
Leon terbangun saat ia merasa luka ditangannya berdenyut sakit.
Luka tembak di lengannya baru terasa sakit saat efek obat perangsang itu hilang dari tubuhnya.
Leon tidur telungkup dengan tubuh masih polos hanya ditutupi sehelai selimut, setelah pertandingan panas malam itu, ia tertidur pulas sampai pagi dan bangun kesiangan, saat ia menoleh kesamping matanya melotot . Otaknya belum sepenuhnya pulih.
‘Siapa?’
Mata Leon menatap seorang Perempuan yang tidur memunggunginya, tentunya tidur tanpa pakaian sama seperti dirinya. Leon duduk dengan langkah hati-hati, ia menuju kamar mandi menguyur kepalanya dengan air dingin untuk memulihkan ingatannya, memaksa otaknya untuk bekerja, ia mencoba mengingat kejadian malam itu, akhirnya ingatannya pulih.
“Oh, busyet! Apa yang sudah aku lakukan,” ujar Leon mendumal kesal di kamar mandi. Ia merasa gugup saat ia mengingat kalau ia telah melakukannya malam itu.
“Oh, gila, aku menjilat ludahku sendiri, hidupku memang terkutuk, aku sudah berjanji tidak menyentuhnya, tetapi tadi malam .... Justru aku yang mengemis.
Aku akan membunuh si brengsek itu karena membuat hidupku seperti ini,” ucap Leon marah- marah sendiri di kamar mandi.
Dengan cepat Leon menyudahi mandi pagi itu, ia kembali berjalan pelan menuju kamar dan membuka lemari, memilih sebuah kemeja warna coklat dan menutup lemari dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan suara.
Leon merasa bersalah pada Jovita, karena ia berpikir telah mengingkari janji, ia belum siap bertatap muka dengan wanita cantik itu.
Leon berdiri menatap tubuh Jovita yang masih tertidur pulas, tetapi tiba-tiba ia merasa tidak enak, saat ia melihat badan Jovita ada banyak tanda-tanda merah.
“Apa malam itu aku menyakitinya? Mungkinkah aku berlaku kasar, akibat obat sialan itu."
Merasa dadanya sangat panas, saat membayangkan lelaki gondrong itu, ingin memaksa Jovita meminumnya obat perangsang hingga menyebabkan semua ini terjadi, Leon sangat marah.
Ia merasa belum siap bertatapan muka dengan Jovita, Leon memilih meninggalkan Jovita yang masih tertidur pulas. Ia keluar dari kamar menghidupkan ponselnya yang ia matikan dari tadi malam.
Ia menelepon Zidan, ia belum sempat bertanya kedua kabar lelaki itu tadi malam.
“Halo Bos”
“Bagaimana Apa ada masalah?”
“Tidak ada Bos, kami baik-baik saja”
“Bagus, jemput saya di Villa”
“Baik Bos”
Leon bergegas menuju dapur.
“Mau kopi atau susu panas, Pak?” Wanita yang berkerja di bagian di dapur villa tersebut, berdiri di depan Leon dengan sangat hormat.
“Kopi saja”
“Baik Pak.” Wanita bertubuh tambun itu, menyeduh segelas kopi full cream kesukaan Leon dan roti bakar.
Lalu membawanya ke meja di tepi kolam, wanita itu tahu kebiasaan Leon, karena Leon dan ketiga wanita dayang-dayangnya, sering datang berlibur untuk menikmati udara segar di daerah puncak.
__ADS_1
Setelah selesai serapan Leon berpesan pada wanita itu lagi.
“BI, nanti kalau Non Hara belum bangun kira-kira satu jam lagi, bangunkan saja”
“Baik Pak”
“Nanti berikan dia vitamin dan buatkan puding juga"
“Baik Pak Leon”
“Lalu … .” Leon mengosok -gosok ujung hidungnya, ia akan begitu kalau bersikap ragu.
“Iya Pak …. Apa ada lagi?”
“Bibi bisa mengurut?”
“Oh. Bisa Pak”
“Tolong nanti dia urut iya Bi, tadi malam dia terjatuh dari mobil, sepertinya pundaknya terkilir, tadi saya melihat pundaknya biru, lalu untuk mandinya nyalakan pemanas di badhtud dan berikan taburan bunga, dia lebih suka wangi bunga,” ucap Leon hal kecil sekalipun ia tahu tentang kebiasaan Jovita.
“Baik Pak,” jawab wanita itu lagi, untuk pertama kalinya, Leon memperhatikan wanitanya, dengan begitu detail, bahkan hal kecil.
“Baik Pak Leon”
Lalu Leon bergegas menuju landasan belakang, karena ia mendengar suara helikopter.
“Awasi dengan baik, jangan sampai lengah,” ucap Leon pada Ken sebelum ia terbang.
“Baik Bos”
Lalu Leon, berbalik badan lagi dan berucap dengan tatapan tajam.
“Jangan coba-coba menggombal, kalau kamu melakukannya lagi …. Saya akan memintamu mencabuti semua pohon pinus itu, dengan tanganmu sendiri.” ucap Leon.
“Baik Bos,” Ken menunduk, ia kapok dekat-dekat sama Jovita, ia tidak mau mendapat hukuman lagi.
*
Satu jam setelah Leon meninggalkan Villa, akhirnya Jovita bangun, ia merasakan tubuhnya sakit.
“Aduh badanku sakit.” Ia menarik selimut menutupi tubuhnya, matanya tertuju pada noda darah di seprai.
Seprai berwarna putih itu terlihat sangat berantakan ada banyak noda darah yang sudah mengering. Darah dari tangan Leon yang terluka.
“Dia kemana?” Jovita melilitkan selimut ke tubuhnya dan mencari Leon di dalam kamar, tetapi lelaki itu sudah pergi meninggalkan dirinya.
Ia memungut pakaiannya yang berserak di lantai dan masuk ke kamar mandi, ia diam , lalu wajahnya menimang-nimang sesuatu dan tersenyum kecil, ia tidak merasa kesakitan saat jongkok di kamar mandi, tadinya, ia sudah ketakutan duluan.
Bayangan saat pertama kali Leon melakukannya, ia sampai menangis di kamar mandi saat ia ingin buang air kecil dulu, tetapi kali ini, ia merasa tidak sesakit dulu lagi.
__ADS_1
“Iya, iyalah Jovita … kamu bukan perawan lagi, sakit itu saat kamu masih perawan,” ucapnya menertawakan diri sendi.
Ia semakin merasa sangat buruk saat ia tidak melihat Leon disampingnya.
“Jangan bilang kamu pergi begitu saja Pak Leon,” ucapnya tertawa kecut.
Setelah berpakaian Jovita turun.
“Eh, Non sudah bangun, tadi Bibi naik Non masih tidur, Pak Leon berpesan untuk membangunkan Non ke atas,” ujar wanita itu menatap Jovita dari atas sampai ke bawah. Ini pertama kalinya, melihat Jovita.
‘Kenapa Pak Leon sangat peduli padanya, apakah dia mencintai wanita cantik ini?’ Wanita itu membatin.
“Pak Leon ke mana, Bu?”
“Oh dia sudah pulang ke Jakarta Non tadi pagi, saat Non Hara masih tidur”
“Oh baik Bu,”ucap Jovita dengan sopan dan ramah, seketika wajah Jovita langsung berubah.
“Non, sangat cantik ternyata ... saya baru pertama kali melihat Non, kalau wanita-wanita Pak Leon yang lain, saya sudah mengenal semua,” ucap wanita itu sengaja atau tidak sengaja, hal itu membuat Jovita langsung merasa rendah.
“Saya bukan salah satu wanita-wanita Pak Leon Bu,” ucap Jovita tersinggung.
Seketika raut wajah Jovita langsung berubah muram, saat asisten rumah tangga itu berpikir kalau Jovita salah satu dayang-dayang pemuas ranjang Leon.
“Maaf , maaf Non Bibi tidak bermaksud seperti itu,” ucapnya gugup, tetapi Jovita sudah terlanjur tersinggung dengan tatapan dan ucapannya.
Jovita meninggalkan wanita itu masih berdiri dengan wajah bersalah, Jovita masuk kembali ke dalam kamar. Ia duduk di dekat jendela menatap jauh dengan tatapan kosong.
“Aku tahu, tubuhku tidak ada artinya bagimu, mungkin kamu berpikir aku sama seperti wanita- wanita mu meninggalkan setelah puas. Bibi itu juga menganggap ku sama seperti wanita-wanitamu, tetapi tidak bagiku.
Aku menyerahkan tubuhku tadi malam padamu, hanya ingin menyelamatkanmu. Tetapi tidak seharusnya kamu meninggalkanku sendirian tidur di ranjang mu ini .... Ular Naga,” ucap Jovita merasa geram.
Bersambung ….
jANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1