Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 48


__ADS_3

"Apa kamu benar benar yakin untuk keluar dari mansion ini sayang?" tanya Juan menanyakan sekali lagi keputusan yang diberikan oleh Frenya kepada dirinya.


"Sudah sayang, keputusan aku sudah bulat, aku memilih untuk keluar dari mansion besar ini" jawab Frenya dengan penuh keyakinan.


"Aku tidak akan memikirkannya lagi sayang. Keputusan aku sudah pasti dan bulat, aku memilih keluar dari mansion besar ini" kata Frenya sekali lagi meyakinkan Juan untuk membawanya pergi dari mansion besar itu.


Juan menatap Frenya. Frenya telah memutuskan sesuatu dengan egonya, bukan dengan pikiran sehatnya. Juan tidak bisa membiarkan ini terjadi, Frenya harus berpikir dengan masak atas apa yang akan terjadi karena keputusannya ini.


Frenya melihat keraguan dari Juan dari matanya. Mata elang itu tidak se optimis biasanya.


"Kalau kamu tidak mau keluar dari mansion ini tidak apa apa sayang. Aku akan keluar sendiri" kata Frenya dengan tegas.


Frenya mengambil koper kopernya. Dia memasukkan semua pakaiannya kedalam koper. Frenya memasukkan barang barang yang memang dibutuhkan oleh dirinya, sedangkan barang barang yang tidak dibutuhkan oleh Frenya. Frenya membiarkan saja tetap tertinggal di kamarnya itu.


Juan melihat apa yang dilakukan oleh Frenya. Frenya sudah tida bisa di tahan lagi. Ini sudah keputusan dari Frenya. Juan hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh Frenya.


"Oke sayang, aku akan ikut kemanapun kamu pergi" ujar Juan meyakinkan Frenya kalau dirinya tidak akan membiarkan Frenya sendirian menghadapi apa yang emang terjadi. Kemelut di keluarga Soepomo tidak akan selesai dengan cepat karena Frenya memilih untuk menghindar dari menyelesaikan masalah yang terjadi.


Juan mengambil koper koper miliknya. Juan memasukkan sebagaian pakaiannya ke dalam satu koper. Juan tidak ingin ribet dengan membawa banyak koper. Juan merasa kalau mereka tidak butuh banyak barang, karena mereka bisa membelinya lagi nanti


"Sayang, kenapa kamu hanya membawa satu koper saja?" tanya Frenya saat melihat Juan hanya memasukkan pakaiannya dalam satu koper.


"Kita hanya butuh satu koper saja sayang, bahkan kita sebenarnya tidak butuh membawa barang barang kita pergi dari mansion ini. Kita bisa membeli kembali saat kita berada di tempat baru" kata Juan menjelaskan kepada Frenya kenapa dirinya hanya memasukkan barang barangnya hanya dalam satu koper saja


"Kamu benar juga sayang, kenapa kita harus bawa barang barang. Ini akan semakin membuat mereka semua yakin kalau kita kabur" ujar Frenya yang sudah paham dengan maksud dari Juan yang hanya membawa satu koper pakaiannya saja.


"Jadi, mau kamu bagaimana?" tanya Juan sambil melihat ke arah Frenya.


"Aku tidak akan bawa barang apapun dari sini" Kata Frenya kembali mengeluarkan pakaian pakaiannya dari dalam koper.


Frenya menaruh semua pakaiannya di tempatnya semula. Juan yang melihat apa yang dilakukan oleh Frenya melakukan hal yang sama dengan istrinya yang sedang emosi ituitu, Juan menaruh kembali semua pakaiannya yang tadi sudah dimasukkannya ke dalam koper. Juan menata semuanya di tempat dia mengambil pakaiannya tadi.


Setelah menaruh kembali semua pakaiannya ke tempat semula. Frenya menelentangkan tubuh lelahnya ke atas kasur. Dia tidak hanya capek badan tetapi capek perasaan dan pikirannya.


Dia mengusap lembut perutnya. Dia tadi lupa kalau dia sedang hamil, sehingga Frenya tidak mengontrol emosi dirinya tadi


Juan ikut berbaring di sebelah Frenya. Dia membawa Frenya ke dalam pelukannya. Frenya menyandarkan kepalanya ke dada bidang Juan.


"Maafkan aku karena telah emosi tadi" kata Frenya yang sudah mulai tenang kembali.


"Tidak apa apa sayang. Kamu perlu mengeluarkan semua emosi kamu, supaya itu tidak menjadi beban kepada kamu sendiri" kata Juan yang tidak menyalahkan Frenya atas semua kejadian yang telah terjadi tadi.


"Aku emosi dan melupakan kalau ada anak kita di sini. Ini sudah yang kedua kalinya aku melupakan dia" kata Frenya dengan sedih.


"Aku minta ke kamu sayang, kamu harus selalu mengingatkan aku kalau aku lupa kalau aku ini sedang hamil. Aku mohon kepada kamu sayang" kata Frenya yang tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk kesekian kalinya.


"Iya sayang, aku akan mengingatkan kamu saat kamu emosi kalau ada anak kita di sini" kata Juan sambil tersenyum kepada Frenya.

__ADS_1


Frenya memeluk tubuh suaminya. Suami yang selalu ada untuk dirinya dari dahulu sampai saat ini. Dalam kondisi bagaimanapun Juan akan selalu mendukung Frenya.


"Sekarang Mari kita tidur" kata Juan mengajak Frenya untuk beristirahat.


"Kapan kita pergi dari sini?" tanya Frenya yang ternyata masih mengingat keinginannya untuk pergi dari mansion besar tersebut.


"Kita akan pergi besok pagi. Kamu akan ikut dengan aku ke perusahaan, nanti di perusahaan akan kita pikirkan kita mau kemana" kata Juan sambil terus mengusap kepala Frenya dengan lembut


"Aku serahkan ke kamu sayang. Terpenting aku tidak di mansion ini dulu. Aku ingin tenang" kata Frenya yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.


Kantuk sudah mendera mata Frenya. Frenya sudah mulai menutup matanya. Juan masih setia dengan usapan di kepala Frenya.


Sedangkan di kamar sebelah kamar Frenya, sepasang suami istri sedang duduk bersama. Mereka adalah Daniel dan Rani, dua orang anak yang sedang terlibat obrolan serius.


"Menurut kamu apa yang akan dilakukan Frenya sayang?" tanya Rani kepada suaminya itu.


Daniel sangat dekat dengan Frenya. Mereka tumbuh bersama dari kecil, dari Ghina mengangkat mereka jadi anak. Bahkan Daniel dan Frenya satu rumah saat mereka menuntut ilmu di negara E, walaupun jurusan yang mereka ambil berbeda, tetapi Frenya dan Daniel bisa sama sama menamatkan studi mereka bersamaan.


"Palingan Frenya akan pergi dari sini" jawab Daniel dengan tenang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Rani istrinya yang sangat sayang dan dekat dengan Frenya.


"Maksud kamu pergi dari mansion itu kabur sayang?" tanya Rani tidak menyangka saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Daniel kepada dirinya.


"Ya, apa lagi sayang. Frenya akan melakukan hal itu. Aku sangat mengenal Frenya, Frenya sama sekali tidak akan bisa tenang kalau dia belum pergi menenangkan dirinya" kata Daniel menjelaskan kepada Rani bagaimana cara dan sikap Frenya saat dirinya mendapat masalah apa lagi ini berhubungan dengan keluarga besarnya itu


"Apa kamu tidak bisa melarang sayang?" Tanya Rani berharap jawaban yang diberikan oleh Daniel adalah bisa.


"Nana? Bagaimana?" tanya Rani memberikan alternatif orang yang bisa melarang Frenya.


"Sama saja sayang. Nana juga tidak akan bisa mempengaruhi keputusan yang telah dibuat oleh Frenya." kata Daniel menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Rani.


"Kalau dalam pikiran kamu ada nama Argha, maka akan sama juga sayang. Argha juga tidak akan bisa melarang apa yang sudah menjadi keputusan Frenya." jawab Daniel.


Rani terlihat berpikir keras. Frenya benar benar keras menjadi orang, apa yang sudah diputuskan oleh dirinya, maka tidak akan ada orang yang bisa menawar putusannya itu.


"Hanya ada satu orang" kata Frenya dengan nada pelan.


"Maksud kamu Juan gitu?" tanya Daniel yang mendengar apa yang dikatakan oleh Rani sebentar ini.


"Iya sayang" kata Rani berbarengan dengan kepala yang di anggukkan oleh dirinya.


"Aku rasa itu hal yang mustahil sayang. Dalam kondisi Frenya yang sedang berbadan dua seperti sekarang ini, sudah bisa dipastikan kalau Juan pasti akan menuruti apa yang diinginkan oleh Frenya" kata Daniel.


"Aku juga akan sama sayang, kalau aku dalam posisi Juan. Aku pastinya akan menomor satukan kenyamanan istri aku di atas semuanya. Aku akan mengikuti apa yang menurut istri aku nyaman untuk dirinya" lanjut Daniel menjelaskan hal yang menjadi latar belakang Juan menuruti semua keinginan dari Rani.


"Jadi kita harus bagaimana sayang?" tanya Rani yang tidak tau dia harus berbuat apa lagi sekarang.


"Kita hanya bisa memberikan dukungan kepada Nana kalau Frenya pergi dari mansion ini." jawab Daniel yang telah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Frenya memang angkat kaki dari mansion.

__ADS_1


"Emang pernah terjadi?" tanya Rani yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Daniel.


Daniel mengangguk, "aku akan menceritakannta sayang" Kata Daniel.


Daniel kemudian menceritakan pengalaman pahit kehidupan yang dialami oleh keluarga besar Soepomo beberapa tahun yang lampau. Mulai dari kisah dirinya yang dibuang dan dituduh mencuri perhiasan nenek, sampai dengan kisah Argha dan Nana yang harus keluar dari mansion hanya karena Argha autis.


Rani menyimak semua cerita dari Daniel. Rani tidak menyangka sama sekali kalau keluarganya yang terlihat bahagia selalu itu memiliki kenangan buruk yang benar benar buruk. Rani tidak menyangka akan hal itu.


"Itulah keluarga kami sayang. Kami terlihat sangat kuat di luar, sebenarnya kami rapuh. Kekuatan kami ada karena Nana" jawab Daniel.


"Sekarang dengan kejadian seperti yang terjadi semalam, dengan Daddy mengatakan hal yang tidak selayaknya dikatakan oleh Daddy kepada Frenya, sudah bisa dipastikan, tragedi masa lalu itu akan kembali terulang" kata Daniel.


"Aku sebagai yang dewasa harus bisa bersikap di tengah tengah, suatu hal yang susah untuk aku lakukan" lanjut Daniel mencurahkan kepada Rani apa yang sedang dirasakannya saat sekarang ini.


"Akun benar benar tidak tau harus berada di posisi siapa sekarang. Apakah aku harus berada di posisi Frenya atau di posisi Daddy" lanjut Daniel.


Keputusan dari seorang Daniel terlihat sangat jelas sekali saat ini. Daniel benar benar tidak tau lagi harus melakukan apa. Dia hanya bisa termenung saja lagi. Dia sama sekali tidak tau harus melakukan apa apa.


"Sayang, aku sangat yakin kamu pasti bisa" ujar Rani memberikan semangat kepada suaminya itu.


"Aku akan selalu mendukung kamu sayang. Apapun itu keputusan yang kamu ambil" kata Rani sambil menggenggam tangan Daniel.


"Terimakasih sayang. Aku benar benar butuh dukungan dari kamu saat ini" jawab Daniel.


Rani memberikan senyuman hangatnya kepada Daniel. Daniel membalas senyuman dari Rani, tapi senyuman dari Daniel tidak sampai ke mata Daniel.


"Sayang, mari kita istirahat. Besok adalah hari yang membutuhkan banyak energi" kata Rani mengajak Daniel untuk beristirahat.


Sepasang suami istri itu naik ke atas ranjang berukuran sangat besar tersebut. Daniel memeluk Rani. Rani tidak akan bisa tidur kalau tidak menciun aroma Daniel. Dalam sekejap karena letih dan lelah, sepasang suami istri itu tertidur dan di peluk mimpi yang indah


Kemelut keesokan hari sudah akan menunggu Daniel dan Rani untuk pandai pandai menyikapi apa yang akan terjadi besok.


sedangkan Ghina yang tidak tidur di kamarnya malam ini, masih terjaga. Mata tajam dari Ghina sudah bisa menebak apa yang akan terjadi besok. Sedangkan Argha juga masih terjaga. Dia sangat marah dengan Aries yang sama sekali tidak menghargai apa yang telah dilakukan oleh Frenya untuk keluarga besarnya.


"daddy pasti menyesal telah mengatakan hal terkutuk itu kepada Uni" kata Argha sambil menatap fhoto keluarga besarnya.


Fhoto yang diambil saat lebaran tahun ini. Fhoto tersenyum bahagia keluarga Soepomo. Fhoto yang ada di setiap kamar dan ruangan yang ada di mansion besar itu. Fhoto yang akan selalu mengingatkan mereka, kalau mereka adalah keluarga Tapi sayangnya karena keegoisan dari Aries, membuat fhoto itu terlupakan. Azas kekeluargaan yang selama ini dijunjung oleh Ghina hilang ntah kemana hanya karena keegoisan seorang kepala rumah tangga.


"daddy kalau sempat uni melakukan sesuatu di luar nalar, maka akan aku pastikan aku akan pergi dari mansion ini" kata Argha dengan tekad bulat.


"Walaupun Uni bukan kakak kandung aku, tapi kebaikan dan rasa sayang Uni kepada aku melebihi rasa sayang kakak kandung kepada adiknya" lanjut Argha berbicara kepada fhoto yang tergantung tersebut.


"Uni, Uni tidak sendirian. ada aku yang akan selalu menjaga uni." kata Argha.


Argha mengusap foto Frenya. Argha sangat sayang kepada Frenya. Hal ini disebabkan karena Frenya yang selalu ada saat Argha membutuhkan sosok yang selalu mendukung dirinya. Makanya saat Aries mengatakan hal yang membuat Frenya bersedih, Argha menjadi marah kepada Aries. Argha memang selalu membela Frenya.


"Aku akan bertindak setelah apa tindakan yang diambil oleh Uni. Kalau Uni pergi maka aku akan pergi, tetapi kalau Uni bertahan, maka aku juga akan bertahan." Kata Argha yang sudah memutuskan sikap yang akan diambil oleh dirinya.

__ADS_1


Akhirnya semua anggota keluarga tertidur setelah kelelahan. Mereka tidur tidak dalam keadaan nyenyak, mereka tidur hanya karena lelah terjaga.


__ADS_2