Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri Part + 6


__ADS_3

Frenya merasakan dirinya sangat hangat karena di peluk oleh laki laki yang amat sangat dicintainya itu. Laki laki yang telah memberi warna dalam kehidupannya. Laki laki yang selalu mengingatkan dirinya bahwasanya dia sudah tidak sendiri lagi, melainkan ada seseorang yang juga butuh perhatian dari dirinya. Laki laki yang bisa dijadikan oleh Frenya tempat bergantung hidup selain Daddy, Daniel dan juga Argha. Siapa lagi laki laki itu kalau bukan Juan kekasih hatinya. Suami tercintanya itu.


Frenya menatap wajah damai suaminya yang sedang tertidur pulas tersebut. Frenya memang sangat hobby melihat wajah Juan saat tertidur, ntah apa pula keasikan yang diperoleh oleh Frenya, tetapi setiap melihat Juan tidur Frenya bisa menghabiskan berpuluh puluh menit hanya untuk melihat wajah damai Juan saat tidur tersebut. Sama saat sekarang ini. Frenya masih menikmati wajah damai suaminya, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul lima dini hari. Itulah istimewanya seorang Frenya, walaupun habis olahraga malamnya dengan Juan selesai pukul setengah tiga dini hari, Frenya tetap bisa bangun pukul lima kurang. Frenya memang sangat terkenal disiplin dalam melakukan apa saja dalam hidupnya.


Juan yang merasa ada seseorang yang menatapnya dengan cukup dalam langsung saja membuka mata indahnya itu, mata coklat gelap itu bertemu dengan mata biru zamrud. Juan tersenyum bahagia saat melihat wajah cantik istrinya di pagi ini, sudah empat hari dia tidak melihat wajah cantik ini saat bangun pagi.


"Pagi sayang ku, apa kamu bermimpi indah semalam?" tanya Juan sambil mengangkat tubuhnya dan langsung mengungkung tubuh Frenya di bawah tangan dan tubuhnya.


"Nggak sempat bermimpi sayang ku. aku langsung tidur, karena sudah empat hari tidak tidur di bawah ketiak kamu" jawab Frenya yang memang sangat hobby tidur di bawah ketiak Juan.


"Mulai malam ini aku janji akan selalu membawa kamu kemanapun aku harus melakukan perjalanan bisnis." jawab Juan yang sebenarnya memang sama sekali tidak bisa berpisah dengan Frenya.


"Janji?" tanya Frenya sambil mengedip ngedipkan mata indahnya itu.


"Janji" jawab Juan dengan penuh keyakinan.


Juan menatap jauh ke mata Frenya.


"Apa kamu sudah melaksanakan kewajiban?" tanya Juan.


Juan sebenarnya tahu kalau Frenya belum melaksanakan kewajibannya. Tetapi Juan ingin mendengar sendiri dari mulut Frenya.


"Belum sayang. Kamu mandi dulu sana gih, nanti siap kamu baru aku" jawab Frenya sambil menatap ke arah Juan.


"Mending kamu duluan, karena kamu yang akan sangat lama, kan kamu wanita jadi butuh waktu yang lama untuk persiapan"


"Atau kita mandi bersama?" ujar Frenya menggoda Juan dengan ajakan untuk mandi bersama.


"Ajakan kamu sangat menyenangkan dan menggiurkan sayang, tetapi tidak tepat taimingnya" jawab Juan sambil mengambilkan handuk dan jubah mandi Frenya.


"Ligat sayang"


Frenya kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Juan yang melihat jarum jam sudah semakin mendekati angka enam, berjalan keluar kamar dan memilih untuk mandi di kamar mandi Daniel, kamar yang sudah beberapa bulan ini kosong karena Daniel sekarang sedang di negara E menemani Rina yang sedang mengambil kuliah spesialis dokternya di sana.

__ADS_1


Ghina yang baru keluar dari dalam kamar berjalan dengan santai menuju ruang makan, dimana di sana sudah menunggu Argha yang sudah duduk dengan manis di kursinya sambil menatap menu sarapan yang tadi dibuat oleh bibik dengan di bantu Frenya.


"Loh Uni mana Gha?" tanya Ghina saat tidak. melihat Frenya dan Juan berada di ruang makan.


"Belum datang dari tadi Na. Belum bangun kali" jawab Argha sambil melipat koran yang dibacanya dan meletakkan di atas meja.


"Kok tumben tumben nya kayak gini, biasanya dia yang pertama sampai di ruang makan"


"apa dia sakit atau Juan yang sakit?" ujar Ghina menjawab sendiri keraguannya dan juga kekhawatiran karena Frenya dan Juan tidak ada di ruang makan.


"Bik, sini bentar bik" ujar Ghina memanggil kepala pelayan.


"Apa dari tadi Frenya ada turun ke sini?" tanya Ghina ingin memastikan apakah anak perempuannya itu ada turun ke dapur.


"Maaf Nyonya, dari tadi saya tidak melihat Nona Frenya di dapur, malahan biasanya Nona Frenya membantu saya membuat sarapan, tapi hari ini Nona Frenya tidak datang" ujar kepala pelayan menjawab pertanyaan dari Ghina.


"Oh makasi Bik"


Ghina menatap Argha. Argha juga menatap ke arah Ghina.


"Frenya dan Juan belum turun sayang. Tadi aku tanya bibik, Frenya juga tidak turun saat waktu membuat sarapan. Apa dia sakit?" ujar Ghina menyuarakan kekhawatiran nya kepada Aries.


"Aku lihat dulu ke kamarnya ya sayang" kata Ghina sambil berbalik untuk menuju ke kamar Frenya.


"Sayang, kita tunggu lima menit lagi. Kalau dalam lima menit dia tidak datang, maka kamu silahkan telpon ke kamarnya." ujar Aries melarang Ghina untuk datang ke kamar Frenya.


"Kok di telpon?" tanya Ghina dengan nada heran atas perintah yang diberikan oleh Aries kepada dirinya.


"Tentu iya di telpon sayang, anak kamu itu sekarang udah jadi istri orang bukan wanita mandiri yang masih sendirian."


"Apa kamu mau saat kamu masuk ke dalam kamar Frenya, Frenya sedang bergelut hebat dengan Juan?" tanya Aries yang heran melihat Ghina yang terkadang masih tidak paham dengan apa yang terjadi dengan Frenya.


"Huft bener juga" ujar Ghina sambil langsung duduk di kursinya.

__ADS_1


"Sekarang hanya bisa menunggu saja lagi"


Ghina hanya bisa pasrah dengan menunggu anak perempuannya itu turun dari kamar berserta dengan suaminya.


Tepat menit ke empat pintu lift terbuka, Frenya dan Juan bergandengan tangan masuk ke dalam ruang makan.


"Uni kenapa lama sekali?"


"apa Uni tidak tahu kalau aku sudah sangat lapar?" ujar Argha protes kepada Frenya atas keterlambatan Frenya turun untuk sarapan.


"Sorry Argha bontot. Tadi Juan telat bangun, makanya telat turun" jawab Frenya.


Juan menatap ke arah Frenya dengan tatapan kaget karena dia yang dijadikan alasan.


"Alah ngomong aja kalau Uni yang duluan bangun tapi telat mandi terus mesin pengering rambut Uni juga sedikit rusak" ujar Argha yang sudah bisa menebak apa yang terjadi.


"Kok kamu tau kalau mesin pengering rambut Uni sedikit ngadat?"


"Atau jangan jangan kamu......... "


Frenya menatap menyelidik ke arah Argha.


"hay buk jangan mikir macem macem. waktu itu Nana mintak aku supaya minjem sebentar mesin pengering rambut Uni. Nah di situ aku tahu alat itu mulai rusak" jawab Argha yang tidak ingin Frenya berpikiran macem macem tentang dirinya.


"Pikiran kotor" lanjut Argha sambil menendang kaki Frenya di bawah meja.


Aries dan Ghina hanya bisa mengurut dada melihat pertengkaran sederhana dan receh yang dilakukan oleh Argha dan Frenya.


"kalian berdua kalau sudah satu rumah ribut. Beda rumah kangen kangenan, nayak kapan adik pulang, kapan Uni pulang" ujar Ghina sambil mengambilka menu sarapan untuk Aries.


Selesai mengambilkan menu untuk Aries barulah yang lain mengisi piring mereka masing masing. Mereka sarapan dengan damai dan santai.


"Daddy, Nana, aku jalan dulu ya" ujar Argha yang menjadi urutan pertama meminta izin untuk meninggalkan mansion.

__ADS_1


Setelah itu baru Frenya dan Juan. Sedangkan Ghina dan Aries berencana untuk ke rumah sakit hari ini.


__ADS_2