Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Durian VS Kucuik


__ADS_3

Hari sabtu pagi mereka semua sudah bersiap untuk pergi ke kota Padang. Aris mengemudikan sebuah mobil minibus. Mereka semua menuju bandara untuk pergi ke kota Padang. Mereka akan berlibur di sana selama semalam. Afdhal sudah lebih dahulu pergi ke kota Padang untuk melakukan pekerjaannya. Mereka semua dari kota Padang akan langsung menuju kota S. Mereka akan nginap di kampung asal Gina dan Afdhal.


Penerbangan yang memakan waktu safu setengah jam itu mereka lalui dengan bercerita kesana kemari. Akjirnya mereka mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, setelah mendarat mereka sudah ditunggu oleh mobil jemputan dari perusahaan Wijaya. Mereka kemudian langsung menuju kota S. Perjalanan dari Padang ke kota S memakan waktu sampai tiga setengah jam perjalanan. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang indah.


Gina dan Mira yang duduk berdampingan merasa sangat bahagia. Mereka bisa kembali pergi berlibur bersama, tetapi sayangnya Sari tidak bisa ikut kali ini. Aris, Bram dan Bayu yang duduk dibangku belakang sibuk melihat pemandangan yang ada.


"Loe nggak singgah di perusahaan yang di sini Bay?" tanya Aris kepada Bayu.


"Gue baru balik dari sini dua hari yang lewat. Perusahaan dalam kondisi aman"


Mereka semua tertidur dalam perjalanan yang memakan waktu sangat lama itu. Tak terasa mobil sudah berhenti di sebuah rumah bergaya tradisional yang cukup besar di kota S. Afdhal sudah berdiri di teras rumah menyambut Gina dan sahabat sahabatnya.


Gina dan semua sahabatnya turun dari mobil untuk masuk kedalam rumah. Mereka semua kemudian duduk berselonjor di karpet ruang keluarga.


"Wah asli capeknya." kata Bram


"Asli jauh Dal. Loe dulu berulang kayak gini ke kota Padang?" tanya Aris.


"Sekali seminggu Ris. Tiap hari nggak kuat gue. Jauh bray"


Hari sudah semakin sore. Pelayanan di rumah itu telah memasak masakan khas daerah minang. Aris dan semua sahabatnya langsung makan. Mereka makan dengan sangat lahap karena jarang bertemu dengan masakan minang asli. Semua hidangan di atas meja langsung habis tak bersisa.


"Uda jam berapa kita ke ladang?"


"Siap sholat mahgrib aja Gin. Uda udah minta mak itam untuk membuat pondok di ladang."


aris dan yang lain menyimak pembicaraan antara Afdhal dan Gina. Mereka penasaran dengan Gina menyebut mau ke ladang


"Sayang, ngapain ke ladang?"


"Wah kita akan menunggu sesuatu jatuh dari langit sayang. Kamu akan lihat betapa serunya itu nanti." kata Gina penuh misteri.


Bayu yang asli orang Padang langsung tersenyum mendengar jawaban Gina. Bayu sudah tau mereka akan mengapa nanti di ladang.


"Wah gue udah nggak sabar pengen cepat malam. Gue udah lama tidak mencoba sensasinya." jawab Bayu.


Aris, Bram dan Mira semakin penasaran dengan kalimat Bayu. Mereka bertiga hanya pasrah menunggu malam datang.Mereka yakin Gina atau Bayu tidak akan menjelaskan apa yang akan mereka lakukan di ladang.


Azand maghrib terdengar berkumandang dengan merdunya dari mesjid yang ada di sekitar rumah Wijaya. Mereka semua melakukan sholat maghrib berjamaah. Selesai sholat mahgrib, Gina mengambil perlengkapan untuk digunakan di ladang. Gina juga membawa rantang yang sudah ada kucuik di dalamnya. Gina membuat kucuik itu tadi sore. Buah yang akan menera tunggui itu akan sangat nikmat apabila dimakan dengan kucuik.


Mak Itam memimpin dindepan untuk berjalan ke ladang yang jaraknya sekitar delapan ratus meter di belakang rumah Wijaya. Mereka sebenarnya bisa naik mobil atau motor. Tetapi Gina yang niatnya memang mengerjai Aris mengatakan kalau jalan ke ladang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki saja.


Setengah jam perjalanan mereka telah sampai di ladang. Mak Itam meletakkan obor yang dibawa tadi di setiap sudut pondok yang ada di tengah tengah ladang. Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah pondok pondok yang diteranginoleh obor. Aris dan Bram yang baru kali ini merasakan sensasi seperti itu langsung saja mengutarakan rasa penasarannya.


"Afdhal kita mau ngapain ke sini malam malam begini?" tanya Bram.


"Kak Bram nikmati saja bentar lagi kakak akan tau dan tidak akan menyesal kami bawa kemari."


Bram makin penasaran, Bram menatap ke Bayu dan Bayu pun mengangguk menyetujui ucapan Gina tadi.


"Sayang, kamu janji ya akan memenuhi apa yang aku minta sebagai hadiah kemenangan waktu di Bali." Gina manatap tajam mata Aris. Aris mengangguk.


"Janji" kata Aris. Gina merangkaian jari kelingkingnya dengan Aris.


Tiba-tiba angin berembus dengan keras. Terdengar bunyi.


"bhum bhum bhum bhum bhum" bunyi buah jatuh dari pohon. Anak anak yang tadinya duduk di dalam pondok berlarian keluar. Begitu juga dengan Afdhal, Mak itam, Bayu dan Bram.

__ADS_1


"Awak dapek ciek" teriak seorang anak.


"Awak dapek lo ciek" jawab yang satu lagi.


Sedangkan Afdhal dan Mak itam mendapatkan dua buah. Bram dan Bayu masing masing satu.


"Hanya segitu Uda?" kata Gina.


"Yup. Tadi anak anak kecil itu meminta izin, bileh tidak mereka ikut mencari, Uda jawab boleh." kata Afdhal.


"Emang di sini harus minta izin dulu kalau mau ngambil Dal?" tanya Bram.


"Yup, kalau ada yang nungguin harus minta izin. Tapi kalau tidak maka siapapun bileh mengambil."


Aris yang melihat apa yang mereka tunggui langsung pucat. Dia sudah tau apa yang akan disuruh Gina untuk dilakukannya. Gina yang melihat ekspresi Aris langsung tersenyum.


"Awak bukak kini Non?" kata Mak Itam.


"Bukak sajo mak. Sadonyo." jawab Gina.


Mak Itam dengan lincahnya membuka semua buah yang wanginya sangat semerbak itu. Setelah membuka kulitnya terlihatlah daging buah berwarna kuning. Bram langsung bersorak gembira.


"Yiha, kita di sini sampe pagi aja. Semoga banyak yang jatuh dan bisa di bawa ke ibu kota. Ini buah mahal kalau sampe ibu kota." semangat Bram berkobar.


Gina dan Mira kemudian menghidangkan kucuik yang dibuat oleh Gina.


"Sayang, aku tau kamu tidak suka. Tapi maukah kamu mencoba satu biji saja? Kamu bisa makan dengan kucuik ini." kata Gina sambil mengangkat kucuik yang ada ditangannya kehadapan Aris.


"Kucuik?" Aris heran dengan nama makanan itu.


"Ya, ini adalah beras ketan yang dimasak dengan santan lalu dibungkus daun pisang. Rasanya sangat enak apalagi di tambah dengan buah itu" Gina menjelaskan.


"Mau. Letakkan sini satu buahnya." jawab Aris mantap.


Semua orang menatap tidak yakin ke arah Aris. Aris kemudian mencoba memakan buah itu terlebih dahulu. Ternyata.


"Wah enak sangat. Tidak seperti yang waktu itu dimakan di ibu kota. Ini enak sekali." jawab Aris.


Bram yang mendengar langsung membulatkan mulutnya tidak percaya.


"Ris loe mimpi? Ini buah yang oaling loe benci Ris" kata Bram.


"Ini enak Bram. Dibanding yang waktu dulu dulu sangat itu." jawab Aris.


Gina merasa tidak percaya dengan jawaban Aris. Aris pasti hanya ingin menyenangkan hatinya saja. Tapi Gina tidak ingin merusak moment itu. Dia membiarkan Aris pura pura suka saja. Gina akan ikuti alur permainan Aria.


"Tambah sayang" tawar Gina kepada Aris. Aris menggelengkan kepalanya.


"Tapi katanya enak" ledek Afdhal.


"Enak tapi cukup satu. Dua no" kata Aris.


Saat mereka sedang menikmati buah mahal itu, tiba tiba angin kembali berembus kencang. Terdengar kembali buah tersebut berjatuhan. Kali ini bukan hanya yang berempat tadi yang berlari. Tapi mereka semua juga berlari mencari buah yang jatuh itu.


"Gue dapat" teriak Aris.


"hahahahahaha" mereka semua tertawa mendengar seorang Aris mau ikut mencari buah yang sangat tidak dia sukai.

__ADS_1


Mereka semua mengumpulkan buah yang sangat enak itu. Mereka akan membawanya ke ibu kota. Menjelang oagi buah yang telah terkumpul sampai empat karung. Semuanya akan mereka bawa ke ibu kota.


"Pake apa bawa ke rumah Dhal?" kata Aris. Aris ingat mereka harus berjalan lama saat mau ke ladang tadi malam. Kalau hanya bawa badan saja Aris sanggup. Tapi ini durian empat karung gimana mau bawanya.


"Tenang aja Ris. Tuh mobil pickup nya udah stay" jawab Afdhal sambil menunjuk mobil yang sudah menunggu mereka.


"Kalau bisa mobil kenapa tadi malam jalan kaki?" kesal.Aris.


"Salahin Gina" jawab Afdhal.


Gina yang mendengar namanya disebut langsung memberikan senyum terbaiknya kepada Aris. Aris yang tau Gina mengerjainya hanya menggeleng gelengkan kepalanya, dia tidak percaya Gina bisa melakukan itu.


Mereka kemudian menaikan empat karung durian ke atas mobil pikcup. Setelah semua durian naik, mereka semua juga naik ke atas mobil itu. Sensasi lain yang dinikmati Aris, selain berkejar kejaran berebut durian jatuh tadi malam.


Mereka akhirnya sampai kembali di rumah. Mereka semua kemudian membersihkan diri mereka dan bersiap siap untuk kembali ke Ibu kota. Setelah semua barang siap, mereka makan siang terlebih dahulu. Ternyata pelayan rumah kembali membuat makanan khas minangkabau yaitu gulai durian muda.


Aris yang tidak suka terpaksa makan dengan rendang ayam. Selain Aris mereka semua menikmati makan dengan gulai durian muda. Mereka selesai makan siang, semua barang sudah naik ke atas mobil. Kali ibi mereka harus membawa dua mobil. Satu untuk mereka dan satu lagi untuk semua barang yang harus dibawa ke ibu kota.


"Non, iko, ambo tadi masak gulai durian mudonyo banyak. Tolong baok agiah ka Nyonya yo." kata Pelayan yang memang sudah bekerja lama dengan Nana.


"Nan iko kolak durian. Agiah ka Tuan. Tuan sangaik suko kolak durian." kata pelayan.


Gina kemudian memeluk pelayan mereka yang sangat setia itu. Mereka berdua suami istri yang menunggui rumah besar itu. Makanya rumah yang sudah lama ditinggal tetap terlihat rapi dan bersih, karena sepasang suami istri itu sudah menganggap rumah itu rumah mereka sendiri.


Akhirnya Gina dan semua sahabatnya pergi meninggalkan kota S menuju Padang dan lansgung terbang kembali ke ibu kota. Semua barang sudah berpindah dari mobil ke pesawat. Mereka juga sudah naik ke dalam pesawat. Penerbangan satu setengh jam kembali mereka lalui. Sesampainya di bandara mereka sudah ditunggu oleh mobil masing masing.


"Gue mintak sekarung ya duriannya. Mau gue bikin pancake durian di kafe." kata Bayu.


"Ambil aja kak. Dua juga boleh. Karena Mak Itam menambahnya tadi pagi." kata Gina.


Bayu membawa dua karung durian, Bram juga membawa dua karung.


"Dua karung untuk apa Bram?" kata Aris.


"Papi yang mintak Ris. Kata Papi dan Mami mereka akan begadang durian. Lengkap dengan pelayan rumah" kata Bram.


"Kakak bawa tiga aja kak." kata Gina.


Bram kemudian menaikkan satu karung lagi durian ke atas mobilnya. Aris hanya menggeleng gelengkan kepalanya, melihat tingkah Aris. Afdhal kemudian menaikkan empat karung durian ke atas mobil dan tuperware yang berisi gulai durian mudo dan kolak durian. Setelah selesai menaiki semua barang ke atas mobil. Mobilpun bergerak meninggalkan bandara menuju rumah masing masing.


"Assalamualikum Nana." teriak Gina dari depan pintu.


Nana dan Ayah yang mendengar suara teriakan Gina langsung berjalan ke ruang tamu. Mereka melihat Gina membawa tuperware di kiri dan kanan tangannya.


"Apa itu sayang, dari bau baunya Nana kenal." kata Nana menatap ke arah tentengan Gina.


"Ini dari Tek Tam, Nana. Ini ada gulai durian mudo untuk Nana dan kolak durian untuk Ayah." jawab Gina sambil memberikan satu tentengan kepada Nana.


"Wah. Ayuk ke meja makan kami sudah lapar." kata Ayah.


Nereka kemudian mereka makan dengan masakan yang dibawa Gina dari kota S. Sedangkan durian yang banyak tadi sudah berpindah ke rumah belakang.


"Kamu bawa durian kan Dal?" tanya Ayah.


"Bawa Ayah. Tiga karung. Kami sebenarnya bawa delapan karung. Tiga dibawa Bram karena Tuan Soepimo suka. Dua karung si bawa Bayu."


"Nana, bikin kucuik Na. Besok kita bagadang durian. Ajak semua pelayan di rumah. Jam empat sore kita bagadang durian." kata Ayah.

__ADS_1


Dirumah keluarga Soepomo Papi juga meminta Mami untuk memasak ketan. Mereka akan makan durian bersama pelayan di rumah besok sore.


__ADS_2