Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Sisa Mu, Makanan Nikmat Ku


__ADS_3

Selama seminggu Gina di rawat di rumah sakit karena pendaharan waktu kejadian Gina mengungkapkan semua kemarahannya. Hari ini Gina sudah diizinkan oleh dokter yang menanganinya untuk pulang ke rumah. Gina begitu senang, karena dia akan beraktifitas lagi.


"Sayang, semua barang barang mu sudah Mami dan Nana siapkan. Sekarang kita sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini" kata Mami dengan nada bahagia. Akhirnya menantu kesayangannya sudah boleh kembali pulang ke rumah.


Hari ini yang menjemput Gina adalah Mami dan Nana. Sedangkan Papi dan Ayah sedang bekerja. Begitu juga dengan Aris, Aris sebisa mungkin menghindar dari Gina. Semua ini demi kebaikan Gina dan calon anak mereka.


Mami, Nana dan Gina berjalan menuju lobby rumah sakit. Sopir sudah menunggu mereka di depan pintu keluar. Tiga wanita pendamping CEO yang sangat disegani itu berjalan dengan santainya menuju lobby. Mereka bertiga sudah terbiasa ditatap kagum oleh orang orang yang berada di sekitar mereka.


Mami duduk di kursi depan samping supir. Sedangkan Nana dan Gina duduk di kursi penumpang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah utama keluarga Soepomo. Gina menikmati perjalanannya. Didalam kepalanya, dia sudah menyusun semua rencana dan semua kegiatan yang akan dilakukannya.


Mereka akhirnya sampai juga di rumah utama. Para maid menurunkan barang barang Gina. Sedangkan Nana langsung pamit untuk pulang, Gina yang lelah masuk kedalam kamarnya. Dia ingin berbaring sampai sore. Mami seperti biasa, dia langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Gina teringat akan orang yang menyakiti suaminya. Gina sadar sebenarnya dia tergologg wanita bodoh. Telah dikhianati suami, tapi tetap mau membalaskan dendam kepada orang yang telah mencelakai suaminya itu. Gina meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Dia harus menghubungi Rudi.


"Hallo Rud?"


"Ya Nona. Ada apa Nona?" tanya Rudi.


"Rud, empat pelaku itu serahkan saja kepada kak Bram. Saya malas mengurusnya Rud. Saya sekarang mau konsentrasi dengan pemulihan saya terlebih dahulu. Kamu tolong kak Bram ya Rud. Kamu harus menuntaskan kasus ini." kata Gina memberikan mandat kepada Rudi.


Maksud Nona, saya harus ikut melakukan penyelidikan terhadap siapa sebenarnya pengkhianat di gank black jack itu?" tanya Rudi meyakinkan dirinya.


"Yup. Kami bantu Bram. Sepertinya gank itu sedang tidak sehat" kata Gina.


"Baik Nona. Saya akan laksanakan perintah dari Nona" jawab Rudi.


Setelah menghubungi Rudi. Gina merebahkan badannya di atas kasur. Dia mau beristirahat sebentar sebelum waktu makan malam datang. Gina langsung terlelap saat kepalanya menyentuh bantal empuk yang sangat dirinduinya.


Gina tidur sangat nyenyak, sampai sampai dia tidak sadar udah jam berapa dan sudah berapa lama dia tertidur. Aris masuk ke dalam kamar, dia melihat Gina tidur dalam damai. Tetapi hari sudah mau pukul setengah enam. Gina sedang hamil, Aris sangat tau Gina tidak akan bisa tidur kalau dia tidak mandi. Aris kembali turun ke lantai bawah, dia menuju kamar Mami.


"Mi, Mami" panggil Aris di depan pintu kamar Mami.


Mami yang mendengar suara Aris langsung membukakan pintu untuk anaknya itu.


"Mi, tolong bangunin Gina, Mi. Gina nggak akan bisa tidur nanti malam kalau tidak mandi sore. Aku nggak mungkin bangunkan dia Mi" kata Aris.


"Kamu megang Gina yang nggak bisa Ris. Manggil anma Gina boleh" kata Mami.


"Mi, Gina kalau nggak diguncang nggak akan bangun dari todur siangnya Mi. Tolong Aris, Mi" kata Aris sambil menarik tangan Maminya menuju kamar di lantai dua.


Mami yang ditarik Aris hanya bisa pasrah saja. Bram yang melihat langsung geleng geleng kepala.


"Jangan mau nolong Mi. Suruh aja dia bangunin Gina. Ginakan istrinya" kata Bram mengompori Mami.


"Eh anak kecil jangan ikut campur urusan orang yang udah bekeluarga" kata Aris.


"Op mau dikasih kartu mati?" tanya Bram memberikan peringatan kepada Aris.


Aris kembali membawa Mami ke kamarnya. Dia tidak mau Mami bertukar pikiran gara gara teriakan teriakan Bram.


"Jangan mau Mi. Dia nggak anak kecil lagi" teriak Bram.


"Bram" kata Mami menegur Bram supaya tidak mebggoda Aris lagi.


"Hahahahahaha" Bram tertawa keras melihat kelakuan Aris yang seperti anak kecil.


Mami kemudian masuk ke dalam kamar Aris. Mami naik ke atas kasur, Mami melihat Gina tidur dengan sangat nyenyak. Sebenarnya Mami tidak tega juga membangunkan Gina, tapi mengingat hari bentar lagi mahgrib makanya Mami harus tega membangunkan Gina.


"Gin, Gina bangun sayang, hari sudah mau maghrib. Kamu nggak akan mandi" kata Mami membangunkan Gina dengan hanya memanggil Gina tanpa mengguncang bahu Gina. Hasilnya nihil seperti yang dikatakan Aris.


"Mami guncang bahunya Mami" kata Aris.

__ADS_1


Mami kemudian mengguncang bahu Gina sambil memanggil nama Gina. Gina yang memang tidak bisa tersentuh saat tidur langsung terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia melihat Mami berada di atas kasurnya. Gina langsung duduk dari posisi tidur.


"Eh Mami. Ada apa Mi?" tanya Gina


"Mandi lagi, udah mau maghrib. Kata Aris, kamu nggak akan bisa tidur kalau nggak mandi sore. Serta kamu nggak bisa dibangunin kalau hanya dipanggil, tapi harus digoyang" kata Mami mengatakan semua hal yang dikatakan Aris saat di pintu kamar tadi.


Gina menatap lama Aris. Aris masih hafal dengan semua yang biasa dilakukan Gina. Aris masih ingat kalau dia bangun harus disentuh. Aris masih ingat kalau Gina harus mandi sore terus, kalau tidak dia tidak akan bisa tidur


"Aris, aku tau sayang mu tulus kepadaku. Tetapi luka yang kamu torehkan begitu dalam membekas dihatiku" kata Gina di dalam hatinya.


"Sana mandi jangan ngelamu." kata Mami menyuruh Gina untuk mandi.


"Mandinya jangan lama lama sayang. Hari udah mau maghrib" kata Aris mengingatkan Gina yang memiliki kebiasaan mandi yang sangat lama.


"Oke. Makasi udah mengingatkan" jawab Gina.


Gina masuk kedalam kamar mandi. Dia berdiri di bawah shower dan menghidupkan kran air hangat. Gina menikmati guyuran air hangat yang menerpa badannya.


"Sayang, udah mandinya. Nanti keburu maghrib" kata Aris dari depan pintu kamar mandi.


Gina mematikan shower, dia keluar berbalutkan jubah mandi sedalam lutur. Gina masuk ke ruang ganti pakaian. Dia memakai dress bawah lutut berwarna putih. Setelah itu Gina menaruh bedak baby diwajah mulus yang cantik. Setelah yakin dengan dandanannya Gina keluar dsri ruang ganti. Dia menuju sofa yang berada di kamar. Gina akan menunggu Aris selesai bersiap. Mereka akan sama menuju lantai bawah untuk sholat maghrib dan makan malam bersama. Gina tidak lupa menyiapkan perlengjapan untuk Aris. Gina walaupun marah, dia tetap melakukan kewajibannya mengurus suami. Aris yang baru selesai mandi, merasa bahagia saat melihat ke arah kasur, di atasnya sudah ada baju yang akan dipakainya. Aris memakai pakaian tersebut, setelah itu dia meraih sarung yang ada ditempat meletakkan alat sholat. Mereka berjalan bersisian turun menuju mushalla.


Para maid dan tukang kebun serta para sopir juga menuju mushalla. Salah satu yang menjadi menarik dari keluarga Soepomo adalah setiap hari wajib sholat berjamaah di rumah. Semua maid dan pekerja lain akan ikut sholat berjamaah setiap waktu ada maupun tidak ada Tuan dan Nyonya Soepomo.


Selesai sholat semua orang di rumah akan makan malam. Keluarga Soepomo akan makan malam di ruang makan. Sedangkan para maid akan makan malam di gazebo belakang. Setiap hari makan malam para maid dan pekerja lain selalu di gazebo itu. Makanya seluruh pegawai di rumah utama sangat kompak dan penuh kekeluargaan.


Mami mengambilkan Papi dan Bram menu makan malamnya. Gina juga melakukan hal yang sama untuk Aris. Bedanya kalau Mami malekukan karena rasa syang dan cintanya kepada Papi dan Bram. Sedangkan Gina melakukan semata mata hanya karena kewajiban istri kepada suami.


Mereka memakan makan malam itu dengan tenang. Tiba tiba saja ketenangan makan malam di rusak oleh Aris yang berlari ke wastefel untuk memuntahkan semua makanan yang sempat masuk ke dalam perutnya. Mami mengejar Aris, Mami meletakkan handuk yang sudah disiram air panas. Mami meletakkan di leher Aris sambil emnekan perlahan lahan. Aris terus saja muntah sampai mengeluarkan semua isi perutnya.


Aris yang sudah merasakan perutnya tidak bergejolak lagi, kembali duduk di kursinya. Dia menatap penuh nikmat ke piring Gina yang berisi makanan Gina. Gina melihat Aris, Gina tau Aris menginginkan makanannya.


"Uda mau makan punya aku?" tanya Gina sambil emnatap ke piringnya.


"Emang nggak jijik? Ini sisa loh?" tanya Gina.


"Nggak" jawab Aris yang langsung mengambil piring Gina.


Aris memakan dengan sangat lahap semua nasi yang berada di atas piring Gina. Semua yang berada di ruang makan menatao Aris dengan tidak percaya. Aris tidak pernah mau memakan makanan punya orang lain, apalagi ini adalah sisa orang.


"Mi, sepertinya Aris benar benar dikerjai anaknya Mi. Tengok itu mana pernah tu anak dari dulu makan sisa orang. Sekarang, Mami tengok sendiri aja" kata Papi ke Mami.


Aris yang kehausan meminum air minum sisa Gina dari gelas Gina. Sesuatu yang juga tidak pernah dilakukan oleh Aris. Aris terkenal sebagai orang yang bersih. Dia nggak pernah melakukan sesuatu seperti yang dilakukannya sekarang. Aris menyelesaikan makannya dengan lahap tanpa ada acara muntah muntah. Gina menatap tak percaya kepada Aris.


"Kamu merasakan mual Ris?" tanya Mami.


"Nggak Mi. Biasa aja Mi" kata Aris sambil mengusap mulutnya dengan lap yang sudah dipakai Gina.


Papi, Mami dan Bram kembali kaget. Begitu juga dengan Gina. Gina tidak menyangka Aris akan menjadi seperti ini. Gina mengusap perutnya. Dia tau ini adalah kemauan anaknya.


Tok tok tok, terdengar bunyi pintu yang diketuk dari luar. Berhubung semua maid sedang makan malam, Bram berdiri membukakan pintu ruang tamu. Ternyata di depan pintu sudah berdiri Rudi dan Alex. Bram sudah kenal mereka.


"Tuan Bram kami akan membantu penyelidikan Tuan terhadap penghianat di kelompok Tuan. Tapi Tuan harus berbohong kepada keluarga Tuan, tentang siapa kami sebenarnya. Jangan sampai keluarga Tuan tau kalau kami adalah anggota Nona Gina" kata Rudi langsung menyampaikan maksud kedatangannya.


"Kalian diminta Gina kesini?"


"Yup"


"Oke. Kalian akan aku perkenalkan sebagai kenalan lama yang baru kembali dari luar negeri" kata Bram.


"Mari ikut saya. Kami sedang makan malam" kata Bram berjalan mendahului Rudi dan Alex.

__ADS_1


"Siapa mereka Bram?" tanya Mami.


"Teman lama Mi. Mereka baru pulang dari luar negeri" jawab Bram.


"Rudi, Alex kenalkan ini keluarga gue. Papi, Mami, kakak gue Aris dan ini Kakak ipar gue bernama Gina" kata Bram memperkenalkan keluarganya.


"Saya Rudi dan ini Alex" kata Rudi memperkenalkan diri mereka.


"Kalian berdua sudah makan?" tanya Mami.


"Sudah Mi." jawab Rudi.


"Ah ayolah makan dulu. Nggak baik, menolah reseki. Makanlah agak sedikit" kata Mami memaksa Rudi dan Aris untuk makan


"Ayuk makan" kata Gina.


"Ayolah dikit aja" ajak Bram yang tau Rudi dan Alex tidak akan menolak perintah Gina.


Rudi dab Alex kemudian mengisi piring mereka dengan makanannyang terhidang di atas meja. Mereka berdua sebenarnya belum makan, mereka sepakat akan makan mie ayam setelah pulang dari rumah keluarga Soepomo. Rudi dan Alex makan dengan santai. Mereka makan hanya untuk basa basi saja. Tetapi saat merasakan rasa makanan yang wah, Alex dan Rudi menyesal mengambil sedikit makanan, Gina yang paham langsung tertawa.


"Hahahaha" tawa Gina tanpa disadarinya keluar dengan keras.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mami


"Ada orang nyesal ngambil makanan sedikit Mi. Ternyata makanan kita sangat enaak dan rasa makanan rumahan" kata Gina menyindir Rudi dan Alex.


"Silahkan tambah nak"


"Udah Nyonya. Kami kenyang." jawab Alex.


"kalau sudah kalian makan. Kita ke ruang kerja Papi" kata Bram kepada Alex dan Rudi


"Ada apa Bram?" tanya Papi yang heran dengan kalinat Bram barusan.


"Pi, kedia sahabat lama aku ini sangat mahir mencari jejak Pi. Aku minta tolong mereka untuk mencari siapa sebenarnya pengkhianat di black jack" kata Bram.


"Oh, kalau gitu mari kita diskusikan sekarang" kata Papi.


Semua laki laki masuk terlebih dahulu kedalam ruang kerja Papi. Mami membersihkan meja makan. Sedangkan Gina menyiapkan minuman dan puding mangga untuk dibawa kedalam ruang kerja Papi.


Para laki laki semangat melakukan diskusi tentang bagaimana melakukan pelacakan terhadap pengkhianat itu. Gina beberapa kali ingin memberikan saran. Tetapi dia berusaha menahan hatinya. Dia akan memberikan saran kepada Alex dan Rudi saja. Mereka berdiskusi hampir selama tiga jam. Setelah selesai Rudi dan Alex pamit untuk pulang. Mereka janjian besok untuk bertemu dengan Bram.


"Gue nggak bisa ikut besok Bram. Ada meeting penting di perusahaan Jaya" kata Aris.


"Sip, Gue aja yang pergi. Loe ikut meeting aja" kata Bram.


"Kami pamit dulu Tuan. Nyonya terimakasih atas makan malam lezatnya. Sebenarnya kami mau nambah tapi malu" kata Alex mengakui rasa ingin nambahnya.


"Hahahaha. Kapan kapan kesini lagi aja. Makan sepuasnya" jawab Mami.


Bram mengantarkan Alex dan Rudi menuju parkiran.


"Terimakasih atas bantuan kalian berdua. Saya dan keluarga mengucapkan terimakasih banyak" kata Bram sambil menundukkan kepalanya.


"Tuan Bram nggak perlu sungkan. Tuan adalah keluarga kami juga. Nona Gina adalah yang selama ini membantu kami. Sekarang saatnya kami membantu Nona Gina." kata Rudi.


"Kami permisi dulu Tuan" kata Alex.


Mereka berdua meninggalkan rumah Soepomo. Bram langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Aris masih berada di ruang kerja. Dia membaca presentasi yangbakan disampaikannya pada meeting besok. Selain membaca semua presentasi, Aris juga ingin mengelak dari Gina. Aris akan masuk saat Gina sudah tertidur


Setelah pukul sebelas malam, Aris beranjak dari ruang kerjanya. Dia menuju kamarnya, saat Aris masuk kedalam kamar, Aris melihat Gina sudah tertidur. Gina meletakkan bantal guling sebagai batas tempat tidur mereka.

__ADS_1


"Sayang marahlah sepuasnya Yang penting kamu tidak jauh dari penglihatanku" kata Aris.


Aris kemudian berbaring di tempatnya. Dia juga lelah. Dia harus tidur cepat.


__ADS_2