Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Salah Memilih Wanita


__ADS_3

Wajah Leon terlihat sangat lelah, malam itu ia memutuskan  pulang ke rumah, padahal paginya Leon menelepon bu Atin, akan mengadakan pertemuan dengan keluarga Bianca, ia ingin mengajak Bu Atin bicara dan minta maaf pada mereka, tetapi siapa yang menduga semua berantakan, bahkan terjadi  musibah  di lakukan Bianca pagi hari itu.


Tetapi Leon sudah  bertekad tidak akan memaafkan Bianca,  bahkan ia  berniat melaporkan wanita itu ke polisi. Sejak ia mengenal Hara, ia tidak pernah rela, jika ada orang lain yang menyakiti Hara. Tetapi saat ini, wanita yang  melakukanya orang yang ia pilih


“Apa yang terjadi sebenarnya, Nak. Kenapa Bianca menggila seperti itu, ia  menghancurkan  lemari mu, saat aku datang, ia sudah melarikan diri. Apa yang dia cari?”


Leon tidak menyahut pertanyaan Bu Atin, kepalanya benar- benar sakit,  ia melongos dan duduk di sofa, memijat kepalanya dengan satu tangan.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya wanita paru baya itu lagi ikut duduk di sofa,  meminta asisten rumah tangga   mengambil minuman dingin untuk Leon.


“Bianca wanita yang gila Bu, dia wanita yang stres. Apa Ibu tidak menonton berita hari ini?”


“A-a-apa, ada yang menghawatirkan? Ibu hanya menonton Sinetron tidak tahu apa yang terjadi”


“Hara terluka, hotel kita ramai diberitakan,” ujar Leon.


“Iya Tuhan.” Tangan Bua Atin  mencari remote  televisi,  mengganti beberapa kali acara siaran televisi, akhirnya layar televisi berukuran besar itu,  menyiarkan berita  tentang hotel Leon, siaran telivisi berlogo nomor satu itu akhirnya


Memberitakan kejadian  mencengangkan, di Hotel Ichiro,mata wanita itu menatap layar televisi dengan tangan memegang dada.


“Bagaimana dengan Hara ….?”


“Dia terluka di leher”


Saat mereka mengobrol tiba-tiba  asisten rumah tangganya melaporkan kalau dr. Billy ada di gerbang ingin bertemu Leon.


“Suruh saja masuk,” ujar Bu Atin sementara Leon wajahnya terlihat sangat marah.


“Suruh juga Zidan, Ken, Bram ikut kemari,” pinta Leon masih memijit kening.


“Baik Pak”


Tidak lama kemudian Billy datang dengan wajah  penuh penyesalan.


“Pak Leon, aku minta maaf sungguh … aku tidak tahu kalau akan seperti ini,” ujar Billy dengan wajah pucat.


“Aku akan mengirim wanita gila itu ke penjara, Dokter!”


“Pak Leon, tolong jangan lakukan itu, itu salahku, setidaknya  lihat kebaikan ibu Vivian yang mengobati mu . Dia guruku, dia orang baik. Aku yang salah sebenarnya. Saat itu juga mereka menolak aku menjodohkanmu dengan putri mereka, Bianca yang berjanji padaku akan membantumu melupakan Hara. Melihatnya  berjanji seperti itu aku percaya ….”


“Maksudnya …. Kalian berdua yang membuat kesepakatan, bukan orang tuanya?”


“A- a-iya,” ujar dr. Billy tergagap.


“APAAA ….?”

__ADS_1


Mata mereke semua menatap Billy dengan tatapan seperti menghunus pakai pedang.


“Jadi orang tua Bianca bukan yang memaksa …. Tapi Bianca bilang dia didesak terus untuk menikah dengan Leon,” ujar Ken


“Aku minta maaf, sebenarnya …..” Wajah Billy semakin pucat.


Apa lagi saat Leon menatapnya dengan begitu marah di tambah tatapan mata zidan yang terlihat seperti beruang yang sedang ingin menangkap mangsa dan tatapan ibu dan Ken, Bram juga dr.Billy semakin merasa terpojok.


“Ada apa, katakan?” tanya Leon semakin menatap  Billy dengan tajam, dokter berkulit putih itu,  hampir terkencing celana melihat tatapan Leon.


“Tapi tolong jangan laporkan mereka ke penjara, tolong jangan lakukan itu,” ujar Billy.


“Mereka semua semakin bingung melihat sikap panik yang di tujukan Billy.


“Apa Dokter selingkuh sama dia?” Tanya Bu Atin menebak.


“Oh, bukan itu, itu tidak mungkin Bu hanya ….”


“Hanya  Apa?” Bram  dan Ken hampir  mencekik leher Billy karena penasaran, dr. Billy sangat berat megungkapkan kebenaranya.


“Dia bukan anak kandung Ibu Vivian aku juga baru tahu setelah datang ke rumahnya tadi.”


“Lalu maksudmu dia penipu?” Tanya Leon , wajahnya semakin mengeras.


Saat mereka sedang  menginterogasi Billy orang tua Bianca datang ke rumah Leon untuk meminta maaf pada Leon  langsung. Kini jadi terbalik niatnya malam itu Leon dan ibunya yang akan datang meminta maaf, tetapi saat ini, malah orang tua Bianca yang datang meminta pengampunan.


“Tidak apa-apa,” ujar Leon dengan wajah datar. “Kalau bukan Ibu dan Bapak orang baik aku sudah memasukkannya ke penjara,” ujar Leon.


“Sebenarnya dia bukan anak kandung kami”


“Lalu.” wajah mereka semua menatap  wanita itu dengan tatapan serius.


“Dia  dulunya pasienku”


“Maksudnya dia gila?” Tanya Ken panik.


“Saat kecil dia kehilangan keluarga dalam satu tragedi kebakaran dan dia mengalami tekanan mental,  jadi ia akan mengamuk kalau tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Kami tidak memiliki anak jadi Biancalah anak kami satu-satunya, kami memberikan apa yang di inginkan karena begitulah dia hidup. Sejak kecil kalau tidak mendapatkan apa yang ia mau, ia akan melakukan hal-hal yang nekat untuk mendapatkannya”


“Artinya dia gila,” ujar Leon sinis.


“Tidak pak Leon, dia hanya mengalami seperti yang bapak alami,” ujar Vivian.


“Saya tidak  gila Ibu ViVian!” ujar Leon tidak mau disamakan dengan Bianca.


“Saya hanya  merasa sangat kehilangan orang yang saya cintai, dan anak yang saya impi-impikan, jangan samakan saya dengan anak anda!” ujar Leon emosi.

__ADS_1


“Baiklah Pak Leon, sekali lagi kami minta maaf, tolong mencabut laporan Bapak  dari polisi”


“Saya belum melaporkan ke polisi,” ujar Leon dengan wajah bingung menatap anak buahnya satu persatu.


“Lalu siapa?” Mereka saling melihat.


“Piter,” ujar Zidan.


Lelaki yang satu ini bisa di sebut si jenius, dalam sikap diamnya, ia selalu meneliti dan mengawasi segala sesuatunya yang ia lihat. Begitu juga saat Hara sudah mulai pulih ingatan  hanya Zidan yang tahu kalau ingatan Hara sudah mulai pulih saat itu.


“Kapan dia melakukan itu? Itu artinya dia menyembunyikan Hara masih di Jakarta?” Tanya Leon.


“Baiklah Ibu Vivin kami tidak melaporkan Bianca ada orang lain yang melaporkannya, sebaiknya Ibu pulang dan menjaga Bianca dengan baik,” ujar Leon.


“Baik Pak Leon terimakasih dan mohon maaf sekali lagi” Wanita berkulit putih itu meninggalkan rumah Leon.


“Pak Leon aku juga pamit pulang sekali aku minta maaf,” ujar Billy merasa  sangat bersalah dengan Leon.


“Baik Dokter, tetapi ini  belum selesai kita akan bicara lagi nanti,  kita masih  banyak mau dibahas tentang wanita gila yang kamu jodohkan padaku,” ujar Leon .


Untungnya ibu Bianca sudah pulang dari rumah Leon, jadi  tidak mendengar Leon memarahi Billy, saat Leon marah pada Billy. Tiba- tiba mata semua tertuju pada Ken yang tertawa ngakak.


Krik … krik


Suara  diam dan mata menatap Ken, Lelaki kocak ini memang gampang tertawa walau hal kecil


“Tidak terbayang  kalau Bos menikah dengan orang gila, Pak Billy salah memilih wanita” ujar Ken sambil tertawa ngakak.


“Kamu menertawakan saya Ken?” ujar Leon dengan wajah datar.


“Maaf Bos,” ujar Ken diam dan berhenti tertawa.


               Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2