Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Saat Hati dalam Kebimbangan


__ADS_3

Leon masih duduk  di ruangannya, ia hanya ingin mendengar  alasan Jovita bekerja di hotel miliknya.


“Maafkan saya Bu, karena saya salah masuk kamar, itu karena saya kelelahan, saya bekerja dari pagi hingga malam” ucap Jovita.


“Tidak apa-apa, begini … biasanya mba Hara sama Ibunya, kenapa malam itu tidak ikut?”


“Dia bukan ibu saya, Bu, itu pengasuh saya sejak kecil, saya tinggal bersama Bibi dan suaminya dan dua pamanku, kata Pamanku  Ibuku dan Ayahku sudah meninggal,” ujar Hara masih  menyendok salad   buah kemulutnya.


“Kamu gadis yatim piatu?” tanya Hilda, tiba-tiba jadi ia yang merasa iba, memuji keberanian Jovita, ia berpikir Hara hanya wanita yang buta ia tidak menduga ia juga yatim piatu.


“Iya”


“Apa Pamanmu tahu kamu bekerja di sini?” tanya Hilda penasaran. Hal itu juga yang ingin Leon tanyakan padanya.


“Tidak, satu bulan ini, kedua Pamanku lagi ada pekerjaan di Luar Kota, maka itu, aku berani  bekerja, aku ingin membantu mereka, Perusahaan keluargaku lagi ada masalah, jadi belum bisa menghasilkan banyak uang,  saya dan bibi ber-inisiatif cari tambahan, apa ada masalah Bu?” Jovita Hara balik bertanya.


Akhirnya Leon paham kenapa ia bisa masuk ke Hotelnya,


‘Kalau kedua lelaki itu tau ini Hotel punyaku, aku yakin mereka tidak akan membiarkan Jovita di sini.


Apa ini permainan takdir lagi, atau takdir ingin mempermainkan hidupku lagi?  saat aku ingin berusaha melupakan wanita ini, kenapa dia ada di depan mataku saat ini? Kalau sudah seperti, akan sulit bagiku’ Leon  memijit keningnya.


“Tapi aku tidak dipecat’kan, Bu?” Jovita menyisihkan rambut ke kupingnya mendengarkan jawaban dari pertanyaannya.


“Tidak mba Hara, tidak dipecat’kok , tamu Hotel  kami juga senang, mendengar lagu-lagu yang mba Hara nyanyikan,” ucap Hilda.


“Saya juga bisa memasak dan beres-beres Bu, kalau mata saya  sudah sembuh suatu saat nanti boleh aku bekerja di sini?” tanya Jovita lagi,


Hilda melirik Leon, “ Kalau nanti ada lowongan dan mba Hara sudah sembuh bisa saja,”


“Terimakasih Bu, sampaikan maafku sekali lagi sama orang yang kamarnya aku serobot” kata Jovita terlihat menyesal.


“Baiklah akan aku sampaikan, kamu serapan saja dulu, ini pesanannya jus sudah datang, aku menerima telepon dulu, sepertinya ada yang penting di lobby Hotel, saya mau kesana dulu, nanti kalau sudah selesai,  aku akan suruh orang untuk menjemput  mba Hara.”


“Baik Bu”


Tiba- Tiba panggilan masuk ke ponsel Hara.


dr. Methew Calling....!


Hilda membantu Hara mengambil ponsel dari tasnya.


"Mbak Hara telepon dari dr. Methew mau terima apa tidak?" Tanya Hilda.


" Tidak usah Bu biarkan saja"


" Kenapa? dokternya masih muda ganteng lagi"


" Jangan Bu, Om Piter menjodohkanku dengan keponakan temannya"

__ADS_1


Wajah Leon seketika langsung menegang.


"Kenapa tidak mau?" Tanya Hilda meletakkan ponsel Hara di atas meja.


Leon bisa melihat wajah tampan dr.Methew.


" Aku belum siap bertemu orang asing Bu, aku masih takut untuk saat ini. Jangan dulu, mungkin nanti, iya."


"Ok Baiklah, aku tinggal dulu iya"


"Baik Bu"


Hara mengangguk


Hilda meninggalkan ruangan Leon, kini suasananya jadi  hening  hanya ada Jovita dan Leon yang tinggal dalam ruangan. Tangan Hara dengan hati-hati menyentuh menu makanan di atas meja, ini pertama kalinya ia makan tanpa didampingi Bi Ina, baru saja ia mengulurkan tangannya sudah menumpahkan jus jeruk.


"Aisss ...." Hara mendesis putus asa.


Hara terdiam, ia tidak ingin membuat ruangan itu berantakan, tadi malam ia sudah membuat kesalahan karena memasuki kamar  yang salah, ia berpikir tidak ingin melakukan kesalahan kedua kali.


Leon juga masih melihatnya dengan diam, ia tidak  bergerak kalau ia bergerak mungkin Jovita akan  takut karena ia berpikir  hanya ia tadi di dalam ruangan, terlihat jelas rasa ketakutan di wajahnya, ia takut  salah melangkah dan menghancurkan barang-barang yang ia senggol nantinya di ruangan itu.


Tangannya meraba tas jinjing miliknya, mengeluarkan tongkat yang akan ia gunakan,


Ia berpikir lebih baik keluar dari ruangan itu, Leon mengetikkan di ponselnya meminta bantuan pada pegawai Hotel untuk membantu Jovita.


Tapi tiba-tiba Jovita mengenduskan hidungnya.


Hilda datang kembali dengan napas sedikit terengah-engah, ia berlari saat Leon menyuruhnya naik.


“Mba Hara! Ini aku manager Hilda, kenapa serapannya tidak dimakan,  Mbak?”


“Saya tidak ingin menghancurkan gelas dan piringnya Bu, saya tidak bisa melakukanya sendiri biasa saya selalu dibantu, maaf,” kata Jovita jujur.


“OH maafkan aku Mbak Hara,  karena buru-buru aku melupakan keadaan mbak, sini duduklah kembali, aku akan membantumu  untuk serapan lagi”


Jovita terlihat ragu untuk duduk kembali, ia menyadari ada orang lain dalam ruangan itu selain mereka  berdua, saat ia buta hidungnya sangat tajam melebihi tajamnya hidung doggy.


Karena sudah terbiasa, saat di Panti ia bisa mengetahui jenis-jenis bunga dari wanginya, begitu juga saat ini, saat Hilda datang ia  bisa membedakan wangi  Parfum Leon dan Hilda.


“Apa kita bersama orang lain dalam ruangan ini?”


“Ha, kenapa kamu bilang begitu?” Hilda melihat Leon.


“Hidungku tajam, aku  merasa ada seorang lelaki di ruangan ini, dari wangi parfumnya.”


Leon menggeleng, menyuruh Hilda tidak memberitahu keberadaanya.


“Oh… itu wangi pengharum ruangan yang aku gunakan,” Hilda terpaksa berbohong atas permintaan sang bos.

__ADS_1


“Benarkah,? maaf Bu aku salah.”


Jovita duduk kembali menikmati serapan yang disuguhkan  Hilda untuknya, Hilda membantu Leon keluar dari ruangan,


“Hantarkan dia pulang kerumahnya” perintah Leon saat  keluar dari ruangannya , meninggalkan Jovita menikmati serapan paginya dengan tenang di ruangannya, saat Leon berjalan keluar teleponnya berdering.


Bianca calling ….


“Halo”


“Mas Leon, jadi bertemu keluarga saya hari, kan?” tanya seorang wanita di ujung telepon.


Leon berhenti, ia memasukkan satu tangannya ke saku celananya, menarik  napas panjang.


“Mari kita tunda dulu, saya masih  banyak  pekerjaan yang ingin diselesaikan,” ucap Leon.


“Tapi Mas Leon …  ini sudah ketiga kalinya menunda pertemuan keluarga, apa terjadi sesuatu belakangan ini?” tanya wanita itu penasaran.


“Bianca, saya hanya sibuk, nanti  akan kabari lagi kalau sudah selesai pekerjaan saya,” kata Leon.


“Baiklah,saya mengerti”


Wanita itu adalah Bianca, wanita yang belakangan ini dekat dengan Leon,  sering bertemu di acara sosial membuat hubungan keduanya  menjadi dekat.


Leon sendiri yang mengajak Bianca menikah, lelaki dingin itu, tanpa basa-basi mengajak Bianca menikah, setelah merasa cocok, ia tidak ingin pacaran, ia hanya ingin cepat menikah dan memiliki sebuah rumah tangga, itu awalnya keinginan Leon.


Tapi saat Jovita  datang kembali, ia mulai ragu membuat pilihan jalan hidupnya, ia tidak bisa memutuskan dengan mudah, apakah ia akan melupakan masa lalu dan  menjalani hidupnya yang sekarang?


Tapi saat melihat Jovita hari ini, kebimbangan itu muncul kembali. Harusnya hari ini  pertemuan  Leon dengan keluarga Bianca setelah sebelumnya  gagal beberapa kali, tapi kali ini juga ia terpaksa menundanya  lagi.


Karena setiap  orang punya masa lalu dan terkadang tidak mudah melupakannya, baik masa lalu yang indah  maupun yang buruk. Begitu juga dengan Leon, saat ia berusaha keras melupakan perjalanan hidupnya yang buruk di masa lalu, tetapi tidak  semudah yang ia pikirkan.


Tapi hidup tetap berjalan tergantung bagaimana kita menjalaninya. Apakah Leon akan memilih Bianca atau Jovita Hara, wanita yang pernah mengukir kenangan indah dan pahit dalam hidupnya.


Bersambung


KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2