
Aris yang sampai di negara U memilih untuk menginap di sebuah hotel yang mewah. Aris tidak tau kalau hotel tempat mereka menginap itu adalah hotel milik Arga.
Setiap pelayan dan karyawan hotel yang melihat Aris menunduk dengan hormat. Malahan saat Aris akan chek in, resepsionis langsung memberikan kamar VIP kepada Aris dan Bram. Sedangkan kamar delux untuk tiga orang karyawan Aris.
Aris dan Bram menuju kamar mereka. Kamar VIP yang di dalam kamarnya terdapat dua buah kamar lagi. Makanya Aris dan Bram ditempatkan dalam satu kamar saja oleh resepsionis.
"Bram, bener bener sopan semua karyawan hotelnya. Masak setiap bertemu kita mereka menunduk terus." ujar Aris dengan nada kagum.
"Sepertinya mereka diajarkan tata krama yang luar biasa oleh pemilik hotel Ris." jawab Bram.
"Gue istirahat dulu. Ngantuk." ujar Aris.
Bram yang penasaran dengan tingkah laku karyawan hotel memilih untuk menghubungi Sari. Dia ingin tau ini hotel apakah sesuai dengan pikirannya atau tebakannya yang salah dan meleset total.
"Sayang udah tidur?" kata Bram menyapa Sari.
"Sayang sekarang di sini siang sayang, aku masih di kantor." ujar Sari menimpali pertanyaan tidak berbobot dari Bram.
"Hahahahahahahaha. Maafkan aku sayang." jawab Bram sambil tersenyum melihat wajah Sari.
"Kamu dimana sayang?" tanya balik Sari.
"Hotel."
Bram kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke sekeliling kamar. Sari tersenyum melihat lukisan yang diperlihatkan oleh Bram kepada dirinya.
"Sayang, kamu menginap di Santika Hotel?"
Bram mengangguk.
"Oh ya sayang, aku penasaran tadi dengan sikap semua karyawan hotel. Mereka selalu mengangguk dengan hormat saat Aris dan aku lewat di depan mereka." ujar Bram memberitahukan kepada Sari.
"Baguslah sayang, itu tandanya mereka menghormati tamu yang datang." lanjut Sari menimpali perkataan Bram.
"Sayang, kalau ini kepada semua tamu oke oke aja. Ini nggak sayang, hanya sama kami berdua saja." jawab Bram yang memang memperhatikan saat mereka menuju kamar.
"Sayang, kamu pengen tau kamu nginap di hotel siapa?" tanya Sari.
Bram mengangguk dengan pasti.
__ADS_1
"Coba kamu cari kaca pembesar sayang. Setelah dapat kamu arahkan kaca pembesar itu di setiap lukisan yang ada, maka kamu akan membaca nama CEO dari hotel itu di lukisan tersebut." lanjut Sari.
"Loh kok tau. Pasti kamu tau siapa yang punya hotel ini." ujar Bram sambil menggoda Sari
"Nggak tau. Sayang aku kerja dulu ya. Kamu istirahat sana" usir Sari yang nggak mau keceplosan masalah hotel.
"Sayang, kamu tau kan ya aku gimana jadi orang? Kita nggak baru kenal kan sayang?" ujar Bram.
"Sayang, coba kamu cari kaca pembesar terus arahkan ke lukisan yang ada di kamar. Kamu akan tau hotel itu milik siapa." ujar Sari memberitahukan bagaimana cara Bram untuk bisa tau siapa pemilik hotel tempat mereka menginap.
"Baiklah, aku akan pergi cari kaca pembesar dulu." lanjut Bram yang sudah penasaran siapa yang punya hotel itu.
"Hati hati di sana sayang. Aku menunggu keputusan mu." ujar Sari sambil memberikan senyum manisnya.
Mereka kemudian sama sama memutuskan panggilan tersebut. Bram langsung pergi keluar mencari kaca pembesar.
Setelah mendapatkan kaca pembesar tersebut, Bram menuju lukisan yang diceritakan oleh Sari. Bram mengarahkan kaca pembesarnya ke arah lukisan.
"Ini serius???? Apa aku nggak salah??" kata Bram.
Bram kembali meraih ponselnya, dia menghubungi Sari kembali. Dia ingin bertanya apakah semua lukisan di hotel ini memiliki gambar yang ada namanya secara tersembunyi.
"Ada apa sayang?" ujar Sari yang kaget kembali mendapatkan telpon dari Bram.
"Sayang, apa semua lukisan di sini ada nama yang aku baca di lukisan kamar?"
"Yup. Semuanya ada namanya. Kenapa kaget?" ujar Sari sambil menahan senyumnya.
"Kagetlah masak nggak. Cuma kok kami baru sadar kalau Gina memiliki aset yanh luar biasa seperti ini." ujar Bram menyuarakan isi hatinya.
"Sayang sayang itu belum seberapa sayang. Saat kalian berdua menemukan mansion Gina, kamu akan lebih terkejut lagi sayang." kata Sari mengutarakan apa yang diketahuinya.
"Mansion? Daerah mana?" tanya Bram lebih lanjut.
"Sayang kamu akan tau nanti. Sepertinya Arga sedang ingin bermain dengan kedua orang tuanya dalam hal ini. Aku nggak bisa ikut lagi sayang." jawab Sari memberitahukan perihal itu.
"Emang ada apa?" tanya Bram kembali.
Sari menceritakan semua kejadian kepada Bram. Termasuk dengan perkataan Arga kepada Gina yang sampai membuat Gina uring uringan.
__ADS_1
"Hahahahahaha, mana ada Aris selingkuh lagi. Malahan sekarang dia seperti orang gila mencari keberadaan Gina dan Arga." ujar Bram tertawa.
"Makanya sayang sekarang ikuti aja permainan Arga. Sepertinya Tuan Muda itu ingin mengerjai kedua orang tuanya." jawab Gina sambil tersenyum.
"Baiklah sayang, aku akan ikuti permainan Arga." jawab Bram sambil tersenyum simpul.
Bram tidak menyangka kalau Arga bisa berbuat hal demikian.
Bram pergi ke kamar tempat ketiga anak buahnya berada, dia membawa kaca pembesar yang tadi di belinya.
Bram mengetuk pintu kamar, Juan yang sama sekali tidak tidur membuka pintu kamar hotel. Dia mempersilahkan Bram untuk masuk ke dalam kamar. Bram langsung saja menuju lukisan yang terdapat di dinding kamar.
Bram mengarahkan kaca pembesarnya ke sudut paling bawah lukisan dan benar saja ada nama yang tertulis di sana sama dengan nama yang ada di lukisan kamarnya.
"Ternyata memang bener." ujar Bram.
"Apa yang bener Tuan?" tanya Juan yang penasaran.
"Kamu lihat ini, nama siapa yang tertulis di lukisan itu?" ujar Bram sambil meletakan kaca pembesar di atas nama yang tersembunyi di lukisan yang ada di dinding.
"Wow, apakah ini yang punya hotel?" tanya Juan.
"Yup, kamu kagetkan? Saya juga kaget tadi." ujar Bram kepada Juan.
"Apa Tuan Aris tau Tuan?" tanya Juan.
"Sama sekali tidak. Jadi jangan kamu katakan kepada Tuan Aris. Saya yakin ini adalah kerjaan dari Arga. Makanya kita diarahkan kenegara U." ujar Bram sambil tersenyum tipis.
"Sepertinya menarik." kata Juan.
Aridan semua rekan nya pergi menuju restoran hotel. Mereka semua makan malam di restoran hotel sambil mendiskusikan kapan mereka akan pergi melakjkan pencarian terhadap Arga dan Gina. Mereka benar benar di kejar oleh waktu.
Arga sebenarnya mau datang ke hotel malam ini juga, tetapi dia tidak punya alasan yang tepat kepada Bundanya. Jadinya Arga menunggu esok hari untuk bertemu dengan Daddy dan Papinya itu.
"Aku harus menyusun rencana agar bisa bertemu dengan Daddy lebih cepat. Aku udah bosan di negara ini. Aku mau pulang, tapi tidak ke rumah nenek lampir itu." ujar Arga sambil berpikir keras.
Setelah memikirkan rencana apa yang akan dilakukannya besok, Arga memilih untuk tidur, dia benar benar lelah dan capek sehari ini.
"Bun, Arga akan bikin Daddy dan Bunda serumah lagi. Arga nggak mau begini lama lama." ujar Arga sambil mengepalkan tangannya menunjukkan kalau dia bisa berbuat untuk kedua orang tuanya itu.
__ADS_1