
Begitulah jadinya kalau istri sendiri yang jadi sekretarisnya, ia santai di kantor, ia mempercayakan semua urusan pekerjaan pada Hara, kalau biasanya Leon tidak percaya pada orang lain dalam urusan pekerjaan, tetapi kali ini, ia mempercayakan semuanya pada istrinya.
Hara meminta Leon menyamar jadi seorang pegawai bawahan, ia ingin Leon merasakan bagaimana jika di posisi di bawah.
Leon setuju tetapi sebagai imbalannya ia meminta Hara melahirkan satu anak lagi untuknya.
Hara kurang setuju, karena ke dua anak kembar mereka sudah besar Hara malu untuk hamil lagi, sebenarnya dari segi umur Hara masih ada kemungkinan untuk hamil karena ia menikah dengan Leon Hara masih mudah. Jadi tidak heran saat anak-anaknya sudah besar ia masih muda.
“Lalu kamu mau taruhan apa?” Tanya Leon lagi.
“Lakukan saja penyamaran dulu, nanti kalau sudah berhasil baru kita bahas tentang taruhannya,”ujar Hara.
‘Ada apa denganmu Hara, kenapa setiap kali aku menyinggung keinginan untuk punya anak, kamu selalu menolak’ Leon membatin, tetapi ia tidak ingin menambah masalah, ia mengalah.
“Baiklah, aku akan memulainya, kerja sebagai bagian bersih-bersih,” ujar Leon.
Hara mengatur semuanya, mengatur penyamaran untuk Leon agar para pegawai hotel tidak curiga, ia mengatur jadwal keberangkatan suaminya untuk urusan bisnis ke luar negeri, jadi semua pegawai mengetahui kalau Leon urusan bisnis ke luar negeri, mereka tidak tahu kalau bos besar itu sedang menyamar.
Besok pagi,
Sesuai keinginannya Leon, akhirnya menjadi seorang pekerja bersih-bersih di hotel miliknya, ia menyamarkan penampilannya terlihat lebih culun, karena menggunakan wajah samaran. Leon ingin tahu bagaimana kinerja bawahannya yang selama ini ia pikir baik-baik saja dan ia penasaran dengan cerita istrinya, karena sejujurnya Leon tidak pernah menjadi seorang pegawai kelas bawah.
Hanya Hara dan Bimo yang tahu kalau Leon menyamar sebagai bagian bersih-bersih di hotel.
*
Hari pertama menjalani sebagai seorang pegawai kebersihan hotel, Leon merasakan hal yang pilu, seorang pekerja kebersihan hotel yang mendapat setengah gaji dari yang berikan hotel.
Namanya Burhan seorang pemuda tamatan SMP yang menjadi tulang punggung keluarganya yang menghidupi dua adik perempuan yang masih sekolah dan seorang ibu.
Pertama kerja Leon sudah merasakan ada rasa nyeri di dalam dada, pasalnya ia bawa bekal dengan lauk seadanya, hanya dua potong tempe goreng bahkan bekalnya yang dibawa hanya dibungkus dengan plastik kresek hitam.
Ia memilih makan di belakang hotel sebuah tempat yang tersembunyi, agar tidak ada orang lain yang melihat.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Leon, lelaki bertubuh jangkung kurus itu menoleh dengan nasih penuh di mulut.
“Kamu anak baru, iya?”Tanyanya menatap Leon yang sedang menyamar.
“Iya, baru hari ini,” jawab Leon memperhatikan bekal yang ia bawa.
“Maaf, saya hanya bawa satu dengan lauk seadanya,” ujarnya kemudian dengan sikap terburu-buru, sesekali ia menegak air dalam botol kemasan yang ia bawa.
“Kenapa harus makan buru-buru?” tanya Leon semakin merasakan dadanya sesak, ia menarik napas panjang saat melihat lelaki bertubuh kurus itu hanya makan dengan dua potong tempe, padahal ia terkadang membuang-buang makanan jika yang ia pesan tidak sesuai seleranya, padahal harganya mahal dan bergizi.
‘Apa ini yang dimaksud Hara, apa malaikat yang menyuruhku menyamar, agar bertemu dengan lelaki malang ini. Kasihan’ ujar Leon
“Aku harus makan buru-buru, kalau tidak atasan akan memotong gajiku.”
“Tapi ini, kan, waktunya makan siang.” Leon masih berdiri.
“Katanya untuk orang kerja harian seperti saya, tidak ada istilah makan siang maupun istirahat, kita harus selalu siap, setiap kali dibutuhkan,” ujar Burhan, dalam sekejap bekal dalam kantong kresek berwarna hitam itu sudah ludes tidak tersisa.
“Siapa yang jadi atasan kamu?” tanya Leon tiba-tiba menjadi naik darah saat mendengar peraturan yang tidak manusiawi yang di lakukan jajarannya.
“Tunggu, bukankah peraturan hotel semua karyawan hotel makan di pantry di lantai tiga?” Tanya Leon mengejar Burhan.
“Iya, tetapi kata Pak Banu itu khusus untuk para karyawan tetap, kalau karyawan kontrak seperti saya akan dipotong gajinya kalau makan di sana, udah, aku mau kerja dulu sebelum dipotong gajiku,” ujar Burhan menegak isi botolnya dan sisanya untuk membasuh tangannya, lalu ia mulai bekerja.
“Lalu berapa jam sehari waktu yang dia pakai untuk bekerja?” ucap Leon masih berdiri di belakang gedung hotel megah miliknya, hatinya bagai terasa di himpit dua batu besar, masa sulit yang di alami lelaki jangkung itu mengingatkan masa kecilnya yang menyedihkan.
Leon mengawasi orang-orang yang sibuk bekerja, ia merasa lalai menjadi seorang pemimpin, karena selama ini ia hanya memikirkan dirinya dan keluarganya, hingga ia lupa dengan orang-orang yang bekerja untuknya.
“Hai … kamu ngapain lagi di sana, bodoh!” teriak seorang sebagai kepala kebersihan di hotelnya, ia adalah Banu, seorang lelaki yang terlihat sangat baik jika berhadapan dengan orang yang levelnya lebih tinggi darinya dan akan bersikap buruk pada orang-orang yang ia anggap kastanya lebih rendah.
“Iya Pak,” jawab Leon berusaha menahan emosinya.
Hara berdiri di dekat jendela menatap kearahnya, hal itu jugalah yang membuat Leon harus bertahan, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Hara.
__ADS_1
Kalau ia menyerah dan menunjukkan diri, di hari pertama penyamarannya, artinya ia tidak akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya, adanya kecurangan dan ketidakadilan dalam hotelnya. Leon akan menanggung dosanya dari atas penderitaan orang-orang yang tidak mendapat keadilan itu dan selamanya akan diperlakukan buruk oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, maka itu Leon bertahan untuk meluruskan keadilan.
“Sini kamu!” Leon mendekat lalu dengan tidak sopan Banu mengeledah kantong pakaian Leon.
“Apa yang Bapak, lakukan?”
“Lo, tidak punya rokok?”
“Saya tidak punya Pak,” jawab Leon tenang, ingin rasanya Leon mematahkan tangan Danu yang berani mengeledah kantungnya, kalau saja Hara tidak mengawasinya dari jendela, Mungkin Leon sudah mematahkan leher Banu saat itu juga, jika di hadapan Leon ia selalu bersikap sopan, ia kahirnya tahu kalau banu orang yang jahat.
‘Kurang ajar … awas saja kamu nanti’ Leon berucap dalam hati.
“Dompet Lu mana? Berikan aku uang untuk beli rokok, kalau tidak … aku akan potong gajimu nanti, karena kamu tidak bekerja dan terlambat,” ujarnya kemudian saat Leon menolak memberikan uang miliknya.
“Tapi aku tidak terlambat, Pak!” Leon menatapnya dengan spontan.
“Lu berani, haaa, lu itu anak baru, gampang untuk menyingkirkan orang kayak lo,” ujar Banu.
Leon mengepal tangannya hampir saja Leon memberinya bogem mentah, untung saja Hara menyadari hal yang buruk, ia meminta Bimo menolong Leon.
Banu, menarik kerah baju Leon dengan kasar. “Dengar iya , orang baru sepertimu harus jinak dan mau menuruti apa yang aku inginkan,” ujarnya kemudian.
Tangan Leon hampir saja terangkat ke udara dan siap mendarat di wajah Banu, lelaki yang bersikap seperti preman kampungan yang bisanya hanya menindas dan memeras orang-orang yang lemah.
“Hei! Apa yang kamu lakukan?” Bimo berdiri tidak jauh dari mereka, dengan cepat tangan Leon diturunkan tidak jadi memberi pukulan pada Banu.
“E-e-eh Pak Bimo, tidak ini hanya main-main Pak, dia anak baru, saya hanya memberitahunya cara kerja di hotel.”
“Jangan suka menindas orang-orang lemah seperti mereka, kalau kamu berani sini hadapi aku,” ujar Bimo ikut-ikutan terbawa emosi.
“Tidak , tidak Pak saya sudah selesai,” ucap Banu meninggalkan Leon dan Bimo.
Tetapi matanya menatap Leon yang culun, dengan tatapan dendam, Leon yakin nanti ataupun besok, lelaki yang bertugas bagian kebersihan hotel itu, akan mengusiknya lagi.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa lika, komentar dan vo iya kakak