
Kabar yang terjadi di rumah tangga Ken sampai juga ke telinga Leon, ia menghela napas berat. Saat pengacara Leon menelepon, memberitahu kalau Ken meminta bantuannya, jadi pengacara untuk mengurus perceraian Ken dan Rebeka.
“Baiklah lakukan dengan baik, bantu dia,” ujar Leon.
“Baik Pak.”
Melihat suaminya menghela napas panjang dan berdiri di jendela kaca, Hara tahu ada sesuatu yang berat mengganjal di hati suaminya.
“Kenapa?”
“Ken, meminta pengacara untuk membantunya mengurus sidang perceraian mereka.”
“Ah … kasihan Thiani,” ujar Hara sedih.
“Mungkin itu yang terbaik Bu.”
“Itu bukan terbaik Leon, Ken egois …! Dia tidak memikirkan dampaknya besarnya untuk Thiani, dia masih remaja Yah, saat-saat rentan untuk segala godaan. Jangankan bercerai, aku cemburut saja di rumah Chelia dan Okan sudah langsung sedih, apa lagi menghadapi perceraian seperti ini,” ujar Hara dengan nada emosi.
Leon memilih diam, karena setiap mereka berdua membahas tentang rumah tangga mantan anak buahnya Hara selalu terbawa emosi.
“Kok Ayah diam saja,” pungkas Hara.
“Lalu aku harus bilang apa Bu?”
“Sayang … nasihati mereka bertiga jangan biarkan anak-anak malang itu jadi korban, kamu tidak tahu kan? Dimas datang ke rumah beberapa hari lalu, dia curhat pada Okan kalau sikap ibunya berubah.”
“Lalu aku harus bilang apa?” Leon menghela napas.
“Sayang … ajarkan pada mereka bagaimana cara mempertahankan rumah tangga seperti yang kamu lakukan.”
Leon menggeleng ia menolak memberi nasihat .
“Aku belum pantas Bu, aku masih banyak kekurangan,” lirihnya pelan.
*
Saat mereka pulang ke rumah sore hari.
Bu Atin sudah duduk di kursi roda seperti biasa, tetapi kali ini wajahnya cemas dan terlihat sedih.
“Ada apa Bu?” tanya Leon ia khawatir ada yang menganggu pikiran wanita tua tersebut.
“Apa ada masalah?” Hara ikut berdiri di depan ibu mertuanya.
“Thiani ada di kamar Chelia dari tadi dia menangis terus,” ujar Bu Atin.
“Apa yang aku khawatirkan benar terjadi kan?” Hara meletakkan tas tangannya di atas kursi dan ia duduk.
Saat mereka duduk , tiba-tiba Thiani turun setelah mendengar Leon pulang. Ia menangis dan memeluk Leon.
“Om … bilang sama daddy agar tidak berpisah sama mommy,” ujarnya menangis di pelukan Leon.
“Thiani … kamu harus tenang,” bujuk Leon dengan suara lembut, ia membelai rambut gadis remaja itu dengan perasaan sedih.
“Om … harus bicara sama daddy , dia akan mendengar apapun yang di katakan om,” ucapnya dengan setengah tangisan.
Chelia ikut turun, ia berdiri sedih Thiani sudah seperti saudara baginya Thiani sering bermain dan menginap di rumah Leon, maka itu gadis berkulit hitam manis itu sudah seperti putri ke dua untuk Leon.
__ADS_1
“Baiklah sayang, Om sama tante akan mencoba bicara sama daddy dan Mommy kamu,” ujar Hara memeluknya dengan erat.
“Thiani … tidak mau mereka berpisah Tante.”
“Aku tahu sayang … aku tahu,” ujar Hara.
Leon mengeluarkan ponselnya akhirnya ia menelepon Ken.
Karena terus menangis dari sejak kemarin badan Thiani panas dan ia pingsan. Kepanikan terjadi di rumah Leon.
Dengan cepat Chelia membawa kotak obat bahkan dengan sigap ia memberi Thiani pengobatan ia bertindak seperti seorang dokter.
“Jangan khawatir Nek, kak Thiani hanya demam biasa,” ucapnya menenangkan sang nenek.
Setelah memberi Thiani obat, mereka kembali duduk di ruang tamu, sementara Okan hanya duduk diam.
“Bang, apa ada yang inginkan kamu katakan?” Tanya Hara saat melihat wajah anaknya seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Apa Om Zidan sama tante Clara ada masalah juga, Bu?” Tanya Okan.
Hara sama Leon saling menatap.
“Kenapa memangnya?” Hara duduk di sofa di samping Okan.
Dimas sudah dua hari tidak latihan pertandingan basket.
‘Kasihan anak-anak ini mereka akan jadi korban keegoisan orang tua mereka’ Hara membatin.
“Sepertinya Om Zidan dan Clara ada masalah, tetapi ibu berharap semua baik-baik saja,” balas Hara tenang.
“Apaaa?” Hara kaget karena anak-anak itu akhirnya tahu persoalan orang tua mereka.
“Kok abang bicara seperti itu?”
“Dimas di kelas mendadak berubah dia jadi aneh, kemarin juga Juna menginap di sini dia bilang Tante Kikan tidak pulang-pulang ke rumah” ujar Okan ia dan Dimas satu kelas.
“Lalu abang Okan bertengkar sama Kak Dimas.” Chelia mengaduh.
“APAA …?” Kali ini, sang ayah yang terkejut, matanya menatap serius pada putranya.
“Apa benar Bang?” Hara menatap tajam , hal yang paling tidak di sukai Hara salah satunya bertengkar.
“Abang memukul wajah Dimas sampai bibirnya pecah,” ujar Chelia lagi.
“Kenapa bersikap preman? Ibu tidak pernah mengajarkan kamu bersikap sok jagoan seperti itu, aku sudah bilang berapa kali padamu, Kalian bersaudara Jordan, Kiano, Dimas, Arjuna, Thiani kalian itu bersaudara. Kamu membuat ibu kecewa Okan!” Teriak Hara
“Ibu … tenanglah.” Leon merangkul pundak istrinya.
“Karena apa Bang?” Tanya Leon.
“Dia yang cari gara-gara Yah …”
“Gara-gara seperti apa?”
“Dia mengajak anak-anak nongkrong saat mata pelajaran … lalu aku menolak, karena masih jam pelajaran, dia menyebutku banci aku menghajarnya,” ucapnya membela diri.
“Kenapa tidak cerita sama ayah jagoan? kamu tidak salah kamu melakukan hal yang benar,” ujar Leon menepuk pundak Okan.
__ADS_1
“Sayang …..” Hara melongo.
“Dia benar Bu,” ujar Leon lagi.
“Dia menolak ajakan Dimas itu hal yang benar Yah … tapi perkelahian ….?” Hara menatap ayah dan anak itu bergantian.
“Aku tidak mau harga diriku diinjak-injak, aku tidak mau bukan karena banci, tetap karena aku berpikir mata pelajaran lebih penting,” ujar Okan lagi.
Leon mengangguk bangga pada putranya dan dengan diam-diam mengacuhkan jari jempolnya untuk sang putra. Bu Atin hanya menahan tawa melihat kelakuan Leon dan Okan. Leon dan kedua anaknya sangat akrap bahkan seperti sahabat, itulah dalam rumah tangga mereka terasa sangat.
Leon juga lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga dan anak -anaknya, ternyata bapak dua anak ini, berubah, ia menempatkan dirinya sebagai tempat yang nyaman untuk anak-anaknya terutama untuk putri cantiknya Chelia, hubungan Chelia dan Leon, bukan seperti bapak dan anak tetapi seperti sahabat, Chelia selalu menceritakan apapun pada Leon.
“Tetapi bukan berarti harus berantem OKan Putra Wardana ….!” ujar Hara.
“Harga diri laki-laki Bu,” ujar Okan.
“Ya, dia benar,” balas Leon.
“Kalian berdua aneh,” ujar Hara jengkel setelah Leon memuji putranya.
“Ibu jangan marah donk ….” ujar Leon tersenyum kecil, Chelia hanya bisa tertawa melihat ibunya yang cemberut.
“Bodoh amat!” ujar Hara.
Ia meninggalkan Leon yang masih duduk di ruang tamu. Hara melihat ke adaan Thiani yang tertidur pulas setelah di beri obat .
Tidak lama kemudian Ken akhirnya datang, Hara dan Leon bicara dengannya.
“Kami sudah sepakat Bos,” ujar Ken dengan yakin.
“Tapi Kak. Thiani akan jadi korban, dia masih labil dia akan jadi kehilangan kepercayaan diri nantinya, tolong pikirkan lagi,” ujar Hara.
“Ini salah satu-satunya jalan terbaik Non Hara, Thiani sudah besar dia akan mengerti keputusan yang dipilih ke dua orang tuanya,” ujar Ken.
Hara dan Leon tidak bisa berbuat apa-apa, keputusan Ken sudah bulat menceraikan Rebeka, ia lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada masa depan anaknya. Tetapi setidaknya Leon dan Hara sudah mencoba memberi masukan. Keputusan tetaplah di tangan Ken.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasi untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (tamat)
__ADS_1