
Mendengar Hara dan Maxell ada di atap gedung Leon datang.
Leon mendekat.
Pak ….!
Satu bogem mentah mendarat di wajah Maxell. Membuat tubuhnya sempoyongan dan mundur beberapa langkah.
“Apa yang kamu lakukan?” Hara menatap tajam pada sang suami.
Melihat Leon marah dan memukul Maxell. Hara terkejut, lalu ia mendekati Leon dan menahan tangannya, “Kenapa kamu memukul? justru dia yang menyelamatkanku!”
Sebelah tangan Leon terkepal tertahan di udara, Hara masih menahan tangannya.
“Hara, aku suamimu apa kamu lupa?” Leon masih menatap tajam.
“Iya, terus kenapa kamu memukul Maxell?”
“Apa kamu mengingat lelaki itu?”
Dengan bibir pecah mengeluarkan cairan merah, Maxell mendekat dengan tangan memegang rahang yang habis dibogem Leon.
“Jangan membuat beban pikirannya kalau kamu tidak mau hal buruk terjadi padanya,” ucap Maxell tenang, “ Hara, bagaimana kalau kamu memetik bunga lagi di ujung sana, agar bisa dimasukkan ke dalam vas nantinya,” ujar Maxell sengaja meminta Hara pergi agar ia tidak melihat perdebatan mereka berdua. Maxell tidak ingin Hara makin panik, mata Leon hanya menatap tajam tidak terima, saat Maxell menyentuh pundak Hara,
‘Singkirkan tangan kotormu bodoh atau aku akan mematahkan nya’ Leon mengertakan giginya menahan kemarahan rahangnya mengeras membentuk garis keras dengan tangan terkepal kuat.
“Apa maksud kamu, kenapa mengurusi urusan rumah tanggaku?” ucap Leon ingin menghajar Maxell lagi.
Tetapi Maxell yang merasa tidak melakukan kesalahan, balas memukul Leon. Lelaki bertubuh besar itu kaget bukan kepalang, mata bermanik hitam itu melotot dan tubuh terhuyung mundur.
“Walau aku sudah lama ingin mengahajar kamu, tetapi ini bukan karena dendamku, harusnya kamu berterimakasih padaku karena aku menyelamatkan Hara dari penembak yang mengincar keselamatannya hari ini.”
Leon ingin menghajar balik Maxell, karena tidak terima dipukul dokter tampan tersebut, tetapi ia mencoba menahan diri.
Semua anak buahnya terdiam.
“Apa maksud kamu?”
“Harusnya Pak Wardana, berterimakasih padaku, karena aku sudah membawa Hara kesini, agar ia tidak dicelakai orang itu” Maxell menunjuk seorang di gedung sebrang hotel.
Mata Leon melotot kaget, ia ingin berlari kearah Hara untuk menyelamatkannya.
Maxell menghalanginya. “Jangan membuatnya panik, pikirannya akan terguncang lagi dan dia akan seperti orang kebingungan.”
“Apa maksud kamu?”
“Nanti saja aku jelaskan, suruh saja dulu anak buah mu untuk membantu Bang Ken untuk menangkap berandalan itu, agar Hara aman.”
__ADS_1
Leon berpikir sebentar dan setuju dengan pendapat Maxell, Leon merogoh kantong celananya, tetapi ia tidak menemukan ponsel miliknya, karena benda itu sudah ia lempar dan sudah hancur, sekarang ia tidak punya ponsel untuk menghubungi Zidan. Satu kesalahan yang fatal yang dilakukan Leon, karena tidak bisa dipungkiri di situasi darurat seperti saat itu ponsel sangat di butuhkan untuk berkomunikasi.
Leon mendesis kesal, menyadari ia sudah merusak ponselnya dan alat komunikasi di kupingnya. Maxell sepertinya sudah tahu apa yang di lakukan Leon pada ponselnya. Ia tahu kalau Leon lagi marah, berhubungan dengan Hara barang semahal apapun, tidak akan perduli, ia akan menghancurkannya sebagai pelampiasan amarahnya.
“Ini, gunakan milikku, mungkin benda itu sudah hancur saat ini,” ucap Maxell menatap Leon dengan santai.
Tetapi berbeda dengan Leon yang menganggap Maxell saingannya, wajah Leon datar, tatapan matanya sinis menatap lelaki berwajah tampan tersebut. Tetapi saat ini ia tidak punya pilihan selain menerima ponsel yang disodorkan Maxell padanya.
Untungnya ia menghafal nomor Ken, menekan nomor lelaki botak itu.
“Ken, kamu naik ke lantai atap, si berengsek itu ada di lantai atap.”
“Baik Bos,” jawab Ken, dengan sigap ia berlari ke lantai atap. Leon juga menelepon Zidan dan Toni.
“Zidan! Kamu di mana?”
“Aku dan Toni di gedung bank Bos.”
“Penjahat itu sudah pindah ke atap Mall lagi. Dia mencari posisi yang tepat menembak tepat ke ruanganku,” ujar Leon.
“Bos, bagaimana dengan Non Hara?” Tanya Toni.
“Jangan khawatir dia baik - baik saja, ada bersama Maxell.”
Mendengar Hara selamat mereka semua bernapas lega.
“Baiklah, serahkan pada kami, akan kami hancurkan si brengsek ini,” ujar Toni geram.
Melihat Hara ada dengan selamat, Bimo baru ingat bernapas , itu artinya ia juga selamat.
‘Syukurlah Non Hara baik-baik saja’ ucapnya dalam hati, ia tidak lagi melihat kemarahan Leon seperti tadi.
“Hara dan aku masih dalam bahaya, orang yang mengincar kami ada di gedung itu, benar kata Hilda ada orang lain seorang penembak, kerahkan orang-orang mu tangkap lelaki itu hidup atau mati aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya.”
“Baik Bos.” Ketiga anak buah kepercayaan Leon, Zidan , Toni dan Ken bergerak cepat.
Maxell memiliki teropong, ia bisa melihat keberadaan lelaki itu dan ia memberi saran;
“Sebaiknya, gunakan penembak itu si Zidan, untuk melumpuhkan, karena dia belum tahu kalau Bos juga menempatkan seorang penembak.”
Leon setuju.
Saat Bimo dan anak buahnya, ikut bergerak, Leon meneleponnya kembali.
“Sebaiknya kamu mundur, kalau dia melihat kalian berlari sekalian seperti itu, dia akan melarikan diri, turunlah satu-satu dan bersikaplah normal, biarkan Zidan yang menyelesaikannya, tetapi kamu tetap kesana bawa dia hidup atau mati.”
“Baik Bos.”
__ADS_1
“Biarkan aku yang bicara dengan penembak mu,” ujar Maxell.
Leon merasa keberatan karena Maxell ikut campur.
“Anak buah orang-orang terlatih Maxell,” ujar Leon.
“Jangan khawatir Bos, aku hanya membantu karena aku tahu persis dimana posisi tepat untuk mendapatkannya, aku melakukannya demi Hara, karena Haralah yang menjadi targetnya utamanya,’ ujar Maxell.
“Dari mana kamu tahu?”Tanya Leon menatap tajam.
“ Aku tidak perlu menjelaskannya, mungkin kamu juga sudah tahu siapa pelaku dan apa tujuannya, jangan biarkan ego mengusaimu, pikirkan keselamatan Hara dan anakmu Boss, ikuti apa yang aku perintahkan, karena dia tidak bekerja sendirian, ini tempat yang paling aman di hotelmu, karena dia tidak punya akses ke sini selain dari pintu darurat itu, tempatkan dua orang penjaga di sana jangan biarkan Hara keluar dari sini sampai pagi.” Maxell memberi saran.
“Apa? Maksudmu Hara menginap di gedung atap ini?” Tanya Leon.
“Dalam situasi darurat apapun akan tetap di jalanin, demi keselamatan apapun akan kita lakukan” Maxell menatap Leon dengan tatapan serius.
“Baiklah, lakukan yang terbaik, otakku tidak bisa diajak berpikir.”
“Pak Wardana terlihat pucat, mumpung aku masih baik, aku tadi sudah membeli makan dan minum untuk Hara dan untukku, aku belum menyentuhnya, makanlah, untuk bisa bertahan dalam situasi genting seperti ini, perut harus kenyang,”ujar Maxell mengajari Leon, Leon masi tidak terima saat mantan tunangan istrinya memberinya saran dan mengajarinya, tetapi hati berbicara untuk membuang ego ya, demi Hara, apapun yang di katakan Maxell benar .
“Baiklah.
Leon berjalan menuju kursi yang sengaja di beri atap agar tidak terkena hujan dan panas.
Sebelum duduk di kursi yang terbuat dari kayu itu, Leon memikirkan ide Maxell, ia dan Hara akan menginap di atap.
“Boleh juga, tinggal angkat ranjang dari kamar dan telivisi tidak akan ada yang melihat dan tidak akan ada yang tahu,” ucap Leon ia memeriksa fasilitas yang mendukung ada listrik dan colokannya ada kamar mandi kecil juga di lantai atap, dulu semua itu ia desain untuk Hara tidak diduga sekarang bermanfaat juga.
‘Hara pasti senang tidur di luar rumah. Tidur melihat bulan dan bintang impian Hara sudah sejak lama, mungkin ini saatnya ia menyegarkan pikirannya’ gumam Leon, mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju pad ide Maxell. Malam ini. mereka berdua berencana menginap di taman bunga di gedung atap hotel.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)