
Jovita serius dengan keinginannya, setelah pagi, ia keluar dari kamar Leon, tepat saat lelaki berwajah tampan itu di kamar mandi, lagi menuntaskan panggilan alam.
Leon keluar dari kamar mandi, melihat tempat tidur sudah rapi.
Ia berpikir kalau Jovita hanya keluar cari angin dan kembali ke kamarnya. Namun sampai siang Jovita tidak kembali. .
“Dia kemana dia?” Leon berdiri dari meja kerjanya dan melihat-lihat keluar. Ternyata Jovita sedang memandikan anjing-anjing pemburu milik Leon bersama anak buahnya, kalau biasanya binatang berbulu itu tidak mau di sentuh sama orang baru.
Namun saat jovita ikut memandikan hewan berbulu itu , mereka menurut .
“Non, hati-hati Pitbull itu, pemarah,”ujar Rikko yang duduk tidak jauh dari rekannya yang sedang memandikan binatang pemburu milik Leon.
“Tenang Kak, dia tahu kok aku orang baik, terkadang binatang lebih pintar dari manusi kadang aku lebih cocok jatuh cinta pada mereka” ujar Jovita, entah untuk siapa kata-kata itu ditujukan yang pasti Toni tertawa mendengarnya.
Karena Jovita lebih memilih menempatkan cintanya pada hewan ganas itu dari pada manusia.
Ia membaluri tubuh si doggy dengan sabun cair dan menggosok tubuh dengan lembut dan Toni yang bagian menyiram, membuat pakaian Jovita tidak sengaja basah.
Leon yang berdiri di depan jendela, menatap Jovita begitu sinis. Apalagi Jovita bisa becanda, bersama Rikko dan anak buahnya yang lain padahal padanya mendadak jadi pendiam.
Jovita bercanda dengan Rikko.
“itu artinya dia akan tetap bawel seperti burung beo, dia hanya pura- pura diam, jika bersamaku, terutama tadi malam," Ujar Leon masih dengan keyakinannya.
Saat malam tiba, saat makan malam Jovita tidak ada di meja makan, hanya ada Sabrina dan Nana yang menemaninya makan malam.
“Mbak! Non Hara kemana?”
“Tadi sudah makan malam bersama anak-anak yang lain Pak, mereka lagi di pos jaga”
“Oh, baiklah”
Leon hanya diam di meja makan, entah apa yang dipikirkan tetapi yang pasti ia terlihat tidak menikmati makan malam saat itu.
Ia semakin tidak bersemangat saat
Jovita memetik gitar dan menyanyikan lagu di ikuti anak- buah Leon, karena saat itu malam minggu biasanya anak buah Leon di beri libur atau kekebesan, karena Leon juga di rumah.
“Saya duluan,” ujar Leon pamit pada Nana dan Sabrina padahal makanan dalam piringnya baru ia makan beberapa suap.
“Baik Bos”
Leon meninggalkan mereka berdua di meja makan, ia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
“Apa terjadi sesuatu?”Tanya Jovita menatap Sabrina.
“Tidak ada, tadi siang aku minta jalan ke bar, bos menolak, bosan aku di sini, ingin pulang ke Jakarta aja besok,” ujar Sabrina.
Leon menyalahkan televisi di kamarnya dan meminta asisten rumah tangga menyediakan beberapa makanan ringan, ia menonton sendiri, ia bolak balik menganti siaran televisi.
Namun tidak ada yang membuatnya tertarik. Ia mematikan televisi dan mengambil sebuah buku tentang Bisnis dan mulai larut dalam membaca, saat ia menoleh jam ternyata sudah jam sebelas malam.
“Dia ngapain?” Leon berdiri mengintip dari jendela, anak buahnya masih berkumpul. Tetapi Jovita tidak ada di sana.
“Dia kemana?” Baru Juga Leon ingin keluar.
Saat Leon ingin keluar ketukan pintu terdengar.
“Saya datang Pak Leon.” Jovita di depan pintu membawa satu bantal guling.
“Iya”
Leon kembali duduk di sofa melanjutkan membaca buku, ia bersikap acuh.
Jovita juga masuk ke kamar bersikap diam, karena itu permintaan Leon dalam kesepakatan mereka.
“Apa bapak belum tidur?” Tanya Jovita sopan
“Belum mengantuk”
Leon terdiam sejenak, ia tidak tahu harus menjawab apa, egonya yang besar sering kali membuatnya salah membuat keputusan.
Ia terdiam, membiarkan pernyataan Jovita menguap begitu saja, jika egois dan sikap keras di pelihara dalam hati, maka kebenaran dan cinta akan tertutupi.
‘Kamu ingin berubah ? saya yakin kamu hanya sebentar. Paling panas-panas tai ayam, besok pasti bawel lagi’ ujar Leon dalam hati mengedikkan pundaknya, ia yakin dan percaya diri kalau Jovita masih mengharapkan cintanya.
Ia menutup buku dan berniat ingin tidur.
Jovita sudah tertidur memeluk bantal guling di jadikan sebagai penghalang antara tubuhnya dengan Leon tetapi ia tidak lupa menjulurkan satu tangannya sebagai pegangan untuk Leon.
Leon masih berdiri menatap dalam pada Jovita, sebagian rambut panjangnya menutup wajah cantiknya, ia ingin menyisihkan rambut di wajahnya, tetapi tangannya tertahan, karena terlintas perjanjian yang mereka sepakati. Mengurungkan niatnya, ia merebahkan tubuhnya, dengan pelan-pelan ia menarik bantal guling penghalang itu dari pelukan Jovita.
Dengan pelan-pelan ia mencoba menyingkirkan benda penghalang itu dengan sangat hati- hati, tetapi ....
tiba-tiba mata Jovita terbuka menatapnya dengan diam.
“Oh, tidak tadi saya hanya membetulkan posisi bantalnya agar saya muat,” ucap leon gugup, karena ia tertangkap basa, Jovita tidak mengatakan apa-apa, ia kembali menutup mata dan membiarkan Leon merasakan kepanikan itu sendirian.
“Sial kenapa saya jadi tiba-tiba gugup, tarik- tinggal ta-”
Tiba-tiba ia mengingat janji itu lagi, ia menahan dirinya, ia masih yakin kalau jovita hanya akan melakukan itu sehari atau dua hari, ia berpikir kalau Jovita akan tetap ceria juga padanya sebagai bagaimana ia bersikap pada anak buah leon.
__ADS_1
Namum hari ketiga dan malam ketiga bukannya berubah, Jovita malah bertambah parah, bersikap dingin dan acuh padanya. Di tambah saat Leon memperbolehkannya ikut bekerja dalam pembangunan sebuah proyek pembagunan jembatan. Jovita memohon padanya agar di perbolehkan dalam pekerjaan proyek dari pemerintah setempat. Membangun sebuah jembatan penghubung sebuah desa di Kaliman.
Keahlian Jovita sebagai ahli menggambar atau bagian drafter membuat Leon memperbolehkan wanita cantik itu ikut bergabung dalam proyek tersebut.
Melirik Jovita diam- diam
Awalnya Leon akan berpikir jovita akan berterimakasih dan kembali bersikap ceria padanya. Tetapi saat pulang sore dari lokasi proyek ,Jovita menghabiskan waktunya di dalam kamarnya menguncinya dari dalam dan melakukan semua di dalam kamar, saat malam waktu tidur, ia baru datang ke kamar Leon.
Ini malam ke empat untuk Jovita , tetapi bukannya seperti yang diharapkan Leon, ia semakin acuh, bahkan nyaris tidak membuka mulut saat di kamarnya Leon. Satu hari dua hari Leon masih bisa bertahan, tetapi malam ini merasa ada yang tidak beres. Membuat Leon mati kutu untuk pertama kalinya dalam hidupnya di acuhkan dan cuekin seseorang.
Ia mematikan siaran televisi yang di tonton, lalu ia berdiri di depan Jovita yangs aat itu sedang baca buku dalam diam.
“Sampai kapan kamu bersikap seperti ini?” tanya Leon menatapnya tegas.
“Maksud Bapak?”
“Jovita hentikan! Saya tahu kamu marah sama saya, tetapi bukan seperti ini caranya?”
“Saya tiak mengerti di mana letak kesalahan saya sekarang Pak, saya hanya melakukan apa yang Bapak minta. Lalu saya harus bagaimana?” Tanya Jovita, menatap Leon.
“Saya tidak ingin kamu bersikap acuh pada saya!”
“Kan, Bapak yang minta agar saya tidak berisik di dekat bapak”
“Jovita Hara, saya memintamu tidak berisik, tapi saya tidak meminta kamu bisu”
“Saya tidak bisu Pak leon, saya hanya merasa tidak ingin mengatakan apa-apa, dari pada berisik dan membuat Bapak marah saya memilih diam”
“Baiklah, saya hargai usaha kerasmu . Tetaplah bersikap seperti itu, saya ingin lihat sampai berapa lama kamu bersikap acuh pada saya,"ucap Leon marah.
'Serba salah hidupmu Ular Naga ... aku diam salah, aku ingin cerita-cerita juga kamu pasti tidak suka, ah sudahlah terserah' Jovita membatin .
Jovita kembali diam.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1