Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Perkataan Mami


__ADS_3

"Sayang perusahaan besok akan mengadakan pesta ulang tahun berdirinya Soepomo Grub. Aku harap kamu hadir besok dan membawa serta ketiga anak kita." ujar Aris sambil memainkan rambut Gina.


"Hah!!!!! Ulang tahun perusahaan???? Kenapa baru ngomong sekarang sayang. Aku belum mempersiapkan baju untuk kita semua. Kamu ngapain baru ngomong coba." ujar Gina yang langsung duduk saat dia loading besok adalah hari ulang tahun perusahaan.


"Hahahahahahahahahaha" Aris tertawa melihat kepanikan Gina.


"Loh kamu malahan tertawa sayang. Seneng banget bikin istri sendiri panik." lanjut Gina sambil manyun ke arah Aris.


"Jangan manyun gitu. Pengen bibirnya digigit?" jawab Aris sambil memajukan bibirnya.


"Tidak tidak tidak. Aku lagi panik karena nggak tau mau pake baju apa. Kamunya pengen main nyosor aja." kata Gina sambil menelentangkan badannya dan melihat ke langit langit kamar.


"Sudah jangan pikirkan hal itu. Kamu pake baju apapun akan tetap cantik." jawab Aris sambil mulai menggoda Gina kembali.


Aris mulai meraba setiap inchi tubuh istrinya itu. Mereka memang sudah agak lama tidak melakukannya. Hal ini bukan karena tidak saling membutuhkan lagi. Tapi karena pekerjaan mereka berdua membuat mereka jarang bisa menikmati surga dunia itu.


Aris kembali menjalankan aksinya. Aris meraba gundukan kembar milik istrinya dengan begitu ahli. Dia meraba dengan gerakan lembut kasar, membuat Gina menjadi mabuk dan menginginkan lebih. Sesuatu yang telah lama terpendam kembali muncul kepermukaan.


"Sayang jadi adik Arga ya?" ujar Gina yang mulai tidak bisa menahan keinginannya.


Aris mulai melepaskan pakaian Gina dan pakaiannya sendiri. Aris menikmati menjadi adiknya Arga, tempat favorit kedua yang diperolehnya dari Gina.


"Sayang aku udah lama nggak begini." ujar Aris.


"Sama sayang, ah" jawab Gina yang sampai dipelampiasannya.


Aris membiarkan Gina menikmati pelampiasannya itu terlebih dahulu. Saat Aris merasakan Gina sudah kembali tenang, Aris mulai kembali kegiatannya.


"Sayang boleh masuk?" tanya Aris kepada istrinya yang bener bener sedang mendamba.


Gina mengangguk menyetujui permintaan Aris. Aris memposisikan dirinya dengan posisi yang pas. Aris memasukan benda keramatnya untuk kembali pulang ke rumah yang sudah lama ditinggalkan Aris karena pekerjaan mereka.


Mereka beradu dengan begitu semangatnya. Ntah berapa kali mereka sampai kepada sesuatu yang membahagiakan itu.


"Sayang, makasih banyak." ujar Aris sambil mencium kening Gina.


"Sama sama sayang." jawab Gina sambil mesuk kedalam pelukan Aris.


Tempat yang paling Gina senangi setelah melakukan kegiatan yang menguras tenaga dan mengeluarkan keringat itu.


"Ayuk tidur. Besok pagi...." ujar Aris sengaja menggantung kalimatnya.


"Besok pagi, besok lagi kita pikirkan ngapain dari sekarang." ujar Gina sambil memeluk suami yang sangat dicintainya itu.


Mereka berdua kembali tidur setelah lelah bertempur.


Malam yang panjang terasa sebentar oleh Gina karena ada gangguan gangguan dari suaminya yang bener bener tidak membiarkan Gina beristirahat sepanjang malam.


"Sayang, masih malam sayang." ujar Gina kepada Aris.


"Udah subuh sayang. Ayuk mandi bersama." ujar Aris sambil mengangkat tubuh gina yang tidak terbalut sehelai benangpun.


Gina hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya. Dia hanya melayani semua kemauan suaminya itu tanpa sekalipun menolaknya.

__ADS_1


Acara mandi yang seharusnya hanya perlu tiga puluh menit menjadi dua jam bagi sepasang suami istri yang sedang kembali membangun keharmonisan itu.


"Sayang aku bener bener lelah karena kegiatan kamu." ujar Gina sambil memeluk suaminya.


"Hahahahaha kegiatan bikin lelah tapi bikin nikmat sayang." jawab Aris sambil membalas pelukan Gina.


Gina mulai kembali menggoda Aris. Aris kaget dengan reaksi Gina.


"Wow. Jangan katakan kalau Nyonya Aris mau lagi." ujar Aris yang kaget dengan kelakuan Gina.


Gina menyambar bibir seksi suaminya. Mereka kembali merengkuh nikmatnya dunia itu. Mereka kembaki bertempur untuk kesekian kalinya dari malam sampai pagi.


"Aku bener bener lelah sayang." ujar Aris sambil tersenyum bahagia.


"Sama sayang" jawab Gina sambil tersenyum.


Mereka berdua kembali membersihkan dirinya masing masing, kali ini Aris maupun Gina tidak ada saling menggoda. Mereka tidak ingin seharian berada di kamar. Apalagi sekarang adalah hari ulang tahun perusahaan.


Gina memakaikan baju suaminya. Dia memasangkan kemeja dan mengikatkan dasi Aris. Setelah itu Gina memasangkan Jas Aris. Gina tersenyum bahagia bisa membahagiakan suaminya hari ini.


Setelah merasa rapi, mereka berdua turun dari kamar menuju ruang makan. Semua keluarga sudah menunggu di sana. Mereka akan sarapan pagi.


"Tumben lama?" ujar Mami kepada Aris dan Gina.


"Gina sakit perut Mi. Jadi berkali kali ke kamar mandi." jawab Aris yang menyalahkan Gina.


"Hah?????" ujar Gina yang tidak percaya dia disalahkan oleh Aris


"Oh. Maaf Mami ya Gin." ujar Mami dengan senyum malu malunya.


Akhirnya sarapan yang mengundang malu bagi Gina selesai sudah. Semua yang pergi kerja sudah berangkat. Begitu juga dengan Arga yang terapinya dipindahkan menjadi pagi hari. Karena malam akan ada acara ulang tahun perusahaan.


"Gin, sini duduk dekat Mami. Ada yang mau Mami bicarakan sama kamu sayang." ujar Mami sambil memukul kursi di sebelah Mami.


Gina menuju tempat duduk Mami. Dia duduk di sebelah Mami.


"Ada apa Mi?" tanya Gina yang penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Mami.


"Nanti malam kita semua akan pergi ke acara ulang tahun perusahaan. Tapi Mami agak ragu dengan......" ujar Mami yang tidak menyelesaikan ucapannya.


"Mami ragu dengan apa mi?" tanya Gina yang mulai penasaran.


"Sebelumnya Mami minta maaf Gin. Mami agak susah menyampaikannya tetapi harus Mami sampaikan kepada kamu. Mami ragu dengan" kata Mami yang kembali tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Mami ragu dengan Arga?" kata Gina langsung ke titik masalahnya.


Mami mengangguk.


"Mami nggak usah ragu. Kami berdua tidak akan pergi kalau Mami takut Arga akan mengacaukan pesta ulang tahun Soepomo grub. Mami tenang saja Mi. Aku tau kok Mi keraguan Mami atas Arga." kata Gina dengan berusaha menampilkan senyum terbaiknya walau hatinya tergores dalam.


"Gin bukan maksud Mami seperti itu." ujar Mami berusaha mengembalikan keadaan.


"Nggak apa apa Mi. Aku akan katakan kepada Aris kalau Arga kurang sehat. Jadi Kami berdua tidak bisa berangkat ke acara itu." ujar Gina dengan kembali berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah Gin. Maaf kalau mami salah berucap sama kamu." kata Mami kemudian. Mami menyesali dengan apa yang sudah terlanjut dikatakannya kepada Gina barusan.


"Nggak apa apa Mi. Arga memang sedang lasak dan jahil. Aku paham kok Mi." ujar Gina yang kemudian kembali diam.


Dia tidak menyangka Mami tidak menginginkan kehadiran Arga di pesta ulang tahun perusahaan. Gina sangat bersedih, apakah kekurangan anaknya akan menjadi batu sandungan anaknya menerima kebahagiaan yang ada. Ntahlah hanya Tuhan yang tau semua rahasia kehidupan ini. Gina hanya berusaha untuk menjalaninya saja lagi.


.


.


.


.


Hari beranjak sore. Semua orang sudah kembali dari rutinitas kerjaan mereka. Papi, Bram dan Aris sudah pulang dari perusahaan begitu juga dengan Frenya dan Daniel.


Gina belum sama sekali membahas masalah yang dibicarakan Mami tadi kepada siapapun di rumah.


"Sayang mana Arga?" tanya Aris kepada Gina saat dia selesai membersihkan badannya.


"Di kamarnya sayang. Sepertinya Arga kurang enak badan." jawab Gina sambil menekur. Dia tidak mau menatap wajah Aris. Gina takut saat dia menatap Aris, dia akan menceritakan semua keluh kesahnya kepada Aris. Gina takut Aris akan sama dengan Mami pendapatnya tentang Arga.


"Ada apa sayang? Sepertinya ada yang mengganggu pikiran kamu." ujar Aris yang melihat gelagat Gina sedikit aneh sore hari ini, berbeda dengan tadi pagi.


"Nggak ada sayang. Aku biasa aja. Kamunya aja yang baper." jawab Gina sambil tersenyum.


"Sekarang pakai baju kamu ya. Kamu harus terlihat sangat keren hari ini." ujar Gina sambil memasangkan dasi Aris.


Aris yang selesai dengan pakaiannya melihat Gina yang masih memakai pakaian rumahan.


"Kamu kenapa tidak tukar baju sayang?" tanya Aris dengan heran.


"Aku dan Arga tidak akan ikut sayang. Arga sedang tidak enak badan" jawab Gina.


Aris yang mendengar Arga tidak enak badan langsung menuju kamar Arga. Betapa terkejutnya Aris saat melihat Arga sibuk bermain. Tidak ada tanda tanda dia sedang tidak sehat. Aris berjalan mendekati anaknya. Aris menarok tangannya di kepala anak bungsunya itu. Aris tidak merasakan tanda tanda Arga tidak enak badan.


"Pati ada sesuatu ini." ujar Aris.


"Suster apa tadi Arga sempat tidak enak badan?" tanya Aris kepada suster yang menemani Arga bermain.


"Tidak Tuan. Tuan muda dari tadi main dengan nyaman. Tidak ada tanda tanda tidak enak badan Tuan." jawab suster.


"Suster tolong mandikan Arga. Kami akan berangkat setengah jam lagi." kata Aris memberi perintah kepada suster.


Aris kembali ke dalam kamarnya. Dia tidak ingin mendesak Gina. Aris yakin ada sesuatu yang membuat Gina menjadi menolak untuk pergi. Padahal semalam Gina semangat untuk pergi dan hanya memikirkan masalah baju saja.


"Sayang, Arga udah sehat. Kita akan tetap pergi berlima sayang." kata Aris dengan tajam dan dingin.


Gina tau kalau sudah nada seperti itu tidak ada yang bisa menolak Aris lagi.


"Baiklah sayang. Aku akan memakai pakaian dulu." ujar Gina yang langsung masuk ke dalam ruang pakaian.


Dia memakai pakaian yang sudah disediakan oleh Aris. Gina tidak lupa merias sedikit mukanya dengan riasan natural saja. Gina tidak suka memakai makeup tebal.

__ADS_1


__ADS_2