Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Fhoto Istri Pertama Atuk


__ADS_3

Semua maid dan Ghina serta Frenya sibuk menyiapkan seserahan yang akan dibawa ke Padang untuk melamar Sari. Sebenarnya Ghina bisa menyewa event organizer untuk melakukan semua ini. Tetapi Ghina menginginkan semuanya dia yang melakukan supaya memiliki kepuasan tersendiri. Apalagi ini adalah acara lamaran adik ipar sekaligus juga sahabat terbaiknya. Makanya Ghina rela melakukan semua itu sendiri. Frenya juga bersedia membantu semua kegiatan. Apalagi setelah lamaran akan dilangsungkan acara pernikahan dan pesta pernikahan Bram dan Sari. Ghina dan Frenya sangat bersemangat melakukan itu semua. Hobby pesta mereka akan tersalurkan dengan adanya pesta pernikahan itu.


Sedangkan Argha yang melihat Bundanya sedang sibuk dengan semua barang barang seserahan itu memilih untuk kembali masuk secara diam diam ke kamar Papi. Argha sangat penasaran dengan wajah dari Nenek kandungnya.


Ghina melihat Argha yang masuk dengan cara diam diam itu. Ghina hanya melihat saja. Dia sudah membebaskan Argha mau ngapain saja di rumah besar itu. Ghina juga sudah tau tujuan Argha masuk kesana adalah untuk mengambil fhoto dari nenek kandungnya.


"Bun, Argha masuk ke kamar Atuk lagi?" ujar Frenya yang melihat Argha masuk ke dalam kamar Papi.


"Biarin aja. Kita harus cepat mendapatkan foto istri pertama Atuk. Setelah dapat baru kita mendatangi orang yang mengaku ngaku jadi istri pertama Atuk itu." ujar Ghina merespon pertanyaan dari Frenya.


"Bun, kok ada ya orang ngaku ngaku sebagai istri Atuk. Apa orang itu nggak takut ketahuan ya Bun?" tanya Frenya sambil menata bunga bunga untuk box hantaran.


"Sepertinya orang itu dicuci otaknya Nya. Makanya dia beranggapan kalau dia adalah istri pertama Atuk." jawab Ghina.


"Aku penasaran lah Bun siapa orangnya yang mau maunya mencuci otak orang dengan perkataan yang nggak bener. Apa tujuannya coba." Frenya terlihat berpikir keras.


"Tujuannya jelas Nya. Harta dan kedudukan. Apalagi cobakan ya. Kamu tau sendirikan status Atuk kamu sekarang!"


"Iya ya Bun. Harta memang terdepan." jawab Frenya.


"Hahahahahaha. Ada ada aja istilah kamu Nya. Tapi bener juga sih." jawab Ghina yang setuju dengan pendapat Frenya.


Argha langsung masuk ke dalam ruang rahasia yang ada di dalam kamar Papi. Argha menghidupkan lampu yang ada di kamar itu. Betapa terkejutnya melihat semua fhoto yang ada di sana. Fhoto fhoto kenang kenangan antara Atuk dengan Neneknya.


Argha terus mengamati semua fhoto yang terpajang di dinding kamar dengan saksama. Argha tidak melepaskan penglihatannya dari semua fhoto itu.


"Wow bener bener cantik. Lebih cantik dari pada nenek lampir." ujar Argha sambil tersenyum melihat foto neneknya itu.


Argha melihat wanita cantik itu selalu tersenyum di dalam fhoto yang masih terpajang. Arga mengamati dengan begitu teliti.


Argha melihat satu persatu fhoto yang terpajang di dinding kamar itu. Argha meraba semua fhoto yang ada.


"Wow Daddy mirip Nenek ternyata waktu kecil." ujar Argha sambil mengamati fhoto Nenek yang berfhoto dengan Daddynya waktu bayi.


Argha baru teringat dengan tujuannya masuk ke ruangan itu setelah selama satu jam sibuk menikmati fhoto fhoto yang ada. Argha mengeluarkan ponselnya. Dia mengambil beberapa gambar neneknya dengan kamera ponselnya.


Setelah mengambil beberapa gambar, Argha melihat sebuah album fhoto yang terdapat di atas lemari yang tidak begitu tinggi. Argha meraih album tersebut.

__ADS_1


Argha membalik halaman utama album fhoto. Ternyata itu adalah album fhoto pernikahan Atuk dan Neneknya.


"Mereka berdua ganteng dan cantik dimasanya." ujar Argha.


Argha kembali melihat lihat fhoto yang ada di album itu. Saat Argha melihat lihat isi album ternyata ada secarik kertas yang terjatu dari dalam album.


Argha membaca tulisan yang tadi terjatuh dari dalam album fhoto.


'Ye baca diari aku ya saat aku tidak lagi bersama dengan dirimu'


Tertanda


Erlin


Bunyi tulisan yang ada di dalam kertas yang terjatuh.


"Siapa Ye?" ujar Argha dengan pelan.


"Apakah Atuk?" tanya Argha lagi.


"Dimana buku diari itu?" ujar Argha lagi.


'Ini semakin rumit aja. Aku harus mencari dimana diari itu di simpan.' ujar Argha masih bermonolog.


Argha mulai menggeledah lemari yang ada di dalam kamar. Setelah menggeledah lemari pakaian, Argha sama sekali tidak menemukan diari itu.


Saat Argha sibuk mencari diari, tiba tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari Ghina.


'Argha keluar. Bentar lagi Atuk dan Daddy akan pulang. Kamu nggak mau ketahuankan?' bunyi pesan yang dikirim Ghina.


Argha melihat ponselnya ternyata hari memang sudah sore. Sudah saatnya Atuk dan Daddynya pulang dari kantor. Argha melipat surat yang tadi ditemukannya. Dia juga mengambil satu lembar fhoto dari dalam album yang telah diletakan oleh Argha kembali ke tempatnya.


Setelah dirasa semua sudah seperti semula, Argha berjalan keluar dari dalam ruangan rahasia itu. Pintu ruangan kembali tertutup. Argha berjalan keluar dari dalam kamar Atuk.


Argha langsung menuju Bundanya yang sedang duduk dengan Frenya dan Rani.


"Loh ni bontot dari mana?" ujar Rani yang melihat kepala Argha ada debunya.

__ADS_1


"Hehehehe" Argha tertawa ringan.


"Gimana Gha ada dapat?" ujar Ghina yang sudah sangat penasaran.


"Menurut Bunda?" tanya balik Argha.


"Pasti dapat. Kamukan rekornya untuk masalah itu." jawab Ghina dengan sangat yakin.


"Benar." kata Argha.


"Nih"


Argha memberikan ponselnya kepada Ghina. Frenya yang duduk tepat di sebelah Ghina ikut ikutan melihat ponsel Argha. Sedangkan Rani yang berada di seberang meja berdiri untuk melihat apa yang ada di ponsel Argha.


"Loh itu bukannya Atuk ya Bun. Kok fhoto nikah tidak dengan nenek lampir?" tanya Rani yang sama sekali belum tau ceritanya.


"Kamu mau tau Ran?" tanya Ghina.


"Iyalah Bun. Masak ndak." jawab Rani.


Ghina kemudian menjelaskan semuanya kepada Rani. Ghina juga menjelaskan ada wanita yang ngaku ngaku sebagai Erlin Soepomo. Serta Mami yang sering ke rumah Erlin Soepomo itu.


"Bun apa mungkin Nenek Lampir ada sangkut pautnya dengan kematian Nenek?" tanya Frenya lagi.


"Menurut Argha juga gitu Nya. Sekarang Argha sedang mengumpulkan buktinya." jawab Argha lagi.


"Nah apakah Fhoto itu sama dengan orang yang ngaku sebagai Erlin Soepomo Bun?"


"Hanya Juan yang bisa buktikan. Juan sudah bertemu dengan Erlin Soepomo. Sedangkan Bunda dan Argha belum." jawab Ghina.


"Kita kemarkas aja Bun." ujar Frenya yang sudah tidak sabar.


"Besok. Sekarang sudah sore. Bentar lagi para lelaki akan pulang dari kantor mereka. Kita harus siap siap." ujar Ghina.


Mereka kemudian masuk ke kamar masing masing untuk membersihkan diri. Sekarang Ghina akan dibantu oleh Frenya. Ditambah lagi hari ini Stefen akan datang dari negara U. Maka lengkap sudah semua orang kepercayaan Ghina.


"Frenya, Argha kita bergerak mulai besok. Stefen akan datang malam nanti."

__ADS_1


"Oke Bun." jawab Frenya dan Argha kompak


__ADS_2