
Suasana di rumah Bu Ina sore itu ramai, acara tujuh bulanan Hara masih berlangsung, malam ini akan lanjutkan dengan acara baby shower, Clara juga sekalian ikut, jadi malam ini lanjut game party.
Maka malam itu ada tiga wanita hamil yang merayakan baby shower.
"Aku punya permainan kecil untuk mereka bertiga," bisik Clara.
"Apa?" Tanya Hilda pemasaran.
"Aku ingin mereka merasakan apa yang kita rasakan," ujar Cara bersemangat.
"Pakai apa?" tanya Hara.
Clara menunjukkan alat simulasi kehamilan, sebuah alat yang yang bisa menirukan apa yang dirasakan wanita hamil, sebuah alat yang dirancang seperti ransel yang di pakai ke di perut.
"Boleh, ini bagus aku pengen lihat muka mules suamiku saat kontraksi," ujar Hilda.
Setelah melakukan permainan seru lainnya, tibalah saat yang direncanakan tiga bumil cantik itu.
Mereka sudah bekerja sama kalau tiga kertas yang di kocok tersebut akan jatuh ke tangan Zidan, Leon dan Piter.
" Ok, tiga pemain kita selanjutnya, sudah dapat," ujar pembawa acara dengan semangat.
Leon, Piter maju ke depan.
"Ok tolong pakai ransel ke mereka bertiga."
Toni dan Ken dengan cepat membantu, karena berdua sudah tau kalau bos mereka akan di kerjai.
"Tapi .... ini apa?" Tanya Piter.
"Ini alat simulasi kehamilan, jadi apa yang di rasakan istri kalian selama hamil, itulah yang kalian rasakan," ujar pembawa acara.
"Ok, tidak masalah," ujar Piter bersemangat, ia melihat Hilda dengan menaikkan kedua alis matanya.
"Kalau aku jadi wanita, aku tidak akan cengeng dan manja," ujarnya lagi.
Leon dan Zidan hanya diam, Leon melirik Hara, ia tahu tanpa memakai alat tersebut, ia tahu kesulitan yang dialami sang istri, ia bisa melihat bagaimana Hara kesulitan dalam melakukan aktivitas, apa lagi sejak jalan tujuh bulan.
Jalan sudah mulai terasa sangat berat sering sekali Hara harus memegangi bawah perut.
Sementara Zidan bersikap normal tidak menolak, karena Clara juga tipe wanita yang sangat manja saat hamil.
Kini ketiga calon ayah tersebut sudah duduk di satu sofa dan di depan ada layar.
"Dalam satu jam kalian akan merasakan, bagaimana perasaan wanita hamil mulai merasa ngidam dan sampai melahirkan di depan layar monitor, ada gambar animasi itulah prosesnya," ujar pembawa acara.
"Siapa takut, biasa saja," ujar Piter, ia selalu berpikir apa yang dialami Hilda Selama ini karena hanya ingin dimanja.
"Ok siap iya, kalian tidak boleh melepaskan sampai proses akhir sampai melahirkan. Jika istri bilang berhenti, barulah berhenti.
__ADS_1
"Baik," ujar mereka Serentak.
Pada menit pertama wajah mereka masing-masing masih biasa. Semua mata orang tertuju pada mereka bertiga, lalu pada dua puluh menit, mulai terdiam. Piter meraih mangga mengkal di depannya karena ia merasa sangat ingin makanan yang asam.
Mereka semua mulai tersenyum, saat Zidan berdiri mengusap pinggangnya karena ia merasa panas dan pegal, lalu Leon juga ikut mual-mual.
Bu Ina tertawa terbahak-bahak saat Piter mengalami ngidam yang parah. Kini apa yang dirasakan Hilda selama hamil dirasakan Piter.
Pada saat menit terakhir, Piter merasakan sakit pinggang dan bolak-balik ke kamar untuk pipis, pada saat kontraksi mereka bertiga meringkuk menahan rasa sakit. Mereka merasakan bagaimana wanita hamil saat menjelang persalinan.
"Ah .... gila ..... Aku menyerah"! ujar Leon angkat tangan. Wajahnya memerah menahan rasa sakitnya kontraksi.
"A-aku juga, tolong lepaskan ini, ini sangat sakit," ujar Zidan, matanya berembun, ia hampir menangis saat merasa apa yang dirasakan istrinya.
"Aku juga menyerah," ujar Piter, mereka bertiga merasakan apa yang dirasakan istrinya saat itu.
"Maaf, sesuai kesepakatan game kalian harus memakainya sampai melahirkan," ujar Hilda.
"Iya itu benar," Balas Clara, karena kedua wanita itu yang kurang mendapatkan perhatian dari para suami.
"Kalau Leon lepaskan saja," ucap Hara, ia tahu betapa besar perjuangan Leon untuknya.
"Kalau aku tidak. Biarkan Pak Piter merasakannya," ujar Hilda tegas.
"Aku juga, biarkan Pak sampai Zidan melahirkan," ucap Clara tertawa.
Clara dan Hilda melakukan tos.
"Mi, baiklah aku salah tolong lepaskan ini," ujar Piter.
"Ogah .... lanjut sampai melahirkan," ucap Hilda tegas .
"Aku juga lanjut!" ujar Clara.
Mereka berdua berteriak kesakitan merasakan seperti wanita yang melahirkan, sementara Leon bebas, karena sesuai permainan game, alat akan dihentikan jika istri yang meminta diberhentikan.
"Terimakasih sayang , karena menyelamatkanku dari rasa malu," bisik Leon.
"Kok rasa malu?" tanya Hara.
"Iya, aku malu kalau harus berteriak -seperti mereka, lihat Zidan wajah merah, aku takut mereka berdua berak celana karena merasakan mules"
"Bisa jadi ... karena orang melahirkan juga sering merasa ingin buang air besar," ujar Hara tertawa.
Semua orang yang ada dalam rumah menyaksikan kedua lelaki itu ingin melahirkan.
"Aduh ... aku. merasa ada yang mau keluar dari perutku," ujar Piter, ia memegang bawahnya.
Mereka semua ngakak.
"Sayang, tolong hentikan ini, aku tidak tahan lagi, aku kesakitan," ujar Zidan ia memohon pada Clara.
__ADS_1
"Apa masih bersikap dingin dan cuek padaku?" tanya Clara.
"Aku janji tidak akan , aku akan perhatian padamu dan anak kita aku minta maaf," ujar Zidan dengan tulus.
Lalu Clara mematikan alat tersebut, tinggallah Piter sendiri.
"Mami .... Tolonglah jangan seperti ini, aku malu," ujar Zidan.
"Oh, hanya malu .... tidak apa-apa hanya seperti lagi kok, sampai kamu merasakan melahirkan," ucap Hilda.
"Baiklah aku salah, aku minta maaf, aku mengerti apa yang kamu rasakan selama ini," ujar Piter.
Tidak tega melihat wajah Piter, Hilda juga mematikan alat tersebut.
Setelah di lepas alat dari tubuhnya, tubuh Piter berkeringat dan pakaian basah.
Akhirnya ia sadar, selama ini, ia salah menilai Hilda, Piter selalu menyebut Hilda yang terlalu manja. Begitu juga dengan Zidan setelah alat itu di lepas dari tubuhnya ia memeluk Clara.
"Maaf jika selam ini aku bersikap dingin padamu, aku tidak pernah ingin menyakiti perasaanmu, aku memang selalu bersikap seperti itu," ujar Zidan.
"Aku juga minta maaf," ujar Piter,
Saat mereka mereka semua masih berkumpul, tiba-tiba Hilda memegang perut.
“Aaaa ….! Perutku ….”
Mata mereka semua melotot kaget, karena saat berdiri tiba-tiba air ketubannya pecah.
“Cepat bawa ke rumah sakit!” Teriak Bu Ina panik.
Ken dengan cepat mengeluarkan mobil, sebagai lelaki yang belum berpengalaman Piter panik wajahnya tegang saat Hilda berteriak histeris memegang perut, karena ia juga baru saja merasakan hal tersebut.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)