
"Apa maksudnya, video gue tadi viral?" ucap Aris dengan geramnya.
"Nih" Afdhal memperlihatkan video yang sudah menjadi trending di media sosial. Aris tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Brak, bunyi pintu yang dibuka kasar dari luar.
"Apa apaan ini" kata Gina sambil menahan emosi nya.
"Aku juga baru tau. Kayaknya ada yang berniat ingin bermain dengan ku" ucap Aris sambil menatap kesal ke arah video di aplikasi itu.
"Afdhal, bisa pinjam laptop loe bentar?"
Afdhal kemudian kemejanya mengambilkan laptop untuk dipakai Aris. Aris mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang kepercayaannya di bidang tekhnologi.
"Jer, loe lihat video viral gue kan?"
"Lihat bos"
"Dalam waktu beberapa menit, loe udah hapus semua jejak digital dan kirimkan orang yang cari masalah dengan gue."
"Siap bos"
Aris kemudian menghidupkan laptop Afdhal. Aris sangat serius mengetikkan huruf huruf di atas kayboard. Gina dan Afdhal melihat dengan biasa saja.
"Ah" teriak Aris.
"Kenapa?"
"Mereka benar benar ingin main main dengan kita sayang."
"Maksud mu?"
"Yup, yang membuat video kita adalah orang suruhan pemilik restoran."
"Ow keren sayang. Mari kita ke sana." ucap Gina sambil menggandeng tangan Aris.
Aris menatap Afdhal
"Sisi lain dari adik gue bro. Loe siap siap aja" kata Afdhal menjawab pertanyaan lirikan mata Aris.
"Hallo Tuan Hendrawan tolong ke restoran Z. Bawa surat pengalihan kepemilikan." kata Gina dengan pongahnya.
Aris terkejut melihat sisi lain dari Gina.
"Siapa sayang?"
"Pengacara sayang."
"Mana bisa kita memiliki restoran itu sayang"
"Bisa. Aku udah mengirim bukti bukti kecurangan restiran tersebut ke pemiliknya."
"Sejak?"
"Tadi. Jangan cerewet sayang. Ayo kita ke sana. Kita temui pemilik restoran itu"
Aris dan Gina turun ke lobby sambil bergandengan tangan. Gina terkejut melIhat Bram sudah berada di dekat mobil. Aris dan Gina masuk ke dalam mobil. Mereka sangat kesal dan marah.
"Wow artis terkenal hari ini" kata Bram yang bermaksud bercanda dengan Aris dan Gina.
__ADS_1
"Ini kesalahan elo juga. Loe yang nggak hati hati mempersiapkan acaranya. Mempersiapkan itu aja nggak becua." ucap Aris yang keceplosan sudah mengatakan kalau Bram yang menyiapkan acara.
"Oooooo. Jadi gitu. Ye lah. Nanti malam tidur di kamar tamu aja sayang." jawab Gina.
Gina kemudian bergeser duduk ke arah pintu. Dia tidak mau berdekatan dengan Aris. Aris sudah menipunya hari ini. Gina sebenarnya tidak marah, Gina hanya ingin melihat seberapa berjuangnya Aris kalau Gina sedang ngambek.
"Gara gara loe".kata Aris menyalahkan Bram.
"Gin" panggil Aris dengan mesranya. Aris berusaha mendekati Gina.
"Stop. Jangan mendekat, atau aku akan turun di sini" ucap Gina yang sudah memegang kunci pintu.
Aris kembali ke kursinya, dia tidak mau mengganggu Gina lagi. Gina tersenyum melihat muka frustasi Aris. Sepanjang jalan hanya ada kebisuan diantara mereka bertiga.
Mereka akhirnya sampai di depan restoran yang mulai rame. Tuan Hendrawan telah menunggu Gina di samping mobilnya. Gina heran kenapa begitu banyak orang. Aris santai saja.
Mereka semua langsung masuk ke dalam restoran dan duduk di sebuah meja. Pemilik restoran yang sudah tau kedatangan mereka menunggu sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka hasil akhirnya akan seperti ini.
"Duduk Tuan Adam.".kata Gina dengan dinginnya.
"Perkenakkan saya Gina Aris Soepomo Wijaya. Saya adalah pemilik baru restoran ini." kata Gina langsung menyampaikan aoa yang perku disampaikannya.
Gina meminta kertas pemindahan kepemilikan kepada Tuan Hendrawan. Gina meletakkan dengan kuat dokumen tersebut di muka Tuan Adam. Gina menatap pengacaranya untuk menjelaskan semuanya.
"Anda berhutang ke bank E senilai 250.000.000 yang ajtuh tempo bulan ini. Anda tidak mampu membayar makanya anda membuat video Tuan Aris dan Nyonya Gina. Pihak bank sudah tau. Mereka menerima pembayaran utang restoran Anda yang dibayar Nyonya Gina. Semua bukti transaksi ada di sini. Semua tindak kejahatan restoran anda juga ada di sini" ucap Tuan Hendrawan dengan tenang.
Tuan Adam menatap tidak percaya ke arah Gina. Dia tidak menyangka sosok yang anggun itu ternyata berjiwa kejam. Tidak kalah kejam dari Aris. Tuan Adam menandatangani pengalihan kepemilikan restoran kepada Gina. Gina dengan tersenyum menandatanganinya.
"Tuan Hendrawan, langsung saja jual kepada pembeli tertinggi. Saya tidak mau mengelola restoran yang sudah busuk ini" kata Gina sambil menyerahkan dokumen kepemilikannya kepada Tuan Hendrawan.
"Siap Nyonya."
Aris kemudian melihat ponselnya, semua berita dan video tadi sudah lenyap dari dua jam yang lalu.
"Perang sesungguhnya baru akan di mulai" kata Bram sambil menepuk pundak Aris.
"Semua gara gara mulut ember loe"
"Hahahahahahaha. Berjuang saudara ku. Aku membantumu dengan doa. Hati hati kalau singa betina mengamuk" ucap Bram sambil tersenyum memberi semangat kepada Aris.
"Terimakasih atas perhatian Mu saudaraku" ucap Aris sambil menatap masam ke Bram.
Mereka bertiga kemudian menuju kediaman keluarga Soepomo. Aris yang mengemudi karena Gina saat keluar dari restoran duduk di depan. Sedangkan Bram duduk dengan tenangnya di kursi penumpang.
"Gin. Besok besok kalau ngambek dari pergi aja duduk depan. Jadikan gue bisa santai duduk di belakang" jawab Bram dengan duduk sambil menyilangkan kakinya seperti bos besar.
"Sayang berhenti" kata Gina.
Aris yang dipanggil sayang langsung menatap bahagia ke arah Gina. Akhirnya dia dimaafkan oleh Gina. Aris langsung saja memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
"Jangan senang dulu. Perang belum di mulai." Gina keluar dari dalam mobil. Dia menuju kursi penumpang.
"Bang turun. Panas duduk depan" ucap Gina menyuruh Bram turun dan kembali duduk di depan.
Aris yang melihat Gina duduk di belakang juga keluar dari mobil dan memberikan kunci mobil dengan baik ke Bram. Aris tersenyum mengejek Bram.
"Jalan Bang. Tapi kita mampir dulu di beberapa tempat. Nanti akan aku kasih tau." kata Gina yang mulai usil akan mengerjai Aris dan Bram. Siapa suruh sekongkol melawan Gina.
Gina melihat mall besar pusat kota yang bukan milik keluarga Soepomo.
__ADS_1
"Berenti di mall itu bang"
Bram langsung masuk dan memarkirkan mobilnya di parkiran mall. Mereka bertiga kemudian masuk kedalam mall. Aris dan Bram memakai kacamata hitam mereka.
"Op, kacamata lepas." kata Gina dengan tatapan tajam.
"Aris sendiri kan Gin. Gue nggak kan." kata Bram yang mulai tau Gina akan usil.
"Nggak lah. Abng yang buka. Uda Aris nggak."
"Hahahahahaha" Aris tertawa melihat Bram yang tidak boleh memakai kaca mata hitamnya.
Mereka bertiga kemudian berjalan masuk kedalam swalayan mall. Gina akan belanja bulanan hari ini.
Gina memberikan satu troli belanjaan kepada Aris. Aris mendorong troli mengikuti Gina. Sedangkan Bram diminta Gina untuk mengambil apapun yang dikatakan Gina.
"Kecap manis" ucap Gina.
Bram mencari kecap manis.
"Ini" kata Bram menyerahkan kecap ke Gina.
"Tau beda manis dengan asin nggak Bang? Tampan tampan, asisten terpercaya tetapi ogeb." kata Gina.
Aris menahan senyumnya. Dia takut tertawa, bisa bisa nanti Gina menyuruh dia untuk mengambil barang barang yang dia nggak tau samasekali. Gina yang melihat Aris menahan tawanya langsung tersenyum.
"Uda, ambilkan kiranti dong. Perut aku masih kram" ucap Gina dengan manja.
Aris yang tidak tau kiranti itu apaan. Langsung saja mencari berkeliling mall. Bram masih sibuk dengan kecap. Sedangkan Gina sudah mengisi troli yang akan dibawa Aris. Gina menambah lagi satu troli belanjaannya. Gina mengisi dengan sayur, ikan dan buah buahan. Aris yang sudah lelah mencari kiranti sekarang mencari pramuniaga.
"Mbak saya mau cari kiranti. Dimana ya?" kata Aris dengan cueknya.
"Nggak salah beli Tuan?" kata pelayan sambil menahan senyumannya.
"Nggak saya memang mau beli kiranti." jawab Aris dengan ngeyel.
"Mari ikut saya tuan." kata pramuniaga dengan memberikan senyumnya.
Aris mengikuti pramuniaga tersebut. Berata terkejutnya Aris melihat apa itu kiranti.
"Itu kiranti tuan" kata pramuniaga.
Aris kemudian mengambil satu krad minuman kiranti yang diminta oleh Gina. Aris membawa dengan menahan rasa malunya, semua perempuan melihatnya yang menjinjing kiranti menahan senyum gelinya. Aris akhirnya melihat Gina sedang berdiri ngantri di kasir dengan ditemani Bram.
"Sayang ini kirantinya" kata Aris dengan jengkel.
Gina dan Bram yang tau kenapa langsung tertawa.
"Panik Nggak. Panik Nggak" kata Bram
"Ya panikla, masak nggak" jawab Aris kesal.
Gina hanya tersenyum saja. Dia puas sudah mengerjai Aris dan Bram.
"Sayang maaf ya. Aku udah mengerjaimu" kata Gina sambil memeluk tangan Aris.
"Aku juga minta maaf sayang. Harusnya kalau kejutan untuk kamu aku yang nyiapin bukan Bram." kata Aris.
Aris kemudian memeluk Gina. Bram terlumihat ingin muntah.
__ADS_1
"Panik nggak? Panik Nggak?" kata Aris.
"Panik la, masak nggak" jawab Bram jengkel