Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Penyusup


__ADS_3

Leon memutuskan terbang dengan Iwan saja, sementara Ken  tidak jadi ikut, Leon ingin banyak orang yang  menjaga Hara,  berhubung karena Zidan sakit sudah dua hari, Jadi, Ken yang  menggantikannya menjadi penembak  yang mengawasi mansion Leon dari satu rumah pohon .


"Biar saya yang mengantikan Bos," ujar Ken.


" Kamu yakin Bro rumah pohon itu, ada tante kunti yang menjaga di sana," ujar Iwan bercanda dan ini akan candaan mereka yang terakhir.


"Nanti, tante kuntinya akan aku ajak kencan," balas Ken tertawa.


" Minta diajarin sama Zidan bagaimana cara merayu kuntilanak," timpal Leon. Ini pertama kalinya Leon ikut bercanda seperti itu. Ketiga anak buah Leon saling bercanda sebelum mereka terbang.


Setelah terbang beberapa lama Leon akhirnya tiba di  rumahnya di PIK Jakarta Utara, rumah besar miliknya terlihat sangat indah di pandang dari jauh, lampu-lampu menghiasi sekeliling rumah Leon.


Ia menolah  ke bawah.


‘Kenapa aku baru menyadari kalau ada banyak keindahan di sekitarku, mataku serasa baru terbuka belakangan ini’ Leon membatin. Ini pertama kalinya Leon memperhatikan dengan seksama lampu-lampu di area rumahnya ternyata cantik.


Burung besi itu akhirnya mendarat dengan mulus di lantai tiga rumah Leon.


Ia turun ke kamarnya, saat di rumah ini penjagaan anak buahnya tidak terlalu banyak hanya enam orang, ikut Iwan dan Rikko Rudi. Jadi anak buahnya sisanya ia tempatkan di mansion di Kalimantan.


Leon berpikir Hara jauh lebih penting, semua anak buah Leon  melakukan penjagaan ketat di sana.


Lalu ia turun ke ruang tamu.


“Maaf Bos, saya tidak bisa menahan mereka tadi, saya sudah bilang kalau bos sudah perjalanan menuju ke sini. Namun, istrinya  tidak mau menunggu lagi , saya bingung .... sebenarnya mereka niat jual apa tidak.” Rikko terlihat lelah karena ia baru tiba di rumah.


“Terus rencana  mereka?”


“Besok Bos di minta yang datang ke sana”


“Baiklah.  Kamu istirahat saja, saya juga lelah. Bagaimana enak gak?"Tanya Leon bercanda." Maksudku liburannya?"



Rikko dan istrinya


Rikko tertawa bahagia.


"Makasi Bos, saya sangat bahagia," ujar Rikko.


"Sudah, kita istirahat"


“Baik Bos, saya juga  merasa sangat mengantuk,” ujar Rikko setelah minum jus bikinan asisten rumah tangga,  ia dan istrinya Susan sangat mengantuk.


Rikko berjalan menuju kamarnya dengan sangat mengantuk, susan juga terlihat sudah tertidur pulas.


“Apa kamu sangat lelah sayang,”ucap Rikko memeluk tubuh istrinya dari belakang.

__ADS_1


Leon mencoba merebahkan tubuhnya di ranjangnya, tapi aneh, matanya  tidak bisa terpejam , pikirannya selalu terngiang pada  Hara membuatnya tidak bisa tidur, ia mencoba mematikan lampu dan tidur, tapi sayang saat Lampu matipun, matanya makin tidak bisa tidur.


“Apa penyakitku kambuh lagi?” Leon sudah  merasa sangat lelah tetapi enggan untuk tidur.


Ia gelisah, padahal ia berpikir besok ada banyak pekerjaan yang  harus ia kerjakan dengan Iwan dan Rikko.



“Iwan, kamu istirahat saja biarkan Rudi yang mengawasi penjagaan, besok pagi kita akan pantau lapangan di Pulau Seribu”


“Baik Bos”


“Bro, bos memintaku  tidur duluan, tolong atur shitf jaga mereka,” ujar Iwan pada lelaki bertubuh tinggi besar tersebut.


“Ok, ok,” jawabnya  matanya sibuk  menatap ponsel di tangannya.


Saat Iwan ingin tidur, tiba-tiba asisten rumah tangga  datang membawakan kopi untuk  rekannya yang berjaga.


“Kak Iwan ngopi dulu ngeh … ni,” ujar wanita berambut  kepang tersebut.


“Mbak Rani, tumben bawa kopi selarut ini, ada apa nih?” Goda Iwan .


“Gak, hanya ingin saja, gak bisa tidur soalnya jadi aku bikinin kopi buat kalian,” ucapnya dengan wajah malu-malu.


“Tapi Maaf, aku ingin tidur, Bos memintaku tidur karena besok pagi ada pekerjaan”


“Aduh, masa mau tidur minum jus, aku tidak suka minum jus,” ujar Iwan menolak dan  berjalan.


“Tunggu aku sudah capek-cepek bikinin masa  tidak dihargai,” ucap rani memaksa.


Tidak ingin Rani kecewa, ia akhirnya mengalah.


“Ok, ok nanti aku minum ya aku bawa ke kamar saja dulu ini aku lagi merokok.” Iwan membawa gelas jus ke kamarnya.


“Masa mau tidur minum Jus.” Iwan menumpahkan jus kloset sebelum Rani memaksanya nanti meminumnya. Iwan tidak suka jus, ia suka minum kopi. Setelah menumpahkan jus  itu ia tidur.


Di kamar lain.


Leon tidak bisa tidur, padahal besok pagi rencananya mereka akan berangkat  sangat pagi untuk urusan pekerjaan. Tetapi, sekeras apapun usahanya ingin tidur, matanya seolah-olah engan untuk terpejam.


Ia sangat gelisah, tidak mau tidur, Leon keluar dan duduk di balkon kamar, membiarkan lampu itu tetap mati. Leon memilih duduk di teras kamarnya , ia melamun dan memikirkan  banyak hal salah satunya  tentang Bokoy, memikirkan  bagaimana cara untuk menumbangkan Bokoy.


Leon juga membuka galeri ponselnya melihat-lihat foto Hara yang ia foto diam-diam ada banyak foto Hara dalam galeri ponselnya.


“Kamu sangat cantik Hara,” ucap Leon, mengusap  pipi Hara dalam layar ponselnya.


Saat ia duduk , matanya tidak sengaja melihat sesuatu yang aneh, tiba-tiba dari kamarnya terdengar pintu  kamarnya di buka, Mata Leon panik dengan cepat ia merunduk di bawah Sofa yang ia duduki di balkon, dua orang  memakai penutup kepalanya berpakaian hitam-hitam mengendap-endap masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


“Sial pistolku ada di dalam”


Leon menyadari kalau ia dalam bahaya, kedua orang itu melihat  keatas ranjang, tapi Leon tidak ada,mereka berdua melirik ke balkon tapi tidak ada.


“Tidak ada di sini,” ujar salah satu dari mereka yang bertubuh tinggi suaranya dangat familiar di telinga Leon.


“Tidak mungkin, tadi aku melihatnya masuk ke dalam kamar ini” ujar seorang dari mereka.


“Cari di kamar mandi,’ pinta bertubuh besar itu lagi.


Leon Buru- buru  turun dari balkon kamarnya dan  berjalan pelan-pelan menyusuri pijakan tembok,  hingga tiba di salah satu kamar yang kosong.


“Apa yang terjadi bagaimana mereka mendapatkan  akses masuk ke kamarku,” Leon berucap sendiri.


Ia menekan nomor Rikko, tapi tidak di jawab, Lalu Leon menekan nomor Iwan.


“Iya Bos,” suaranya berat ia sudah sempat tidur.


“Wan,  cepat bersembunyi, ada penyusup masuk ke rumah”


“APA!?” Iwan melonjak kaget.


Tetapi tiba-tiba ada suara. Jangan bergerak.


Door ….!


Suara tembakan terdengar dari kamar Iwan, dada Leon naik turun


“Oh Iwan ….?” Leon merasa sangat marah, tetapi ia tidak punya senjata, kalau ia keluar sama saja mengantar nyawanya sendiri. Ia hanya bisa bersembunyi untuk sementara.


Bersambung…


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing

__ADS_1


__ADS_2