
Andai kau tau
Bila tiba ajalmu
Bunyi alarm ponsel Gina dengan nyaringnya. Gina langsung saja duduk dari tidurnya yang panjang dia melihat anaknya masih tertidur dengan lelap. Gina kemudian meraih ponselnya dan melihat jam masih pukul lima pagi. Gina memindahkan kepala Arga dengan perlahan ke atas bantal, tangannya benar benar kram karena dijadikan Arga sebagai bantal untuk tidur.
Saat Gina duduk betapa kagetnya Gina melihat suaminya Aris yang semalam berteriak kepadanya sudah tidur di lantai kamar Arga. Gina menatap tajam lama ke arah Aris.
"Ntah apa yang aku rasakan melihat kamu sekarang Kak. Rasa sakit aku yang aku rasakan malam tadi masih membekas di dadaku. Masih membuat aku sesak." ujar Gina sambil menatap ke wajah Aris.
Gina turun perlahan dari atas kasur Arga. Dia menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Selesai berwudhu Gina menjalankan kewajibannya sebagai seorang umat muslim. Selesai sholat Gina melihat ke arah Aris. Hatinya kembali berkecamuk, antara mau membangunkan Aris dengan membiarkan saja Aris tertidur sehingga tidak menjalankan kewajibannya. Tetapi hati kecil Gina berbisik untuk membangunkan laki laki yang masih berstatus suaminya itu.
"Kak bangun Kak. Nggak sholat subuh." ujar Gina sambil sedikit mengguncang badan suaminya.
Aris sebenarnya sudah bangun dari tadi saat alarm ponsel Gina berbunyi. Tetapi Aris sengaja pura pura tidur untuk meyakinkan dirinya apakah Gina masih marah atau tidak. Ternyata Gina masih marah kepada dirinya.
Aris akhirnya menyerah. Dia kemudian duduk untuk.meregangkan badannya yang sakit sakit karena tidur di atas lantai yang sangat dingin, ditambah dengan ac kamar yang juga dingin. Aris berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia akan mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya.
Selesai sholat Aris tidak melihat Gina lagi di kamar Arga. Aris yakin Gina sudah kembali ke kamar dan menyiapkan baju kerjanya, suatu hal yang selalu rutin dilakukan oleh Gina setiap hari.
Aris membuka pintu kamar, ternyata memang benar, Gina menyiapkan pakaian kerjanya. Tetapi Aris tidak melihat Gina di setiap penjuru kamar yang diperiksa Aris.
"Kemana istriku itu?" tanya Aris kepada dirinya sendiri.
Aris menuju ke lantai bawah. Dia berniat untuk memeriksa dapur. Gina yang sedang memasak sarapan untuk Arga dan untuk keluarga besarmya terlihat sudah selesai mandi dan rapi. Gina meneruskan memasak makanan itu sampai selesai.
"Maid tolong tata meja makan dengan semua sarapan itu. Kalau Nyonya besar bertanya siapa yang memasak, maid jawab saja maid yang memasak bukan saya. Pahamkan maid?" pesan Gina kepada maid.
Gina sudah tau apa yang akan terjadi di meja makan kalau Mami sampai tau siapa yang memasak makanan.
"Baik Nyonya" jawab Maid yang langsung membawa semua hasil masakan Gina ke meja makan dan menata meja tersebut dengan serapi mungkin.
Selesai memberikan instruksi kepada maid, Gina heranjak menuju kamarnya. Dia akan memastikan Aris sudah bersiap siap untuk ke kantor. Tetapi apa yang dilihat Gina tidak sesuai dengan harapannya. Aris kembali tidur sambil memeluk gulingnya. Suatu hal yang membuat Gina heran, Aris tidak tidur di posisi dia biasanya. Aris memilih tidur di posisi Gina biasa tidur.
Gina tidak membangunkan Aris. Dia mengambil kesimpulan kalau Aris tidak akan ke kantor. Gina kembali keluar dari kamar. Dia kembali menyimpan baju kantor milik Aris ke dalam lemari pakaian.
"Arga sudah bangun atau belum ya. Aku mendingan ke kamar Arga saja." ujar Gina.
Gina masuk kembali ke kamar anak semata wayangnya. Dia melihat Arga yang sudah duduk dan sibul bermain dengan huruf huruf yang di bawanya dari rumah sakit.
"Udah bangun sayangnya Bunda?" sapa Gina saat melihat Arga yang sudah mulai sibuk bermain.
Arga mengangguk sambil terus saja menyusun dan menyebutkan setiap nama huruf yang dilihatnya.
"Anak pintar Bunda sedang belajar atau bermain?" tanya Gina kembali.
Gina selalu berusaha mengajak Arga untuk berkomunikasi. Tetapi kadang Arga mau menjawab dan terkadang lebih memilih untuk diam saja.
"Arga sudah mandi?" tanya balik Gina.
Arga sama sekali tidak merespon. Arga tetap sibuk dengan huruf hurufnya. Gina hanya bisa tersenyum melihat kelakuan dari Arga. Dia tau Arga kalau sudah sibuk maka tidak ada yang akan bisa mengganggunya lagi. Gina hanya memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh Arga. Gina harus memastikan tidak ada yang bisa membahayakan Arga nantinya.
.
.
.
Semua anggoya keluarga sudah berada di meja makan. Papi, Mami dan Bram sudah duduk di posisi mereka masing masing. Ketua pelayan juga sudah berdiri di posisinya siap melayani semua penghuni rumah besar itu.
"Pak, panggil Aris dan Gina, sepertinya mereka masih tertidur." perintah Papi kepada ketua pelayan.
Ketua pelayan meminta seorang maid untuk membangunkan Aris dan Gina. Saat memencet pintu kamar Gina, Aris langsung keluar dengan pakaian rumahan.
"Ada apa maid?" tanya Aris.
"Tuan diminta Tuan besar untuk sarapan bersama." ujar Maid.
"Apakah istri saya sudah di meja makan?" tanya Aris yang tidak melihat Gina di kamar mereka.
"Tidak Tuan. Sepertinya Nyonya Muda berada di kamar Tuan Arga." jawab Maid sambil menunduk.
Aris langsung saja menutup pintu dan berjalan ke kamar Arga. Dia membuka pintu kamar Arga dan melihat Gina sedang memperhatikan Arga yang sibuk bermain.
"Sayang, Papi meminta kita untuk sarapan di bawah." ujar Aris kepada Gina.
"Kamu saja yang turun. Aku sedang menemani Arga bermain." jawab Gina sambil menoleh sesaat ke arah Aris.
__ADS_1
"Arga anak sayang Daddy kita sarapan ke bawah mau?" tanya Aris kepada anaknya itu.
Arga spontan menggeleng. Dia sama sekali tidak mau sarapan di meja makan.
"Aku akan meminta maid untuk mengambilkan sarapan kita bertiga dan mengantarkan ke kamar Arga." ujar Aris yang merasakan sikap Gina kembali lebih dingin dari pada biasanya.
Gina hanya membalas dengan anggukan kepala saja. Gina menyetujui ajakan Aris.
Aris kemudian menuju ke dapur. Dia meminta maid membawakan sarapan mereka bertiga ke kamar. Mami yang melihat sebenarnya mau bertanya kepada Aris. Tetapi berhubung ada Papi di meja makan, dia mengurungkan niatnya itu.
"Lebih baik aku diam saja" ujar Mami dengan pelan.
.
.
.
"Sayang, kita ke taman bermain bertiga yuk. Aku sudah lama tidak mengajak kalian berdua untuk menikmati liburan." ujar Aris sambil menatap memohon kepada Gina agar menyetujui ajakannya.
"Arga, Daddy mengajak Arga pergi ke taman bermain. Apakah Arga mau?" tanya Gina kepada Arga yang baru selesai sarapan.
"Au" jawab Arga dengan antusias.
"Baiklah kami berdua akan ikut kamu ke taman bermain." ujar Gina.
Gina pergi memandikan Arga. Mereka berdua berencana sebelum ke taman bermain akan pergi dulu ke toko mainan.
.
.
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Gina duduk di kursi bagian penumpang sedangkan Arga duduk di sebelah Daddynya. Mereka bertiga memakai baju yang serasi yaitu baju santai berwarna putih.
Aris membawa mobil dalam kecepatan sedang. Sepanjang jalan dia berusaha membawa Gina berbicara. Gina hanya membalas dengan anggukan atau terkadang hanya menjawab dengan simpel aja. Sangat jarang yang membawa bicara terlebih dahulu Gina, selalu Aris yang memulai.
"Arga, Bunda sakit gigi?" tanya Aria kepada Arga.
Arga yang fokus dengan setiap gambar baliho tidak menjawab pertanyaan Aris. Dia selalu sibuk menunjuk baliho dan melafalkan beberapa huruf yang diketahuinya.
"Ma E" ujar Arga kepada Gina sambil memegang pipinya.
"Arga keren. Nanti boleh ambil semua mainan Daddy akan bayar." balas Aris yang tidak mau kalah memberikan pujian kepada Arga.
Gina hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Aris.
"Arga, Daddy nggak mau kalah. Kalau Arga mau nanti Bunda belikan satu toko mainan. Arga mau?" tanya Gina yang sengaja mengompori Aris.
Aris merasa senang Gina membalasnya melalui Arga. Aris akan ikut permainan Gina.
"Arga kalau Arga mau, Daddy bisa membuat perusahaan mainan untuk Arga." ujar Aris yang tidak mau kalah.
"Hahahahahaha" Arga mendadak tertawa melihat sesuatu hal yang mengusiknya.
Aris menatap ke arah Gina. Gina hanya mengakat pundahnya saat melihat dan mendengar Arga tertawa lepas itu.
Aris yang penasaran dengan tingkah Arga memberhentikan mobilnya. Dia memundurkan kembali mobil menuju posisi dimana Arga bisa tertawa lepas tadi. Aris dan Gina memperhatikan sekitar mereka. Mereka tidak menemukan sesuatu hal yang bisa membuat mereka tertawa.
"Apa yang Arga ketawakan tadi sayang?" tanya Gina kepada Arga.
Arga menggeleng. Sesuatu yang membuat dia tertawa tadi sudah tidak dilihatnya lagi.
"Terus saja Uda. Sepertinya Arga tadi melihat hanya sepintas saja." ucap Gina yang meminta Aris untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Aris kembali melajukan mobilnya menuju toko mainan di sebuah mall besar di ibu kota. Aris tidak sabar ingin melihat Arga berbelanja mainan. Selama ini karena kesibukannya Aris tidak bisa menemani Arga berbelanja mainan. Hari ini dia sengaja mengosongkan jadwalnya untuk bermain seharian dengan Arga.
Mereka akhirnya sampai di mall yang dituju. Aris turun dari mobilnya. Dia membukakan Gina pintu setelah itu dia membuka pintu untuk Arga. Aris menggendong Arga. Aris menggenggam tangan Gina, mereka bertiga berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam mall.
Gina mulai merasakan nyaman dengan Aris. Dia berusaha menikmati semua perlakuan Aris hari ini. Dia akan mengikuti semua keinginan Aris.
Aris masuk ke dalam tempat bermain anak anak.
"Sayang, kamu mau main apa?" tanya Aris kepada Arga sambil menurunkan Arga dari gendongannya.
Arga menunjuk mainan yang mau dilakukannya.
"Oke sip. Daddy nukarin koin dulu" ujar Aris.
__ADS_1
Aris menuju konter penukaran koin. Dia menukarkan begitu banyak koin.
"Sayang tolong pegang koinnya." ujar Aris sambil memberikan kantong yang berisi koin.
"Wow banyaknya. Kapan habisnya ini sayang." ujar Gina yang melongo melihat begitu banyak koin yang ditukarkan oleh Aris.
"Seharian kita akan berada di luar. Ponsel aku sudah aku matikan. Kamu juga harus matikan ponsel. Pokoknya hari ini adalah hari untuk Arga." ujar Aris tersenyum kepada Gina.
Gina mematikan ponselnya. Dia mulai mengikuti Aris dan Arga.
Permainan pertama yang dicoba Arga adalah permainan pukul monster. Arga memukul sesuka hatinya. Sampai sampai.
Prank. Bunyi kaca pecah. Arga tidak sengaja memecahkan kaca tempat permainan. Seorang manager tempat permainan menuju Arga
"Hay kamu sebagai orang tua seharusnya bisa mendidik anak kamu. Enak saja memukul permainan sampai pecah." ujar manager sambil menoyor kepala Arga.
"Jangan sentuh anak ku." ujar Aris yang naik pitam karena manager sudah berani menoyor kepala Arga.
Gina langsung menggendong Arga. Dia tidak mau Arga dikasari oleh orang lain.
"Bram" teriak Aris memanggil Bram yang selalu ada dimanapun Aris berada.
Bram keluar dari persembunyiannya.
"Loe panggil direktur mall. Loe tau apa yang harus loe lakuin. Berani beraninya dia menoyor kepala anak gue." ujar Aris yang benar benar naik pitam atas kelakuan Manager tersebut.
"Ma" panggil Arga.
"Apa sayang?"
"Ain ntu" tunjuk Arga ke permainan basket yang menarik hatinya.
"Sayang" panggil Gina kepada Aris.
"Bawa aja sayang. Nggak ada yang akan berani memarahi Arga lagi. Aku buat perhitungan dulu dengan manager ini." ujar Aris menatap manager dengan raut wajah yang sudah tidak bisa diartikan lagi.
Gina membawa Arga untuk bermain basket. Mereka bermain dengan riang.
"Permisi Tuan Muda" kata Direktur Mall sambil menundukkan kepalanya kepada Aris.
"Saya mau anda memecat manager ini yang telah berani berkata kasar kepada konsumen." ujar Aris sambil menunjuk dengan tangan kiri manager yang tidak sopan itu.
"Maksud Anda Tuan?" ujar Manager yang tidak paham dengan maksud Aris.
"Bram ceritakan." perintah Aris.
Bram menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Manager itu. Managar yang baru tau anak siapa yang sudah dikasarinya hanya bisa menunduk. Dia sudah tau konsekuensi apa yang harus diterimanya akibat kepongahan dan kekasarannya tadi.
"Saya satu kali lagi mengatakan. Pecat orang yang tidak bisa melayani konsumen dengan baik. Konsumen memang telah melakukan kesalahan. Harusnya bisa berbicara dengan baik. Bukan dengan cara kekerasan seperti itu." ucap Aris yang tidak suka dengan sikap Manager tadi.
Direktur membawa manager ke ruangannya. Sedangkan Aris, Bram, Gina dan Arga melanjutkan acara main mereka. Mereka melewatkan hari sampai maghrib di sana.
"Sayang sudah malam. Kita pulang yuk Nak. Sebelum itu kita singgah membeli mainan untuk anak sayang Daddy ini dulu." ujar Aris kepada Arga.
Arga mengangguk. Sebenarnya dia sudah sangat mengantuk. Tetapi apa mau dikata dia tidak bisa mengungkapkan kantuknya itu.
Arga menarik narik jas yang di pakai Bram. Bram melihat ke arah Arga. Arga mengangkat kedua tangannya ke arah Bram.
"Mau di gendong?" tanya Bram.
Arga mengangguk dengan semangat. Bram menggendong Arga. Mereka menuju toko mainan. Aris mengambil stroler untuk membawa mainan Arga.
Arga yang melihat begitu banyak mainan langsung kembali semangat. Dia mengambil semua mainan yang dia mau. Aris sangat senang melihat Arga semangat mengambil mainan. Dia tidak melarang sama sekali. Apa yang diambil Arga dimasukkan kedalam stroler.
Selesai membeli mainan untuk Arga. Mereka semua masuk ke dalam mobil. Bram masuk kedalam mobilnya sendiri. Dalam mobil Bram penuh berbagai macam mainan milik Arga. Mereka kemudian menuju rumah utama. Arga masih menahan kantuknya. Arga sangat tidak bisa tidur di atas mobil.
Sesampai di rumah, Gina menggendong Arga menuju kamarnya. Dia tau Arga sangat mengantuk. Gina membuka pakaian Arga dan memandikan Arga. Setelah Arga bersih, Gina menidurkan Arga di atas ranjangnya. Tidak butuh waktu lama Arga sudah tertidur.
Setelah yakin Arga sudah tidur, Gina berpindah ke kamarnya. Aris sudah berada di sana dan telah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Sayanh duduk sini bentar." ujar Aris kepada Gina.
Gina duduk di kasur sebelah Aris.
"Maafkan aku karena kemaren berteriak ngomong dengan kamu. Aku benar benar lelag kemaren. Sumpah aku nggak ada maksud untuk marah atau berteriak ke kamu. Maafkan aku sayang." ujar Aris menggenggam tangan Gina.
Gina mengangguk dengan pasti.
__ADS_1
"Jadi nanti malam mantap mantap ya sayang." kata Aris dengan tersenyum jahil kepada Gina.
Gina mengangguk tanda setuju dengan ucapan Aris. Dia juga sangat menginginkan mantap mantap dengan suaminya itu. Mereka sudah lama tidak melakukannya karena pekerjaan dan kesibukan masing masing.