
Gina akhirnya sampai di rumah yang sederhana itu. Untung saja sopir menjemout Gina dengan mobil sejuta umat. Bukan salah satu dari koleksi mobil mewah Ayah dan Afdhal. Sehingga dengan mobil ini dan rumah sederhana semakin membuat penyamaran Gina berhasil. Setelah sampai di depan gerbang rumah. Sopir turun untuk membuka pintu pagar sendiri karena tidak ada satpam di rumah itu. Rumah yang didatangi Gina memang rumah lamanya sebelum Ayah menjadi sukses. Rumah itu sekarang ditinggali oleh sopir kepercayaan ayah Gina.
Mobil yang ditumpangi Gina masuk kehalaman rumah itu. Gina langsung turun dan sempat melirij sebentar ke mobil mewah yang terparkir di seberang jalan dengan mematikan lampu mobilnya. Tetapi Gina masih bisa melihat mobil tersebut berdiri di sana. Gina kemudian masuknke dalam rumah dengan tersenyum lebar.
"Non, mobil yang mengikuti kita tadi masih parkir di seberang jalan Non." Sopir Gina melapor sambil melihatkan cctv yang berada di pagar rumah sederhana itu.
"Biarkan saja pak. Kita tunggu sampai kapan dia mau menunggu di sana."
"Tapi Non. Apa nanti ayah dan nana tidak cemas. Karena non belum pulang juga?" Sopir terlihat cemas dengan keputusan Gina.
"Tenang aja pak. Gina udah beritahukan masalah ini ke uda Afdhal. Jadi bapak tidak usah cemas." Gina meyakinkan sopir ayahnya supaya tidak cemas.
"Baiklah Non. Bapak ke dalam.dulu melihat apakah makan malam kita udah siap atau belum."
"Baik pak." Gina kemudian menselonjorkan kakinya di sofa ruang tamu.
Saat Gina sedang asik beristirahat, sopirnya datang. "Non makan malam sudah siap non. Nona silahkan makan dulu."
"Kita makan bareng saja Pak. Sekalian ajak Bibik. Aku malas makan sendiri." kata Gina.
"Baik Non." Sopir langsung memanggil Bibik yang juga istrinya itu.
Mereka bertiga makan dengan lahap. Tanpa ada suara yang keluar. Selesai makan Gina menonton tv. Saat sedang menonton. Supir mendatangi Gina. " Non jemputan Nona sudah datang."
Gina yang terkejut mendengar jemputannya datang terkejut. "Maksud Bapak?"
"Iya Non. Tadi anak buah Tuan Afdhal datang. Katanya mobil yang mengikuti kita masih terlihat di posisi yang sama. Jadi Tuan Afdhal sendiri yang menjemput Nona. Dengan mobil lain." Sopir menjelaskan kepada Gema.
"Jadi maksudnya uda Afdhal datang sebagai tamu?"
"Iya Nona. Jadi nanti Tuan pura-pura masuk ke rumah dengan temannya. Nanti Nona akan menyamar seperti teman Tuan Afdhal." Sopir kembali menjelaskan.
"Oke baik Pak. Aku paham. Berapa lama lagi uda akan datang?"
"Tuan Afdhal sudah di ujung jalan Nona. Sebemtar lagi akan sampai."
__ADS_1
"Baiklah. Gina nunggu uda di ruang tamu saja." Gina berjalam menuju ruang tamu. Tak berapa lama Afdhal datang dengan seorang pengawal perempuan yang badannya persis seperti Gina.
" Uda. Niat banget sampe harus yang badannya sebesar aku." kata Gina sambil melirik pengawal di sebelah Afdhal.
"Yang lebih niat bukan uda. Tapi noh penguntit kamu. Yang terus aja ngetem di depan rumah. Apa dia nggak bosan ya di situ." Afdhal melihat ke arah luar rumah.
"Itu tandanya adek Uda Afdhal cantik. Makanya penguntit itu sampai rela menunggun sampe tiga jam di luar" Gina berbicara dengan nada sombongnya.
"Wow mulai sombong dia. Kalau gitu kamu tidur di sini aja dek. Nggak usah pulang. Nikmati aja ditunggui seorang penguntit." Afdhal mengejek Gina kembali.
"Dasar Uda nggak ada akhlak. Seneng adeknya dikuntit orang" Gina manyun. Afdhal yang melihat Gina manyun tertawa terbahak bahak.
" Sana kamu tukar baju kamu dulu. Ganti dengan dia." Afdhal menyuruh Gina pergi mengganti bajunya.
Aris
Aris yang curiga dengan kedatangan mobil mewah langsung saja mengambil keputusan untuk mendatangi rumah itu. Tapi sebelumnya Aris sudah menelpon pengawalnya untuk mereka berganti mobil. Aris harus tau siapa sebenarnya Gina malam ini. Aris yakin Gina bukanlah wanita dari kalangan biasa saja. Aris kemudian mengemudikan mobil yang dibawa pengawalnya untuk masuk kedalam rumah itu. Aris langsung saja memarkirkan mobilnya di samoing mobil Afdhal. Aris mengetuk pintu depan rumah itu. Sopir yang mendengar pintundepan di ketuk langsung membuka pintu itu. Afdhal yang duduk di ruang tamu juga berdiri dan langsung berdiri di tempat yang tidak bisa dilihat Aris. Tetapi Afdhal bisa dengan mudahnya melihat Aris. Sedangkan Gina tanpa Aris tau dia sudah pergi lewat pintu belakang. Afdhal sudah mengantisipasi kejadian ini. Dia tau orang yang menguntit Gina pasti melakukan segala cara untuk menemukan Gina.
"Maaf tuan cari siapa ya malam-malam?" Sopir bertanya kepada Aris sambil menatap curiga.
"Maaf tuan, rumah ini bukan rumah tuan Handoko. Tapi rumah saya. Rumah tuan Handoko kalau yang tuan maksud adalah pemilih rumah sakit BMC. Bukan di sini tuan tapi di komplek sebelah. Orang memang sering salah tuan karena nomornya sama." Sopir mengejek gaya kuno Aris.
"Maaf kalau saya sudah mengganggu Bapak. Saya permisi dulu." Kata Aris dengan kesal karena dia sudah melirik kesemua arah tidak menemukan tanda-tanda ada wanita muda tinggal disitu.
Setelah Aris pergi dari rumah itu, Afdhal langsung keluar dari persembunyiannya. Dia tertawa terbahak-bahak. Sopir yang ternyata juga orang kepercayaan ayah Gina heran dengan sikap Afdhal yang tiba-tiba tertawa itu.
"Tuan Afdhal kenapa tertawa dengan sebegitu hebatnya?" kata Hendri.
"Hahahaha. Paman Hendri emang nggak tau siapa Pria muda tadi?" kata Afdhal menatap curiga ke arah Hendri yang sudah berpenampilan sebagai asisten kepercayaan tuan besar wijaya.
"Hahahahaha. Saya sudah tau Tuan Afdhal. Dia adalah Tuan Muda keluarga Soepomo. Tuan Muda Aris Soepomo." kata Hendri dengan yakin.
"Yup. Benar." kata Afdhal tersenyum miring
"Jadi dia yang sudah menguntit Nona Gina?" Hendri yang mulai paham dengan yang terjadi langsung tertawa, Afdhal yang melihat Hendri tertawa juga ikut tertawa.
__ADS_1
"Kalau seperti ini, kelihatannya akan menarik tuan."
"Maksud paman Hendri?" Afdhal serius menyimak apa yang akan dikatakan Hendri.
"Kalau Tuan Muda Soepomo mengetahui siapa Nona Gina. Maka ini menjadi tidak menarik lagi. Kalau Tuan Muda Seopomo tidak tau Gina adalah Nona Muda keluarga Wijaya maka kita akan memenangkan tender dengan kepala tegak. Kalau sempat tau, bisa jadi kemenangan tender kita dengan keluarga Soepomo berdasarkan rasa ingin memiliki Tuan Muda Soepomo." kata Hendri.
Afdhal yang paham langsung mengangguk setuju. "Sepertinya menjelang pengumuman pemenang tender itu. Aris jangan sampai tau siapa Gina sebenarnya. Tapi bagaimana caranya paman?" Afdhal menatao ke orang kepercayaan ayahnya.
"Sepertinya kita memang harus menjauhkan Nona Gina dari Tuan Aris."
"Tapikan Aris menetap di ibo kota Pama. Jadi kita tidak perlu menyuruh Gina untuk keluar negeri."
"Tuan Muda lupa ya. Aris adalah Tuan Muda Soepomo. Anggotanya banyak."
"Jadi kita harus berbuat apa paman."
"Begini aja Tuan Muda. Kita minta Nona Gina untuk tinggal di rumah ini dulu. Nanti saya dan sitri saya akan tinggal di sini juga. Jadi saya bisa mengawasi Nona Muda." kata Hendri memberikan solusi.
"Gini aja paman. Lebih baik besok paman ke rumah utama. Kita akan bahas ini dengan Ayah dan Nana serta Gina." Afdhal yang sudah lelah memberikan solusi agar dia bisa pulang dan jadi kaum rebahan.
"Oke. Yuk kita pulang. Paman juga udah capek.."
"Sayang" panggil Hendri ke istrinya.
"Sudah mau pulang yank?" kata Istri Hendri yang juga asisten pribadi Nana.
"Yup. Kita kembali ke rumah utama saja. Kasian Tuan Afdhal kalau bawa mobil sendiri." Padahal karena Hendri malas bangun pagi besok. Makanya dia lebih memilih untuk tidur di rumah utama.
"Paman lebih baik di cek dulu. Sudah aman belum. Mana tau tu penguntit masih ada." Afdhal memberikan pendapatnya.
"Tenang tuan muda. Mereka sudah oergi dari lima belas menit yang lalu." Hendri meyakinkan keamanan kepada Afdhal.
"Oke. mari pulang." Afdhal langsung masuk kedalam mobil dan memilih bangku sampir supir.
"Loh Tuan Muda kenapa duduk disitu?" Hendri menatao curiga Afdhal.
__ADS_1
"Aku nggak mau jadi baygon paman." Afdhal langsung memejamkan matanya. Karena perjalanan akan memakan waktu sejam. Terlihat tiga buah mobil meninggalankan rumah sederhana itu untuk kembali ke rumah utama.