
Setelah membotaki rambut sang suami, Hara masih banyak permintaan,
Leon baru saja mendapat telepon dari Hara, meminta pulang lebih cepat dari kantor.
"Kenapa harus pulang cepat?"
"Aku dan anak-anakmu tiba-tiba rindu padamu," ucap Hara.
"Ok baik."
"Sekarang iya, pulangnya," seru Hara di ujung telepon.
"Baiklah sayang."
Harus pulang karena mereka bertiga merindukan Leon, begitulah kira-kira alasan klasik dari Hara.
"Baiklah Hara apapun yang kamu minta akan turuti," ujar Leon.
Di sisi lain.
Zidan juga seperti itu, bahkan lebih parah, bahkan tidak diperbolehkan kerja hari itu, karena Zidan dan Leon sama-sama gila kerja, jadi Clara memberikan sedikit pelajaran.
"Lalu apa yang ingin aku lakukan lagi Clara? satu hari ini aku sudah bersamamu," ujar Zidan.
"Tolong masak untukku nasi goreng, aku dan anakmu mau."
"Baiklah."
Tidak ada bantahan atau penolakan dari Leon maupun Zidan, ketiga wanita hamil itu bagai ratu di saat kehamilan mereka.
Sementara Leon, kali ini karena macet Leon harus tiba di rumah jam tujuh malam. Ia baru saja ingin turun dari mobil Leon.
‘Aku berharap ia tidak mengerjaiku lagi’ ucapnya dalam hati.
Bimo dan Bram bersamaLeon, sementara karena Ken sedang mengurus persiapan pernikahan Toni.
Melihat sikap bingung dari bos, ia tidak ingin menawarkan bantuan, kalau itu tentang Hara Leon akan berusaha keras memperbaiki sikapnya pada sang istri.
Saat melewati toko bunga tadi, Leon sudah meminta Bimo membeli bunga untuk Hara, sebagai pengganti ucapan minta maaf karena ia tidak bisa menepati janji cepat pulang.
Lalu ia turun menyembunyikan bunga di belakangnya, ia ragu untuk masuk takut Hara marah mengamuk dan menyuruhnya tidur di kamar di sebelah.
Klek ….
Pintu terbuka, Hara masih duduk santai di sofa dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan kedua kakinya diangkat di atas sandaran sofa, menjelang tujuh bulan perut sudah sangat besar dan ia sering malas untuk bergerak. Karena itulah Leon merasa kasihan dan menuruti semua keinginan Hara.
“Aku pulang sayang.”
Leon memberikan bunga untuk Hara, mendapat hadiah bunga dari Leon, ia duduk dan mencoba mengingat apakah hari itu, hari yang spesial.
“Apa hari ini hari spesial?” tanya Hara menatap punggung Leon.
__ADS_1
Ia membalikkan badannya, menatap Hara.
“Tidak ada, hanya ingin memberikannya.”
“Oh, apa ini sebuah sogokan karena hari ini kamu melupakan sesuatu?”
“Melupakan apa?”
“Aku bilang kemarin, kan, kalau aku ingin makan malam berdua denganmu, kenapa kamu melupakannya?”
Leon melupakannya permintaannya lagi, ia lupa Hara mengajaknya makan malam berdua jam enam sore, padahal wanita cantik itu sudah reservasi satu hotel untuk mereka berdua, dan ia juga saat ini sudah berdandan cantik demi bisa makan malam dengan Leon.
“Oh, aku lupa.”
“Ok, baiklah kalau kamu melupakannya, itu artinya aku mengganti pakaian ini, memaksa memakainya dari tadi biar tampil cantik aku tidak nyaman.”
“Aku minta maaf Hara, tadi jalanan sangat macet” kilah Leon.
“Dari jaman penjajahan Belanda Jakarta sudah macet pak Leon Wardana … jadi jangan menjadikan macet jadi alasan, itu tidak logis, kalau kamu tidak mau terlambat datanglah lebih awal, kalau kamu tidak bisa harusnya kamu kabarin aku, begitu,” ucap Hara terlihat jengkel.
“Baik aku mengaku salah, aku siap menerima hukuman.”
“Oh tidak ada hukuman sayang, seorang istri tidak boleh menghukum suami itu, dosa,” ucap Hara, makna kata-kata dan mimik wajah yang susah di tebak.
“Terus, kamu ingin aku ngapain agar kamu tidak marah?”
“Baiklah kalau kamu yang memaksanya, aku akan meminta sesuatu hal dari kamu,” ujarnya lagi.
“Aku tidak memaksa Hara, iya, kalau kamu mau memaafkan aku kali ini akan lebih bagus lagi, tapi kalau kamu mau melakukan sesuatu atau membelikan kamu yang kamu suka aku siap,” ujar Leon mengusap kepala botaknya.
“Hara, aku belum begitu bisa memasak, yang ada nanti rasanya berantakan.”
“Kalau kamu tidak mencobanya, tidak akan tahu hasilnya,” ujar Hara.
“Baiklah.”
Belum juga Leon melepaskan pakaian kerjanya, ia sudah meminta lelaki itu untuk memasak.
Kebetulan di dapur Leon bertemu Bu Atin.
“Mau ngapain Nak? biarkan mbak yang mengerjakan kalau kamu mau makan sesuatu, kamu tinggal pesan,” ucap wanita paru baya itu melihat Leon yang sibuk mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.
“Bukan Bu. Hara memintaku memasak spaghetti.”
“Biar ibu saja, kamu duduk.”
“Jangan Bu, itu karena kesalahanku yang lupa ada janji makan malam dengan Hara hari ini,” ucap Leon mulai mengeluarkan udang segar dari kulkas yang akan ia jadikan toping untuk sepertinya, sebenarnya Leon sudah beberapa kali belajar memasak untuk bisa menyenangkan istrinya,, dan ia punya keinginan saat kehamilan Hara kali ini, ia ingin memasak makanan sehat untuk istrinya.
“Iya ampun Nak, kamu kenapa sih senang sekali membuat Hara marah? itu salah kamu melupakan makan malam itu sudah yang ke berapa kali? kamu tidak tahu ia sudah berdandan cantik sejak jam lima sore tadi.”
“Aku lupa Bu, terlalu banyak kerjaan di kantor dan aku terjebak macet,” ujar Leon mencari alasan.
Bu Atin tidak membiarkan Leon mengerjakan hukumannya sendirian, ia duduk di kabinet dapur itu melihat lelaki berkepala botak itu memasak spaghetti untuk istrinya,
Celemek bermotif kupu-kupu besar ia pakai menutupi kemejanya agar tidak kotor. Leon terlihat lucu saat mengunakannya.
__ADS_1
“Leon. Mie jangan terlalu lama, nanti lembek” seru bu Atin dari kursinya.
“Baik Bu," Ia mengangkatnya.
Ibunya yang memberi aba-aba Leon yang mengerjakannya, dengan sigap mengangkat panci panas dan menyaring kaldunya lalu menuangkannya dalam piring, memberi udang dan suwiran ayam sebagai topingnya, ia juga meletakkan beberapa lembar daun seledri di atas spegeti nya.
Tidak lupa Ia juga memotong bua-buah segar untuk Hara, bukannya hanya spaghetti yang ia masak, ia melihat di kulkas bahan-bahan masih lengkap.
Ternyata Leon juga membuat soto bening kesukaan Hara, ia melakukanya. Bu Atin sampai kaget dibuatnya karena ia baru tahu kalau Leon bisa masak dan terlihat sangat lincah, tidak seperti yang dulu yang hampir membakar rumah, hanya karena ingin memasak untuk Hara.
Bu Atin mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya merekamnya dan meminta Hara turun
Mereka berdua hanya duduk dan melihat Leon yang mulai bisa dalam mengendalikan sendok penggorengan itu.
“Apa kamu tahu sejak kapan dia masak?” tanya Bu Atin pada Hara yang duduk di depannya.
“Aku juga baru tahu Bu, kalau Leon bisa masak seperti itu, ih … aku gemas melihatnya memakai celemek bergambar kupu-kupu itu, ia seperti chef Juna idolaku, ingin aku peluk dari belakang,” ucap Hara begitu terpesonanya melihat Leon bisa memasak.
“Apa kamu tidak marah lagi karena Leon bisa memasak?”
“Aku tidak marah kok Bu."
Mereka berdua hanya menonton Leon memasak.
“Ibu jadi ikut penasaran bagaimana rasa masakan pak koki ini.”
“Ibu jangan pergi dulu, kita cicipi masakan pak Koki."
“Baiklah walau ibu sudah makan, tetapi ibu ingin mencobanya juga,” ucap wanita itu menanti dengan sabar masakan Leon.
Kalau dulu Leon ahli pegang senjata, tetapi kali ini setelah istri hamil, ia ahli mengendalikan sendok penggorengan.
Bersambung …
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1
Bersambung …