Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Jangan Cemburu Berlebihan


__ADS_3

Mobil Leon terjebak macet yang sangat panjang karen ada kecelakaan di depan, Hara masih asik mengunyah opak yang di beli tadi, dan sesekali menenggak minuman air mineral yang di tangannya, ia benar-benar lapar hingga membuatnya malas bicara.


Beberapa menit terjebak macet Leon masih aman,  pada menit kedua puluh, jiwa Mafianya kembali keluar.


“Brengsek, apa  yang terjadi?” Ia membuka kaca pintu mobil dan mengeluarkan kepalanya, lalu berteriak lagi.”Hei! Ada yang terjadi di depan!?”


Hara yang mendengar teriakan Leon langsung melirik wajah suami dengan tatapan tajam.


“Pak Leon Wardana … walau kamu teriak sampai ke bulan juga tidak ada yang berubah, yang ada kamu mengundang orang lain membuat keributan,” ujar Hara.


“Macet Hara.”


“Mereka juga lagi berusaha , kasihan orang yang kecelakaan di depan,  dengan kita bersikap tenang dan sabar itu sudah   menunjukkan rasa empati kita, pada korban kecelakaan,” ujar Hara dengan suara  lembut, Leon lagi-lagi kena omel dari istrinya.


“Tapi kamu lapar, kan?”


“Iya ,  tetapi bukan  berarti berteriak bisa langsung  selesai macetnya , kan? Sudahlah sabar saja.”


Mendapat teguran dari Hara Leon  langsung diam.


“Iya sudah kamu tidur saja, nanti kalau sudah sampai aku bangunin,”ujar Leon.


“Tidak apa-apa?”


“Iya.”


“Iya aku capek bangat  pemotretannya tadi diulang-ulang terus aku capek,” ujar Hara  menarik pengaturan kursi lalu ia tidur.


*


Setengah jam kemudian Leon akhirnya bisa keluar dari kemacetan, ia menelepon Zidan kalau mereka akan berhenti untuk makan


Mobil berhenti di depan sebuah restauran.


“Hara, bangun … Hei!" Leon mengusap pipi Hara dengan lembut untuk membangunkan.


Wanita berkulit  putih itu akhirnya bangun.


“Kita sudah sampai?”


“Hmmm … kita makan di sini saja.”


Leon ingin turun, tetapi ia mencegahnya .


“Tunggu.”


“Ada apa?” Leon kembali duduk.


“Kita makan sama   Kak Ken sama anak-anak yang lain, iya?”


“Hara, aku masih marah dengan  dia.”


“Tidak usah makan kalau seperti itu.”


“Hara mereka  bisa makan dengan meja lain.”


“Aku tidak mau terlalu mencolok Leon, aku tidak mau orang-orang melihat kalau aku dan kamu  punya pengawal, aku ingin hidup seperti biasanya. Kita duduk salam satu meja saja.”


“Mereka justru tidak mau makan sayang … mereka akan sungkan padaku, nanti.”


“Karena itu Pak Leon, wajahnya dibuat senyum jangan tegang seperti itu."


“Aku ingin menghajar mereka berdua nanti.”


“Kalau kamu melakukan itu aku akan pergi dari sini. Leon, mereka menjagaku dengan baik karena mereka berdua menghormatimu, tidak baik memarahi orang dalam keadaan lapar, biarkan mereka makan bersama kita," ujar Hara


Leon akhirnya mengalah.

__ADS_1


“Baiklah.”


Tiba di sebuah restauran Hara turun dan Leon,  dari mobil Zidan turun dan ke empat anak buah Leon juga.


“Kita  makan dulu iya Kak Ken.”


“Tidak  usah Non.”


Hara memaksa , tetapi mereka menolak. Tetapi saat Leon mengangguk tanda setuju barulah mereka semua   duduk menurut.


Duduk dalam satu meja untuk makan bersama sang bos,   membuat mereka   berempat sangat canggung, tetapi Hara tipe wanita yang  hangat dan bisa mencairkan suasana.


“Kak Zidan mau makan apa?”


“Apa saja  Boleh Non.”


“Oke Ikan , iya ,” Hara yang mencatat . Lalu ia bertanya lagi,”Kak Ken?”


“Sama.”


“Saya juga Non.”


Mereka semua asal ikut


“Kok Ikan? Kak Kenzo tidak suka ikan?” Tanya Hara menatap pria berkulit  gelap tersebut.


“Iya aku bingung Non mau makan apa.”


“Ok, aku pesan ayam bakar buat Kakak, Iya?”


“Baiklah Non.”


“Bos kita steak sapi.” Leon mengangguk. Hara juga tahu selera makanan kesukaan Leon. “ aku juga stek, kak Zidan ikan, Mas Bram ikan dan Bang Vincen  sup tulang Iga. Benar?”


“Benar Non,” ujar lelaki  asal manado itu dengan senang.


Hara memanggil pegawai restoran  yang kebetulan  seorang lelaki tampan berwajah bule.


Ia tersenyum  melihat Hara dikeliling lima lelaki tampan, tetapi dia menyapa Hara, wajah Leon langsung muram.


“Mbak bintang iklan sabun Luxxx, iya?” sapa sang pria dengan sopan, tidak ada niat merayu, bahkan ia sangat sopan menyapa Hara.


“Iya benar,” ujar Hara tersenyum ramah.


“Mbak aslinya lebih cantik,” ujarnya memuji.


“Kamu bisa layani kita lebih cepat tidak ....!? Saya sudah lapar!” ujar Leon dengan wajah sinis.


“Oh, baik Pak saya minta maaf.”


“Itu saja Mas” ujar Hara  kembali tersenyum.


Lelaki berseragam   rompi hitam tersebut berjalan menuju dapur, ingin rasanya Hara mengomeli Leon, tetapi ia tidak mau ribut apa lagi di depan anak buahnya.


“Kamu sudah enam kali tersenyum padanya Hara, gak usah pamer- pamer senyum,” ujarnya lagi dengan nada tidak suka.


“Itupun kamu hitung?” Hara mengelus dada.


Hara tidak ingin  mereka berempat merasa tidak nyaman melihat perdebatan mereka, akhirnya ia mengalah.


“Baiklah …. baiklah, aku tidak akan tersenyum padanya kalau itu yang membuatmu terganggu,” ujar Hara.


‘Dasar tukang  cemburu, awas saja nanti di rumah kamu perlu ditatar ulang, tetapi bukan untuk saat ini’ Hara membatin.


Menu pesanan datang Hara benar saja, ia  menahan diri tidak tersenyum lagi, ia membantu  menata meja  makan.


Anak buah Leon sangat memuji sikap Hara yang sangat dewasa dalam menghadapi sikap cemburu Leon, sikap cemburu yang terkadang berlebihan. Setelah menikah Hara yang justru terlihat  banyak mengalah menghadapi sikap cemburu sang suami.

__ADS_1


“Terimakasih Bro,” ujar Ken menggantikan Hara. Mereka makan, tetapi Hara  mengajak mereka saling bercerita  suasana santai terlihat di meja mereka, hanya Leon dan Zidan yang selalu dingin seperti es. Tiga lainnya tampak bercerita  beberapa hal santai dengan Hara, Hingga makan  malam selesai.


“Aku mau ke toilet dulu,” ujar Hara.


“Biar aku temenin” Leon bangun.


Tidak ingin berdebat Hara hanya mengangguk setuju.


“Apa kamu merasa kalau Bos itu cemburunya parah bangat?’ Tanya Ken.


“Non Hara yang terlihat jauh lebih dewasa menghadapi Bos,” balas Bram lagi. Mereka membahas  tentang Leon saat orangnya tidak ada.


“Jangan ngegosip nanti  Bos dengar,” ujar Zidan .


Mereka keluar dari restauran dan jalanan  sudah tidak macet lagi, Hara masuk ke dalam mobil, saat dalam  mobil  Wajah Hara langsung jutek, ternyata ia  masih marah karena Leon menegurnya saat makan tadi.


“Kenapa?” Tanya Leon pura-pura bego.


“Ahhh … aku  tidak bisa berkata-kata sama kamu lagi Leon”


“Tentang …?”


“Tentang apa lagi  kalau bukan tentang sikap cemburumu. Leon kamu terlalu berlebihan”


“Iya aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan, kamu bilang, tidak boleh disimpan di hati, jadi itu yang aku rasakan,” ujar Leon tanpa merasa bersalah.


“Sayang … dengan sikap cemburu mu yang berlebihan seperti itu, aku merasa kita, kayak pacaran anak SMP yang masih alay, “ujar Hara


“Aku,kan cemburu sama istriku, bukan  cemburu wanita lain,’ ujar Leon mengulum senyum, ia merasa tidak bersalah.


“Cemburu bisa tetapi jangan berlebihan,  bisa gak?”


“Gak,” jawab Leon santai.


“Baik, kamu tidur di sofa.”


“Kok ngancam lagi … kamu kebanyakan ngancam Nona Hara, Kayak Mafia lagi rebutan lahan.”


“Kan, aku istri Mafia,” celetuk Hara


“Baiklah, aku akan berubah, tetapi jangan tersenyum sama lelaki lain.”


“Leon, ibuku selalu bilang senyuman gambaran hati senang dari seseorang, tersenyum pada orang lain itu satu ibadah loh, itu artinya kita berbagi kebahagian, bagaimana kamu membagi kebahagiaan yang tulus jika kamu saja jarang senyum,”ujar Hara.


“Aku tidak tidak terbiasa Hara tersenyum sama orang,” ujar Leon.


“Kalau kamu tidak bisa tersenyum aku tidak akan memaksa, tetap jangan larang aku juga, tersenyum ramah pada orang lain, tersenyum bukan berarti  genit,” balas Hara.


Leon diam, ia tidak membantah omongan Hara tetapi  ia menghayati dalam hati.


“Sayang …. aku ingin anak-anak kita, orang yang punya sikap peduli pada orang lain, tidak dingin seperti kamu.”


Mendengar kata anak Leon selalu merasa tersentuh.


“Baiklah, aku akan perbaiki diri,” ujar Leon sebenarnya selama ini Leon  hanya kurang didikan kasih sayang.


“Gitu donk … aku kan jadi gak stres lagi. Ilove you." Hara mendaratkan satu ciuman hangat di pipi sang suami. Leon hanya tersenyum kecil.


“Itu artinya hukuman puasa jatah ranjang di batalkan juga?” Tanya Leon dengan ekspresi serius.


“Tentu bahkan malam ini kita akan  lakukan sampai empat ronde," ujar Hara bergurau, barulah Leon tertawa.


“Aku ingin kamu cepat hamil Hara, bagaimana kalau kita atur jadwal untuk bertemu dokter lagi besok?’


“Baiklah.”


Leon sangat mengharapkan Hara cepat hamil  ia  berharap sekali  menjadi seorang ayah.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2