
Leon terpaksa membawa Jovita Hara kembali ke panti, karena di sanalah dia akan aman. Dibantu pengurus pantai, ia mengobati luka di tangannya dan di tangan Hara, wanita cantik nya.
“Maaf bu, saya membawa dia ke sini, saya terpaksa lewat belakang agar anak-anak tidak ada yang melihat,” ujar Leon.
“Apa yang terjadi Pak Leon.” Wajah wanita itu panik melihat luka tangan Hara dan luka di tangan Leon.
“Jangan khawatir kami hanya sebentar di sini, ini musuh masa lalu”
“Apa Orang yang sama yang terlibat dalam kebakaran itu?”
“Iya Bu”
“Oh, itu menakutkan ….” Wanita paruh baya itu ketakutan.
Bayangan dua tahun lalu saat Hara datang ke panti dengan tubuh bermandikan darah membuat wanita itu ketakutan.
“Ibu jangan takut, ini hanya luka kecil,” ujar Hara.
“Ibu hanya mengingat saat dia datang ke sini di bawa kuda putih, tubuh Hara penuh luka, dia terluka parah, aku pikir wanita cantik ini tidak akan hidup saat itu, luka di kepalanya sangat Parah.” Pengurus pantai itu menceritakan bagaimana Hara berjuang hidup menahan luka di kepalanya.
Leon menatap dalam wajah Hara saat mendengar cerita perjuangannya saat ia terluka.
“Terimakasih Bu, karena menyelamatkan mereka,” ujar Leon tulus.
“Itu sudah kewajiban kita untuk saling menolong Pak Leon, Mbak Hara wanita yang sangat baik, tetapi maaf apa dia mau pergi jauh?”
Leon menatap pengawas Panti dengan serius.
“Memang kenapa Bu?”
“Ibu menemukan ini di makam putra kalian. Bukan kah ini kalung yang selalu ia pakai Hara sejak dia kecelakaan, bahkan dari dulu dia tidak mau melepaskannya”
Wanita itu memberikan cincin yang ditinggalkan Hara di kuburan itu, Leon terdiam menggenggam cincin itu dengan kuat.
‘Jadi kamu datang ke sini bukan karena kangen padanya, tetapi kamu ingin pamit dan ingin meninggalkan kami berdua?’ Leon mendongakkan kepalanya karena air matanya ingin tumpah.
Akhirnya Leon tahu kalau Hara ingin meninggalkannya selamanya.
Tidak lama kemudian, Hara akhirnya sadar dan terbangun, ia melihat kanan -kiri.
“Oh, kepalaku sakit, aku ada di mana?”
“Mbak sudah bangun?”
“Ibu …?”
“Iya , kamu ada di panti saat ini, silahkan di minum Mbak”
“Bagaimana dengan teman saya Bu, apa dia baik-baik saja?”
‘Maxell di mana?” Hara ingin berdiri tetapi luka di lengannya sangat perih, wanita cantik itu meringis menahan rasa sakit.
__ADS_1
“ Teman yang mana, Mbak Hara?”
Belum juga Hara menjawab, Leon sudah berdiri di kamar tersebut, wanita itu meletakkan gelasnya dan meninggalkan Leon dan Hara waktu bicara berdua.
“Ibu melihat anak-anak dulu Pak Leon”
“Baik Bu.” Leon masih menatap Hara.
“Ah Pak Leon … !?” Wajah Hara menatap Leon dengan tatapan sinis.
“Tapi …. Kenapa dia tiba-tiba muncul di sini, apa ini mimpi apa beneran?” Gumam Hara menoleh kanan- kiri hanya mereka berdua yang ada di tempat itu.
“Non Hara, bagaimana perasaanmu?”
Hara hanya diam bukan ia tidak mau jawab, tetapi otaknya belum bisa berpikir.
“Di mana dia?”
“Dia siapa?”
“Dimana Maxell? Apa yang kamu lakukan padanya!” teriak Hara marah, ia berpikir semua yang terjadi pada mereka adalah kerjaan Leon.
“Apa kamu harus berteriak padaku seperti itu?” Tanya Leon.
“Saya tidak ingin kamu Pak Leon, saya hanya ingin tahu kabar Maxell,” ujar Hara.
Leon diam, jelas sekali itu melukai hatinya, saat ia bertarung nyawa menyelamatkan Hara, tetapi wanita itu malah mencari pria lain.
“Aku tidak ingin hidup di sekelilingmu, hidup denganmu penuh dengan bahaya, terluka dan melukai . Jadi, aku memutuskan pergi dan ingin menjalani hidup sendiri.” ujar Hara marah.
Leon masih diam, ia hany menatap Hara dengan begitu dalam, melihat tatapan tenang yang diperlihatkan Leon mengundang kemarahan Hara .
“Jika saat itu kamu mencoba melupakan masa lalu, maka aku pun berhak melakukannya,” ujar Hara lagi.
Leon membiarkan Hara marah- marah
“Saat aku kehilangan bayi yang aku kandung, sebagai Ibu sayalah yang paling terluka dan paling kehilangan, mengandung hampir lima bulan, hanya saya yang tahu bagaimana hubungan kami, jangan pernah kamu pikir saya menolaknya, saya sangat menyayanginya dan berharap punya keluarga di dunia ini, tapi saat aku kehilangan anak. Kamu juga menendangku dari hidupmu, aku sudah ingat semuanya dengan jelas saat aku tiba kemarin di tempat ini, sekarang, bagaimana kamu sangat membenciku, saat kamu tahu kalau ia tidak selamat, tapi apa itu adil untukku?” tanya Hara menatap Leon dengan tatapan tajam.
“Hara, kenapa hidup kita berputar-putar di sini saja, tidak bisa kita melupakan masalah buruk itu dan kita kembali awal yang baru”
“Tidak, maafkan saya pak Leon, saya memilih pergi, jalani hidupmu dan menjauh, melupakan, itu akan lebih baik untuk kita”
“Hara, aku sudah pernah melakukanya tapi tidak berhasil, aku menderita dan hampir mati, bahkan saat ini kita juga hampir ma-”
“Itu kan pak Leon, tapi tidak untuk saya,” potong Hara.
“Apa kamu ingin melupakan semuanya dan kamu ingin pergi?” Mata Leon menatap dengan sinis.
“Iya”
Leon berdiri dan menyeret Hara ke kuburan kecil itu.
__ADS_1
“Sekarang katakan padanya kalau kamu ingin melupakannya,” ucap Leon Manahan amarah, tapi berusaha sekuat mungkin agar tidak emosi agar Hara tidak malah membencinya ,tapi … matanya melihat cincin yang di letakkan Hara di sana, “Kamu ingin mengembalikan cincin yang aku berikan padaku melalui anakku?”
“Iya”
“Dengar Hara, aku tidak akan mau melepaskan kamu lagi, aku tidak ingin menyiksa diri lagi”
“Itu dulu, dulu kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi sekarang tidak, saya tidak mau masuk ke masa lalu yang menyakitkan itu”
“Oh, begitu!”
Leon menarik tangan Hara, ia membawanya ke dalam mobil yang tadi.
“Kamu membawaku kemana lagi?” teriak Hara ia mengigit lengan Leon agar di lepaskan, tapi membiarkan Hara meluapkan emosinya dan kemarahannya, Leon membiarkan tangannya terluka karena di gigit Hara, Hara bersikap Bar-bar berteriak dan mengigit Leon beberapa kali, tapi lelaki itu memilih diam.
“Kita mau kemana sekarang?”
“Menikah,” jawab Leon
“Haaa? Kamu ingin memaksaku lagi?”
“Iya”
"Kamu tidak bisa Melakukan itu padaku, kita Bukan hidup di jaman batu lagi Pak Leon Wardana...! Di mana segala sesuatu itu bisa Didapatkan dengan paksa. Kita negara hukum!"
"Maka aku akan melakukan hukum rimba untuk menikahimu, ini tanahku dan di sini Wilayahku," ujar Leon
Mulut terdiam melihat raut Wajah serius dari Leon
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)