ghina membalas Aris.
"Sana mandi" ujar Ghina sambil meremas sesuatu di balik celana Aris.
"Aw. Geli sayang. Kamu mulai bandel ya." ujar Aris kepada Ghina.
"Sedikit sayang, tapi asik. Hidup dia tuh." ujar Ghina kembali menggoda Aris.
"Sini mau coba ndak??" tanya Aris kembali.
"Ogah mah. Mana mau udah mandi juga. Tapi kalau sebelum mandi tadi ayuk aja." jawab Ghina sambil berlari keluar. Dia tau sudah membangunkan ular bangun. Ghina tidak ingin sore ini berakhir di ranjang.
Ghina turun menuju teras rumah. Dia berencana menunggu Argha dan Frenya di sana. Kedua anaknya itu belum pulang sampai saat ini.
Aris yang juga telah selesai membersihkan badannya berjalan mencari istrinya. Dia melihat Ghina ke dapur, ternyata Ghina tidak ada di sana.
"Bik Imah nampak istri saya?" tanya Aris.
"Sepertinya Nyonya Muda masih ada di teras rumah Tuan Muda. Tadi Nyonya Muda minta diantarkan dua cangkir teh ke sana." jawab Bik Imah yang memang baru saja mengantarkan teh ke tempat Ghina duduk.
"Oke makasi Bik Imah" ujar Aris sambil memberikan senyumnya kepada Bik Imah.
"Sama sama Tuan Muda" jawab Bik Imah.
Aris berlalu dari hadapan Bik Imah. Dia pergi mencari istri tercintanya itu. Aris melihat Ghina sedang duduk santai di kursi yang ada di teras rumah mereka. Aris memeluk Ghina dari belakang.
"Is mulai dah tu." ujar Ghina sambil mengecup tangan yang memeluknya itu.
"Hahahahaha. Kamu lagi ngapain?" kata Aris sambil meletakkan dagunya di atas pundak Ghina.
"Ne lagi nungguin Argha dan Frenya. Mereka masih belum kembali dari markas." jawab Ghina sambil membelai kepala suaminya.
Aris melihat sebuah paket yang dibalut oleh lakban putih. Aris menatap lama paket itu.
__ADS_1
"Apa itu sayang?" ujar Aris yang penasaran dengan isi kardus tersebut.
"Ini kiriman rendang dari Mak Itam untuk Rani. Dia ngidam rendang katanya kemarenkan ya." jawab Ghina
"Apa ada rendang belutnya?" Aris dari kemaren kemaren menginginkan rendang belut.
"Nggak tau juga. Aku belum buka kok ya." kata Ghina sambil mengambil paket yang diletakkan di atas meja oleh satpam yang mengantar.
"Buka aja sayang." Ghina meminta Aris untuk membuka paketnya itu.
Aris mengambil paket tersebut. Dia membuka paket itu menggunakan gunting.
"Semangat kali sayang?" ujar Ghina mengejek Aris yang sangat bersemangat membuka paket itu.
"Harus semangat sayang. Makanan nikmat ini." jawab Aris yang luar biasa semangatnya itu.
"Yeyeyeyeye. Aku paham yang nggak pernah makan rendang lagi." lanjut Ghina mulai menjahili Aris.
"Pernah sih sayang. Tapi nggak senikmat rendang ini. Kalau ini nikmat banget. Kelapanya nggak pelit, bumbunya lengkap, apalagi rendang belut, semua daun daunnya lengkap." ujar Aris dengan semangat.
"Sayang, kamu yakin ada rendang belut di situ?" tanya Ghina yang juga penasaran apakah memang ada rendang belut di dalam paket kiriman Mak Itam.
"Semoga adalah sayang. Aku bener bener pengen. Kalau sampai nggak ada. Aduh betapa kecewanya aku dengan mak itam." kata Aris sambil memegang dadanya yang pura pura kecewa.
Setelah semua plaster terbuka, Aris dengan semangat membuka kotak tersebut. Dia melihat ada beberapa bungkusan rendang di dalam kardus.
"Ini apa sayang?" tanya Aris mengangkat plastik bungkusan rendang.
"Ye masih belum" ujar Aris dengan kecewa.
Aris mengeluarkan kembali satu bungkus rendang yang lain.
"Ini?" tanya Aris lagi.
Ghina menggeleng. Aris cemberut kecewa.
"Ini?" tanya Aris lagi.
Ghina masih menggeleng.
"Ye lah." ujar Aris dengan nada kecewa.
"Sayang yang banyak sarok daun daun itu rendang belut." ujar Ghina mengatakan ciri ciri dari rendang belut.
Aris melihat tiga bungkusan yang lain. Aris tersenyum bahagia. Dua dari tiga bungkusan terakhir ada sampah daunnya.
"Mak Itam emang baik hati. Dia ngasih dua bungkus rendang belut. Oooo uo bahagianya hatiku." ujar Aris dengan semangat, dia luar biasa bahagia karena mak itam membuatkannya rendang belut yang diinginkan dari kemaren kemaren.
"Sayang, nanti kita makan pakai rendang ya." ujar Aris yang semangat karena ada rendang belut.
__ADS_1
"Oke. Makan pake rendang belut, nasi panas panas, pakai kerupuk sama lalapan duduknya di gazebo belakang." ujar Ghina menyebutkan hayalannya.
"Enak juga tu sayang. Ayuk buat nanti di situ." ujar Aris dengan semangat.
Mereka berdua kemudian mengobrol ringan. Membahas masalah masalah yang tidak penting. Tak lama kemudian mobil Frenya masuk ke dalam rumah utama.
"Tu mereka datang" ujar Ghina menunjuk mobil Frenya.
Frenya dan Argha turun dari mobil. Mereka melihat Daddy dan Bunda sudah menunggu mereka di teras rumah.
"Gha apa kita pulang kemalaman ya Gha??? Tu udah ditunggu sama Daddy dan Bunda." ujar Frenya sambil melihat jam tangannya.
"Nggak. Mereka hanya penasaran aja sama kita berdua. Apalagi Bunda, kan nggak bisa ikut tadi tu." ujar Argha yang tau apa alasan Bundanya menunggu di depan rumah.
"Sori Daddy, Bunda. Ada apa ini?? Kok sampe menunggu kami depan rumah?" tanya Frenya yang penasaran.
"Duduk dulu." ujar Aris.
Frenya dan Argha duduk di kursi depan Aris dan Ghina.
"Jadi tadi kalian apain itu Nyonya?" tanya Aris dengan nada santai tetapi mengandung kemarahan.
"Kami nggak dapat jatah Dad." jawab Argha dengan kesal.
"Kok bisa Gha?" tanya Aris penasaran.
"Ceritanya panjang banget." ujar Argha.
"Cerita aja Gha!" perintah Ghina.
"Nanti ajalah Bun. Kami panas ini mau mandi. Pas ada Atuk aja, jadi sekali cerita. Nanti Atuk minta cerita lagi, jadi capek kan ya." ujar Argha yang malas memulai ceritanya.
"Ya udah sana mandi, lagian juga udah mau mahgrib. Kita makan malam pindah ke rofttop ya." ujar Ghina yang menyetujui saran suaminya.
Argha dan Frenya menuju kamar masing masing, mereka akan membersihkan badannya dari keringat dan debu jalanan.
Papi yang baru pulang dari perusahaan menatap Aris dan Ghina yang duduk di teras rumah.
"Nunggu siapa?" tanya Papi kepada mereka berdua.
"Tadi nunggu anak anak Pi. Sekarang nunggu Papi." jawab Ghina ngasal.
"Kita makan malam di rofttop Pi." kata Aris.
"Rofttop?" Papi heran dengan perkataan anaknya itu.
"Yup lagi pengen makan di sana Pi." jawab Aris lagi.
"Oh ya udah. Nanti siap sholat Papi langsung ke rofttop." ujar Papi.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan menuju kamar masing masing. Sudah beberapa hari ini mereka tidak sholat maghrib berjamaah, karena permasalahan ang silih berganti datang ke dalam keluarga Soepomo